
"Masih berani Lo datang setelah bikin keributan?" sindir Arkan saat Reno tiba di ruang rawat ibunya.
Dimas sedang menyuapi ibunya makan, sementara Arkan sudah pergi dengan wajah yang di tertekuk seperti kanebo kering.
"Eh mas, baru sampai? duduk dulu" ucap Dimas tersenyum memandang Reno dengan rasa kasihan karena wajahnya babak belur.
"Ren" panggil Bu Fitri pada anak sulungnya dengan air mata mengalir di kedua pipinya.
"Bu maaf, maafin Reno" ucap Reno terisak memeluk ibunya di brankar. Dimas memilih menjauh dan keluar memberikan ruang pada ibu dan kakaknya untuk berbicara.
"Nggak papa nak, semua baik-baik saja" ucap. bu Fitri mengusap punggung anak sulungnya yang sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.
"Reno udah bikin ibu sakit dan tuan besar sakit, Reno pantas di hukum Bu, maafin Reno"
"Udah nggak papa, kamu anak ibu yang berani ,yang penting jangan di ulangi lagi kedua kalinya"
"Maafin Reno Bu"
"Iya udah nggak papa, ibu kecewa Ren, tapi ibu bisa apa kalau kamu sudah ambil keputusan untuk hidupmu, maafin ibu yang udah buat kamu tertekan karena permintaan kami"
"Maafin Reno Bu" kedua ibu dan anak itu menangis dalam pelukan.
Bu Fitri memang kecewa dengan sikap Reno tapi ia bisa berbuat apa jika sang anak sudah berani mengambil keputusan berat dalam hidupnya, Reno bukan lagi anak kecil yang harus di tuntun untuk berjalan. dia sudah dewasa seiring waktu dan dia berhak mengambil keputusan dalam hidupnya untuk masa depannya kelak.
Dimas tak kuasa menahan air mata nya di balik pintu ruang rawat ibunya. ia tahu betul bagaimana Reno selama ini menjaga mereka bertiga setelah bapak mereka meninggal sejak ia dan Arkan masih berumur lima tahun.
"Ngapain Lo tangisin orang nggak tahu diri kayak dia Dim?" ketus Arkan saat melihat Dimas mengusap air mata nya. ia baru saja membeli sebotol air mineral di kantin rumah sakit.
"Asal Lo ingat, yang ngerawat kita dari kecil saat ibu pergi bekerja siapa Ar? coba Lo yang di posisi dia, apa Lo bisa jalanin satu komitmen dengan terpaksa?" sahut Dimas karena kesal Arkan sejak dulu selalu memusuhi kakak mereka.
Padahal Reno selalu banyak berkorban untuk mereka bertiga. bahkan Reno mengalah tidak tinggal serumah dengan ibu karena Arkan yang memintanya. Arkan terdiam saat Dimas membalas ucapannya dengan cara menyudutkannya dengan mengingatkan bagaimana pengorbanan Reno.
"Mau kemana Lo, bisa nggak jadi orang menghargai sedikit privasi orang lain meskipun itu saudara Lo sendiri? biarkan ibu dan mas Reno menyelesaikan masalah mereka dan Lo nggak perlu ikut campur" ucap Dimas ketus menyeret Arkan pergi menjauh.
Arkan memang selalu kalah jika berdebat dengan Dimas yang dewasa dalam bersikap dan mengatasi masalah. Dimas yang memiliki pembawaan anteng dan bijaksana jauh berbeda dengan dirinya yang selalu temperamen dan semaunya sendiri, ceroboh dan tidak bisa di atur.
Arkan mendengkus kesal karena lagi-lagi ia kalah dengan Dimas. sejak kecil ia memang selalu iri dengan Reno yang mendapat perhatian lebih dari kedua orang tua mereka menurutnya. dalam hal apapun bapak dan ibu mereka selalu mengandalkan Reno dan Dimas, dan Arkan selalu merasa di abaikan karena ia ceroboh dalam menyimpan sesuatu.
