KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
138 Haruskah Kehilangan lagi?



Azka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sudah tidak banyak orang lalu lalang. dengan langkah tegas ia berjalan ke arah ruang ICU sesuai petunjuk yang Reno kirimkan.


"Gimana Fikar?" tanya nya begitu sampai di depan ruang UGD


Azka menyalami orang tua Fikar dan adiknya yang bungsu. pria paruh baya yang kerap di sapa pak Jujun itu menangis pilu saat Azka memeluknya erat.


Dengan sabar Azka menenangkan pria tua yang sudah beruban itu tak peduli bajunya basah karena air mata pak Jujun.


"Bapak yang sabar ya, Fikar pasti baik-baik saja".


Narendra, adik bungsu Fikar yang masih jelas dua SMA juga ikut memeluk sang ayah, raut sedih tercetak jelas di wajahnya.


pelukan mereka terurai saat dokter keluar dari ruang UGD


"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter Djafri menatap Reno.


"Saya bapaknya dok" pak Jujun maju menghadap dokter Djafri.


"Alhamdulillah pasien selamat pak, namun masih belum sadarkan diri, untuk saat ini biarkan dia istirahat, semoga bapak selalu tabah," ucap dokter Djafri menepuk pundak pak Jujun


"Alhamdulillah terimakasih dokter"


"Terimakasih sama Allah swt pak, saya hanya perantara saja" ucap dokter Djafri sopan


"Tuan muda saya sudah lakukan tugasnya saya permisi" ucap Dokter Djafri menatap Azka dengan senyuman.


Reno yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum jahil melihat sikap hormat dokter Djafri pada Azka.


**"Cie tuan muda" Reno mulai merecokinya


"Diam ini rumah sakit" tegur Azka datar.


"Pak, bang Fikri kemana?" tanya Azka pada pak Jujun


"Ke kantor polisi urus si penabrak tadi nak"


"cerita gimana sih pak kok bisa kecelakaan?"


"Fikar jalan kaki mau ambil cucian di loundry Bu Salma, pas pulang ada mobil dari depan membalap dan menyalip mobil yang lain, Fikar sudah menghindar ke pinggir tapi mobil yang membalap tadi menabrak pembatas jalan berguling dan Fikar belum sempat menghindar, dan ternyata sopirnya mabuk"


"Innalilahi, saya akan bantu prosesnya di polisi besok pak, supaya Fikar juga bisa dapat kompensasi, bapak yang tenang ya, bapak sudah makan?"


Pak Jujun menatap Azka dengan linangan air mata, di saat ia benar-benar terpuruk ternyata masih ada yang peduli padanya. sejurus kemudian pak Jujun menggeleng.


"Ren, keluar cari makanan kasihan bapak belum makan," ucap Azka mengajak Reno pergi .


"Bapak sama Rendra disini ya, saya sama Reno pergi cari makanan" pamit Azka kemudian berlalu bersama Reno.


Dirumah Kinara gelisah karena sejak tadi Azka belum memberikan kabar tentang keadaan Fikar. berulang kali ia menghubungi sahabatnya yang lain tapi tidak satupun dari mereka merespon.


"Setelah kehilangan Nana apa aku akan kehilangan Fikar juga, mereka bagian dari hidupku" air mata Kinara mengalir begitu saja mengingat almarhum Nana yang belum lama pergi untuk selamanya.


Kinara mendongak saat layar ponsel nya berkedip nama Azka tertera di layar. gegas ia menekan tombol hijau.


"Gimana?" tanyanya tak sabaran


"Alhamdulillah besok aku ikut ke rumah sakit, kamu juga cepet pulang biar Reno yang jagain mereka di rumah sakit."


"Oke ya sudah"


Ada rasa lega di hati Kinara mendengar kabar Fikar selamat dan baik-baik saja.


Kinara menyimpan ponsel di atas nakas. bergegas mengambil file data perusahaan tahun berjalan. baru saja tangannya hendak meraih map di atas lemari buku ponselnya kembali berdering.


Kinara menyimpan map yang sudah di raihnya ke atas meja. lalu mengambil ponselnya yang sudah berhenti bergetar.


"kak Revan tumben nelpon" gumam nya seraya memanggil ulang.


"Assalamualaikum orang ganteng, ada apa tumben nelpon malem-malem"


"Waalaikumsalam adek cengeng, besok kak Vivi mau fitting baju kamu temenin bisa?"


