KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 24



"Bu, kenapa di luar?" tanya Dimas yang melihat ibunya masih duduk di teras sembari menyesap segelas teh hangat.


Dimas baru saja pulang dari mushola untuk sholat jama'ah Maghrib bersama Arkan. tapi Arkan lebih memilih berdiam di masjid bersama pak ustadz menunggu waktu sholat isya selesai.


"Mana Arkan?" tanya Bu Fitri saat Dimas mencium punggung tangannya.


"Masih di mushola, nunggu waktu sholat isya sekalian katanya" jawab Dimas sembari duduk di salah satu kursi di samping ibunya.


"Makan dulu, ibu sudah masak kesukaan mu"


ucap Bu Fitri membelai rambut anaknya.


"Sekalian nunggu Arkan aja, ibu kenapa daritadi kok murung terus aku lihat?" tanya Dimas.


"Ibu nggak papa, cuma lagi kepikiran mas mu aja Dim, udah berbulan-bulan nggak ada kabarnya" jawab Bu Fitri sendu.


"Udah, percaya saja sama Allah, mas Reno baik-baik saja kok disana" ucap Dimas menghibur ibunya


"Perasaan ibu nggak enak sejak kemarin Dim, coba kamu hubungin Arzan, ibu pengen bicara sama mas mu" pinta Bu Fitri menghiba.


"Bentar ya Bu, mudah-mudahan nomer mas Reno aktif, aku keluar dulu ke jalan kayaknya biar dapet sinyal" ucap Dimas seraya mengambil ponselnya dari dalam saku.


Dimas berjalan keluar menuruni undakan teras, satu tangannya sibuk mengutak-atik ponsel menghubungi Reno sembari mencari signal.


"Alhamdulillah tersambung" batin Dimas senang lalu menoleh ke arah teras dan melambai pada ibunya.


"Assalamualaikum mas Reno?" sapa Dimas


"Waalaikumsalam, ini Tante Meri, ini Dimas ya?" ucap suara di seberang


"Tante, apa kabar? mas Reno dimana kok ponselnya Tante yang bawa?"


"Alhamdulillah Tante baik, sehat semua kok, Reno lagi tidur dari semalam demam tinggi, ini udah mendingan" terdengar suara Tante Meri putus-putus tapi masih dapat di dengar jelas oleh Dimas.


"Alhamdulillah, ini ibu mau ngomong sama Tante, bisa kan?" ucap Dimas memandang ibunya yang terlihat tidak sabar


"Bisa-bisa mana ibu kamu, Tante kangen udah lama nggak ngobrol" ucap Tante Meri di seberang, Dimas lantas menyerahkan ponselnya pada sang ibu.


Dimas berlalu meninggalkan ibunya di depan pagar berbicara dengan Tante Meri orang tua dari Arzan.


Dimas sebenarnya tahu kalau Reno sakit karena Arzan sudah mengirimkan pesan padanya semalam. hanya saja ia merasa tak tega jika harus memberitahu kan pada ibunya. selama ini Reno melarangnya untuk memberitahu ibu mereka tentang kondisi nya. karena Reno tak mau membuat ibunya terus bersedih dan mengganggu kesehatannya.


Dimas mendesah berkali-kali mencoba menetralisir perasaan nya yang benar-benar kacau. Ia lalu masuk kedalam rumah dan mengambil segelas air minum dan menenggaknya hingga habis.


Tak lama kemudian ibunya menyusul masuk dan menyerahkan ponselnya dengan wajah sendu.


"Kok cepet banget Bu?" tanya Dimas.


"Mas mu sakit, kenapa kamu diam saja Dim, selama ini ibu berharap menunggu kabar dari Kalimantan tapi kenapa kamu diam saja Dim? Apa ibu begitu merepotkan kalian sehingga kamu nggak mau ngasih kabar apapun soal mas mu disana?" cecar Bu Fitri dengan air mata berlinang membuat Dimas diam seketika. merasa bersalah? tentu saja. tapi ia juga tak salah sepenuhnya.


"Maafkan Dimas Bu" ucap Dimas memeluk ibunya


Bu Fitri menangis di pelukan Dimas. tangisnya membuat Dimas semakin merasa bersalah.


"Ini kemauan mas Reno Bu, mas Reno yang minta Dimas nggak boleh ngomong apapun ke ibu, karena mas Reno khawatir ibu kepikiran, mas Reno cuma minta doa saja dari ibu" ucap Dimas berusaha menenangkan ibunya.


"Harusnya kamu ngomong ke ibu Dim, hikss hiks..mas mu sakit dan ibu nggak bisa nemenin" ucap Bu Fitri terbata.


"Maafkan Dimas Bu, maafkan Dimas" ucap Dimas ikut menangis.


