KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
68 Tentang Amira Kecil



"Jangan cerita jika kamu belum siap Mira" ucap Pak Denias setenang mungkin.


"Aku harus cerita, banyak hal yang tidak kalian tahu selama puluhan tahun kita berpisah" tukas nyonya Amira


"Sudahlah, tenangkan dulu dirimu" sanggah tuan Denias


"Apa kalian tidak ingin menghentikan kejahatan Anthony?" tanya nyonya Amira tegas membuat Revan dan tuan Denias saling pandang..


...........


"Mak...maksud kamu apa Mira?" tanya tuan Denias yang masih nampak terkejut dengan ucapan sang adik


Tak ayal Revan pun bingung dari mana sang bibi tahu tentang Anthony? tidak mungkin bibinya ini tahu apa yang sudah terjadi dalam keluarga mereka selama ini, karna keberadaannya yang jauh dari jangkauan. Revan sedikit frustasi namun bisa mengendalikan dirinya dengan baik. ia memilih diam menunggu sang bibi melanjutkan ceritanya.


Tuan Denias memejamkan matanya berusaha berfikir positif, ada sesuatu hal yang menggelitik hatinya, 'darimana Amira tahu tentang Anthony? kejutan apa ini'.


"Tuan-tuan maafkan saya, izinkan Amira menceritakan semuanya dari awal apa yang ia rasakan selama ini, apakah bisa?" Mr.Andrew menyela dengan sopan ia tahu betul keterkejutan kedua keluarga dari sang istri.


"Mas...." belum selesai Nyonya Amira berucap, tuan Denias lebih dulu menyela.


"Katakan jangan ada yang kau tutupi" ucap Tuan Denias dengan nada dingin.


"Maaf mas, meski ribuan maaf aku ucapkan tak akan bisa mengembalikan waktu, dan inilah penyesalanku selama ini" nyonya Amira mengambil tisu untuk menghapus jejak air matanya.


"Di sekolah aku sering di bulli oleh teman-teman karna bapak tidak pernah pulang selama tiga tahun, bahkan mereka mengejek bapak berselingkuh di belakang ibu dan menelantarkan kita, saat itu aku ingin marah dan memukul mereka karna sudah tidak tahan dengan semua ejekan dan hinaan yang mereka ucapkan, tapi Amina selalu menahanku untuk tetap diam dan bersabar,


"Sampai di puncak emosiku saat Febri anak pak lurah menghina ku saat mengantar bekal ke sawah dan ibu mendengar semuanya, semenjak itu aku bertekad untuk mengunjungi bapak di kota, aku mengumpulkan uang dari hasil jualan kue dan menjadi buruh cuci diam-diam selama setahun. meski saat itu uang yang ku bawa hanya sedikit, aku tetap bertekad untuk pergi menyusul bapak di kota,


"Aku bertemu Santoso yang baru pulang dari kota bersama bapaknya membawa hasil jualan beras mereka, dan aku meminta tolong pada pak Kadir untuk membawaku ikut serta ke kota jika mereka hendak pergi, awalnya pak Kadir dan Santoso melarangku pergi karna kasihan dengan ibuk dan mas serta mb Amina, tapi aku tetap kukuh memaksa mereka sampai akhirnya mereka membawaku ikut serta ke kota pada saat menjelang bulan puasa,


"Aku tinggal di kios sewa yang mereka tempati sambil membantu mereka menjual beras, karna kasihan, pak Kadir akhirnya memberiku uang upah sebagai tambahan ongkosku untuk mencari bapak, dan aku meminta mereka merahasiakan kepergianku dari kalian, awalnya mereka menolak keras tapi pada akhirnya mereka mengiyakan dengan syarat aku harus pulang membawa serta bapak,


"Selama satu minggu aku tinggal bersama mereka di kios dengan makan seadanya, sampai suatu ketika aku tidak sengaja melihat bapak menaiki sepeda motor dengan seorang perempuan sangat mesra, aku marah namun aku tak mampu berbuat apapun hingga aku bertanya pada salah satu penjual yang terakhir kali bercakap dengan bapak sebelum pergi meninggalkan pasar,dari situ aku tahu bahwa benar bapak sudah menikah lagi dan aku nekat untuk membuntuti bapak sejak saat itu,


