
"Hai dek kalian liat kak Kinar nggak?" tanya Ririn pada adik kelas yang ia lewati di koridor
"Nggak tau kak"
"Eh Bram lo liat Kinar nggak?" tanya Cici pada teman beda kelas yang ia temui
"Nggak" jawab Bram singkat.
Cici dan Ririn masih mencari Kinara ke seluruh kelas namun tak mendapati keberadaan Kinara.
"Kayaknya ada satu tempat yang belum kita datengin nih" ucap Ririn
"Perpustakaan" ucap keduanya serempak lalu memutar arah menuju ke perpustakaan.
"Loh ini bukannya punya Kinar? wah pasti lupa nih anak" batin Febi yang melihat dompet saku milik Kinara.
Febi mengambil dompet saku lalu berjalan menuju ke rak untuk menyimpan kembali buku yang sudah ia baca juga tak lupa buku yang Kinara tinggalkan tadi.
Febi berjalan keluar namun langkah nya terhenti karna Cici dan Ririn langsung meringsek masuk ke perpustakaan tanpa salam lalu berpencar ke setiap sudut mencari Kinara.
Petugas perpustakaan yang berjaga menegur mereka pasalnya mereka membuat seisi perpustakaan gaduh karna ulah mereka berdua.
"Kalian cari apa?" tanya pak Anwar yang gerah melihat tingkah mereka.
"Kinara pak, bapak lihat nggak tadi?" tanya Ririn
"Tadi ada tapi udah keluar" jawab pak Anwar
"Tapi nggak ada di kelas pak, kita udah cari kemana-mana nggak nemu"
"Kalian nyari Kinar?"tanya Febi yang kembali masuk ke dalam perpustakaan
"Iya, lo liat nggak?" tanya Cici panik
"Tadi sama gue disini , tapi udah keluar daritadi" jawab Febi
"Nih dompetnya ketinggalan, gue nemuin di meja"lanjutnya seraya memberikan dompet saku Kinara pada Cici.
"Duh kemana nih anak?" Ririn mulai gelisah
"Pak nanti kalo liat Kinara kabari aku ya?" pinta Cici pada pak Anwar lalu segera menarik lengan Ririn menuju ke kelas di ikuti Febi yang juga ikut penasaran.
"Baik"
"Jon, lo liat Kinar nggak?" tanya Febi yang berpapasan dengan teman sekelas nya.
"Nggak"
"Arum lo liat kak Kinar?" tanya Cici
"Nggak kak"
"Kita ke markas coba Ci" Ririn mengajak nya mencari ke tempat mereka biasa nangkring di taman belakang sekolah di bawah pohon mangga
"Tuh nggak ada juga"
"Aiishh kemana lagi nih anak, bisa-bisa kita kena marah bos" Ririn menggerutu
"Feb, lo menu jejak?" teriak Cici
"Nggak ada. gue udah cari sampai lantai 3 aula juga nggak ada" jawab Febi lantang dari arah koridor
"Kinaraaaaaaa" Cici berteriak
"Kita ke kelas yuk" Ajak Ririn
"Ck nih anak kemana lagi" Cici masih mendumel sepanjang jalan menuju ke kelas.
"Woooiiii lo pada liat Kinar nggak?" Ririn bertanya ada teman sekelasnya. sontak semua menoleh mendengar suara cempreng Ririn.
"Kagak" jawab sebagian teman mereka
"Azka mana Ben?" tanya Cici pada Beno
"Ngantin sama Aldo" jawab Beno tanpa mengalihkan perhatian nya pada ponselnya.
"Ck.. terus duo kurcaci mana?"
"Di sekret Osis" Jawab Beno lagi.
"Rangga lo liat Kinar nggak?"
"Mana gue tahu.." jawab Rangga cuek
"Ck gitu lo mentang-mentang udah jadi mantan. lo sok nggak peduli lagi" cerocos Cici
"Kok nyalain gue sih lo Ci?" ucap Rangga tak terima
"Udah jangan ribut. yuk susulin Aldo di kantin" Ajak Ririn menarik tangan Cici keluar kelas.
Sementara itu di kantin Aldo dan Azka masih duduk tenang menyantap menu makanan yang mereka pesan sampai sebuah suara membuyarkan suapan mereka.
"Lo liat Kinara nggak beb?" tanya Ririn yang masih dengan nafas ngos-ngosan karna berlari.
"Ng...no" ucap Aldo terbata karna mulutnya penuh makanan.
"Lo juga nggak liat bini lo Ka?" tanya Cici. Azka hanya menggeleng saja.