****


"Dok, aku harus gimana?" tanya Keisya di sambungan telepon. ia memang sedang menghubungi dokter Fritz setelah selesai makan malam.


Karena perasaan nya yang tidak tenang sejak siang tadi mendapat telpon dari keluarga Reno, akhirnya malam ini Keisya nekat menghubungi dokter Fritz dan menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutupi.


"Saya nggak bisa paksain perasaan kamu Kei, saya cuma saranin satu hal saja seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jika dia memang punya niat baik meminta maaf, sudah pasti dia akan datang menemui kamu dan keluarga mu, itu aja kok intinya. semua terserah sama kamu, saya nggak maksain, kalau kamu mau mengubungi kembali silahkan kalau tidak ya silakan, karena isi hati kamu ya hanya kamu yang tahu" ucap dokter Fritz di seberang telpon.


"Kalau aku hanya mau memastikan boleh kan dok?" tanya Keisya di ambang kebimbangan.


"Ya udah dok, nanti aku telpon lagi ya"


"Iya kei, selamat malam, jangan lupa buku catatan kamu besok saya mau lihat, oke"


"Oke dok, terimakasih assalamualaikum "


"Waalaikumsalam"


Tut.


Setelah sambungan telepon terputus Keisya mencoba menghubungi ulang nomor panggilan masuk siang tadi di ponselnya.


Setelah gagal berkali-kali mencoba menghubungi, akhirnya Keisya menyerah. mungkin memang benar apa kata dokter Fritz jika ia harus belajar legowo mulai saat ini.


Keisya menyimpan ponselnya di atas nakas lalu merebahkan bobot tubuh nya di atas ranjang. hati dan pikirannya benar-benar merasa lelah dan membuat nya tertidur hingga pagi menjelang.


**


"Kamu kenapa mas?" tanya Kinara pada sang suami yang sedang duduk termenung di dekat jendela kamar menatap tetesan embun pagi.


"Sini,duduk sebentar" ucap Azka meminta sang istri duduk di pangkuan nya.


"Kenapa?" tanya Kinara memeluk sang suami dari belakang.


"Rencana kita pindah rumah kayaknya di tunda dulu ya sayang, masih ada hal lain yang mau mas lakuin tapi harus dengan persetujuan kamu" ucap Azka


"Emang ada apa?"


"Salah satu pekerja minta libur dulu sampai empat puluh hari kematian anaknya, bisa kan?"


"Boleh lah kenapa tidak, aku nggak pernah melarang kok, kayaknya mereka memang perlu liburan dulu kali, kasihan kalau kerja terus, rumah juga masih setengah jadi kan, jadi biarkan mereka istirahat dulu sejenak" terang Kinara.


"Serius kamu?" tanya Azka memastikan


"Dua rius..." jawab Kinara tegas.


"Terimakasih sayang, kamu memang pengertian, nggak salah papa jodohin kamu buat aku, makin sayang deh" ucap Azka


"Hillih banyak gombal ada maunya"


"Hahahaha"


"Mas ada kabar dari Reno?" tanya kinara


"Kenapa malah nanyain itu?" tanya balik Azka sedikit terkejut.


"Ya nggak apa-apa mas, biar bagaimanapun dia dan ibunya pernah berjasa dalam hidup kami dulu, ayah juga sudah bilang nggak akan menuntut apapun sama keluarga mereka termasuk Reno, kalau pun Reno mau kembali ayah juga nggak akan memaksa lagi mereka harus menikah" terang Kinara


"Kapan ayah ngomong gitu?" tanya Azka


"Kemarin siang waktu Keisya sakit di butik, aku sempat nelpon ayah, nanti sore mungkin ayah sudah sampai disini sama Bulik Sri dan paklik Kardi" ucap Kinara


"Padahal kita yang rencana duluan mau ke sana, tapi batal terus, baru sekarang kesampaian malah ayah yang kesini" ucap Azka.


"Namanya juga manusia hanya bisa berencana mas, kalau mas dapat kabar dari Reno, cepat laporan ya" kata Kinara


"Kamu kenapa sih?" tanya Azka heran


"Aku kasihan sama Keisya mas, Hanan pernah laporan ke aku sih, Keisya sering nanyain Reno ke dia, lama-lama Hanan juga risih karena memang dia nggak tahu info apapun dari Reno meskipun sampai saat ini masih ngekos disana" Kinara bercerita


"Mas nggak tahu mau ngomong apa sayang, dari awal mas juga udah bilang ke Reno, kalau emang nggak mau tolak aja sekalian, tapi mungkin karena merasa kasihan juga sama ibunya, Reno akhirnya menerima meskipun terpaksa" kenang Azka


"Semoga saja Reno baik-baik saja di manapun berada" harap Kinara


"aamiin"