KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 96



Titik-titik hujan masih turun membasahi bumi, udara dingin menusuk hingga ke tulang. suara kokok ayam menambah syahdu setiap insan yang menikmati tidur panjangnya malam ini.


Dinginnya suasana saat subuh hari tak membuat jiwa-jiwa penggerak roda ekonomi kehidupan surut. sejak pukul empat subuh mereka sudah warna Wiri di jalan menembus dinginnya udara subuh.


Lalu lintas yang masih sepi membuat mereka bersemangat melintasi jalanan tanpa memikirkan kondisi kemacetan yang terpenting mereka bisa lebih cepat membuka lapak dan mencari keberkahan.


Wanita bertubuh ramping berbaju muslimah dengan jilbab instan itu terus melangkah menapaki jalanan licin di sisi kiri pintu masuk pasar.


Kedua tangannya menenteng tas besar yang masih kosong, dengan langkah tegap dan hati-hati wanita itu mulai mendatangi stand warung yang sudah menjadi langganannya selama ini.


Biasanya sang suami yang selalu sigap menemani tapi kali ini ia harus bersama satu asistennya yang akan membawa barang belanjaan. sejak insiden kemarin sore di rumah pelanggan hatinya masih gelisah tapi ia tetap berusaha tenang dan bekerja secara profesional demi tanggung jawab besar yang di amanahkan padanya oleh kakak angkat suaminya.


"Mbak, ada telpon dari bang Rendi katanya mas Reno pulang dalam kondisi mabuk berat" bisik Titin di telinga mbak Indah.


Deg,


Ayunan tangan mbak Indah yang hendak mengambil bawang merah terhenti mendengar ucapan Titin.


"Kamu serius tin?" tanya mbak indah dengan wajah sedih dan terkejut.


"Iya mbak, ini SMS nya bang Rendi" kata Titin memberitahukan isi pesan di ponselnya.


"Astaghfirullah cepetan kita pulang, toko tutup aja hari ini, kamu langsung ke toko kasih tahu si Bim buat libur dua hari" kata mbak Indah mengambil keputusan darurat.


"Ya udah mbak pulang aja bawa motornya, saya yang belanja nanti pulang sama ojek" kata Titin menyerahkan kunci motor.


"Ya udah saya duluan, ini uang kamu pake belanja keperluan dua hari ini untuk anak-anak di mess"kata mbak indah mengambil uang dalam tas gendongnya.


"Iya mbak" Kata Titin.


Mbak indah langsung bergegas pulang setelah menyerahkan sejumlah uang pada Titin. Titin merasa kasihan melihat kondisi mbak Indah yang seperti tertekan sejak insiden kemarin sore.


kemarin sore ia memang langsung keluar dan menunggu di mobil yang terparkir di sisi jalan komplek, Ia juga yang sudah menegur Reno saat salah masuk mobil tapi rupanya Titin tidak tahu apa yang telah terjadi sebelumnya. barulah saat ia pulang mendengar langsung cerita dari Intan karena insiden di dalam rumah pelanggan mereka.


Pantas sejak keluar dari rumah mewah itu mbak Indah sempat menangis di dalam mobil saat perjalanan pulang.


Mbak indah mengendarai motor dengan kecepatan sedang, meskipun jalanan masih terlihat sepi ia tetap tak mau ngebut apalagi harus menahan dinginnya embusan udara subuh yang masih dingin menggigit hingga ke tulang.


Sementara itu, di rumah kos bang Rendi di temani salah satu temannya sibuk mengganti pakaian Reno yang sudah sangat berbau alkohol. entah apa yang terjadi dengan anak dari bos mereka itu, sejak kemarin sudah pamit dan tak pulang semalaman, dan empat subuh sebuah mobil membangunkan tidur nyenyak nya di pos satpam, rupanya Reno di papah dua orang berbaju hitam dalam kondisi mabuk berat dan berantakan.


"Kayaknya harus investigasi nanti ini bang, kemarin juga mbak Indah pulang ya kondisinya kusut matanya bengkak katanya si intan ada insiden di rumah pelanggan, kuenya rusak si tuan rumah marah-marah ke mbak indah" kata laki-laki muda di samping bang Rendi.


"Iya nanti lah kalau kondisinya sudah tenang, saya udah telpon Titin, mbak Indah pasti cepat pulang, ini baju kamu rendam sekalian biar hilang baunya" titah bang Rendi


"Oke bang, buatin makanan sekalian nggak?"


"Nanti aja tunggu mbak Indah pulang"


"Oke"pria muda berjaket hitam itu keluar membawa pakaian kotor Reno ke belakang.