"Saat pak Kardi dn Santoso hendak pulang ke desa, aku beralasan akan bertemu bapak dan sudah membuat janji, mereka percaya dan akhirnya mereka pulang tanpa membawaku,


"Aku meninggalkan kios sewa mereka untuk mencari bapak dengan berbekal alamat yang ku minta dari penjual di pasar yang kenal dengan bapak hingga aku tiba di alamat tempat bapak bekerja di salah satu pabrik konveksi yang aku tahu itu usaha yang bapak kembangkan selama ini, saat hendak memasuki pabrik aku tak sengaja bertemu bapak dengan wanita yang ku lihat di pasar, bapak menolak untuk mengenaliku bahkan memperkenalkan aku sebagai anaknya pada wanita itu. aku kecewa hingga akhirnya aku lari tanpa arah dan berakhir di halte,


"itulah awal aku bertemu Anthony yang baru saja pulang dari sekolah, kami berkenalan dan akhirnya berteman, bahkan aku meminta Anthony untuk membantuku mencari rumah bapak, hingga suatu hari aku bertemu bapak di pasar saat aku sedang menurunkan barang dagangan orang karna Santoso dan pak Kadir masih di desa,


"Aku tak tahu kenapa bapak langsung memelukku saat itu,namun aku tetap kecewa dengan kebohongan bapak dan sikap bapak yang tidak mengenaliku sebelumnya, aku mengajak bapak pulang saat itu juga tapi bapak beralasan tidak bisa karna sibuk dengan usaha konveksinya, bapak memberiku uang untuk di berikan pada ibu namun aku menolaknya karna tak ingin pulang jika bapak tidak ikut pulang, bapak marah dan memaksaku menerima uang itu tepat saat itu pak Kadir dan Santoso baru tiba di pasar,


"Aku menceritakan semuanya pada pak Kadir dan Santoso, mereka juga sangat marah dan kecewa dengan sikap bapak yang berubah dan lupa keluarga, mereka membantuku bertemu dengan bapak secara baik-baik, di saat kami pergi menemui bapak di pabrik konveksinya, kami bertemu dengan wanita itu lagi dan bapak lagi-lagi mengatakan tidak mengenal kami, pak Kadir sangat marah dan membuka kebenarannya saat itu juga,


"Wanita itu terkejut mendengar kenyataan dari pak Kadir, dan akhirnya bapak bertengkar hebat dengan wanita itu. dari situ aku tahu kebenarannya bahwa bapak terpaksa menikahi wanita itu karna permintaan orang tua dari wanita itu, bapak sebenarnya menolak menikahinya dan mengatakan sudah punya keluarga tapi orang tua dari wanita itu memaksa bapak dengan menghancurkan kios tempat bapak menjahit baju langganannya, bahkan bapak di ancam akan di bunuh anak istrinya jika tidak mengikuti kemauan orang tua dari wanita itu, akhirnya bapak pasrah karna demi melindungi kita di desa,


"Wanita itu mengalami depresi sejak suaminya meninggal hingga membuat orang tuanya frustasi dan mencarikan pria untuk menikahinya,


"Pak Kadir mengajak ku pulang ke desa, namun aku menolak karna takut ibu akan kecewa pada kenyataan yang aku hadapi, aku takut untuk bertemu ibu tapi pak Kadir tetap pada pendiriannya akan membuka semua kebenarannya pada ibu,


"Di saat aku putus asa aku bertemu kembali dengan Anthony di halte tempat aku bertemu dengannya sejak awal, aku menceritakan semuanya pada Anthony tapi aku tak menyebut nama bapak, entah apa yang membuatnya tiba-tiba mengajakku berkunjung kerumahnya, aku mengiyakan ajakannya namun saat tiba disana aku bertemu bapak, rupanya bapak menikah dengan ibu kandung Anthony, Wanita itu juga terkejut tapi tetap menerimaku dengan baik entah apa yang merasukinya saat itu, bapak bahkan mengancam ku untuk tidak buka mulut di depan Anthony dan ibu serta mas dan mba Amina jika aku pulang ke desa,


"Aku dilema antara takut pulang dan takut dengan ancaman bapak, akhirnya aku memutuskan untuk mencari kerja yang jauh agar tidak bertemu bapak dan tidak pulang ke desa, suatu hari aku bertemu Anthony dan menceritakan keinginanku dia melarang namun aku tetap pada pendirianku, dia marah dan kami tidak bertemu beberapa minggu,


