
Kinara dan Azka langsung pergi ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari tuan Denias yang meminta mereka kerumah sakit malam itu juga.
Jalanan cukup lengang karena hari menunjukkan sudah pukul 2.45 dini hari. hanya ada beberapa mobil yang melintas menembus pekatnya malam.
Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke tempat Anthony sedang di rawat.
"Dimana papa sama Mama om?" tanya Azka begitu mereka sampai di depan ruang rawat Anthony.
"Mereka istirahat di hotel seberang" ucap tuan Denias " Kinara om minta tolong bisa kamu temui om Anthony di dalam untuk yang terakhir kalinya" pinta tuan Denias memohon pada keponakannya.
"Baiklah om, tapi harus dengan dokter Fritz bisa kan?"
"Baik, besok pagi temui dia, om mohon maafkanlah semua kesalahannya selama ini Azka, kita semua terluka karena kesalahannya tapi om tahu apa yang sebenarnya tejadi padanya selama ini, dia tidak punya siapapun di dunia ini untuk tempat berbagi segala keluh kesahnya, dia hanya korban keegoisan orang tua dahulu, maafkan dia" ucap tuan Denias lirih
Azka memeluk tuan Denias berusaha menenangkan orang yang paling ia hormati itu. ia tahu dialah yang paling terluka atas semua masalah yang selama ini menghimpit keluarganya karena ulah Anthony. dialah orang yang paling sabar menghadapi keegoisan Anthony meski mereka tidak sedarah.
"Aku mengizinkan Kinara menemui nya om, tapi maaf aku pribadi tidak bisa menemui nya, trauma itu masih ada, kami belum bisa sepenuhnya melupakan apa yang pernah terjadi" ucap Azka di angguki oleh tuan Denias.
"Maafkan om nak" ucap tuan Denias berurai air mata. Azka menepuk punggung tegap tuan Denias memberikan ketenangan
"Bahkan di detik terakhir hidupnya, om masih bisa legowo untuk merawatnya setelah semua yang sudah ia lakukan pada keluarga kalian, om orang hebat, justru kami belajar dari om untuk bisa ikhlas menerima kesalahan orang lain" ucap Azka sendu.
"Om kuat karena kalian, terimakasih nak," tuan Denias menarik Kinara ke dalam dekapannya. mereka bertiga saling mengeratkan dan menguatkan.
Dokter Djafri keluar dari ruang rawat Anthony dengan wajah tegang. berkali-kali dokter Djafri mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan.
"Apa yang terjadi dok?" tanya tuan Denias
"Temani dia di detik terakhir, hanya Allah swt yang berkuasa atas semua makhluk Nya., masuklah, dia membutuhkan mu Denis" ucap dokter Djafri sebelum berlalu meninggalkan ruang perawatan, tubuhnya lelah waktunya untuk beristirahat.
"Kalian tidurlah di hotel aku sudah membooking kamar untuk kalian, kau perlu istirahat nak kasihan bayimu, maafkan om, besok setelah sholat Subuh datanglah kemari, temui om Anthony" ucap tuan Denias pada Azka dan Kinara.
Tuan Denias masuk ke dalam ruang perawatan Anthony. Azka dan Kinara menuruti perintah tuan Denias untuk beristirahat sejenak di hotel seberang ruang sakit.
"Mas, apa ini pertanda dia akan pergi?" tanya Kinara begitu mereka sampai di kamar hotel.
"Sudahlah jangan terlalu memikirkan yang belum terjadi, istirahat lah dulu, besok setelah sholat subuh kita akan menjenguk bersama" ucap Azka menangkan istrinya.
"Sejak sore tadi perasaanku tidak enak mas, terlebih lagi dalam mimpiku tadi Anthony meminta tolong padaku bahkan ia sujud di kaki ku mas"
"Sudahlah sayang jangan di pikirkan dulu, mau sholat?"
"Aku nggak bawa mukenah"
"Kita ke mushola hotel, hotel ini atas nama kamu loh, kamu yang punya masak lupa sih" ujar Azka mengelus pucuk kepala Kinara yang bersandar di bahunya.
"Apa urusannya ini punya ku atau bukan, sholat ya sholat lah ya udah yuk" ajak Kinara seraya merajuk. Azka hanya tertawa kecil melihat tingkah sang istri.
Mereka berdua akhirnya melaksanakan sholat malam berdua di mushola hotel. setelah itu tidur kembali hingga tiba waktu sholat subuh.
Sementara itu di ruang rawat Anthony, tuan Denias membacakan ayat suci Alquran di samping brangkar Anthony. setelah di nyatakan koma lagi tuan Denias lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam menemani Anthony. di sudut hatinya merasa bersalah pada mending bapaknya tuan Henry karena tidak pernah berusaha untuk menjalin komunikasi yang baik dengan Anthony sejak dulu.
Karena keegoisan kakek dan neneknya lah Anthony menjadi seperti ini. kurangnya komunikasi dan selalu mendapatkan apapun yang diinginkan melalui materi yang terus menerus mereka berikan pada Anthony hingga membuat Anthony menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya bahkan tanpa pernah memikirkan perasaan orang yang menjadi korban keegoisan nya.
Yang Anthony butuhkan hanyalah kasih sayang dan perhatian yang tidak lagi ia dapatkan sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang egois dan menginginkan apapun dengan segala cara demi mendapatkan perhatian orang lain.
Tuan Denias berhenti membaca Alquran saat Roby datang menghampiri nya.
"Tuan istirahatlah dulu, biar aku yang menggantikan"
"Baiklah aku akan tidur di kamar sebelah, bangunkan aku jika ada apa-apa, dimana Sobri?"
"Sobri istirahat tuan, ada Sugeng dan Tomo yang menjaga di depan"
"Baiklah, aku pergi dulu"
"silakan tuan"
Tuan Denias memilih beristirahat sejenak karena tubuhnya juga sudah merasa lelah.
Roby menggantikan tuan Denias membacakan ayat suci Al-Quran di samping brangkar Anthony.
Ada rasa kasihan melihat tubuh renta yang sudah terlihat kurus itu, sebegitu menderita nya ia semasa hidup. memendam sendiri semua yang ia rasakan tanpa ada tempat untuk bersandar hingga membuatnya lupa daratan.
Menjelang subuh Roby menghentikan bacaan Al-Qur'an nya, dan menunggu teman yang lain yang akan menggantikan nya menjaga Anthony di dalam.
Setelah sholat subuh sesuai janjinya, Azka dan Kinara datang ke rumah sakit dan menemui Anthony.
"Dimana dokter Fritz mas Roby?" tanya Kinara saat bertemu Roby yang baru saja keluar dari dalam.
"Masih murojaah di mushola kayaknya nona, karena tadi saya ajak katanya nunggu nona datang"
"Oh ya udah saya tunggu"
"Saya hubungi dulu ya nona supaya tidak terlalu lama menunggu"
"iya silahkan, siapa yang menjaga di dalam?"
"Ada Tomo nona, sementara yang lain sedang sholat dan membersihkan diri"
"Oh baiklah"
"Mas, aku kok nervous ya" ucap Kinara pada Azka
"Banyak baca sholawat, om Denias mungkin masih istirahat, kasihan beliau kelelahan"
"Iya mas, em beliin bubur ayam di depan ya aku lapar hehehe"
"Ishh kamu tuh nggak sekalian tadi, nunggu ok bule dateng nanti mas yang pergi beli buat sarapan"
"Iya"