"Nggak bisa gue mau ke rumah sakit, Fikar kecelakaan, trus siangnya ada kuliah sampai sore. sorry kak, minta tolong kak Mala aja kan bisa"


"Mala kerja besok ada meeting penting sama investor dari Amerika, kan udah aku kirim ke email kamu tadi pagi"


"Udah tapi Rena nggak bisa karena ada ujian mata kuliah pagi sampai sore."


"Haduh, ya udah deh nanti aku minta mba Reni aja yang nemenin mudah-mudahan bisa orangnya"


"Reni? asisten Tante Hanna?"


"Iyalah siapa lagi"


"Nggak mau, nanti Tante Hanna marah kalau sampe aku pake jasa asistennya" tolak Revan


"Udah nggak usah takut, biar jadi urusan ku, mama Hanna nggak mungkin marah soalnya lagi di Jerman"


"Iish tapi kalau ada apa-apa kakak takut dek, tau sendiri mama mertua mu kalau udah marah nakutin"


"Udah deh tenang, biar jadi urusanku, besok jam berapa mau fitting baju?"


"Jam sepuluh pagi udah janjian soalnya, karena desainernya udah ada janji setelahnya"


"Ya udah deh besok aku kabarin paling lambat selesai sholat subuh ya, soalnya dokumen yang kakak kirim lewat satpam tadi belum aku periksa, kondisi keuangan stabil kan?"


"Alhamdulillah udah stabil, perusahaan Tante Amira akan menyuntikkan dana untuk program kerjasama dengan pemerintah."


"Apa dana yang kita miliki nggak cukup kak kan masih ada pembagian hasil dari Eins Corp juga"


"Sebenarnya masih cukup bahkan lebih, hanya saja Tante Amira bilang sebaiknya sisa dana yang kita miliki tidak di gunakan dulu, karena ada progres tahun lalu yang belum terlaksana, kalau progres dengan pemerintah selesai dan laba sudah kita dapatkan itu bisa kita gunakan untuk menambah biaya kekurangan jika ada kendala nantinya"


"Aku kurang setuju sih, tapi bisa di coba, setidaknya keuangan kita masih stabil. oh ya perusahaan papa di Jerman sedang dalam masalah pelik, kakak tahu nggak?"


"Kalau itu kakak udah tahu sejak lama Sean udah cerita tapi biar papa mertuamu saja yang menangani karena beliau yang lebih tahu pokok permasalahannya, kandungan kamu sehat-sehat kan?"


"Alhamdulillah sehat kak, mbok Jum gimana betah nggak tinggal sama kalian."


"Alhamdulillah betah, ibu Ratih juga sudah pulih total, ayah kemarin singgah kerumah"


"Oh ya? gimana gimana cerita dong"


"Apanya mau di cerita, ayah singgah nyerahin berkas sertifikat tanah doang abis itu pergi katanya mau ada hajatan di rumah tetangga nya"


"Yahh kirain udah pdkt sama Tante Ratih"


"Huss jangan ngaco kamu dek"


"Kalau emang iya kenapa sih, justru seneng dong punya ibu lagi"


"Hahaha kamu tuh ya, ya udah aku tutup, kabarin secepatnya Reni mau apa nggak"


"Okeh assalamualaikum


"Waalaikumsalam"


Kinara meletakkan ponsel kembali di atas nakas dan beralih pada beberapa dokumen yang sudah ada di meja untuk ia periksa.


Baru beberapa menit ponselnya berdering kembali kali ini panggilan dari sang suami.


"Kenapa lagi mas?"


"Fikar udah sadar, besok baru di pindahkan ke ruang perawatan, mas harus ke kantor polisi besok pagi mau lihat perkembangan kasus kecelakaan Fikar,"


"Kan ada bang Fikri kakaknya"


"Iya udah ada, tapi ternyata yang nabrak Fikar itu bos tempat kak Fikri kerja dek"


"Hah ternyata, ya udah besok minta tolong pak Supri kepala bagian reserse kriminal"


"Iya besok mas temui orangnya di kantor, mas agak lambat pulang ya karena masih di luar nyari makanan buat pak Jujun"


"Ok yang penting pulang wassalamu'alaikum "


Kinara mematikan sambungan telepon meski suaminya masih terdengar berbicara di seberang.


Kinara lebih memilih fokus pad berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya.