
"Gimana, apa kata dokter ganteng itu tadi?" tanya mama Hanna saat kami sudah ada di parkiran mobil.
"Alhamdulillah sudah banyak perkembangan, banyak cerita aja sih ma"
"Kamu ngga mau cerita sama mama, aku juga mama kamu loh"
"Ish mama, ya kebanyakan nasihat ma, emang banyak sih yang nggak aku tahu selama ini, ya itu yang di jelasin pak dokter"
"Sudah tampan, baik hati lagi, untung ponakan hihihi"
"Loh pak dokter itu ponakan mama?"
"Ponakan papa, mama yatim-piatu dari kecil Kei, pernah hidup di panti asuhan terus di asuh dan di adopsi sama pamannya papa Anderson, umur 18 tahun mama masuk Islam, sebenarnya udah kenal Islam dari kecil pas di ambil jadi anak asuh pamannya papa, karena mama dulu katanya dari bayi sudah di pakaikan kalung salib"
"Wow jadi mama dulu juga belum tahu sholat, ngaji juga?"
"Iya, tapi almarhum opa dulu nggak pernah maksain mama belajar Islam, bahkan sewaktu di bawa ke Indonesia mama di sekolahin di sekolah Kristen waktu SD trus masuk SMP-SMA di luar negeri mama juga tetap sekolah di sekolah Kristen, bahkan kalau hari minggu almarhum tetap ngantar mama ke gereja, nungguin sampai selesai"
"Kok gitu ma, bukannya beda agama?"
"Iya begitu almarhum opa, orangnya religius dan toleransi sekali, kalau sama keluarga di kenal tegas dalam memegang prinsip,l dan taat beribadah, kalau interaksi dengan tetangga dan orang lain, beliau supel, ramah dan nggak pernah menghujat agama lain"
"Wow...ada ya ma orang begitu, emang boleh?"
"Jelas boleh sayang karena Islam itu agama yang penuh toleransi"
"Oh gitu, Mas Hanan mana ma dari tadi kita ngobrol dia nggak ada"
"Tuh jalan dari mushola kayaknya, ganteng ya Kei kikikik"
"Nggak papa lah, siapa tahu jadi jodoh kamu kikikik " mama Hanna terkikik sendiri.
"Maaf nyonya saya ke mushola dulu tadi" ucap mas Hanan dengan sopan, wajahnya terlihat segar dengan sisa-sisa air wudlu masih basah di wajahnya.
"Ya udah yok ke panti, mama mau pergi pengajian nanti ba'da dhuhur, mau ketemu kyai kondang itu loh yang dari kota J" ucap mama penuh semangat.
"Oh iya nyonya mau di antar kesana juga?"
tanya mas Hanan
"Iya asal Keisya juga ikut, mau kan Kei?" tanya mama mengerling ke arahku
"I....iya ma" ucapku menyengir. haduh nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba aja ngajakin pengajian yang isinya pasti ibu-ibu semua.
Sepanjang jalan ke yayasan mama lebih banyak bercerita tentang masa kecilnya saat hidup di panti sampai bertemu dengan almarhum orang tua angkatnya yang sangat toleransi pada sesama.
Aku di buat terkagum-kagum oleh sosok almarhum yang mama panggil dengan sebutan opa Jawa, karena keturunan asli orang Jawa Indonesia yang tinggal di Jerman.
"Kita sampai nyonya alamatnya benar kan?" tanya mas Hanan saat sudah menepikan mobil di halaman sebuah bangunan dua tingkat seperti sebuah kelas.
"Yup benar, kamu padahal baru kesini loh nan, kok nggak nyasar?"
"Kan ada aplikasi Mbah map nyonya, jadi nggak mungkin kesasar heheh" jawab mas Hanan dengan candaan.
Ku pikir orang seperti mas Hanan ini lurus-lurus saja, ternyata bisa bercanda juga kikikik. batinku tertawa.