
Derap langkah terdengar jelas keluar dari ruang IGD. pria berjas putih itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. masih pukul 01.14 dini hari pikirnya.
Ia bergegas meneruskan langkahnya menuju keruang kerja demi menuntaskan hasrat mata lelahnya yang seharian ini sudah mendemo untuk di tutup beberapa saat. tubuh kekarnya juga sudah mulai lelah, dokter senior yang menghubungi nya sore tadi juga tidak memberikan kabar kapan akan kembali.
Beruntung pasien yang ia tangani tadi tidak terlalu menyusahkan dirinya yang masih baru beberapa bulan resmi menyandang gelar dr.SpKJ spesialis kejiwaan.
Sampai di depan pintu ruangan ia membuka kunci lalu masuk dan menghempaskan jas putihnya di kursi, membuka kancing kemeja atas dan langsung merebahkan diri atas sofa tunggal. Tugas pertamanya di rumah sakit ini benar-benar menguras tenaganya sejak sore. pagi hingga pukul empat sore ia bertugas di rumah sakit jiwa sumber asih dan sore tadi tanpa tedeng aling-aling sang paman yang sudah bekerja di rumah sakit ini memintanya untuk menangani pasien korban kecelakaan yang mengalami trauma.
Sempat menolak karena ia pikir ada seniornya yang sudah sejak lama bekerja dirumah sakit yang sama dengan paman nya. karena pamannya memberikan alasan dengan jelas dan masuk akal menurut nya, dengan terpaksa ia menyetujui. karena benar-benar merasa lelah akhirnya ia tertidur hingga waktu pagi.
***
Kinara masih khusuk di atas sajadah dengan wiridan panjang saat Azka membuka mata. ia melirik jam di dinding kamar lalu mendesah pelan, matanya melirik sang istri yang khusus dengan dzikir nya.
"Baru jam dua malam" batinnya, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudlu. suara nyanyian hewan malam menambah kesan damai padanya.
Azka memakai pakaian sholatnya dan merentangkan sajadah di depan sang istri untuk melaksanakan sholat tahajjud.
drrrt drrrt
sering gawai di atas nakas menghentikan aktivitas Kinara yang tengah berdzikir. bangkit mengambil gawai dan menekan tombol hijau pada layar.
"Assalamualaikum"
"Benarkah? Alhamdulillah nanti suami saya yang datang ke rumah sakit, tolong bang Jeff hubungi ayah dan kak Revan"
"Baik, baik terimakasih bang"
"Alhamdulillah setelah tiga hari akhirnya Keisya sadar" batin Kinara. ia menoleh ke arah sang suami yang baru selesai mengucap salam.
"Mas, Keisya sudah sadar" ucapnya.
"Alhamdulillah besok saja mas kerumah sakit" kata Azka sembari melipat sajadah. menoleh kearah Kinara sejenak lalu, "malam ini kita ibadah bareng dulu ya" ucapnya mengerling. Kinara memutar bola mata, mencebik namun tak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Mas udah lama nggak jenguk si kembar" ucap azka membisik
"Iiishh baru lima hari mas bilang udah lama?" Kinara menoleh menatap tajam sang suami.
"hehehe mana tahan mas sayang, apalagi kalau udah lahiran nanti, bakalan puasa dua bulan"
plak
Akhirnya setelah debat panjang mereka larut dalam ibadah malam yang sebenarnya hingga adzan subuh berkumandang.
***
Tuan Wibowo tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya mendengar kabar sang putri sudah melewati masa kritis nya. setelah tiga hari berlalu akhirnya pukul 02.30 dini hari Keisya sadar dari koma.
Tuan Wibowo langsung pergi kerumah sakit bersama Revan sesaat setelah mendapat panggilan telepon dari bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga Keisya di rumah sakit.
"Van sudah kamu hubungi Kinara?"
"Udah di telpon bang Jeff yah, besok juga datang ke rumah sakit"
"Ya sudah kalau gitu, besok paklik Kardi sama Bulik Sri mau datang di antar Bagas, kamu siapkan hotel untuk mereka menginap"
"Biar tinggal di rumah besar aja yah daripada kosong cuma di tempati mbok Jum sama anak cucunya saja, biar rame lagi lah seperti dulu rumah kita"
"Baiklah"
kedua nya larut dalam keheningan masing-masing selama perjalan ke rumah sakit, Keisya yang sudah mendapatkan perawatan masih menanyakan keberadaan ayahnya pada suster yang sedang mengganti selang infusnya.
"Tuan sedang dalam perjalanan, nona menginginkan sesuatu?"
"Ayah" ucapnya lirih
"Sabar ya nona, tunggu sebentar lagi" ucap suster seraya mengusap lembut punggung tangan Keisya yang tidak tertancap jarum infus.
"Sus, bagaimana kondisi pasien?" tanya dokter Haris yang datang dengan wajah setengah kusut karena baru satu jam lebih ia terlelap sekarang harus bangun lagi dengan mata membengkak menahan kantuk. namun demi profesionalitas ia tetap menjalankan amanah yang di bebankan padanya malam ini.
"Pasien masih memanggil orang tuanya dok, biar saya saja yang menjaganya, dokter istirahat saja, denyut nadinya sudah saya periksa, infusnya juga sudah saya ganti, besok pagi baru akan saya sibin sebelum Dokter Djafri visit, untuk CT scan sudah di jadwalkan besok oleh dokter Djafri" ujar suster ber-nametag Ana .
"Terimakasih sus" ucapnya. Dalam hati dokter Haris mengumpati sang paman "Gue cuma jadi satpam doang buat jaga pasiennya, semua udah di atur sendiri, nasib jadi ponakan"batinnya. lalu, " malam ini saya mau istirahat dulu, saya sudah lihat data pasien, apa dokter Rahma sudah di hubungi?"
"Sudah dok"
"Baiklah saya istirahat dulu,kalau ada apa-apa saya ada di ruangan ya sus, selamat malam"
"Malam dok "