
"Faras, papa boleh nanya?" tanya Hanan sore itu saat menemani anaknya bermain Lego di kamarnya.
"Boleh, nanya apa?" tanya balik Faras
"Soal foto yang kemarin Faras dapet di gudang" kata Hanan memulai pembicaraan
"Oh foto itu, aku pernah lihat foto itu dulu sebelum di simpan sama ibu di gudang, aku lihat di album lama mama, trus aku nanya ke mama katanya itu teman ibu, tapi aku nggak percaya kalau teman ibu kenapa pakai baju pengantin yang sama dengan ibu?" ucap Faras sembari menata Lego nya.
Hanan mengangguk, berarti anak itu memang sudah tahu dari kakak iparnya, tapi bagus lah kalau Kinara tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi dari mana Kaila sampai bertanya aneh padanya kemarin? pikir Hanan
"Emang mama ngomong apa ke kamu waktu itu?"tanya Hanan
"Cuma ngomong itu temannya ibu, itu aja kok"jawab Faras
"Oh gitu, trus darimana Faras bisa menyimpulkan kalau itu mantannya ibu?" tanya Hanan dengan berani
"Ayah cemburu ya?"goda Faras membuat Hanan mau tak mau merasa kesal juga pada sang anak
"Ya nggak, ayah cuma mau tahu darimana Faras bisa menyimpulkan kalau itu mantan ibu?"tanya Hanan meyakinkan
"Emang Faras ngomong gitu?"tanya Faras mencoba membela diri
"Ya nggak sih, tapi Kaila yang ngomong ke papa kemarin" jawab Hanan merasa terpojok
"Aihh Kaila ember bocor" ucap Faras dengan bibir mengerucut dan tangan bersedekap.
"Hayo nggak boleh ngatain orang sembarangan, jujur aja" kata Hanan sedikit memaksa
"Hmm iya, maaf pa, Faras pernah lihat ibu menangis lihatin album itu sampai ketiduran, pas aku masuk aku lihat foto yang di pegang ibu, foto yang aku ambil kemarin"ucap Faras Jujur
Hanan hanya diam saja tak bicara sepatah katapun, meski sudah dua tahun berlalu sejak pertama kali mereka bertemu Reno, akan tetapi ia tak pernah menyangka jika sang anak justru selama ini mengetahui apa yang orang tuanya sembunyikan.
"Papa, apa Faras anak papa?" tanya Faras menatap sang ayah lekat.
Sungguh Hanan tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
"Faras, kenapa nanya gitu?" tanya Hanan tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Trus kenapa ibu nangisin foto om Reno?" tanya Faras
"Nak, tidak semua hal tentang orang dewasa harus kamu tahu, apa yang mama Kinar bilang memang benar om Reno itu teman kami, teman papa Azka, mama Kinar, teman ibu dan juga teman papa, kami berpisah karena sudah punya keluarga masing-masing, tapi kami masih berteman" jelas Hanan memegang pundak sang anak.
"Kalau memang berteman kenapa ibu pernah nangisin om Reno? Trus kenapa di foto itu mereka pakai baju yang seragam?" pertanyaan itu muncul begitu saja dari bibir mungil anaknya.
"Nak, waktu itu papa juga di sana, cuma papa nggak ikut foto, kami semua memang harus pakai seragam" jelas Hanan dengan rasa kesal yang melimpah
"Tapi kenapa ibu marah waktu aku kasih lihat foto itu?" tanya Faras lagi
"karena, karena ibu pernah punya salah sama om Reno, mereka pernah bertengkar karena urusan orang dewasa, tapi sekarang udah baikan kok" ucap Hanan mencoba mencari jawaban yang bisa menghentikan kinerja otak anaknya agar tak bertanya lagi.
"Bertengkar? Emang orang dewasa bertengkar kayak gimana?" tanya Faras membuat Hanan semakin kesal.
"Mas Faras udah waktunya ngaji, ayo siap-siap" panggil mbak pengasuh yang merawatnya selama ini.
