KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
51 Calon Mertua Revan



Pak Wibowo memandang kepergian Keisya dengan linangan air mata. Revan tak melepaskan pelukannya pada sang ayah. karna ia juga merasakan hal yang sama. andai waktu bisa di putar kembali ingin rasanya Revan membuat perhitungan dengan penculik itu yang tak lain adalah saudara tiri almarhumah Ibunya.


"Ayah sabar ya semua akan indah pada waktunya, ayah jangan putus asa karna Allah swt nggak tidur." ucap Revan menenangkan ayahnya.


"Ayah tidak sanggup seperti ini terus Van, rasa bersalah ayah pada ibu mu belum usai jika ayah belum meminta maaf pada Keisya" Ucap pak Wibowo rapuh


Revan tersenyum getir mendengar ucapan ayah nya. "Bismillahirrohmanirrohim semua pasti bisa kita lalui ayah, biarkan Keisya seperti ini dulu, ayah tahu kan selama ada Rena Keisya sudah banyak berubah, kita harus yakin semua pasti bisa kita lalui" ujar Revan menenangkan ayah nya


"Ayah nggak salah membesarkan mu nak" ucap pak Wibowo spontanitas sambil tersenyum pada anak sulungnya, kening Revan berkerut mendengar penuturan ayahnya. menyadari ucapannya pak Wibowo segera mengalihkan perhatian.


"Ya udah ayok pergi nanti keburu Keisya pulang kita mau cari alasan apa lagi" ucap pak Wibowo lalu meneruskan langkahnya meninggal kan Revan yang masih bingung dengan ucapan ayah nya.


"Loh ayok keburu matahari terbit,ini masih jam 5 kurang seperempat cepetan, kita masih bisa kejar waktu"ucap pak Wibowo membuyarkan lamunan Revan


"I-iya ayah" ucap Revan kemudian melangkah menyusul ayahnya.


"Jadi kapan kamu bawa ayah ketemu sama calon mertua mu?" tanya pak Wibowo tiba-tiba saat Revan sudah mensejajarkan langkahnya.


"Iishh ayah ngapain nanya gitu sih?" ujar Revan malu


"Mau sampai kapan kamu nggak jujur sama pak Rowi kalau kamu calon suami anak nya?"


Kali ini ucapan ayahnya mampu membuat Revan benar-benar salah tingkah


"Kok ayah tahu sih?"


"Jangan bilang kalau ayah selama ini mata-matai Revan ya?"


"Hayo ngaku yah"


Revan memberondong pertanyaan yang membuat pak Wibowo akhirnya terbahak-bahak


"Bwahahahahahaha" pak Wibowo tertawa


"Akhirnya keceplosan"ucap pak Wibowo kemudian


"Kamu ingat saat kalian masih semester 3 S1 dulu?" lanjutnya lagi


"Emang kenapa?"tanya Revan penasaran


"Waktu itu ayah jadi pembicara di fakultas Lutfiah dan dia sebagai pemandu seminar. ayah sudah terkesan dengan pembawaannya yang lugas, ramah dan sopan terlebih lagi kecerdasan yang dia miliki"


"Apa hubungannya sih, ayah ngomong aku nggak ngerti" ucap Revan


"Pas selesai seminar ayah nggak sengaja liat kamu sama lutfiah makan di warung tenda tempat biasa ayah mangkal sama Om Denias dulu, dan waktu itu ayah sempat terkejut juga dan berkesimpulan kalau kalian hanya berteman saja karna dari cara kalian nggak keliatan kalau lagi kasmaran hehe"


"Terus sejak itu ayah mata-matai aku gitu?"


"Nggak"


"Terus kapan ayah tahu semuanya, aku kan belum cerita soal keluarganya selama ini"


"Kamu ingat waktu ayah minta kamu untuk menikah sebelum kita kembali ke sini?"


"Iya"


"Dan kamu nolak dengan alasan belum siap kan?"


"Iya"


"Ya udah ayah cari tahu alasan kamu yang nggak masuk akal itu"


"Ck ayah curang ah, orang aku mau kasi kejutan malah ayah tahu duluan, nggak asik"


"Bwahahaha" tawa pak Wibowo pecah


"Terusin aja ketawa nya" ucap Revan tak terima


" loh tuan kok jalan kaki sepagi ini? ini masih gelap tuan" tanya Ucup yang baru saja datang karna hari ini giliran nya menjaga gerbang utama.


