
"Hah lu bikin masalah aja sih Ben, kemana aj sih lo kemaren?" umpat Aldo kesal setelah keluar dari ruang guru menyerahkan tugas dari bu Riri.
"Sorry gue ketiduran di mushola kemaren sampe sore" cicit Beno memelas
" Gue tetep nggak terima ya Ben, gara-gara lo ngilang gue kena hukuman harus lari lapangan futsal belom lagi harus begadang ngerjain ulang tugas bu Riri" ucap Aldo meledak
"Ya, maap"
"Udah deh percuma juga, nggak mungkin kan gue ngumpul tugas dobel satu mata pelajaran, lo minta maaf deh sama bu Riri, jelasin kesalah fahaman kemarin" sahut Aldo geram lalu pergi meninggalkan Beno yang melongo mendengar ucapannya.
Beno menatap sendu pada sahabatnya yang sudah pergi jauh. Ia tahu jika Aldo susah untuk di bujuk jika ada yang melakukan kesalahan padanya. bahkan kata maaf pun nggak akan mempan jika Aldo sudah terlanjur di buat kesal.
Beno menuruti kemauan Aldo menghadap bu Riri dan menjelaskan keteledorannya hingga Aldo tak bisa mengumpulkan tugas tepat waktu. dengan senang hati bu Riri menerima permintaan maaf Beno dan memujinya karna sikap tanggung jawabnya yang besar.
"Kenapa lo?" tanya Azka yang baru saja tiba di kantin
"Aldo, gara-gara gue ketiduran kemarin dia kena hukuman karna telat ngumpulin tugasnya bu Riri, dia marah sama gue" Ucap Beno tak semangat.
"Udah nanti juga baik lagi dianya, makan aja dulu gue traktir" tawar Azka
"Males ah"
"Beneran nih nggak mau, ya udah aku pesen satu aja" goda Azka yang tahu watak Beno sok -sok an nolak
"Beneran"
"Oke, mang bakso nya satu ya jangan pedes" ucap Azka pada mang sueb pemilik kantin.
"Sip Den"
"Nambah 3 mangkok mang, kuahnya banyakin pentol nya yang paling gede" teriak Beno
"Diiih lagu lamaaaa..." ejek Azka
"Hihihu kapan lagi gue makan gratis, abis ini gue ke oxford hahaaaa"
"Belum tentu ke terima"
"Doa lo jelek njir"
"Emang lo berani sama tantangan gue dulu?"
"Siapa takut, eh btw lo udah ketemu si udin kan?"
"Udah lama njir kenapa sekarang lo baru nanya?" tanya balik Azka
"Gue lupa, jadi gimana ceritanya?"
"Nggak tahu" Azka mengedikkan bahu "gue udah nggak pernah ketemu Udin setelah itu" lanjutnya.
"Yang gue denger, kasusnya anak pak Londi di buka lagi ya?"
"Hem, gue udah nggak mau ngurusin itu lagi, gue serahin sama papa dan kak Sean aja"
"Gue nggak nyangka sebegitu bejatnya tuh orang, trus gimana kabar sodara kembar Kinara?"
"Gue nggak tahu kalau itu, liat orangnya aja nggak pernah gue, coba lo tanya Aldo dia tahu semuanya"
"Hmm, makasih mang" obrolan mereka terhenti saat mang Sueb menyuguhkan pesanan mereka.
"Mending sekarang kita fokus aja sama kuliah, mau ambil jurusan apa, nggak usah dulu mikirin itu, suatu saat bakal ada jalan keluarnya kok" usul Azka sembari memasukkan saus dan kecap ke dalam mangkuk baksonya.
"Hemm bener juga, tapi gue sempet denger cerita dari Aldo kalau Kinara sempet ngamuk apa bener?"
"Hemm emang iya, sampe sekarang kerjaannya ngamuk mulu sama gue"
"Secara lo kan yang selalu duluan ngajak ribut kelees"
"Abis ngeselin banget"
"Lo nya aja yang baperan, terlalu cemburuan lo jadi laki"
"Karna gue sayang gue cinta , wajar kan?"
"Terlalu berlebihan aja sikap lo njir, wajar kalo Kinara ngamuk mulu"
"Au aahh.."
***
"Do anterin ke rumah om Denis" ucap Kinara saat mereka hendak pulang. Azka yang duduk di samping kemudi hanya diam tak menanggapi.
"Yakin mau kesana?"
"Yakinlah, kenapa emang?"
"Ya nggak mau aja gue angkat body lo yang berat, sapatau pingsan lagi" omel Aldo membuat Kinara melotot kepadanya. Azka yang mendengar ucapan Aldo hanya diam berusaha menata detak jantungnya. ada sesuatu yang menusuk di sana.
"Janji lo"
"Deh, seenggak percayanya lo sama gue?"
"Antisipasi aja. boleh dong"
"Ckk dasar"
"Udah ayo lanjut, kapan perginya kalau kalian debat mulu, gue ada kepentingan juga" sahut Azka menengahi.
Aldo melajukan mobil dengan kecepatan sedang. sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu. masing-masing sibuk dengan pemikiran sendiri.
"Kok sepi banget ya?"ucap Kinara melihaf kondisi rumah tuan Denias.
"Mang, orangnya kemana kok sepi?" tanya Kinara pada satpam yang heran melihat kehadirannya. rupanya satpam baru itu tidak mengenalinya.
"Maksudnya nona?"
