KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
16 Our Home Our Future



"Kok lama banget sih ketemu BK aja" batin Kinara yang sudah lebih setengah jam menunggu Azka menjemputnya. Sekolah sudah mulai sepi hanya tersisa anggota osis yang sedang rapat dan beberapa siswa yang melakukan kegiatan ekskul.


"Sendiri aja..nunggu Kak Revan ya" tanya seseorang yang sudah duduk di samping kirinya. Kinara tertegun mendapati Rangga sudah ada disampingnya. Ia menggeser sedikit posisinya dan memberikan jarak. Ia tak mau Azka berfikir macam-macam tentangnya jika melihatnya duduk berdua dengan Rangga.


"Iya bentar lagi juga nyampe" jawabnya seraya mengedarkan pandangannya mencari-cari mobil Azka. Pucuk di cinta ulampun tiba mobil Azka sedang melaju ke tempat ia menunggu saat ini, tanpa menunggu lama, Kinara segera bergegas menghampiri Azka yang masih berada 30 meter dari tempatnya menunggu. "Aku duluan Angga" pamitnya tanpa menoleh. Kinara lupa bahwa ia melupakan sesuatu yang tertinggal.


"Eh Ra ini...." Rangga menghembuskan nafas pelan memegang benda kesayangan milik Kinara. Rangga tersenyum "kamu masih sama, benda ini gak pernah lepas kemanapun kamu pergi" gumam Rangga lalu beranjak pergi dari halte.


"Kenapa gak nunggu aja sih?" tanya Azka saat Kinara sudah memasuki mobil.


"Gak papa yuk cepetan ke apartemen" titah Kinara seraya memasang seat belt.


Azka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai Azka memarkirkan mobilnya dan mengajak Kinara melihat apartemen mereka.


"Assalamualaikum" ucap Kinara saat Azka membuka pintu apartemen.


"Waalaikumsalam Silahkan masuk Nyonya Einsley" ujar Azka mempersilahkan Kinara.


"Waaah ini apartemen apa hotel bintang sepuluh?? Kelewatan mewah" ucap Kinara memperhatikan seluruh ruangan mulai dari sofa, dapur, bar, dan tentunya kamar yang akan mereka tempati, semua nampak mewah.


"Seneng gak? Bagus kan?" tanya Azka


"Semua udah bagus cuma mau di kasi polesan dikit aja biar keliatan adem" ujar Kinara


"Apa?" Azka bertanya penasaran


"Kaligrafi gak ada" ucap Kinara datar


"Hmm oke nanti aku cari ahli kaligrafi tinggal kamu aja yang atur" ujar Azka


"Kamarnya ini?" tanya Kinara menunjuk salah satu ruangan yang masih tertutup.


"Hemm" Azka mengangguk lalu membuka pintu. Kinara masuk dan memperhatikan seluruh ruangan kamar. 2 meja belajar lengkap dengan komputer dll, ruang ganti, satu kamar mandi dan..


" Tempat tidur cuma satu?" tanyanya lagi. Azka mengangguk menanggapi.


"Kenapa?"Azka balik bertanya.


"Enggak apa-apa hehe" jawab Kinara cengar cengir.


"Kalo ada yang enggak kamu suka di kamar dan mau kamu ubah ngomong aja nanti aku panggil Bang Radit buat ngubah sesuai selera kamu" tutur Azka.


"Gak usah ini aja udah bagus banget" ujar Kinara. Ia berjalan menghampiri tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya karna lelah. " Nyamanna.." batinnya


Drrrrt Drrrrt ponsel Azka bergetar, rupanya sang mama menelpon dan memberitahunya kalau nenek Handoko akan mampir ke apartemen mereka. Azka menggaruk kepalanya gelisah. "Arrrghh kok dadakan banget sih...??


"Kenapa mama?" tanya Kinara yang heran melihat Azka


"Nenek mau dateng kesini Ra..kita harus gimana dong?"


"Apa?" Kinara tak kalah terkejut, ia kalang kabut berlari keluar kamar mencari sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menyambut nenek Handoko.


"Azkaaaa kok kulkas gak ada isinya??" teriak Kinara dari arah dapur.


"Tempat air juga kosong, piring, gelas panci dan lainnya juga gak ada??"


Azka semakin dibuat bingung dengan teriakan Kinara. Ia lupa membeli peralatan dapur dan kawan-kawannya kemarin karna sibuk membantu Varo mencari istrinya.


Ting tong


Bel berbunyi, Azka segera keluar sebelum membuka pintu ia mengecek siapa yang datang, rupanya Radit tangan kanan mama nya. Ia segera membuka pintu dan melihat Radit dan beberapa orang suruhan mamanya membawa semua kebutuhan mereka termasuk pakaian.


"Silahkan masuk Bang, Bik Minah, Bik Sri, Pak Supri. Kalian pasti disuruh mama ya??"


"Iya Den, Non Kinarnya mana? Biar saya bantu memasak untuk makan malam" Tanya Bik Sri.


