
"Jadi mas mau nemuin Keisya?" tanya Dimas
"Iya, setidaknya sekali ini saja" jawab Reno menatap langit-langit kamar
"Besok aku bantuin, tapi bukankah mas harus tahu dulu dia ada di mana sekarang?" kita Dimas memberikan saran.
"Dia di desa sudah menetap disana, dan mungkin hari ini dia sudah perjalanan pulang dari kota Y" kata Reno
"kota Y? ngapain?"tanya Dimas
"Dia daftar kuliah disana"jelasnya
"darimana mas tahu? mbak Vivi lagi?"tebak Dimas
"Siapa lagi, dia satu-satunya jurnalis akurat saat ini hehehe"balas Reno tersenyum.
"Kenapa nggak langsung temuin ayahnya saja sebagai wujud permintaan maaf kamu mas, waktu tuan Denias kemari setahun lalu, juga minta maaf atas nama adik iparnya sama ibu, bahkan tuan Denias datang sendiri tidak bersama siapapun" terang Dimas mengingat kejadian setahun lalu
"Kalaupun besok nggak ketemu Keisya setidaknya aku bisa minta maaf dengan ayahnya"kata Reno
"Apa masih ada yang ngeganjel sampai kamu butuh waktu lama buat minta maaf sama mereka?"
"Berat dim, gue sampai nggak tahu harus memulai dari mana, rasa bersalah itu terus menghantui, makanya disana aku sibuk kerja sama proyek biar bisa lupa sebentar" terang Reno
"Trus kenapa juga mas mutus kontak sama teman-teman yang lainnya, mbak Vi pernah cerita kalau teman-teman kampus kamu pada nyariin terutama teman club' basket"
"Jauh sebelum gue mutusin pergi gue udah pamit keluar dari club' tapi emang saat itu gue nggak ngejelasin apa alasan gue keluar"
"Dan asal mas tahu, azka dan Kinara sampai sekarang masih nggak tahu kabarmu, ibu bahkan sampai memohon-mohon sama tuan Denias buat nggak ngebocorin dimana kamu sekarang, tapi bukan berarti mantan calon mertua kamu nggak tahu apapun loh ya, beliau tahu kamu dimana, cuma nggak mau nambahin beban kamu sama ibu makanya nggak mau nemuin kita"terang Dimas
"Makanya besok gue harus kesana, jangan sampai ibu tahu ya, telpon temen kamu yang punya mobil itu, bilang mau gue sewa mobilnya empat hari empat malam. dijamin semua beres." ucap Reno
"Udah tapi besok pagi harus ke puskesmas dulu anter makanan"
"Ini udah dua hari, masa sih belom boleh pulang" seru Reno
"Katanya dokter kalau besok siang sudah baikan, sore boleh pulang, aku harus ngasih alasan apa ke ibu kalau kamu pergi empat hari empat malam loh ini" balas Dimas
"Bilang aja ke kota M sama teman satu tim fotografer dari Kampus mau ikut lomba fotografi di sana"
"jangan ngaco kamu ngasih alasan ntar malah ibu tahu aku juga kena marah mas"
"Kalau soal lomba fotografi gue nggak bohong dim, justru itu alasan gue bisa keluar nemuin Keisya, gue juga ikut lomba kali, lomba cuma dua hari, selebihnya kita wisata alam dan budaya selama dua hari, makanya gue gunain waktu itu buat nemuin Keisya, ngerti sekarang?"
"Jadi yang bener, kamu mau pergi dua hari apa empat hari sih?"
"Empat hari itu perjalanan, yang jelas besok gue sudah harus ada di malang, karena lomba besoknya, nah lomba hari kedua gue pergi ke desanya Keisya gitu"
"Okelah, gue tahu gampang itu, tapi besok Lo pergi ke rumah Rino sendiri ya, atau mau sekalian gue anterin pas ke puskesmas, nggak takut ketahuan ibu?"
"Jam empat subuh Lo anterin gue ke rumah Rino"
"Ah bahaya bener nih anak, mau lewat mana atuh? jalan satu-satunya cuma ini didepan tembus ke jalan besar" tolak Dimas
"Oh iya kan tembus juga ya okelah, pakai motor baru ya, kan nggak kentara suaranya kalau itu" usul dimas
"Okeh sip , gitu kek daritadi"
"Abis Lo juga membingungkan kayak pak Razak aja kalau lagi negejelasin matematika, elemen-elemen......" oceh Dimas menirukan salah satu gurunya di sekolah
Plak
"Penghinaan itu namanya,denger nggak?" tegur Reno.
