KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
153 Martabak Jadul



Selesai sholat Maghrib Reno dan Hanan pergi ke warung tenda tak jauh dari rumah sakit, mengisi perut dengan menu makanan khas dengan olahan ikan alias tenda sari laut.


Tidak lupa mereka juga memesan makanan untuk para bodyguard dan bos muda mereka.


"Lo nggak pengen martabak Nan?" tanya nya setelah mencuci tangannya di wastafel yang sudah tersedia di warung tenda.


"Boleh lah, bawain sekalian buat bang Jeff dan kawanannya"jawab Hanan sembari meraih bungkusan yang diberikan oleh pelayan


"Udah gue bayar semua, yuk beli martabak dulu gue juga mau beli onde-onde" ujar Reno melanjutkan langkah keluar dari warung tenda.


"Nih kamu yang bawa, ini udah banyak banget kiri kanan mana nggak bawa motor lagi" keluh Hanan memberikan beberapa bungkusan yang ada di tangan kanannya. mereka berjalan ke arah tempat penjual martabak yang tak jauh dari warung tenda tadi.


"Gue bawa mobilnya ibu tadi nan, motor gue masih di parkiran hotel kuncinya doang gue bawa" seru Reno


"Eh motor Lo kemana?" tanya Reno tiba-tiba


"Di kantor polisi" dengan enteng Hanan menjawab tanpa menoleh.


"Lah kok bisa?"


"Tanya aja bang Jeff, udah tanggung jawabnya, motor nggak kembali sisa minta ganti rugi lah, bang martabak manis jadul satu" ucap Hanan sembari memesan menu martabak manis


"Eh, sembarangan lo ngubah menu jualan orang nan" tegur Reno


"Eh salah ya? kan emang tulisannya jadul, tuh lihat" kata Reno menunjuk sebuah tulisan di depan kaca gerobak yang tertulis jelas " Martabak Jadul bang Rojak Aneka Rasa".


"Jadul apanya tuh liat aja pilihan topingnya macem-macem, ini abangnya salah kasih nama kali" oceh Reno membaca menu toping yang tersedia di etalase kaca gerobak.


"maaf Mas-mas ini jadi pesen nggak?, mau berapa menu?" tanya sang penjual yang berpenampilan necis ala jaman dulu.


Hanan memperhatikan penampilan penjual yang tersenyum ramah sejak tadi pada mereka berdua. Ternyata yang jadul penjualnya bukan isi martabak nya. batin Hanan.


"Pesen keju susu dua porsi ya bang, yang satu nggak pake olesan mentega karena buat orang hamil, trus yang menu holen ini bikin dua porsi ya, ada martabak telur nggak?" ucap Reno


"Martabak telur ada mas"


"martabak telur nya porsi jumbo tiga porsi ya"


"Siap mas silakan di tunggu "


"Eh bukannya kamu alergi martabak telur?" tanya hanan berbisik


"Buat Azka, yang dua porsi buat bang Jeff dan kawanannya hehehe"


"Bang pesenannya saya ambil nanti ya, mau kesana dulu beli minuman" ucap Reno


"Siap mas"


"Mau kemana lagi sih Ren, ini udah rempong bawa sebanyak ini" tanya Hanan sedikit kesal


"beli onde-onde dulu," jawab Reno santai menggamit lengan Hanan yang kosong


"Jangan sentuh-sentuh diliatin orang di kira gay" seru Hanan mengulang kembali ucapan Reno tadi sebelum Maghrib.


"Anjai Lo ahh hahahaha" Reno tertawa mendengar seruan Hanan yang menurutnya absurd. pandangannya tetap awas dengan jalanan yang ia lewati. Reno melebarkan sedikit langkahnya untuk menghindari genangan air di depannya.


"Woi mas kalau jalan lihat-lihat dong, udah tau ada genangan air di terjang juga, dasar jorok" maki seorang gadis yang melintas di sampingnya.


Keduanya menoleh, mata Reno melotot tajam melihat gadis yang baru sore tadi memakinya juga. kenapa sih ketemu orang nggak jelas lagi. gadis itu masih belum menyadari karena sibuk melihat kakinya yang terciprat genangan air yang kotor.


"Kamu lagi...dasar cowok nggak jelas, dasar jorok hisss" ucap gadis itu memaki sembari melangkah pergi dengan mulut komat Kamit tak karuan mengumpati Reno.


"Lo aja yang nggak jelas, orang udah minta maaf malah melengos kayak kambing aja" sungut Reno. Hanan tersenyum penuh arti melihat tingkah sahabatnya itu.


