
Hari ini Keisya dan Arini tengah bersiap-siap memasukkan pakaian ke dalam koper. beberapa kebutuhan wanita dan hal-hal yang lainnya sedang mereka masukkan ke dalam koper.
Setelah selesai acara pernikahan mbak Khusnul tetangga depan rumah Bulik Sri, Arini harus kembali lagi ke pondok karena ia hanya diberi izin empat hari. sore ini Arini sudah harus kembali ke pondok.
"Rin, anak di pondok itu ramah-ramah kan ya?"
"Yang namanya kita hidup di dunia saling berhubungan satu sama lain, meski punya karakter yang berbeda yang penting bisa saling mengerti dan memahami nanti kalau sudah sampai di pondok mbak bakal rasain kok yang penting sabar" Arini berpidato panjang lebar
Melihat wajah keisya yang berubah sendu, Arini mendekati dan memeluk punggung kakak sepupu nya itu.
"Kenapa mbak?"
Keisya menunduk menyembunyikan air matanya yang hendak turun.
"Apa aku bakalan punya keluarga baru disana?"tanya Keisya
"Tentu, kita semua satu keluarga, susah senang kita lalui bersama disana"
"Apa mereka akan baik padaku? mau menerima ku?"
"Tentu, percayalah mbak, pakde Ahmad juga bisa berkunjung di pondok kapanpun, begitu juga bapak dan ibuk ku,"
"Jangan ninggalin aku ya Rin, karena aku belum terbiasa berkumpul dengan banyak orang"
"Iya aku ngerti mbak, kalau mbak mau kuliah juga bisa kok sambil mondok di sana"
"Emang bisa?"
"Bisa mbak"
"Nanti aku ngomong sama ayah mau kuliah juga kayak kak Kinar"ucap Kinara tersenyum senang.
"Kalian udah selesai beres-beres?" tanya mbak Rasti di depan pintu kamar.
"Udah fix mbak, mau kemana emang?" ucap Arini
"Ikut mbak dulu kerumah depan mau ambil honor sewa wo kemarin" ucap mbak Rasti.
"Mas Bagus mana,?"
"Lagi ke tempat hajatan yang lain Rin, nganterin tenda besi sama ***** bengeknya"
"Sama mbak Keisya aja ya, aku masih ada yang mau di kerja mbak, ini belum beres semua"
"Ya udah, Mbak Kei mau ya ikut ke depan sebentar, ibuk lagi di kebun mupuk jagung soalnya, mau ya mbak?"
"Iya ayok aku pake jilbab sama cardigan dulu"
"Ciee .... mau ketemu Gus Hanan ya??" goda Arini
"Huss kamu ini selalu begitu Rin, Ndang metu Kon, jare ape nyapo mau?" oceh mbak Rasti. Kinara bersikap biasa saja mendengar Arini menggoda nya. toh sampai detik ini nama Azka masih bersemayam di hatinya.
Arini keluar kamar setelah mendapat teguran dari kakak iparnya, Keisya dan mbak Rasti langsung bergegas ke rumah ummi Tin untuk mengambil sisa honor sewa dekor dan lain-lain.
"Assalamualaikum Gus, ummi ada?" sapa mbak Rasti saat mereka sudah di depan rumah ummi Tin
"Eh waalaikumsalam mbak, ada di dalam ummi, ayo masuk dulu" Hanan menjawab dengan grogi ekor matanya menangkap raut wajah Keisya yang terlihat datar-datar saja.
"Silakan duduk mbak, saya panggil ummi dulu di belakang" setelah berucap demikian Hanan pergi memanggil ibunya tapi tetap bisa menyembunyikan raut wajahnya yang terlihat gugup.
Ummi Tin datang menghampiri mereka tersenyum sumringah. saat melihat Keisya raut wajah ummi Tin berubah sendu. entah apa yang ada dalam hati ummi. namun ummi tetap memaksa tersenyum dan memeluk Keisya.
"Saya udah datang tadi malam Mbak Ras, tapi sampean katanya lagi nggak enak badan," ucap ummi Tin.
"Iya ummi emang begitu lah namanya juga kerja pasti capek. beruntung Gunawan tadi malam nggak rewel jadi bisa istirahat dengan tenang." jawab mbak Rasti.
Tak lama Hanan keluar membawa baki berisi teh anget sama pisang goreng yang masih mengepul karena baru diangkat dari wajan.