"Ada di dapur Bik masuk aja."


"Ini mau di simpan dimana Den? Tanya Pak Supri membawa masuk beberapa kardus besar bersama Radit.


"Terserah Bang Radit deh yang nata, aku nurut aja. Dadakan sih aku bingung mau mulai darimana" Ujar Azka.


Kinara sibuk di dapur bersama Bik Sri dan Bik Minah menata ini itu dan memasak untuk menyambut kedatangan orang nomor satu di keluarga Anderson.


Azka membantu Pak Supri dan Bang Radit menata ruangan.


" Bang ini foto keluarga apa perlu juga di pasang?" tanya Azka pada Radit.


"Harus ! dari pada lu kena amuk Nyonya Besar" jawab Radit datar


"Nenek mah daridulu gak pernah berubah terlalu perfectsionis padahal ngatur anak kandungnya sendiri aja sampe sekarang gak bisa" dumel Azka


"Huushh gak boleh ngomong gitu Den, pamali atuh itu namanya gak sopan. biar bagaimanapun beliau tetap nenek Aden" tegur Pak Supri.


"Iya iya maap"๐Ÿ™๐Ÿ˜‰ cicit Azka


"Sofanya geser dikit lagi Ka" titah Radit


"Huh akhirnya kerjaan kita selesai ya Pak Pri" Ujar Radit lagi dan di balas anggukan oleh Pak Supri


"Den tadi nyonya nitip ini buat Aden" ujar Pak Supri sembari memberikan sebuah paper bag pada Azka.


"Ini Apa?" tanya Azka mengambil paper bag dan membukanya.


"Oh ini hampir kelupaan pasti nih" gumam Azka "Makasih Pak" ucap Azka lagi berlalu meninggalkan mereka.


Azka menyimpan paper bag diatas meja disusul Kinara yang masuk ke dalam kamar karna pekerjaannya sudah selesai semua. "Mereka udah pulang?" tanya Azka saat Kinara masuk kamar. "Udah barusan aja" jawab Kinara seraya merebahkan tubuhnya diatas papan empuk (kasur) dan Azka mengikutinya pula.


Mereka diam sejenak memandang langit-langit kamar yang kini menjadi tempat tinggal mereka.


"Our home our future" Ucap Kinara membaca sticker yang tertempel di salah satu dinding kamar. Kinara menoleh melihat Azka


"Itu kamu yang tempelin wallstickernya?" tanyanya kemudian


"Bang Radit, gak suka ya??" Azka balik bertanya


"Lucu aja hahaha" balas Kinara cengengesan


"Selucu orang disampingku" ucap Azka sedikit menggoda membuat Kinara tersipu malu mendengarnya.


"bisa ae..." ujar Kinara menepuk pelan pundak Azka


"Gak" Jawab Kinara Singkat, "Kamu gimana?" tanyanya balik


"Tidak ada dalam kamus hidupku" Ujar Azka.


"Kita jalani sama-sama, toh semua akan indah pada masanya." Kinara berujar


"Kamu pernah jatuh cinta gak?" tanya Azka yang membuat Kinara diam beberapa saat sebelum menjawab


"kenapa nanya gitu? Kamu sendiri pernah jatuh cinta?" tanya balik Kinara


"Cinta masa kecil!" jawab Azka


"Gimana maksudnya?๐Ÿคจ Kamu udah jatuh cinta dengan anak kecil?๐Ÿคจ Lu pedofil hah.. .?๐Ÿ˜ฒ


Tuuk Azka memukul pelan kening Kinara. "Ngaco deh bukan gitu! maksudnya aku pernah suka sama seseorang waktu kecil sampe pita rambut anak itu aku bawa pulang"


"Bwaaaahhaaahahhaa " Kinara tertawa lepas mendengar penuturan Azka.


"Tawa ini.......ini tawa yang sama.... baru kali ini gua liat dia tertawa selepas itu" batin Azka.


"Gak lucu deh Ra.." Azka mendengus dan menggelitik pinggang Kinara.


"Brenti gak...?? Ucap Azka tanpa melepas gelitikannya membuat Kinara tertawa semakin kencang


"Bwaahhahaha udaaaah ahhh geli maaas.. Ahhaaahhaa udaaahh" pinta Kinara


"aah... Ahaha...ud...udaaah...ak..aku... Aku geli Azkaaa" Kinara memohon sembari berlari memutari kamar dan Azka mengejarnya. Jadilah mereka saling kejar mengejar, saling lempar bantal.


"Udah ah capek" pinta Kinara yang berhenti di samping ranjang dengan nafas terengah-engah. Azka memutari ranjang setengah lingkaran, Kinara yang belum siap naik keatas ranjang akhirnya dapat diraih oleh Azka. Kinara terjatuh menyamping dan Azka jatuh memeluknya.


Mereka terdiam saat kedua iris mereka bertemu. Azka menyurai anak rambut yang menutupi wajah Kinara dan meninggalkan bekas rona kemerahan di wajah gadis itu. Kinara berbalik membelakangi Azka namun Azka semakin mempererat pelukannya di pinggang ramping istrinya.