"Haduuh capek gue..masak ngilang lagi sih?"ujar Cici setelah menyeruput es teh milik Azka.
"Eh.. ogeb kenapa minuman gue lo abisin?" Azka mengomel melihat gelas di depannya sudah kosong tak bersisa barang setetes.
"Haus, pesen lagi deh" ucap Cici
"Pesenin, lo yang udah abisin" sahut Azka
"Ck, peritungan amat lo sama temen" Oceh Cici lalu beranjak menuju ke gerai.
"Mas Es teh 3 gelas, es batu nya banyakin. sekarang nggak pake lama" ucap Cici pada mas Yuda yang menjaga gerai.
"Tunggu bentar lagi" ucap Cici yang duduk di samping Aldo.
"Kalian bener nggak liat Kinar?"tanya Ririn pada Aldo dan Azka
"Suwer daritadi kita nggak liat"ucap Azka
"Dan lo nggak merasa khawatir?" tanya Cici
Deg
Pertanyaan Cici telak membuat nafsu makannya hilang dalam sekejap. Ia menatap Aldo yang juga tengah menatapnya horor. Mereka mengangguk bersamaan.
"Lo cari ponselnya Kinara ada nggak di kelas!" titah Aldo pada Ririn lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua, Di ikuti Azka yang langsung menyusul langkahnya.
"Jangan lapor papa dulu sampe kita nemuin Kinara" ucap Azka pada Aldo
"Beres, gue kesana lo kesana" ucap Aldo lalu mereka berpisah Aldo ke arah rooftop sedangkan Azka ke arah gudang belakang bekas kantor lama.
"Loh Mbak ini minum gimana?" tanya mas Yuda yang membawa pesanan Cici.
"Maaf mas Yuda, ini uangnya, kalau ada lebih ambil aja ya, kita buru-buru " ucap Cici merasa bersalah lalu tersenyum dan meninggalkan mas Yuda yang masih tegap berdiri memandangnya hilang menghilang.
"Lo cek tas nya ada nggak dia bawa hape, gue tunggu di sini." ucap Ririn duduk di depan kelas.
"Yuhu.." Cici masuk ke kelas dan memeriksa isi tas Kinara.
"Halo beb, lo dimana?" tanya Ririn
"Rooftop"
"Udah ada petunjuk?"
"Nggak ada"
tut (sambungan telepon terputus)
"Nih ponsel nya nggak di bawa." ucap Cici menunjukkan ponsel Kinara.
"Huffft tuh anak kemana lagi siihh.."
"Eh Feb lo nemu?" tanya Ririn yang melihat Febi baru tiba dengan nafas kembang kempis.
Febi duduk di samping Ririn sembari mengatur nafasnya.
"Busyet dah tu bu Mindi, masa gue di tuduh mecahin gelas ukur di lab padahal gue masuk aja kagak" gerutu Febi.
"Hahahaha akhirnya lo orang ke sekian yang dapat tuduhan unfaedah"Cici tertawa mendengar cerita Febi
"Terus lo lari kayak orang kesurupan di kejar bu Mindi?"tanya Ririn
"Iya lah. bengek gue jadinya"ucap Febi
"Emang lo dari mana?" tanya Ririn lagi
"Gue emang mau ke lab, sapatau ada Kinar disana , eh belon aja gue masuk bu Mindi udah tereak-tereak gini nih" Febi berdiri
"Eh kamu...ngapain disitu. mau mecahin gelas ukur lagi Hah?" ucap Febi menirukan gaya bu Mindi.
"Bwahahahahahaha,"
"Ehem"
"Eh beb gimana udah nemu?"tanya Ririn pada Aldo yang baru saja datang
"Nggak"
"Azka mana?"Cici bertanya
"Nggak tahu"
"Hosh hosh hoshh Do..Di..."
"Duduk dulu baru ngomong" ujar Aldo pada Azka
"Yayang lo nggak bawa hape, nih dompetnya aja di tinggalin di perpustakaan" Cici berucap sembari menyodorkan ponsel dan dompet milik Kinara
"Eh gue ke toilet dulu deh" Febi pamit dan berlalu
Sementara itu di dalam toilet wanita, Kinara yang sudah selesai dengan hajatnya sejak tadi, bingung saat akan keluar karna pintu toilet yang ia gunakan rupanya rusak.
"Aiish mana hape nggak bawa, dompet ketinggalan Aargh.."
"Tumbenan nggak ada orang ke toilet?"