***
"Nyapo to Gus, kok adi mu nggak gelem nyewo nek kene wae" tanya mertua Bagus
"Larene purun seng cerak kampus Bu, Keisya Niki pernah gadah trauma Ket alit, larene dereng saget ketemu tiang katah, kaleh konco nggeh Yo pilih-pilih Bu, intine Keisya itu belum bisa beradaptasi dengan lingkungan secara baik" jelas Bagus dengan hati-hati
"La nyapo terus kuliah kalau memang nggak bisa beradaptasi dengan lingkungan, aneh Kowe Ki Gus" sahut mertuanya merasa tak terima
"Bu, mboten usah meksakne karep, Yuli, Prawit Yo saben Dino wangsol, Yo Ono bapak, Ono mas Hamid," seru Rasti yang juga merasa kesal dengan sikap egois ibunya yang selalu mau menang sendiri.
"Yo Ben omah Iki rame Ti,".
"Ancen ibu ae seng golek uwong Ben iso di Kon kerjo omah, trus sampean dolan sampe sore, kakean alasan, makane yuli Ra betah nek omah, po maneh Prawit Karo mas Hamid, wajar lak di tinggal bojone Kabeh, wong ibu egois eram" balas Rasti kesal dengan sikap angkuh ibunya yang tak mau mengalah
"Ras" tegur Bagus pada istrinya agar tidak berbicara lantang di depan ibunya
"Wes mas, makane aku luwih betah Karo mamak daripada nek kene, nduwe wong tuwo cuma mikir egone Ra tau miker perasaan anak-anak e. geh Yo Prawit Karo mas Hamid wes nduwe omah Dewe Bu, aku bali Iki karena ape ngeleboni omah e mas Hamid Karo Prawit, sampean nggak ngerti kan?" ucap Rasti pada akhirnya mengatakan alasan ia pulang ke rumah orangtuanya.
Deg,
Bu Hamid, begitu panggilan mertua Bagus yang terkejut mendengar ucapan sang anak kalau dua anak laki-lakinya sudah punya rumah sendiri dan akan di tempati hari ini.
"Nyapo Bu? kaget? wajar lak mas Hamid Karo Prawit Ra ngomong sampean, cuma aku, bapak Karo Yuli seng weroh, karena sampean egois Bu, ibu jek eleng Endang kancaku seng pernah ngekos nek kene? sambat nganti Ra iso kuliah gara-gara sampean Bu" ucap Rasti kesal mengeluarkan uneg-unegnya
Bu Hamid diam saja tanpa merespon ucapan anaknya saking terkejutnya Mendengar kenyataan jika dua anak laki-lakinya tidak pernah berucap satu patah katapun padanya persoalan tempat tinggal mereka yang baru.
Bagus menarik lengan Rasti untuk pergi dari dapur agar tidak berlanjut terus omelannya.
"Wes to dek, Ben piye-piye ibu seng wes ngerumat sampean, Ojo di terusno, ayo metu wae gone mas Hamid, wes di enteni" ucap Bagus pada istrinya.
Setelah Bagus dan Rasti pergi, Arini yang baru datang menyusul kemarin sore juga keluar dari kamar bersama Keisya.
Bukan mereka tak tahu apapun, mereka mendengar semuanya dari kamar terutama mbak Rasti yang meledak-ledak pada ibunya.
Arini mengelus dada, dan hampir saja ia menurut keinginan mertua kakaknya itu untuk menyewa kamar di rumah ini. sekarang ia tahu betul kenapa kakak iparnya Rasti, tidak pernah pulang kampung kecuali lebaran itupun hanya dua hari perjalanan saja, selebihnya kakak dan istrinya itu sowan ke keluarga yang lain dan menginap disana.
"Rin, aku kesana dulu ya, kasihan bude kayaknya nangis tuh di marahin sama mbak Rasti" ucap Keisya
"Hus, nggak usah ikut campur daripada kena omel mas Bagus, malah kamu nanti di caci maki sama mertuanya juga, dah ayo keluar di tungguin Mbak Yuli di perempatan, cepetan lah" ucap Arini memaksa dan Keisya hanya menurut saja meski merasa tak tega pada ibu mertua mas Bagus.