Hanan bernafas lega, akhirnya ia bisa tertolong berkat kehadiran mbak Asih asisten rumah tangga yang bertugas merawat Faras.
Faras menurut pada mbak asih untuk bersiap dan Hanan langsung keluar kamar.
Menghadapi sang anak yang memiliki turunan kecerdasan darinya memang sedikit memusingkan. 80% Faras memang mengaliri jiwanya baik dari segi kognitif dan psikomotorik nya. Afektif nya hanya 20% dari Keisya.
Menghadapi Faras yang pendiam dan di kenal anak introvert jika di luar rumah ternyata justru membuat kesan tersendiri bagi Keisya dan Hanan dalam mendidik.
Bukan hanya orang tuanya bahkan guru di sekolah pun di buat tak berkutik oleh pertanyaan yang biasa di lontarkan oleh Faras.
Samar-samar Hanan mendengar pertengkaran kedua anaknya yang selalu merebutkan sesuatu dari luar.
"Mas Faras itu Iqro ku, punya mu di lemari mas" teriak Kaila dengan suara cemprengnya
"Aku pinjam, kamu pakai yang itu" jawab Faras cuek
"Enggak mau" teriak Kaila menangis kencang.
kalau sudah begini hanya dia yang bisa mendiamkan kedua anaknya. Keisya sudah pasti kelelahan melerai mereka dan yang terjadi malah nantinya satu diantara mereka mendapat cubitan dari Keisya.
Hanan keluar dengan nafas panjang pendek menghampiri kedua anaknya yang masih berebut iqro yang mereka pakai mengaji di mushola.
"Punya mas ada dimana?" tanya Hanan pada Faras
"itu sama mbak, tapi aku mau pinjam ini pa, ini tulisannya besar, punya ku tulisannya kecil" ucap Faras merajuk.
"ya udah besok papa belikan iqro yang besar biar mas bisa lihat, sekarang pakai punya mas dulu ya? Bisa?"
Faras mengerucutkan bibirnya menatap Kaila yang menangis tergugu di pangkuan mbak Asih.
"Nggak kasihan sama adek?" tanya Hanan lagi. Faras masih tetap diam.
"Ya udah gini aja, biar adek yang ngaji duluan, nanti kalau sudah adek baru mas pinjam Iqro nya, gimana?" tawar Hanan
"Tapi..,...." ucap Faras.
"Faras" panggil Kinara dengan tatapan tegas pada anaknya.
Anak itu langsung mendongak dan menatap wajah ibunya dengan rasa takut. Tangannya kemudian mengulur memberikan Iqro milik Kaila.
Hanan hanya mendesah, seperti ini lah Keisya yang selalu bersikap galak pada Faras ataupun Kaila jika mereka bertengkar, dan alasan itulah yang membuat Faras terkadang takut berbuat salah apalagi mendekat dengan ibunya.
"Minta maaf" titah Keisya tak terbantahkan
Faras hanya diam dan dan berjalan lalu memeluk sang adik dan menenangkannya.
Keisya hanya diam menatap kedua anaknya yang berpelukan. Setelah tangis Kaila reda, mbak asih langsung menuntun gadis kecil itu mencium tangan kedua orang tuanya lalu pergi ke mushola.
Faras masih berdiri menahan tangisnya, Hanan yang tahu betul watak sang anak langsung menghampiri dan memeluknya.
"Jangan di ulangi, kalau mau pakai barang orang lain harus pamit dulu, kalau di bolehin ya di ambil kalau nggak jangan maksa" ucap Hanan menasihati.
"Bu, maaf hiks hiks" ucap Faras meminta maaf pada ibunya.
Keisya hanya mendesah dan menarik nafas panjang lalu memeluk sang anak.
"Denger apa yang papa bilang kan? harus di ingat" ucap Keisya menatap anaknya
"Iya" jawab Faras menangis tergugu di pelukan Keisya.