"Jadi kamu yakin mau pergi Ren?" tanya ibunya dengan wajah sendu
"Maaf Bu, tapi ini demi ibu juga, besok pesawat ku jam tujuh pagi ke Banjarmasin, udah nggak bisa di batalkan"
"Lalu kuliah mu bagaimana nak?"
"Sudah ada seseorang yang membantu mengurus kepindahan ku sana mulai hari ini dan Reno minta ibu pindah ke desa saja, kos-kosan bisa di amanahkan sama bang Somat dan lainnya, mereka kan saudara ibu juga"
"Ibu nurut aja apa keputusan mu nak, ibu udah nggak mau maksa kamu lagi, kalau kamu sudah yakin ingin memulai hidup baru disana, ibu izinkan tapi dengan syarat jangan pernah tinggalkan ibu dan adik-adik kamu"
"Apa ibu mau ikut?"
"Ibu nggak akan ikut, ibu hany minta kabar dari kamu setiap hari, itu saja"
"Itu hal yang mudah Bu, Reno janji, tapi bisa nggak aku minta satu hal dari ibu?"
"Apa?"
"Aku pergi mulai malam ini tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Arkan, kecuali Dimas yang membantuku, aku hanya minta ibu tutup mulut dengan keberadaan ku dari keluarga Keisya, ibu pergi tinggalkan kota ini tanpa sepengetahuan mereka bisa kan Bu?"
"Insha Allah, pergilah nak, ibu tidak mau lagi menghalangi keputusan mu, ibu akan pergi setelah di izin kan pulang oleh dokter, pergilah malam ini, biar Dimas yang mengurus semuanya disini, dan bawalah ini kemanapun kamu pergi, berikan ini pada Istri mu nanti saat kalian menikah jika ibu sudah pergi lebih dulu" ucap Bu Fitri menyerahkan cincin pernikahannya pada Reno lalu memeluk erat anak sulungnya dengan linangan air mata.
Perpisahan dengan pendamping hidup sudah ia rasakan dua kali, dan sekarang harus berpisah dengan putra pertamanya dengan almarhum suami pertamanya.
Bukan hal mudah membesarkan seorang anak dalam kondisi ekonomi yang serba kesulitan saat itu, beruntung Reno tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, pengertian dan bertanggung jawab. bahkan setelah ibunya menikah lagi dan di karuniai dua orang anak kembar, Reno tak pernah merasa iri karena sang bapak sambung memberikan kasih sayang penuh padanya meski itu hanya sebentar. saat kedua adik kembarnya berumur lima tahun bapak sambungnya harus pergi untuk selamanya meninggalkan mereka berempat hidup tanpa sosok pahlawan di sisi mereka.
"Maafkan aku Bu, tolong sampaikan maaf ku untuk Azka dan Kinara jika mereka datang mengunjungi ibu, sampaikan maaf ku pada tuan Wibowo, izinkan aku pergi dengan ridho mu Bu"
"Iya nak pergilah"
Tok tok tok
"Masuk Dim," jawab Reno mengurai pelukannya dari sang ibu
"Mas, udah sarapan? ini aku belikan Bubur ayam kesukaan mu" tawar Dimas
"Terimakasih Dim, nanti aku makan, masih kenyang baru sarapan tadi di jalan pulang, kamu nggak sekolah?"
"Kan hari minggu, besok juga tanggal merah, mas gimana sih, mentang-mentang mahasiswa lupa tanggal hahaha"
"Ahahah bisa aja kamu, ya udah aku mau keluar dulu, nanti nyusul ya"
"Oke share lock aja"
"Bu Reno pamit ya, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Dim, gue bawa bubur nya" teriak Reno dari luar pintu.
Bu Fitri mendesah berat melihat punggung sang anak sulung yang kian hilang dan menjauh di balik pintu.