"Loh, mamang baru ya disini?" tanya balik Kinara
"Iya saya baru, gantiin si Ucup sementara waktu karna pulang kampung jenguk orang tuanya"
"Oh gitu, oh ya saudara kembar saya ada di dalam kan?"
"Maksudnya nona muda Keisya?"
"Iya, dia adik saya"
"Oh, udah keluar sama Rena dari tadi, katanya mau ke jalan-jalan ke mall baru yang besar itu loh non"
"Ooh Grandmall maksud nya?"
"Ahh iya itu, mungkin sebentar lagi juga pulang, soalnya tuan besar katanya mau berkunjung"
"Baiklah aku tunggu mang, tolong bukain pintu utama"
"Oh sudah ada mbah Jum sama mang Asep di sana non, hari ini giliran mereka jaga rumah, yang lainnya sedang istirahat di rumah belakang".
"Oh iya makasih, mang" ucap Kinara dengan dahi berkerut mendengar dua nama yang tak asing di telinganya.
Kinara melangkah masuk menuju ke pintu utama yang jaraknya lima meter dari arah gerbang.
"Do, lo yakin kita nggak ikut ke dalam?"tanya Azka gelisah
"Lo aja samperin, kan lo suaminya, gue mau di pos satpam aja mau ngerokok dulu"
" Ya udah deh, gue kesana ya"
"Sip"
Azka segera menyusul langkah Kinara menuju ke pintu utama.
"Ra, lo baik-baik aja?" tanya Azka gelisah
"Lo pikir?" Kinara menjawab ketus. Azka menghela nafas, ia tahu Kinara mungkin masih marah padanya setelah kejadian kemari sore.
akhirnya Azka memilih diam dan duduk di kursi yang tersedia dia samping pintu utama.
"Ngapain lo ikutin gue, bukannya lo mau pergi sama pak dokter?"
"Nggak papa, lagian nggak buru-buru amat sih om Fritz kok"
"Oh ya udah, yang penting sabar aja nungguin gue"
"Nggak papa,aku malah seneng"
Azka merasakan perubahan drastis pada Kinara. ada rasa bersalah menyusup dalam hatinya, mengingat semua pertengkaran mereka selama beberapa waktu ini.
Azka bisa memaklumi jika Kinara masih belum menerima keadaan dirinya dan keluarganya terlebih tentang saudara kembarnya yang ternyata masih hidup. mungkin berat bagi seseorang yang selama ini menganggap semua telah berakhir ternyata masih ada lingkaran takdir yang tak bisa di prediksi.
Hari ini Azka merasa lebih tenang karna semalam dokter Fritz sudah memberinya banyak wejangan hingga membuatnya merasa plong saat bangun subuh.
"Ra, maaf soal kemarin, aku kelepasan karna emosi" ucap Azka lirih pada Kinara yang duduk di kursi sebelah.
"Nggak papa, jangan di ulangi lagi, jujur gue capek kalau kita begini terus, maafin gue yang selama ini nggak pernah berusaha ngertiin lo". ucap Kinara menunduk.
"Lo nggak salah, gue sama keluarga gue yang udah banyak salah sama lo, nggak seharusnya lo nerima perlakuan kami yang seolah menutupi semua masalah dari lo"
"Nggak papa, semua butuh waktu, dan nggak semua orang mau berbagi masalahnya dengan orang lain, disitulah peran kita untuk bisa mengerti keadaan yang lain tanpa memaksa mereka untuk bercerita"
"Makasih udah nerima gue dan keluarga gue dalam hidup lo"
"Sama-sama, gue seneng bisa jadi bagian dari keluarga Anderson entah sampai kapan" ucap Kinara
Ada duri menusuk yang begitu dalam mendengar ucapan Kinara. akan kah pernikahan ini berakhir? itu yang Azka pikirkan. kenapa seolah Kinara berharap hubungan ini berakhir? ada kilat keraguan yang dapat Azka baca dari sorot mata sendu Kinara.
"Maaf, maaf udah sering nyakitin lo Ra,"
"Udah nggak papa, kita impas kok" Kinara menoleh memandang Azka yang juga tengah memandangnya menghiba. Kinara tak dapat menyembunyikan air matanya. semua tumpah begitu saja. Kinara menutup wajah dengan kedua tangannya. tangisnya pecah.
Sekuat apapun kita berusaha untuk tegar di hadapan orang lain, tetap saja pada dasarnya kita butuh sandaran melepas penat batin yang selama ini mendera.
Azka beranjak menghampiri Kinara dan duduk berjongkok di hadapan sang istri yang tergugu. Azka memegang kedua sisi kepala Kinara dengan deraian air mata. tak sanggup rasanya melihat istri yang ia cintai dalam diamnya begitu larut dalam kesedihan yang tak berujung.
"Udah sayang, semua akan baik-baik saja" ucap Azka menenangkan
"Gue, nggak sanggup Ka, gue nggak sanggup ketemu Keisya, gue juga nggak sanggup ketemu tante Amira. gue belum siap menerima kenyataan Ka, gue belum siap!"
"Nggak akan ada yang bisa mengubah takdir, jika memang ini sudah garisnya kiga harus ikhlas"
"Gue nggak pernah merasa sebodoh ini Ka, gue..gue selama ini percaya dengan semua kebohongan mereka, gue anggap itu semua benar nyatanya enggak, gue kecewa Ka,"
"Sabar, kalo lo gini terus kasihan juga mereka yang selama ini berusaha mati-matian buat jagain lo meskipun dengan banyaknya kebenaran yang mereka tutupi, mereka cuma nggak mau lo terluka"
"Ka...kakak........"
to be continou