KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 37



Reno sedang berkutat dengan adonan tepung saat ponselnya berdering dua kali di atas meja makan. Tangan yang sudah terlanjur belepotan serta adonan yang belum kalis membuatnya mengurungkan niat untuk mengangkat telepon.


Tante Meri juga sedang menidurkan Angel setelah gadis kecil itu meminum obat penurun panas. Sudah dua hari Angel demam dan buang air terus menerus membuat Tante Meri kewalahan sendiri, karena anak itu yang anti dengan bau rumah sakit sehingga terpaksa om Danu meminta perawat dan dokter agar Angel di rawat di rumah saja tetapi dalam pengawasan dokter.


"Ren, itu hape bunyi terus nggak di angkat?" Tanya Tante Meri yang keluar kamar menggendong Angel.


"Tanggung banget adonan nya Tan, bentar deh aku telpon balik" jawab Reno sembari menguleni adonan.


"Kalau udah Kalis tutup aja baskomnya pakai kain bersih di atas lemari" kata Tante Meri.


"Oke sip ini udah bentar lagi" sahut Reno.


Setelah di rasa adonan Kalis, Reno segera menutup baskom dengan kain bersih dan menyimpannya di tempat khusus yang biasa Tante Meri gunakan untuk mengolah adonan.


Reno membersihkan tangan dari sisa-sisa tepung di wastafel. Kaki nya melangkah melewati pintu belakang dan menoleh sekilas lalu berhenti dan memandang ke arah ladang milik om Danu yang banyak di tanami sayuran hijau. Reno tersenyum, hatinya merasa tentram melihat hamparan sayur memenuhi pekarangan belakang rumah om Danu. Bayangan ibunya hidup di desa tiba-tiba melintas.


Sudah seminggu ini ibunya memang tidak menelpon, karena Dimas juga sedang ujian Nasional. Ibunya hanya pamit akan ke kota saat terakhir kali menelpon satu minggu yang lalu.


Urusan Telpon tiba-tiba ia teringat dengan ponselnya yang masih tergeletak di atas meja makan. Ada dua panggilan masuk yang tadi sempat ia abaikan karena sedang mengaduk adonan donat.


Kakinya melangkah cepat ke arah dalam dan meraih ponsel di atas meja makan secepat kilat. Sebuah nomor yang sudah ia kenali yang hanya ia beri inisial huruf V.


"Ada apa mbak Vivi nelpon?" Batinnya lalu segera melakukan panggilan. Dua kali panggilan baru tersambung.


"Assalamualaikum" ucap Reno


"Waalaikumsalam, akhirnya kamu yang nelpon Ren, dimana?" Tanya orang di seberang telepon


"Di rumah, ada apa mbak?"


"Bisa minta tolong jemput aku dan temanku di bandara?"


"Sekarang mbak?" Tanya Reno sedikit terkejut


"Ini masih di bandara Soetta, kalau pesawat nggak transit ya aku sampai sekitar dua jam_an lah" ucap Vivi


"Oh oke, aku otewe ke bandara sekarang karena perjalanan cukup jauh mbak, kurang lebih hampir enam jam, emang mbak bisa nunggu selama itu?" kata Reno menyetujui


"Gimana ya ren, mbak nggak ada kenalan di sana selain kamu, gini aja kebetulan hotel yang kami pesan nggak jauh dari tempat acara, nanti mbak kirim nama hotelnya ya" ucap Vivi bimbang


"Em, kemungkinan sore aku baru sampai di sana, apa nggak papa?" tawar Reno seraya melihat jam di dinding


"Nggak papa, lagian acaranya dua hari dari sekarang kok" kata Vivi


"Mbak, nggak tahu tempat acaranya?"


"Ada cuma di kirim nama saja, katanya sih sekitar satu jam dari bandara"


"Ya udah nanti kalau mbak kelamaan nunggu, aku telpon temen aku buat jemput ya, kita ketemu di hotel saja"


"Bisa-bisa ide bagus, oke kalau gitu sampai ketemu nanti"


"Oke mbak assalamualaikum "


"Waalaikumsalam"


Reno mematikan sambungan telepon, melangkah masuk ke dalam kamar. Baru sejengkal kakinya masuk melewati pintu ia teringat janjinya hari ini akan bertemu Andin dan membantu gadis itu pindah kontrakan.


Reno menepuk jidatnya berkali-kali dan menyumpahi diri sendiri yang pikun.