"Gini aja aku ngantuk Ra.." bisik Azka membuat gadis itu menarik kedua sudut bibirnya membantuk bulan sabit.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 malam Azka dan Kinara masih belum terbangun dari mimpi indah mereka.


Kinara membuka matanya perlahan saat merasakan gerakan dari tangan kekar yang melilit pinggangnya sangat erat. Kinara melotot melihat Azka yang memeluknya sangat erat.


Kinara keluar menuju dapur setelah sebelumnya membersihkan diri. Sedangkan Azka masih sibuk dengan mimpi indahnya meski sejak tadi Kinara sudah membangunkannya.


"Udah bangun cucu oma?"sapa seseorang yang tengah duduk di sofa. Kinara menoleh dan mengangguk malu serta terlihat salah tingkah. Ia segera menghampiri dan mencium tangan wanita tua itu.


"Oma apa kabar? Kapan sampainya?kok Kinar gak denger oma datang tadi?"Tanya Kinara


"Alhamdulillah oma sehat walafiat, sejak sore tadi, kalian masih tidur jadi oma gak enak mau bangunin. hem suami kamu mana nduk?"


"Masih tidur hehehe sebenernya udah Kinar bangunin sih tapi mungkin masih capek abis beberes tadi."


"Ya udah bangunin lagi gih, oma tunggu di ruang makan".


"Baik oma" Kinara berlalu menuju ke kamar


"Oma tadi kesini dianter mama?" tanya Azka setelah menghabiskan makan malamnya.


"Gak. Mama kamu terlalu sibuk jadi oma dianter sama Radit. Oma gak bisa lama-lama setelah ini oma akan langsung pulang ke rumah soalnya kakek enggak bisa di tinggalin kelamaan."


"Nginep aja dulu oma semalem. Emang gak capek bolak balik Nganjuk-Jakarta? Jauh loh oma.." saran Azka.


"Insha Allah oma sehat dan selamat sampai rumah. Oma kemarin kesini jengukin sepupu kamu aja.malam ini juga oma harus pulang kasian kakek kamu nangis bawang soalnya kakinya keseleo njlungup nek sawah salto sama kerbaunya si memet 3 hari yang lalu." papar oma yang langsung mengundang tawa kedua cucu dan menantunya.


"Bwahahahahaaa kakek mah dari dulu gak berubah pecicilan."


"Makanya oma ngajakin pindah ke Bandung kerumah lama biar gak pecicilan lagi tapi emang dasar kakek mu yang suka banget nyari masalah."


Ketiganya asik bercerita sampai waktu berkunjung Oma Handoko selesai karna sang asisten sudah datang menjemput.


"Jadi imam yang baik buat istrimu jangan sakiti dia tapi sayangi dengan segenap hati jiwa dan ragamu. Dan kamu nduk jadikan suamimu sebagai ladang ibadah dan jalan syurgamu. Oma pamit, yang akur ya jangan kayak kakekmu pecicilan bikin jantung oma disko tiap hari dengan tingkahnya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam oma hati hati, kabarin kalau udah nyampe rumah.


***


"Gak ngantuk? ini udah hampir jam sebelas lewat loh ra.." tegur Azka seraya mengambil posisi yang sama di samping Kinara.


"Tanggung lah nih tugas udah dari minggu kemarin belum kelar, jatuh tempo besok. Tau sendiri lah pak Fahri itu galak banget. Satu tugas beranak pinak trus waktu cuma seminggu belum tugas yang lain-lain" cerocos Kinara


"Udah jan bawel kerjain aja nih liat punyaku kalo gak bisa." titah Azka sembari menyodorkan buku tugasnya pada Kinara.


"Ka-kamu kapan ngerjainnya??" tanya Kinara tak percaya sembari membolak balik buku Azka. "Ini mah udah pasti dapet A++" imbuhnya lagi.


"Aku liat deh ya...boro-boro mikir sekali-kali lah.." Ucapnya lagi.


"Yang penting imbalannya sesuai.." ujar Azka datar


Kinara menoleh seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Maksudnya apa nih??" tanyanya


"Gak ada, besok kita ke indoapril belanja kebutuhan dapur." kilah Azka


"Gak ikhlas nih?" tanya Kinara lagi


"Ikhlas istriku sayaaaangg..."


"Tadi minta imbalan berarti gak ikhlas dong..."


"Emang situ mau kalo aku minta imbalannya sekarang..?"ucap Azka tanpa menoleh dari layar komputernya.


"Ehh...??" Kinara mengeryit


"Cepetan kerja ato aku minta imbalannya sekarang yang tadi sore baru permulaan" titah Azka seraya berbisik di telinga Kinara.


Puuukk


Kinara memukul kepala Azka dengan buku paket di tangannya.


"Ogaaahh..." Ketus Kinara seraya memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Azka tersenyum senang berhasil mengerjai Kinara. Baginya melihat Kinara salah tingkah adalah hiburan tersendiri.