"Oh mang Ucup kebetulan sekali saya lagi butuh" ucap Revan


"Butuh apa tuan?"


"Bisa pinjam motor nya nggak?"tanya Revan


"Bisa bisa tuan tapi motor saya kan jadul, apa nggak apa-apa tuan?"


"Nggak papa soalnya kami buru-buru, motor saya tiba-tiba mogok dan satu kunci serep mobil ketinggalan di kantor sedang kan kunci satunya lupa dimana nyimpen hehehe"


"Ya udah ini tuan kuncinya" ucap mang Ucup seraya menyerahkan kunci motor bututnya


"Makasih ya mang saya pinjam dulu nanti balik ganti yang baru deh" ucap Revan


"Ahh tuan bisa aja, itu motor kesayangan saya tuan, mau ganti kayak eman saya tuh" ujar mang Ucup di sambut tawa pak Wibowo


"Bwahahaa Ucup...Ucup... tenang aja motor kesayangan mu tidak akan pernah tertukar justru akan punya teman di garasi rumah mu nanti hahahaa"


"Ahh yang bener aja tuan"


"Loh dua rius....tunggu aja nanti pulang ke rumah udah nangkring cantik di teras rumah mu" ucap Revan


"Ya udah aku bawa dulu motornya ya mang, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam tuan hati-hati" ucap Ucup lalu ia terhenti sejenak mengingat sesuatu


"Waduuuh bensin nya kan tinggal sejumput nanti kalau mogok gimana??" gumam Ucup kemudian setelah mengingat ia lupa mengisi bahan bakar motornya.


Ucup langsung berlari keluar gerbang utama hendak memanggil kedua tuan besarnya namun nihil mereka sudah berbelok arah keluar area kompleks.


"Haduuuhh gimana ini mana udah jauh pisan" gumam Ucup sembari berkacak pinggang.


"Ehh...Cup ngapain lo di situ, kenapa gerbang nya di biarin terbuka?" panggil salah satu rekannya yang akan pulang karna jadwal jaganya habis.


"Ehh Met, motor gua di pinjam tuan besar terus gua lupa ngisi bahan bakar kemarin, gua teriakin malah udah jauh" jawab Ucup sembari berjalan ke arah gerbang


"Ya udah nasib, mau gimana lagi, makanya lain kali sebelum berangkat kerja cek dulu" ujar rekannya


Sementara itu di perempatan jalan motor yang di kendarai Revan dan pak Wibowo tiba-tiba mati dan tak mau menyala setelah di cek rupanya bahan bakar habis.


"Duh apes gini nasib kita yah, mana pagi buta pom bensin masih jauh" Revan menggerutu seraya berkacak pinggang


"Ya udah kita dorong bareng-bareng, cepetan" titah ayah nya.


"Ya udah deh" ucap Revan mulai mendorong motor. pak Wibowo dengan sigap mendorong dari belakang.


"Pelan-pelan ayah,"


"Kamu itu masih muda Van, masa gitu aja kalah tenaga sama Ayah?" cibir pak Wibowo menggeleng


Revan dan ayahnya masih terus beradu mulut sampai mereka tiba di pom bensin.


**


"Rena,"


"Iya nona?"


"Apa dirumah itu ada orang lain selain aku dan om Denias?"tanya Keisya.


Rena diam sejenak berusaha mencari alasan tepat untuk menjawab pertanyaan nona mudanya.


"Emm setau saya hanya nona dan tuan besar saja dan para pekerja nona" jawab Rena berhati-hati


"Tapi aku merasa ada orang lain yang tinggal di rumah om Denias"


"Maksud nona saya, bik Asih dan pekerja lain ya?"


"Bukan tapi pemilik lain"


"Ahha itu perasaan nona aja, yang tinggal dirumah itu kan hanya nona dan om Denias saja" ucap Rena berasalan.