"Bu, ibu yang ikhlas ya, mas Reno pasti baik-baik saja" ujar Dimas menenangkan ibunya yang terlihat sedih
"Ibu nggak pernah berpisah dari mas mu Dim, sejak kecil dia sudah menderita, ibu nggak tega tapi ibu nggak bisa berbuat apa-apa, dia sudah dewasa, ibu ingat almarhum bapak mu nak, ibu takut mas mu juga pergi tinggalkan ibu selamanya" tangis Bu Fitri di pelukan Dimas.
"Insha Allah semua baik-baik saja Bu, mas Reno itu kuat, besok kita pergi Bu, aku sudah urus semua keperluan kita di desa nanti, soal Arkan, ibu nggak usah bingung biar jadi urusan Dimas" ujar Dimas menenangkan ibunya.
"Lalu mas mu siapa yang antar nanti malam?"
"Itu urusan Dimas, ibu tenang saja ya, tadi aku sudah ketemu dokter katanya besok pagi ibu sudah boleh pulang, jadi besok malam kita bisa pergi tanpa ketahuan hihihi"
"Kayak maling aja"
"Maling nya pinter hihihi" Dimas terkikik sendiri.
Reno pergi menyusuri lorong rumah sakit hingga ke tempat parkir. kunci motor sengaja ia serahkan pada Dimas saat pamit tadi, Dimas sudah mengerti cara kerja Reno yang sering menghilang tanpa jejak selama ini.
Reno memesan sebuah taksi menuju ke sebuah tempat yang sudah Dimas siapkan. sebuah rumah tak jauh dari bandara milik teman sekelas Dimas yang pergi ke luar pulau dan menetap di sana.
"Maafkan aku kei, aku pergi tidak untuk kembali, jika suatu saat kita bertemu semoga kamu sudah benar-benar lupa siapa aku, kamu wanita yang baik terimakasih sudah berusaha menjadi terbaik untuk ku selama tiga bulan ini" batin Reno menatap lekat wajah Keisya di galeri ponselnya.
"Mas berhenti di sini? alamat nya sesudah sesuai" tanya sopir taksi.
"Oh iya, ini ongkosnya pak"
"Kebanyakan ini mas"
"Udah ambil aja pak, untuk anak istri bapak dirumah"
"Terimakasih banyak mas"
"Sama-sama pak"
Sementara itu di kantor nya Revan tengah beradu argument dengan sang istri perihal masalah Reno dan Keisya.
Revan tetap merasa tidak terima dengan keputusan sepihak Reno hingga membuat ayahnya kembali menjalani perawatan, belum lagi undangan pernikahan mereka sudah dalam proses cetak, semua vendor dan wo juga sudah siap dan sudah di bayar di muka.
Lutfiah membujuk Revan agar pria berstatus suaminya itu mau mengerti dan mengalahkan egonya sama seperti Kinara dan Azka yang berusaha legowo menerima kabar pembatalan pernikahan Reno dan Keisya. bahkan Reno pun sudah tak bisa lagi di hubungi sejak semalam.
"Mas, mereka nggak jodoh, kenapa harus nggak terima dengan semua pengorbanan kita untuk pernikahan mereka hah? mereka yang sudah menikah puluhan tahun pun bisa bercerai mas apalagi mereka yang belum apa-apa"
"Semua sudah terbayarkan Vi, kita rugi banyak"
"Astaghfirullah hari gini kamu masih ngurusin untung rugi mas? apa uang dan hartamu yang akan menolong mu nanti saat sakaratul maut huh?" bentak Lutfiah tak mau kalah. Revan terdiam melihat sorot mata tajam Lutfiah.
"Jawab mas, apa harta dan uang mu yang akan menolong mu nanti? kalau mas masih ngotot seperti ini jangan salahkan aku yang akan pergi meninggalkan mas detik ini juga, Reno sudah dewasa biarkan dia memilih sendiri jalan hidupnya, coba mas kalau ada di posisi dia, apa mas sanggup huh?"