"Udah nggak usah ngumpat, siapa tahu jodohmu dunia akhirat"


"Lo kok daritadi doain gue jodoh Mulu sih nan, iish AU ahh Lo sama nggak jelasnya" ucap Reno ketus. Hanan hanya tertawa pelan melihat tingkah Reno seperti anak kecil.


Setelah memesan sekantong onde-onde dengan harga murah meriah serba seribu perbiji, Reno mengajak Hanan kembali ke tempat penjual martabak untuk mengambil pesanan.


"Haduh mending tadi aku nungguin disana aja Ren, daripada bolak balik gini," keluh Hanan karena sejak insiden cipratan air tadi wajah Reno tertekuk sempurna kayak cewek lagi pms.


"Harusnya Lo kan nolak daritadi, kenapa juga ikut" sahut Reno kesal


Hanan melongo mendengar ucapan Reno yang begitu menjengkelkan, hanya bisa mengucapkan istighfar sebanyak-banyaknya dalam hati saja.


Setelah mengambil pesanan martabak dan membayarnya, mereka kembali ke rumah sakit memberikan makan malam untuk bang Jeff dan kawanannya lalu ke ruang kerja Kinara memberikan martabak.


Belum hilang rasa kesalnya sampai di ruang kerja Kinara mereka mendapat ceramah singkat dari Kinara hanya karena masalah sapaan yang tepat yang biasa di lakukan Hanan karena menghormati Kinara dan Azka.


Entah kenapa Reno kesal setiap kali Hanan memanggil Azka dan Kinara dengan sebutan tuan dan nona, padahal usia mereka hanya terpaut setahun lebih tua Hanan.


Reno mungkin tidak menyadari asal kekesalannya berawal dari obrolan antara ibunya dan tuan Wibowo yang ingin menjodohkan nya dengan Keisya. hingga apapun yang terjadi di depan matanya di anggap salah. termasuk sikap Hanan yang begitu hormat pada Azka dan Kinara.


Untung nya kekesalannya itu tidak berlangsung lama karena kesalahannya sendiri yang membuat ketiga temannya tertawa saat ia akan mengambil kantong kresek berisi onde-onde itu jatuh dan alhasil hampir semua onde-onde itu berhamburan di lantai.


"Seneng banget ngetawain gue Lo pada, Ra nggak ada wadah atau apalah gitu biar bisa gue simpen ini, mumpung belum lima menit, bawa pulang buat sarapan besok pagi" ucap Reno seraya mengambil onde-onde yang terhambur dilantai.


Kinara mendengus namun tetap berjalan ke arah laci nakas Mengambil kotak makanan yang memang ia sediakan khusus di ruang kerjanya.


"Nih, masukin di sini aja, agak kegedean sih tapi nggak papa, buat onde-onde semini itu mah cukup, lagian Lo beli makanan pemborosan amat, banyak banget" kata Kinara memberikan wadah itu pada Reno.


Hanan yang merasa kasihan ikut mengambil sisa-sisa onde-onde yang nyelempit di sela kursi dan meja.


"Ini masih mau kamu makan Ren?" tanya Hanan memastikan


"Iya lah, belum lima menit, lagian ruangannya juga ber-AC jadi nggak kotor"


"Hahahaha Lo emang dari dulu nggak pernah berubah Ren, bersyukur yang jadi bini Lo nanti, kalau makan nggak habis Lo yang abisin hahahaha" tawa Azka pecah, Reno diam saja tetapi mulutnya tetap menye-menye tidak berhenti.


tok tok tok


"Masuk" ucap Kinara


"Nona muda, teman non Keisya udah sadar dan kebingungan, perawat masih menenangkannya" bang Jeff muncul di depan pintu dengan wajah gusar


"Oh baiklah, saya kesana, tolong hubungi kak Revan dan ayah ya bang" ucap Kinara


Azka dan Kinara pergi ke IGD begitu juga Hanan yang tahu jika yang di maksud teman Keisya itu Arini. hanya tinggal Reno sendiri yang masih merapikan onde-onde nya ke dalam wadah.


"Sus boleh saya temui pasien?" tanya Kinara pada suster yang membawa alat infus dan obat-obatan


"Oh silahkan nona, pasien sudah mulai tenang,"


Kinara masuk ke dalam setelah menggunakan jubah steril dan masker khusus milik rumah sakit. Kinara menyapa Arini yang masih terbaring lemah, mendekat dan menyapanya ramah. Arini hanya diam dan mengangguk saja saat Kinara bertanya. meski kondisi fisik Arini lebih baik dari Keisya dan sopirnya tetapi seperti nya Arini mengalami trauma secara psikis.