"Saat pak Kadir kembali ke kota beliau memintaku pulang ke desa karna ibu sakit, aku tahu itu hanya alasannya saja, aku memutuskan untuk pergi saat tengah malam mereka sedang tidur tanpa meninggalkan jejak kecuali sebuah surat,


"Aku bersembunyi di sebuah masjid, saat itu tanpa sengaja aku bertemu dengan ibu Anthony selesai sholat subuh, dia mengajakku berbicara empat mata dan meminta maaf atas kesalahan orang tuanya yang sudah merusak rumah tangga orang lain karna depresi yang di deritanya, bahkan beliau mengajakku untuk tinggal dengannya, namun aku menolak.


"Satu minggu setelah hari itu aku bertemu Anthony, kami akur lagi dan dia mengakui perasaannya padaku, aku mengiyakan saja walaupun aku hanya menganggapnya teman tak lebih dari itu,


"Hubungan kami semakin membaik, aku bekerja di sebuah restoran milik sahabat ibunya sebagai cleaning service, namun kejadian naas menimpaku saat aku pulang bekerja,


"Aku sempat mencuri dengar percakapan mereka di dapur saat hendak mengambil air minum tengah malam dari situ aku tahu bahwa aku bekerja di restoran milik mereka yang di kelola oleh bibi mas Andrew, saat itu juga aku memutuskan untuk tidak bertemu siapapun yang mengenaliku termasuk Anthony, saat mereka memutuskan untuk pulang ke Belanda aku meminta untuk ikut dan bekerja pada keluarga mereka disana, restoran tempatku bekerja mereka serahkan sepenuhnya pada bibi Lilian,


"Bibi Lilian tak tahu jika aku menjadi korban kecelakaan pada saat itu, yang ia tahu aku menghilang tanpa jejak, sejak kecelakaan itu aku tak pernah lagi bertemu Anthony hingga 6 tahun lalu saat pemakaman bibi Lilian aku kembali ke Indonesia dan bertemu Anthony tanpa sengaja, aku menghindarinya namun rupanya ia mengenaliku, aku bersembunyi dan memilih pulang ke Belanda saat itu juga,


"Aku tidak berani menemuinya karna ia sempat menyabotase perusahaan milik ayah mertuaku di jakarta dan menyebabkan kerugian besar, bahkan bibi Lilian sampai stroke saat tahu pelakunya adalah Anthony hingga membuatnya meninggal, aku tak tahu menahu apa motif yang melatarbelakangi Anthony berbuat keji seperti itu, yang aku tahu jika ibunya pernah memiliki kerjasama dengan perusahaan ayah mertuaku, namun aku tak tahu secara detail.


"Setahun kemudian aku kembali ke Indonesia sebagai perwakilan dari perusahaan kami di Belanda, saat itu aku bertemu kembali dengan Santoso bersama keluarganya di mall, kami bertukar nomor telepon,dari situ aku tahu semuanya setelah kepergianku kalian mengalami masa sulit di desa bahkan pak Kadir rela memboyong kalian ke kota atas permintaan dari ibu kandung Anthony, ibu menolak untuk tinggal seatap dan memilih tinggal di perkampungan kumuh, bahkan pak Kadir rela menambah kios untuk di tempati ibu tapi ibu tetap menolak,


"Maafkan aku mas,,, hikkks hikkkss hikksss karna ulahku kalian mengalami hidup yang mengerikan, bahkan rasa bersalahku pada mendiang mba Amina lebih besar karna aku memakai namanya saat berkenalan dengan Anthony, ini semua karna keegoisanku dan aku menyesal tidak melawan rasa takutku bertemu ibu saat itu,


"Sampai tiga tahun lalu aku janji bertemu dengan Santoso dan membangun bisnis bersamanya, semua urusan bisnis aku serahkan pada Santoso sepenuhnya, hingga saat aku hendak pulang ke Belanda aku mendengar berita kematian salah satu kolega bisnis almarhum bibi Lilian dan ibu mertuaku meminta untuk mewakili keluarga bibi Lilian ke rumah duka, saat tiba disana aku melihat karangan bunga dengan foto dan nama lengkap mba Amina, saat itu juga aku merasa hancur mas, dan.....


