KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
144 Isi Hati Hanan



"Nan" panggil ummi Tin saat Hanan tengah bersiap-siap memasukkan pakaian ke dalam koper dan tas.


"Nggeh Bu"


"Kamu jadi berangkat siang ini?"


"Insha Allah jadi Bu, udah janjian juga sama Reno mau masukin kosan baru sekalian juga mau bikin surat lamaran kerja"


"Reno siapa sih,kok kamu baru kenal udah kayak teman lama"


"Karena anaknya baik Bu, udah bantu aku nyari kosan juga nyariin aku kerja sampingan"


"Kamu nekat mau kerja? bapak sama ibuk masih sanggup biayain kamu sampai S3"


"Bu, Hanan pengen mandiri tanpa melibatkan orang tua lagi, biar nanti Hanan bisa memimpin keluarga Hanan sendiri, sudah nggak bergantung sama orang tua. bapak sama ummi sudah waktunya istirahat, mbak Khusnul udah ikut suaminya, mas Hanif sudah punya keluarga sendiri di luar kota, jadi biarkan kali ini Hanan mandiri Bu, Hanan cuma minta doa bapak sama ibu saja"


"Tapi nan bagaimana kamu bagi waktu kuliah dan kerja? apalagi katamu ini perusahaan besar"


"Insha Allah bisa Bu, Reno juga kerja disana, katanya bos perusahaan itu masih muda sahabat Reno dari SMP."


"Kamu udah ketemu orangnya?"


"Maksudnya?"


"Bosnya itu"


"Belum pernah ketemu Bu, aku dengar dari cerita Reno aja Bu, malah Reno kerja disana jadi sopir pribadi dan gajinya lumayan, bahkan orang tua Reno juga diberi modal usaha"


"Perusahaan apa namanya?"


"KSW group, perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan fasilitas kesehatan, juga punya beberapa anak cabang di luar negeri, punya banyak yayasan sosial panti asuhan panti jompo dan lain-lain. bahkan sekarang sudah merambah ke fasilitas umum seperti tol dan lain-lain"


"Ibu kayak pernah dengar nama perusahaan itu tapi kapan ya?"


"Ibu tahu?"


"Nggak tahu, cuma pernah dengar namanya aja"


"Kirain ibu tahu, ya udah aku mau siapin yang lain dulu Bu, mau ke toko Bu Endro beli keperluan yang lain" ucap Hanan seraya mengambil kunci motor di atas meja.


"Nan," Ummi Tin memanggil anaknya dengan sorot mata tajam


"Ada apa Bu?" Hanan menoleh dan melihat wajah ibunya berubah serius.


"Ibu nggak tahu, tapi ibu rasa kamu bakal punya masalah berat di kota, semoga ini hanya perasaan cemas ibu saja," ucap ummi Tin.


",Ibu kenapa sih?" Hanan merasa heran dengan ucapan ibunya.


"Nggak apa-apa pergilah nak"


"Ibu yakin nggak apa-apa? kalau ada masalah ngomong Bu, Hanan tahu ada yang ibu pendam kan?" cecar Hanan


"Ibu cuma khawatir nan,"


"Ada yang mengganjal?"tanya Hanan lagi karena merasa tak puas dengan jawaban sang ibu.


"Ummi nggak tahu harus cerita dari mana dulu, "


"Cerita Bu, Hanan dengarkan mumpung Hanan masih di rumah"


"Ibu mimpi kamu menolong perempuan yang nekat menjatuhkan diri ke jurang, tapi ibu nggak tahu siapa perempuan itu, dan ada orang lain yang membawa perempuan itu pergi setelah kamu tolong, ibu lihat kamu sedih bahkan kamu sempat jatuh dan tidak bangun-bangun lagi" cerita ummi dengan wajah sendu.


"Hanya mimpi Bu, nggak usah terlalu khawatir berdoa saja semoga Hanan selalu dalam lindungan Allah"


"Nan, bagaimana dengan keponakan Bulik Sri?"


Deg


"Emang ada apa sama keponakan Bulik Sri?"


"Apa kamu menyukai nya?"


Deg


"Ahhahaa ibu ini aneh, Hanan cuma kenal nama saja sama Keisya, ngobrol aja nggak pernah bu, apalagi suka, nggak level lah dia anak orang kaya lah aku??" ucap Hanan tertawa sumbang. "Ibu ini aneh" lanjutnya lagi seraya melangkah meninggalkan ibunya yang terpaku di kamar dengan perasaan yang tak dapat di jabarkan.


