
POV Reno
...Awal Kisah Ku...
Memutuskan suatu hal yang bukan keinginan kita memang hal paling sulit apalagi jika itu berhubungan dengan keinginan orang tua. kebanyakan orang tua selalu memutuskan segala sesuatu untuk hidup anaknya tanpa pernah memikirkan perasaan anak sendiri.
Sejak kecil aku hidup hanya berdua dengan ibuku karena ayahku bekerja di luar pulau dan pulang jika saat lebaran saja bahkan hingga akhir hayatnya, aku tidak bertemu dengannya setelah hampir dua lebaran kami tidak berkumpul. ayah ku meninggal karena kecelakaan kerja. meski kami mendapatkan kompensasi dari perusahaan tempat ayah bekerja, tapi tetap saja itu hanya cukup untuk kebutuhan hidup kami berdua selama beberapa tahun saja.
Ibuku masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. uang kompensasi yang kami dapatkan saat itu juga separuhnya ibu berikan pada nenekku yang tinggal di kampung sebelah. ibuku seorang anak tunggal yang juga tidak memiliki ayah semenjak remaja. menurut cerita ibu dan nenek kakek ku meninggal karena sakit keras.
Ayahku hanya dua bersaudara yang juga sudah yatim piatu sejak remaja. hanya saja kehidupan keluarga ayahku terbilang cukup mapan meski tinggal di desa. almarhum ayahku dan kakak perempuannya mendapat warisan setelah kedua orang tua mereka juga meninggal sejak remaja.
Beruntung kakak dari ayahku orang yang begitu baik dan bijaksana, sehingga saat ayahku tiada, dia satu-satunya yang membantu kehidupan kami, bahkan uang kompensasi dari perusahaan tempat ayah ku bekerja, beliaulah yang meminta ibuku untuk memberikan separuhnya untuk nenekku di kampung.
Selang beberapa tahun ayah ku meninggal, ibu mendapatkan pekerjaan di kota sebagai asisten pribadi seorang wanita konglomerat kaya raya yang memiliki banyak perusahaan di bidang konveksi, ritel dan saham.
Nenek dan budeku_kakak perempuan ayahku_ mengizinkan ibuku untuk bekerja di luar kota meski mereka berat melepaskan kami. rumah dan tanah yang kami miliki pun mereka yang dengan rela hati merawatnya meskipun tidak kami tempati.
Disini lah awal hidup baru ku tinggal bersama seorang majikan baru ibuku. ternyata ibu bekerja sebagai asisten pribadi majikan dan anak perempuannya. setiap pagi ibu sibuk mengurusku dan anak majikan kami hingga mengantar kami ke sekolah. setelah itu baru ikut dengan majikannya bekerja hingga sore hari karena saat kami pulang sekolah sudah ada seorang asisten yang bertugas untuk menjemput.
Kinara, nama anak majikan kami, dia anak yang pendiam dan penurut juga ramah. setiap hari kami menghabiskan waktu bermain dan belajar bersama.
Beberapa tahun ibu bekerja sebagai asisten, ada seorang pria sahabat karib majikan kami datang melamar ibuku untuk di jadikan istri.
Awalnya ibu menolak karena perbedaan usia juga status ibuku yang seorang janda. meski usia ibuku lebih tua setahun tapi karena tekad baik pria itu pada akhirnya membuat ibuku luluh atas persetujuan bude dan nenekku di kampung.
Setelah ibuku menikah lagi, akhirnya kami tinggal berpisah dan ibuku berhenti bekerja sebagai asisten Nyonya Amina. bahkan nyonya Amina memberikan hadiah pernikahan pada ibuku berupa sebidang tanah seluas dua hektar untuk di jadikan lahan bisnis.
Dari ayah sambung ku, aku memiliki dua orang adik kembar laki-laki Arkan dan Dimas. ayah sambung ku juga tidak pilih kasih pada kami. beliau menyayangi kami sama rata bahkan kehadiran sosok ayah yang jarang ku dapatkan terbayarkan dengan sikap lemah lembut nya dan pengayom padaku dan adik-adik ku.
Sampai suatu ketika bapak jatuh sakit dan harus di rawat secara intensif selama beberapa tahun. disitulah peranku sebagai kakak menjaga kedua adikku yang masih balita. aku menggantikan peran ibuku merawat Arkan dan Dimas yang masih kecil-kecil sedangkan ibu merawat ayah di rumah sakit.
Hingga suatu pagi nyonya Amina datang kerumah bersama suami dan anaknya serta para asistennya dan pegawai kantor. aku tidak tahu jika kedatangan mereka adalah bentuk belasungkawa atas kepergian bapak sambung ku karena saat itu ibuku masih berada di rumah sakit.
Barulah setelah kedatangan tetangga dan pelayat, jenazah bapak sambung ku tiba di rumah. aku hanya bisa terdiam dan menangis tanpa air mata saat itu sembari memangku Arkan dan Dimas yang menangis karena mencari ibu dan bapak yang sudah dua pekan tidak mereka temui.