"Oalah mas, apa karena perempuan itu kamu gini lagi? kasihan kamu mas, belum siap nikah di paksa, tapi udah berakhir malah menyesal, sekarang dia udah sama orang lain, sampean yang kayak gini, kalau ibu tahu kamu begini, apa ya Ndak tambah loro atine" gumam bang Rendi menatap Reno yang tertidur pulas.


Tak lama mbak indah datang dengan raut cemas dan masuk ke kamar Reno.


"Astaghfirullah Ren, Iki nyapo Ndi?" tanya mbak indah melihat wajah pucat reno yang tertidur pulas.


Mbak indah terlihat berkali-kali menghela nafas beratnya, embun di matanya sejak tadi yang ia tahan luruh juga.


"Aku nggak tahu ndi, kalau orang yang mesan kue itu keluarga mantan calon tunangan Reno dulu, Keisya. kamu ingat nggak? yang aku kenal di keluarga itu cuma Bu Kinara yang biasa pesan kue di toko tapi nggak tahu kalau itu saudara kembarnya Keisya." ucap mbak indah sembari menyeka sudut matanya yang berair.


"Oalah mbak, pantas mas Reno kemarin pagi minta di belikan buket bunga, kirain buat temannya ulang tahun" kata bang Rendi


Mbak indah mendongak dan memandang penuh tanda tanya.


"Jelasno ndi" pinta mbak indah


"Jelaske piye mbak? aku dewe cuma di peseni tuki buket bunga ngunu tok e" kata bang Rendi.


Mbak indah menatap Reno lekat-lekat, lalu berucap "Kasihan kamu Ren, maafin mbak ya kalau nggak tahu apapun soal keluarga mantan calon mu dulu" ucap mbak indah sendu


"Ndi, jemputen Titin nek pasar, blonjo ne Akeh, aku tak masak sek gae Reno" titah mbak indah lalu beranjak pergi. bang Rendi pun menurut untuk menjemput Titin di pasar.


*****


"Mas kamu darimana jam segini baru pulang?" tanya Kinara melihat wajah kusut Azka suaminya baru pulang saat subuh. sejak kemarin sore acara belum selesai Azka sudah pergi dan tak pulang semalaman.


"Aku mau tidur dulu" kata Azka langsung merebahkan tubuhnya di kasur.


Bau alkohol menguat begitu saja, membuat Kinara langsung tersulut amarah. baru sekali ini Azka bersikap seperti ini, selama ini ia mengenal Azka tidak pernah sekalipun laki-laki yang menjadi suaminya itu pulang dalam keadaan mabuk.


"Bangun" teriak Kinara menyeret sang suami


Bum


Brak


"Kinar" teriak Azka marah melihat sikap istrinya yang tiba-tiba kurang ajar.


"Keluar dari rumah ini sekarang juga, atau masih mau disini jelasin apa yang kamu lakuin di luar semalaman"teriak Kinara


"Bulshit," ucap Azka lalu keluar dan membanting pintu.


Azka melewati ruangan begitu saja tanpa menoleh dan langsung keluar dan masuk ke dalam mobil.


Tanpa mereka sadari Keisya yang ada di tengah tangga mendengar pertengkaran kakaknya. niatnya hendak turun ke dapur mengambil air minum tapi mendengar teriakan amarah dari kakak dan suaminya ia urung untuk turun dan memastikan mereka tidak melakukan kekerasan satu sama lain.


"Ada apa dengan mas Azka, dari kemarin sore pergi nggak pulang semalaman, kok bau alkohol? emang dia minum? astaghfirullah" batin Keisya.


Azka masuk ke dalam mobil dan langsung tidur di kursi belakang. Tanpa peduli lagi dengan Omelan istrinya yang membuatnya gerah. cukup sudah ia melihat bagaimana rapuhnya seorang Reno semalaman di temani minuman keras di bar belum lagi Reno memesan kamar dan perempuan.


Hal menyakitkan itu baru kali ini ia lihat dari sosok Reno yang selama ini ia kenal tangguh dan bertanggung jawab. rupanya di balik itu semua banyak luka yang ia pendam seorang diri.


Beruntung wanita yang di pesan Reno semalam bisa ia gagalkan dengan memberikan uang tip tambahan agar ia tak melayani nafsu Reno karena sakit hati dengan kenyataan.


Azka memang tidak minum, tapi tetap saja ia menemani Reno yang terus mabuk dan berkali-kali muntah serta meracau tak jelas.


Ketiga sahabat mereka baru ia kabari saat lewat tengah malam dan menemani Reno di bar hingga jam tiga subuh lalu mengantar Reno pulang ke rumah kosannya.