Hanan berjalan lurus ke depan dengan dada masih berdebar setelah mendengar ucapan sang ibu tentang perasaan nya pada Keisya.


Hanan tak yakin dengan perasaan nya sendiri. ia memang mengagumi Keisya tapi setelah tahu Keisya bersuami sudah barang tentu haram baginya menyukai wanita bersuami.


Tapi entahlah perasaan apa yang sedang bergelayut dalam hatinya akhir-akhir ini. setiap kali mengingat Keisya selalu ada harap terselip dalam doanya. Namun ada sesuatu yang memang sedang mengganjal dalam hatinya saat mengingat sosok Keisya yang dingin dan datar. ada rasa ingin mendekati wanita itu dan memberinya perhatian namun lagi-lagi logikanya menuntut ia tak boleh melakukan itu. status Keisya yang sudah bersuami tidak boleh ia langgar aturan itu.


Hanan melangkah menuju ke halaman depan tempat dimana motor ia parkir kan tadi setelah di cuci bersih. angannya teringat dengan kejadian beberapa jam lalu saat tubuhnya hampir saja menubruk Keisya. Hanan tersenyum sangat tipis. menyalakan mesin motor dan berlalu meninggalkan rumah menuju kerumah Bu Endro.


"Cari apa Gus?" suara cempreng yang sangat ia hafal saat motornya sudah ia parkir di halaman rumah Bu Endro tepat di depan toko berplang "Endro Shop".


"Oh kamu Rin, dari tadi?" tanya balik Hanan.


"Iya dari tadi, beli kebutuhan buat di pondok, sampean mau berangkat ke kota Tah?"


"Iyo Rin, nanti ba'da dhuhur berangkat, paling malam sampe di kota."


"Kenapa nggak naik bis aja mas, jauh Lo delapan jam perjalanan seharian"


"Ya maunya gitu, tapi aku bawa motor, barang-barang ku aja yang di titipin mobil ngambil di terminal bus nanti."


"Oowh, oh ya mbak Keisya juga mau pergi loh" ucap Arini sengaja menyebut nama Keisya untuk melihat bagaimana reaksi Hanan.


"Oh ya?" ucap Hanan sedatar mungkin


"nggak nanya gitu Gus? mau kemana?"


"Lah po urusan ku sama mbak mu Rin? aneh Lo sampean Ki, ya udah sana pulang di tunggu Bulik dadaaah" ujar Hanan seraya melanjutkan langkah masuk ke dalam toko.


Arini mencebik kesal dengan tanggapan Hanan yang datar-datar saja. gagal deh buat godain mbak Keisya. pikirnya.


Hanan tersenyum saat berbalik dan melihat motor yang di kendarai Arini telah pergi meninggalkan toko. Hanan menggeleng perlahan. lalu seterusnya melangkah menyusuri rak-rak berisi makanan cepat saji yang bisa ia bawa ke kota sebagai simpanan di kos untuk kebutuhan sehari-hari.


Langkahnya terhenti saat ponselnya berdering nama Reno terpampang di layar. segera ia tekan tombol hijau dan mendengar seruan dari seberang.


"Saya masih packing barang ren, siang ba'da dhuhur baru berangkat" matanya sembari menelisik tiap bungkus mi instan yang ia pegang.


"Loh, saya nggak perlu bikin surat lamaran?"


"Gimana ceritanya kamu masukin saya kerja di kantor sebesar itu jadi bagian operasional?"


"Iya sih, tapi tetap aja curang nggak baik itu Ren, saya tetep masukin lamaran kerja lah"


"Oh gitu toh, jadi udah kamu buatin dan langsung di setujui sama bosnya? lah darimana kami tahu curiculum vitae ku Ren?"


"Hah? kamu ini kerja apa sih, kamu nggak nyuri dataku di kampus kan?"


"Hah, owalah pantesan, ya udah ya aku belanja dulu, nanti malam saya kabari kalau udah sampai di kos."


"Ya udah kalau kamu mau nunggu di kosan nggak papa, yang penting nggak ngerepotin"


"Oke waalaikumsalam"


Hanan tersenyum senang mendengar kabar ia sudah di terima bekerja. tapi senyum itu hilang seketika saat mengingat sosok Keisya.


"Jadi aku bakalan selalu lihat dia setiap hari sama suaminya, astaghfirullah Hanan sadar" ucapnya dalam hati.