"Dan aku mendengar bisik-bisik pelayat yang mengatakan bahwa mba Amina meninggal secara tidak wajar, saat itu juga aku memutuskan untuk mencari tahu tentang kalian dari Santoso, dan aku juga yang memintanya untuk mengajukan proposal kerjasama dengan perusahaan kalian, aku juga memasukkan anak buahku di dalam perusahaan kalian sebagai cleaning service dan operator sistem,


"Maaf mas, maafkan aku hikks hiksss aku sudah membuat kalian menelan pil pahit karna keegoisanku, hingga Kinara menjadi korbannya, aku yang akan membayar rasa sakit kalian dan menghancurkan Anthony dengan tanganku sendiri,"


Tuan Denias menangis tanpa suara tubuh rentanya bergetar hebat saat mendengar semua kisah masa lalu Amira. adik kecilnya yang nekat dan keras kepala.


"Sudahlah sayang, semua akan kita akhiri disini" ucap lembur Mr.Andrew pada sang istri


Revan hanya diam tak berkomentar apapun, semua terlalu mendadak baginya, entah apa yang tengah di rasakan hati kecilnya, ia pun bingung, di satu sisi ia merasakan kebencian luar biasa pada pria yang sekarang menjadi buronan itu, di satu sisi pula ia menarik kesimpulan betapa bodohnya orang itu yang terlena atas nama cinta hingga membuatnya jadi orang berbeda yang melampiaskan kekesalan pada tempat yang salah.


Terkadang seseorang tak bisa mengerti dengan keadaan yang menghimpitnya kala susah, tak mampu menerima dan terus menyalahkan sesuatu yang sudah berlalu atas sikap mereka sendiri, namun waktu tak akan pernah kembali ke masa lalu,


"Aku ke toilet dulu om, tante, tuan Andrew" Revan pamit ke toilet


Tuan Denias menghapus jejak air mata di pipinya yang sudah banyak kerutan karna usia, "Aku tak tahu harus bicara apa Amira, aku bahagia kau sudah kembali tapi aku tak tahu bagaimana jalan pikiranmu sampai kau tega memakai nama Amina, hingga menyebabkan begitu banyak masalah pada keluarga kita" ucap tuan Denias di sela mengusap jejak air matanya.


"Maaf, maaf mas aku sudah membuat masalah pada kalian hingga Kinara dan Keisya menjadi korbannya juga, izinkan aku mengakhiri semuanya mas" lirih nyonya Amira


"Tidak semudah yang kau pikirkan Mira, kau pikir Anthony anak kemarin sore heh?" suara bass tuan Denias menggema di dalam ruang VIP.


"Karna aku punya kelemahannya" ucap nyonya Amira


"Kau..." tuan Denias menggertak namun ucapannya tertahan saat melihat Revan kembali ke ruangan dengan membawa berkas. "Ah aku lupa ada meeting dengan klien"batin tuan Denias


"Om, tante maaf kalau Revan bersikap kurang baik, boleh aku bicara sejenak?" tanya Revan dengan tatapan memohon. tuan Denias menjadi bingung di buatnya.


"Ngomong aja, apa?" ucap tuan Denias


"Em...sebelumnya aku mau bertanya, apa selama ini tante sudah menyelidiki kami?" tanya Revan dengan nada selembut mungkin agar nyonya Amira tidak merasa terintimidasi.


"Iya, aku tahu arah pertanyaanmu Van, sejak aku mewakili keluarga bibi Lilian berbela sungkawa atas kematian koleganya saat itu aku sadar bahwa mba Amina memang kakak kembarku, sejak saat itu aku meminta Santoso menyelidiki kalian, bahkan saat Kinara menikah aku juga datang sebagi saksi menggunakan undangan Santoso, aku menyamar sebagai istrinya".


"Kau....." tuan Denias hampir saja menampar wajah sang adik jika Revan tidak segera menahannya.


"Ma...maaf mas aku salah, aku masih takut bertemu kalian"cicit nya kembali terisak


"Dan yang tante maksud anak buah yang bekerja pada kami siapa kalau boleh tahu?" tanya Revan lagi dengan tenang.


"Cleaning Service Toto dan Bambang di bagian operasional sistem tangan kanan tuan Anderson" nyonya Amira menunduk


"APA?"


"Kau...." tuan Denias berdiri lalu meninggalkan ruangan dengan perasaan camput aduk mendengar semua kenyataan yang baru di dengarnya dari sang adik.


to be continue...