"Apa kau yakin?" tanya Keisya dan seketika membuat raut wajah Rena pias namun dengan cepat ia mencari alasan


"Gini loh nona, sejak saya datang kerumah untuk bekerja setahu saya yang ada dirumah itu hanya tuan dan nona saja dirumah utama. kalau rumah belakang memang di persiapkan untuk para pekerja beristirahat. saya dan bik Asih saja yang di tugaskan untuk tinggal di rumah utama. kalau rumah belakang sudah ada Mbok Jum dan pak Asep yang menangani itupun mereka hanya beberapa kali saja seminggu datang kemari karna bergantian dengan pekerja yang lain." Rena berujar


"Tapi aku merasa gitu Rena" Keisya kekeuh


"Aahh mungkin perasaan nona saja"


"Ren, apa kamu tahu soal ayah kandung ku?" tanya Keisya tiba-tiba


Rena cukup terkejut mendengar pertanyaan Keisya kali ini.


"Haduh ini gimana jawabnya aku??"batin Rena gugup.


"Halo Rena....kamu dengar aku nggak?"


Rena tersentak saat Keisya menepuk pundaknya beberapa kali.


"Kamu kenapa?" tanya Keisya penasaran


"Eng... enggak kenapa-napa nona saya baru ingat tadi cucian yang saya rendam semalaman belum saya cuci nona" jawab Rena sedikit gugup


"Oo..oh kamu belum jawab pertanyaan aku"


"Yang mana ya nona?" tanya Rena mengalihkan


"Itu loh apa kamu tahu soal ayah kandung ku?"


"Nggak tahu nona, justru saya pikir nona anak tuan Denias!" Rena berujar


"Bukan, dia paman ku, kakak dari mendiang ibu ku" ucap Keisya sendu


"Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi bertemu ayah kandung ku, ayah selalu mengusap lembut kepalaku saat tidur bahkan selalu mencium kening ku dan bilang maafkan ayah nak. gitu" tutur Keisya tertunduk menatap kedua kakinya yang memainkan batu di bawah kursi yang di dudukinya.


Rena menatap sedih nona mudanya. ia teringat kedua orangtua nya yang sudah pergi meninggalkan nya sendiri. ia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua, beruntung ia masih bisa bertemu ayah nya yang sudah merawat dan membesarkan nya sejak kepergian ibunya sesaat setelah ia lahir. Sedang nona muda nya tak pernah sekalipun bertemu kedua orang tuanya sejak kecil.


"Non, kalau seandainya nona bertemu dengan ayah kandung nona bagaimana?" tanya Rena


"Sudah pasti aku tak akan mau kehilangan ayah ku lagi" jawa Keisya


"Kalau seandainya nona sudah pernah bertemu dengannya sebelum ini bagaimana?"


"Jangan ngawur kamu Rena, aku belum pernah bertemu ayah kandung ku sedangkan foto nya saja aku tidak punya apalagi saudari kembar dan kakak laki-laki ku" ujar Keisya sedih


"Nona tahu darimana?"


"Om Denias yang bilang aku punya saudara kembar dan sudah menikah, dan aku juga punya kakak laki-laki yang memegang kendali perusahaan keluarga" ujar Keisya


Rena hanya mengangguk paham. ia sedikit banyak memang sudah tahu tragedi yang terjadi dalam keluarga tuan Denias termasuk tekanan psikologis yang di alami nona mudanya.


"Nona yang sabar ya, Allah swt itu maha penyayang pada semua Hamba NYA, Rena yakin suatu saat nona akan berkumpul dengan keluarga nona kembali"


"Amiiiin. makasih Rena"


"Matahari udah tinggi tuh yuk kita pulang" ajak Keisya


Keisya segera beranjak melangkah meninggalkan taman di ikuti Rena dan para bodyguard di belakang nya.


Keisya memasuki gerbang utama menyapa satpam dan beberapa asisten yang sedang melakukan tugas dan pekerjaan mereka.


"Bukannya itu Kinara?" batin seseorang yang tak sengaja melihat Keisya masuk gerbang utama.


"Apa aku salah lihat?"


"Kenapa Kinara ada di sini?"


"Lalu kenapa dia hanya memakai jeans dan baju pendek?"


"Ahh aku pasti salah liat" batin anak muda itu sembari mengucek mata nya yang tidak perih.


"Ahh sudahlah lebih baik ku antar saja barang ini" batin nya kemudian lalu pergi.