Sejurus kemudian Reno sudah berbicara dengan Andin melalui sambungan telepon. Wajahnya berubah setelah telepon berakhir.


"Huh untung Andin bisa ngerti, lagian ngapain juga minta tolong sama gue kemarin? Bukannya temennya juga banyak, bisa juga bayar jasa ojek kek atau grab kek" gumam Reno.


"Ren, bantuin goreng bisa? Mumpung Angel udah tidur" kata Tante Meri dari arah dapur.


Reno langsung berlari keluar kamar dan menemui Tante Meri di dapur yang sedang menyiapkan peralatan tempur untuk menggoreng dan menghias donat.


"Maaf Tan, bisa pamit mau ke Banjarmasin nggak?" Tanya Reno dengan rasa bersalah


"Loh mau ngapain? Ini kan hari Sabtu kamu libur kuliah kan, nggak ada kegiatan" tanya balik Tante Meri.


"Gini Tan……" akhirnya Reno menceritakan hal sebenarnya pad Tante Meri


"Ya udah sekalian aja Tante nitip belanjaan hahaha, tunggu ya Tante ambilin catatan, oh ya kamu bawa aja mobilnya om, daripada nganggur di bagasi" ucap Tante Meri


Reno hanya memutar bola mata jengah, kalau sudah begini alamat keliling pasar dan mall.


Baru saja terpikirkan oleh Reno, orang yang di maksud datang membawa sebuah bungkusan berisi buah apel dan anggur pesanan ratu kecil.


"Kebetulan Lo cepet datang, ikut ke Banjarmasin yuk, gantian nyupir ya" seru Reno membuat Arzan langsung menoleh dengan wajah bingung


"Aku mau ada latihan sholawatan sore nanti di mushola mas"


"Cancel, ntar gue yang izinin sama pak ustadz"


"Jiah,pasti mama nyuruh mas Reno ke Banjarmasin kan?" Tuduh Arzan pada ibunya


"Lah malah nuduh mama, tanyain sendiri orangnya,enak aja"ucap Tante Meri kesal karena tuduhan sang anak


"Lah tuh isinya daftar belanjaan mama semua" ucap Arzan mengambil paksa kertas catatan di tangan Reno dan mengangkat tinggi di depan mama nya.


"Zan, adik ku sayang, gue ada urusan ke Banjarmasin makanya gue ngajak elo, biar ada yang gantiin gue nyupir sembeeeb" ucap Reno kesal menjewer telinga Arzan.


"Aaah sakit mas. Argh lepasin" ucap Arzan memohon


"Minta maaf dulu sama mama baru gue lepas, enak aja Lo nuduh orang tua, nggak nanya dulu sama gue" sltitah Reno


"Ya abis gue kesel mama selalu ngandelin mas Reno buat nyuruh ini itu, aku yang enggak enakan karena mas Reno tamu di sini, meskipun kita masih keluarga jauuuhh aarrg sakit mas" ucap Arzan sambil meringis menahan sakit


"Oh gitu, sekarang minta maaf dulu"


"Maaf ma udah nuduh yang bukan-bukan jangan marah" ucap Arzan pada mamanya. Tante Meri hanya tertawa melihat tingkah Reno da Arzan yang selalu berdebat saat di rumah.


"Gitu dong, ayo siap-siap kita berangkat sekarang, perjalanan jauh" titah Reno membuat Arzan tersenyum mengejek.


****


"Jadi gimana Vi, kita nggak bakal tersesat kan disana?" tanya Vira sahabat sesama dosen di kampus.


"Jadi, tapi kita nunggu sampai sore di bandara soalnya dia tinggal di pelosok, perjalanan hampir enam jam ke Banjarmasin" jawab Vivi


"Ah biarin yang penting kita nggak tersesat, gue masih trauma perjalanan jauh waktu ngisi seminar profesi guru tahun lalu di Makassar gara-gara hp lobet gue nggak bisa hubungi pihak panitia alhasil gue nyari alamat sendiri modal ojek" cerita Vira mengenang kisahnya setahun lalu.


"Ya udah lah, itu kan masa lalu, makanya kebiasaan lama di ilangin, kalau mau kemana-mana ponsel di isi daya dulu, atau bawa power bank sekalian biar nggak ribet di jalan" sahut Vivi, Vira hanya nyengir saja mendengar Omelan Vivi.


"Tuh kita di panggil, ayo masuk pesawat mau take off" ucap Vira sembari berdiri dan mengambil tas serta koper di ikuti oleh Vivi.