Hari itu benar-benar hari bersejarah dalam hidupku, kehilangan sosok ayah untuk kedua kalinya dan harus menjadi sosok ayah untuk kedua adik kembar ku.
Setelah kepergian bapak sambungku, ibuku benar-benar fokus merawat kami bertiga dan memulai bisnis baru di bantu oleh nyonya Amina dan suaminya. ibuku mendirikan kos-kosan untuk karyawan dan pelajar karena lokasi tanah yang strategis dekat dengan kampus, perkantoran dan perusahaan-perusahaan skala besar.
Ibuku membuka kos-kosan pada awalnya hanya enam pintu meskipun nyonya Amina menyarankan untuk di buat 20 pintu sekaligus. tapi ibu tetap bersikukuh dengan pendiriannya agar uang hasil kos-kosan bisa ia simpan sedikit demi sedikit untuk mendirikan toko kue yang sudah ia tekuni semenjak menikah lagi dengan almarhum bapak.
Dua tahun setelah kos-kosan ibu berdiri dan berjalan lancar, nyonya Amina berpulang, saat itu aku dan Kinara masih kelas tiga SMP dan sedang menghadapi ujian akhir nasional.
Bukan hanya aku dan ibu yang bersedih atas kepergian orang paling baik dan dan paling berjasa dalam hidup kami. tapi nenek dan budeku di kampung juga sangat terkejut saat mendengar berita kematiannya. karena almarhumah rupanya sering mengunjungi nenek dan budeku tanpa sepengetahuan ibu dan aku, almarhum juga sering memberikan bingkisan pada mereka saat berkunjung. dan yang baru aku tahu jika nyonya Amina membantu pembangunan di desa kami dengan sukarela. nyonya Amina juga mendirikan sebuah galeri budaya untuk warga desa berkreasi dan berinovasi dengan cenderamata khas dari desa kami. hingga kini galeri itu masih tetap berjalan dan sudah merambah bisnis hingga keluar negeri. entah siapa yang bertanggungjawab pada galeri itu hingga kini dan itu masih menjadi misteri.
Setelah aku masuk SMA ibu memberikan aku amanah untuk ikut menjaga kos-kosan yang sudah bertambah menjadi sepuluh pintu dan sebuah rumah berlantai dua minimalis berada tepat di depan kos-kosan dan sebagai pintu masuk dan pos satpam. ibu memang memberikan aturan ketat pada setiap penghuni kos-kosan untuk tidak membawa tamu melewati pos satpam dan rumah yang ku tempati.
Bahkan ibu membuat sebuah ruang tamu khusus di lantai bawah bersebalahan dengan pos satpam. wow. setegas itu ibuku tapi beruntung tidak ada satupun penghuni kos yang merasa terbebani. karena mereka rata-rata adalah karyawan yang pulang saat malam hari dan mahasiswa mahasiswi yang jam terbangnya juga kadang tidak tentu.
Satu beban di pundak ku bertambah bukan hanya sebagai seorang kakak juga sebagai seorang bapak untuk kedua adikku. meski salah satu dari mereka memang tidak akur dengan ku tapi aku tetap menyayangi mereka tanpa beda.
Terkadang aku berpikir ingin juga menikmati kehidupan seperti teman-teman lainnya, hang out dan jalan-jalan sesuka hati tanpa harus terbebani dengan urusan orang tua. boro-boro bebas jalan, pacar saja aku tak punya meski ada satu nama yang sudah lama terpatri dalam hatiku. aku hanya memiliki tiga orang sahabat, kami berempat sudah bersahabat sejak masih SD saat aku pindah ke kota. Beno, Fikar, dan Aldo. kami berempat sudah di kenal sejak SD hingga SMA. karena selain memiliki kemapuan akademis yang berbeda tapi kami tetap selalu kompak dan mendukung satu sama lain.
Naik kelas tiga SMA satu hal mengejutkan dan sempat membuat perasaanku jungkir balik, saat Kinara menikah karena perjodohan dengan salah satu anggota baru geng kami, Azka. sahabat baru kami yang notabene suami Kinara yang sejak mereka bayi sudah di jodohkan. ah dunia ternyata masih sama saja. kenapa masih berlaku budaya perjodohan apalagi ini untuk anak di bawah umur. meski mereka baru delapan belas tahun bukankah itu di larang juga? ah orang kaya mah bebas.
Selama mereka menikah pun aku dan ketiga sahabat ku juga memiliki tugas baru untuk menjaga mereka berdua. Azka dan Kinara. pada awalnya aku tidak tahu menahu persoalan apa yang sedang mereka hadapi. tapi suatu ketika aku sempat bercerita pada ibuku, dari ibu aku tahu keadaan yang terjadi sebenarnya. ternyata di balik kesuksesan seseorang juga banyak liku-liku dan permasalahan rumit yang mereka hadapi. di saat itu juga aku tahu jika Kinara memiliki adik kembar bernama Keisya yang hilang sejak mereka masih berumur tiga tahun.
Kinara yang ku anggap selalu riang ternyata menyimpan luka begitu dalam. ketegaran dan keikhlasannya membuatku semakin kagum tapi tetap saja aku tidak bisa menjadi pria nya.
to be continue.......