"Loh mbak Khusnul kemana mi?" tanya mbak Rasti melihat Hanan seperti kaku dan salah tingkah
"Khusnul kerumahnya mertuanya kemarin sore berangkat, karena mau syukuran di pondok sama santrinya kyai Rohmat"
"Ooh pantesan nggak kelihatan, Abah udah pergi ke sawah?"
"Pergi ke kecamatan di amanahin jadi saksi nikah di KUA"
Mbak Rasti memperhatikan gerak gerik Gus Hanan yang tampak kaku terlebih lagi saat menaruh teh di hadapan Keisya, tangan Gus Hanan terlihat bergetar meski hampir tak terlihat. mbak Rasti tersenyum ternyata adik iparnya yang super usil itu sengaja mengolok Keisya karena tahu Hanan seperti menyimpan perasaan pada Keisya.
"Awas Gus nanti tumpah tehnya kalau kena anak gadis orang gimana bisa berabe loh" goda mbak Rasti
"Eh si...silahkan di minum tehnya mbak saya permisi" Hanan pamit tanpa menoleh lagi. ummi yang melihat tingkah Hanan hanya bisa tersenyum kecut.
"Oh ya mbak Rasti sisanya kemarin sesuai kesepakatan di awal ya, ini sisa honor nya sekaligus sudah saya tambahin bonusnya karena mbak Rasti bener-bener bekerja keras dan para tamu juga merasa nyaman saat datang terimakasih banyak mbak" ucap ummi Tin menyerahkan amplop putih di atas meja dan mendorong nya sedikit ke arah mbak Rasti duduk.
"Y Allah ummi, nggak usah repot nambahin bonus, justru saya tambah malu, tapi terimakasih ummi insha Allah ini jadi berkah untuk karyawan saya"
"Iya mbak semoga usahanya lancar dan semakin di permudah. silahkan diminum tehnya mbak"
"Nak Keisya denger-denger mau mondok ya sama Rini?" tanya ummi Tin saat Keisya tengah meminum tehnya.
"Iya umi insha Allah sore ini kami berangkat"Keisya menjawab setelah menaruh gelas pada tatakannya
"Kenapa nggak kuliah aja nak, bukannya pak Hadi bos perusahaan terbesar di kota.?"
"Ini murni keinginan saya untuk mendalami ilmu agama umi, sejak kecil saya tidak mengenal siapapun dan setelah saya kembali sama ayah hati saya tergerak untuk itu" jawab Keisya seperlunya dan itu memang menegaskan isi hatinya.
Ummi memandang lekat wajah Keisya, menelisik ke dalam wajah oval sempurna itu.
hanya satu helaan nafas yang umi lakukan setelahnya. entah kenapa ada perasaan berbeda yang sekaligus membuatnya bingung terlebih melihat sikap grogi Hanan tadi. ummi sebenarnya menyadarinya karena sebelum menemui tamunya Hanan sempat menolak untuk membawakan teh dan cemilan ke depan. baru kali ini ummi Tin melihat sikap aneh sang anak.
"Apa mbak Rasti juga nanti mengantar ke pondok?"
"Tidak umi, tapi bapak sama ibu juga pakde Ahmad yang kesana mengantar Arini dan Keisya"
"Oh gitu, salam buat mbak Khusnul ya nak Keisya kalau ketemu di pondok?"
"Insha Allah ummi akan saya sampaikan. kalau bertemu nanti, mohon doanya semoga Nita saya di permudah oleh Allah."
"Amiiin semoga kerasan di pondok nak Keisya"
mbak Rasti yang mendengar obrolan mereka seolah menarik satu kesimpulan yang entah benar atau tidak. semoga saja tidak. batinnya
setelah di rasa cukup mbak Rasti pamit untuk pulang karena harus bekerja lagi di tempat hajatan yang lain. Keisya masih tetep dengan wajah datar nya dan sorot mata tajam saat melihat pria yang biasa di panggil Gus menghalangi langkahnya tanpa Sengaja.
"Maaf mbak maaf" ucap Hanan menunduk menyembunyikan raut wajah terkejutnya. niat nya tadi mundur beberapa langkah untuk memastikan motor yang akan ia bawa ke kota penampilan nya sudah maksimal bersihnya karena sudah selesai perawatan di bengkel.