"Capek deh teriak-teriak dari tadi percuma nggak ada yang denger"
"Huuft tunggu aja deh sapatau ada keajaiban malaikat nolongin gue xixixi" Kinara bermonolog
Beberapa saat kemudian
Srek
srek
srek
"Apaan tuh?" Kinara berjengit kaget lalu menajamkan pendengaran nya
srek
klek
byur
byur
"Ahh lega kirain hantu"batin Kinara
"Tolong... siapapun yang ada di luar tolongin gue" teriak Kinara.
"Haloo..tolongin gue bukain nih pintu nya"
byur
klek
srek srek srek
dor dor dor
"Tolongin gue haloo everybody....."
"Ra, lo di dalem?" tanya orang dari arah luar kamar mandi
"Iya, gue Kinara bukain dong pintunya,"
"Gue Febi, lo tunggu bentar ya.. gue panggil ambulans..." Febi berlari menjauh hendak memanggil Azka dkk.
"Kok ambulans, emang gue sakit apaan?" Kinara mengomel
"Tunggu aja deh" gumamnya kemudian.
•••
"Wooiii...tu..tu...to...toilet" ucap Febi terbata
"Hosh..hah..hah..toilet..tuk..tukang kunci..."
"Ngomong yang bener Feb...minum dulu" ucap Cici memberikan sebotol minuman dingin milik Beno yang ia rebut.
"Woi. .itu..." ucap beno
"Ssst" Cici berdesis
glek glek glek
"Yah abis deh belon aja gue minum" Beno mendesah sebal
"Beli lagi" ujar Riska
"Mau ngomong apa lo?" tanya Cici
"Kinara di toilet ke kunci, pintu nya rusak nggak bisa di buka" ucap Febi setelah menenggak habis minuman di botolnya.
"Ooooh" jawab Ririn, Cici, Riska, Nana, Azka, Beno dan Aldo bersamaan.
"What?! teriak Aldo yang baru ngeh dengan ucapan Febi
"Kenapa lo nggak ngomong dari tadi sembeb" ucap Azka langsung berlari menuju ke toilet
"Barusan gue ngomong" gumam Febi
Ririn dan yang lainnya pun berlari menyusul ke toilet.
"Et dah gue di tinggalin lagi" Febi bermonolog.
Dor dor dor
"Ra..lo di mana?" teriak Azka membuka semua pintu toilet
"Azka, disini.."teriak Kinara.
klek
klek
"Ini mah rusak" ucap Aldo mencoba membuka kunci.
"Kalo nggak rusak mana mungkin gue terkurung di sini Aldo..." ucap Kinara lantang
Azka dan Aldo mendobrak pintu dengan tubuh mereka tapi nihil pintu tetap terkunci
"Hmm jurus jitu" gumam Aldo
"Gue bantu. siap 1... 2....." Azka memasang ancang-ancang bersiap menendang pintu bersama Aldo
"Tiga..." teriak mereka berdua dan
braaaaakk
"Auggh...iissshh" lirih Kinara
Pintu terbuka dan menghimpit tubuh Kinara
"Lo nggak papa sayang?"
"Mana yang sakit?" tanya Azka khawatir
"Ck..kasi aba-aba dong jangan asal nendang pintu, gue kena imbas nya." Kinara menggerutu
"Ngeselin deh, udah di tolongin masih ngomel, terimakasih kek apa gitu..." cerocos Aldo
"Husst udah yang penting kamu nggak apa-apa" ucap Azka menenangkan Kinara.
"Belaiiin aja troooooss" oceh Aldo
plak
"Paan sih beb?" Aldo bertanya karna Ririn memukul dahinya
"Diem lo.."Ririn berucap sembari mencubit pinggang Aldo
"Auuuhh busyet...belum jadi bini udah kdrt" sungut Aldo.
"Pintu Rusak" ucap Cici membaca note yang tertempel di pintu kamar mandi.
"Haiis lo amnesia apa gimana sih, itu udah ada tulisannya pintu rusak napa juga lo masuk Ra ckckck" Riska berujar
"Hehehe nggak sempet baca, udah kebelet" Kinara meringis karna malu dengan tingkahnya yang bikin semua orang kalang kabut
"Hedeh lo ngilang lagi aja deh biar gue bisa ikutan lari, biar cepat kurus heheh" Beno menimpali
"Oops maap bos jangan marah, jangan potong gaji" ucap Beno mendapat pelototan dari Azka.
"Dah yuk balik kelas" ajak Febi.
Azka menggenggam erat tangan Kinara, mereka berjalan beriringan menuju ke kelas meski diam seribu bahasa. biarlah hati mereka yang saling berbicara. tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka dengan tatapan tak suka.