
Kinara tak menghiraukan kehadiran Azka selepas dari mushola. Ia sadar sepenuhnya atas kesalahannya karna mengungkit pertengkaran Azka dan Rangga beberapa hari lalu. Ia bisa tahu jika Azka amat tersinggung dengan ucapannya terbukti dari raut wajahnya yang tiba-tiba kesal saat ia bertanya perihal dirinya dan Rangga.
Kinara sengaja merebahkan diri dan menutup matanya karna ia tak ingin Azka tahu apa yang tengah ia rasakan kali ini. Bukan hanya perihal Rangga tapi ada orang lain yang sudah mengusik ketenangannya kali ini.
Entah apa yang di inginkan orang itu hingga membuatnya kelimpungan dan tertohok di saat yang bersamaan. Apakah kehadirannya dalam hidup Azka itu salah? Sejak awal ia memang tak menginginkan perjodohan ini namun ia juga tak kuasa untuk menolak.
"Aku mencintai Azka, tidak bisakah kau berbagi denganku?"
Bagai di hujam ribuan belati ucapan berisi ancaman yang di ucapkan wanita tadi begitu menohok ulu hatinya. Mengapa seolah kehadiran dirinya dalam hidup Azka adalah satu kesalahan fatal yang sudah di perbuatnya.
"kalau bukan harta untuk apa mereka menikahkanmu dengan Azka? Kau dan keluargamu hanyalah benalu."
Kenapa takdir mempermainkannya seperti ini? Keluarganya yang....ah entahlah apa yang ayah dan kakaknya fikirkan seolah menghilang di telan bumi. Apa benar ia hanya di jadikan sebagai penebus hutang ayah pada papa mertuanya?
"Assalamualaikum.." ucapan salam di balik pintu menyadarkan lamunannya. Seorang wanita berpakaian putih diikuti wanita berseragam biru muda yang berjalan di belakangnya.
"Waalaikumsalam dokter Siska.."
"Gimana keadaan kamu sekarang Kinar?" Sapanya ramah.
"Alhamdulillah udah baikan dok"
"Saya periksa dulu ya, tumben suami kamu gak ngerespon udah capek beneran nungguin kamu dari kemarin!" ujar Dokter. Kinara hanya tersenyum menanggapi.
"Udah boleh pulang dok?"tanya Kinar
"Udah, yang penting tetep jaga asupan makanan dan jangan banyak pikiran ya, saya buatkan resep obat nanti kalau mau pulang jangan lupa di tebus dulu oke?!"
"Oke dok, makasih banyak maaf udah aku repotin"
"Ahh kamu...kan disini kamu bosnya Kinar, dan aku di bayar buat itu hehe" canda Dokter Siska
"Ahhahaa dokter mah bisa aja, yang boskan ayah bukan aku" kilah Kinar.
"Sama aja lah..ya udah aku permisi assalamualaikum"
"Waalaikumsalam".
Kinara menoleh menatap punggung Azka yang tengah terbaring di sofa. Ada rasa aneh menyusup ke dalam relung hatinya. Entah rasa apa yang ia sendiri tak mengerti.
"Apa aku akan sanggup?" bisik hatinya
Ada rasa tak sanggup memenuhi pemintaan gadis itu yang menemuinya beberapa saat lalu. Dia ingat baru sekali ia bertemu dengan gadis itu dan sekarang seolah mampu mengobrak abrik tatanan hatinya meski belum sepenuhnya ia bisa menerima Azka. Hanya sebatas tanggung jawab dan kewajiban yang terpaksa mereka lakukan demi memenuhi wasiat. Entah rasa itu bisa hadir atau tidak ia pun tak mau ambil pusing.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, muncul seorang wanita paruh baya dengan gamis dan hijab yang senada datang membawa bungkusan.
"Anak mama udah sehat?" sapanya seraya menaruh barang bawaannya di atas nakas. Kinara mencium punggung tangan wanita yang begitu menyayanginya setelah almarhum ibunya itu.
"Alhamdulillah kalo gitu,nyenyak bener tidurnya suami kamu ckckc" ujar mama Hanna menggeleng.
"Biarinlah ma, kasian dia capek jagain aku dari kemarin, lagian juga anak-anak tadi kesini jengukin abis sholat langsung pulang deh."
"Mama bawain makanan kesukaan kamu nih, lontong sayur dimakan ya?"
"Mama sendiri yang bikin?"tanya Kinar
"Tadi orang tua mbak Rita dateng dari kampung mau hadiri wisudanya adeknya besok, trus singgah kerumah di bawain oleh-oleh sayuran,buah,beras hasil panen mereka di kampung katanya. Ya udah deh mama putusin buat ini dan kita makan rame-rame tadi." ujar mama seraya membuka wadah makanan.
"Wah enaknya...mama dateng bawa makanan enak gak bangunin aku" Azka yang tiba-tiba ikut nimbrung dengan mata masih melek merem.
"Dasar kamu tuh ya giliran bau makanan enak aja kebangun, daritadi mama disini enggak di gape malah kenak en turu" Seloroh mama. Azka merangkul tubuh mama nya dengan manja sudah seperti kebiasaannya sejak kecil ketika merajuk. Kinara tersenyum memperhatikan tingkah Azka yang manja seperti itu. "Andai ibu masih hidup"batinnya.
Selepas sholat Isya Kinara dan Azka kembali pulang ke rumah setelah mendapat izin dari Dokter Siska. Meski kondisi fisik Kinara memang sudah stabil tapi tetap saja tak sebanding dengan kondisi hati dan fikirannya yang masih di penuhi puluhan pertanyaan dengan semua yang terjadi di hidupnya dalam sekejap.
Kinara menatap keluar jendela mobil yang sengaja ia buka setengah. Melihat pemandangan jalan raya yang ramai dengan pengendara dan para penjaja makanan pinggir jalan sedikit menenangkan otaknya saat ini.
Ciiiiiiiiitt...
Kinara terjungkal ke depan dahinya terbentur dashboard mobil. Ia meringis menahan rasa sakit tanpa merubah posisinya.
"Rangga... Mau apa sih dia hah?" omel Azka, Niat hati hendak melabrak Rangga yang tiba-tiba berhenti mendadak tepat di depannya, ia justru terperangah melihat seorang gadis bersimbah darah sedang menyebrang tepat di depan motor yang Rangga naiki.
Gadis itu memakai topi hitam, jaket hitam, celana jeans serta sneakers berwarna putih dengan rambut sebahu terjuntai yang menutupi sebagian wajahnya. Jika di lihat perawakan gadis itu mirip dengan Kinara istrinya hanya saja tubuh gadis itu terlihat kurus kering seperti tak terurus. Gadis itu di papah oleh seorang wanita tua yang memakai jilbab instan serta masker yang melekat di wajahnya. Ah gadis itu bersama ibunya mungkin mereka salah satu korban tabrak lari dan untung masih selamat. Begitulah yang di fikirkan Azka saat ini.
Azka merasa iba melihat gadis itu berjalan tertatih, beruntungnya jalanan sedang lengang sehingga tidak ada keributan di jalan raya karna ulah gadis itu menyebrang jalan tanpa melihat sisi kanan kiri. Suara serak memanggilnya dari samping kemudi membuatnya langsung menoleh melihat Kinara meringis memegang dahinya.
"Kenapa mendadak sih? Sakit nih kejedot jidat ku mas" rintihnya.
"Maaf soalnya motor di depan brenti mendadak."
"Emang ini lampu merah? Bukan kan? Aishh!!" keluhnya menatap ke arah depan dan melihat siapa pengendara yang di maksud suaminya. "Rangga" batinnya. Ya itu Rangga hanya dengan melihatnya saja, Kinara sudah hafal betul jika itu Rangga dari jaket yang selalu melekat di tubuh pria itu. Jaket yang pernah ia berikan sebagai hadiah karna berhasil meraih juara kelas saat mereka masih kelas dua smp.
Kinara tergugu sesaat berusaha menetralkan detak jantungnya yang tetiba berpacu tak menentu. Beruntung mereka tidak bersitatap secara langsung,apa jadinya jika itu terjadi? Setelah kejadian tempo hari entah mengapa ada sedikit rasa bersalah hinggap di lubuk hatinya pada Rangga. Meski ia sendiri tak tahu menahu penyebab mereka berkelahi. Kinara segera memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil seraya membenahi jilbabnya untuk menyembunyikan kegelisahannya.
Azka cukup mengerti dengan sikap salah tingkah yang di tujukan Kinara saat menatap pengendara motor di depan mobil mereka. Ah ya Azka menoleh ke luar dan melihat gadis yang menyebrang tadi memasuki sebuah mobil Toyota Rush terbaru warna putih berplat merah. Ah itu mungkin seseorang yang menolongnya atau mungkin keluarga mereka. Azka segera melajukan mobilnya setelah memastikan Rangga telah pergi.
🌷🌷🌷
Kinara membereskan tempat tidur mereka untuk beristirahat. Setelah makan malam tadi tak ada yang berubah dari sikap Azka yang lebih banyak diam. Bahkan papa pun tak banyak bertanya saat mereka tiba di rumah. Karna hanya papa dan para asisten saja yang berada di rumah karna mama sedang menemani Kak Sean dan Istrinya yang akan melahirkan di klinik.
Azka keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Ia membuka lemari mengambil setelan kaos dan celana pendek yang biasa ia gunakan saat tidur. Setelah itu duduk santai di sofa dan menyalakan televisi ia memilih acara yang menayangkan balap motor gp kesukaannya.
Selesai membereskan tempat tidur, Kinara segera menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah, kaki, tangan dan di akhiri dengan wudlu. Setelah itu ia menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan setelan baju tidur lengan panjang. Rambutnya yang hitam legam ia biarkan terurai. Ia melewati Azka begitu saja yang masih setia dengan acara moto gp-nya. Masa bodoh Azka menyadarinya atau tidak yang penting sekarang bisa tidur nyenyak.