
Malam ini di rumah besar keluarga Anderson diadakan syukuran kecil-kecilan. mama Hanna yang sangat antusias saat mengetahui jika Kinara tengah hamil.
Papa Anderson bahkan memberikan banyak wejangan ada Azka membuat sang anak merasa seperti terdakwa karena kasus hamil. toh Kinara hamil karena memang istrinya bukan orang lain.
"Pa, capek duduk panas ini telinga, mau keriting papa mau ganti kalau sampe rusak?"
"Ck anak ini di nasehati malah ngelunjak"
"Abis dari tadi papa ngomong ngalor ngidul intinya cuma itu kan??"
"Ya Allah nggak ada Sean masih juga kayak gini anak mu ma huh" keluh papa Anderson
Mama Hanna yang mendengar ucapan suaminya hanya tertawa ringan. "Lagian anak siapa, ingat papa dulu juga gimana sama Jasmine kayak anjing sama kucing" seloroh mama Hanna membuat papa Anderson langsung bungkam
"Sebentar lagi besan kita datang kemari pa, siap-siap gih sana, biar Azka urusan mama aja"
"Baiklah ratuku" ucap papa Anderson berlalu meninggalkan ruang keluarga
"Ka, jadi gimana kuliah mu nggak mungkin kan kalau Kinar mau bolak-balik ke Amerika?"
"Rencana aku batalin ma, aku nggak bisa ninggalin Kinar sendiri, lagian aku kan daftar nggak cuma di Amerika, aku mau ambil satu kampus saja sama Kinar jurusan bisnis nunggu gelombang kedua aja, soalnya gelombang satu udah tutup, nanti kalau lanjut S2-S3 baru di luar negeri" jawab Azka panjang lebar
"Yakin? kamu nggak nyesel kan kalau ninggalin impianmu?"
"Kinar dan cucu mama lebih penting"
"Ya udah kalau gitu, mama sih terserah kamu aja apapun yang kamu pilih mama mendukung dan selalu berdoa"
"Gimana kalau aku tinggal di apartemen sementara ma?"
"NO! mama nggak ngizinin, meskipun Anthony sudah ada di pengasingan bukan berarti mama mau biarin kamu tinggal di apartemen lagi, mama masih belum sanggup apalagi Kinar lagi hamil, masih rentan" ucap mama Hanna tidak setuju.
"Ya aku lah ma, sesekali disana kasian kan apartemen ku nggak di tempati malah jadi sarang hantu 👻👻" protes Azka seraya memperagakan mimik seperti hantu.
"Boleh yang penting bawa si Aldo"
"Aldo pendidikan ma, masuk kepolisian gimana sih?"
"Fikar atau Reno"
"Fikar di Jogja ma dia masuk UGM, kalau Reno satu kampus sama Kinar sama aku juga"
"Ya udah Reno aja"
"Kan Reno udah punya apartemen sendiri juga ma, kita tetanggaan"
"Ampuuun ampuuun"
"Ishh mama deh kapan aku bisa mandiri kalau mama masih ngekang?" Azka marah lalu pergi meninggalkan mamanya yang terbengong mendengar ucapan anaknya.
"Apa aku keterlaluan ya?" batin mama Hanna
"Kenapa lagi anakmu ma?" tanya papa Anderson yang datang menghampiri
"Dia marah pa, ngotot mau tinggal di apartemen tapi mama nggak izinin" ucap mama Hanna sendu
"Lagian mama ini kenapa sih, anak di kekang Mulu, kalau dia mau tinggal di apartemen sesekali kan bisa lah terserah dia, lagian dia beli apartemen kan uang dia sendiri bukan uang dari kita" ucap papa Anderson memihak anaknya
"Ck mama masih khawatir pa"
"Lagian unit apartemen itu punya siapa sih ma, punya Rudi kan? Rudi juga keluarga besan kita, papa juga pernah inves disitu juga"
"Tapi Kinara hamil pa,"
"Ma, biarlah kalau mereka mau tinggal di apartemen sesekali, lagian mereka juga butuh privasi" ucap papa menasehati
"Hm ya udahlah pa kalau gitu, mama minta maaf"
"Bukan sama papa tapi sama anak mu ma"
"Nyonya itu tumpengnya udah siap mau di simpan di mana?" tanya Sri yang tiba-tiba muncul dari arah dapur
"Duh lupa, ya udah simpan dulu di situ, tempatnya belum aku siapin Mbak Sri, papa kenapa belum siap-siap?" ucap mama Hanna yang baru menyadari penampilan suaminya. papa Anderson hanya memutar bola mata jengah melihat tingkah sang isteri.
Waktu terus bergulir, Keisya, Revan dan Tuan Wibowo masih terlibat percakapan ringan setelah selesai mereka pun bertolak untuk pergi ke rumah tuan Anderson.
Ada rasa nano nano yang Keisya rasakan saat perjalanan pergi ke tempat tujuan, ada rasa sakit, bahagia, sedih, dan gelisah. ia pun bingung dengan dirinya sendiri, namun hatinya tak menolak bayang-bayang Azka saat pertama kali ia bertemu waktu itu, ada getaran halus yang ia rasakan pada suami dari saudara kembarnya itu.
"Kamu kenapa dek? daritadi duduk gelisah amat?" tanya Revan
"E..eh nggak papa kak cuma nyari posisi nyaman buat senderin kepala" ucapnya beralasan.
"Ya udah sini" Revan menawarkan bahunya
"Nggak mau kecil gitu kok"
"Eh ngejek, biar kurusan tapi tetep kokoh tempat ternyaman buat calon istri gue"
"Bwahahaha kakak ada-ada saja"
Mobil terus melaju, Revan dan Keisya masih terlibat candaan yang membuat tuan Wibowo merasa bahagia melihat kedua anaknya bisa tertawa. ada haru dalam hatinya mengingat almarhum sang istri sudah tiada.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, Keisya terlihat ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumah besar bernuansa perpaduan Eropa - Indonesia.
"Ya Allah kuatkan aku" batin Keisya dengan langkah pelan.
Saat masuk ke dalam rumah terlihat semua tamu sudah berkumpul, keluarga besar mertua Dokter Fritz juga baru tiba,beberapa kolega penting dan keluarga besar mereka sudah berkumpul.
Nenek Handoko terlihat sedang duduk dengan Kinara di sofa ruang keluarga sembari mengusap lembut perut Kinara yang masih rata. di sampingnya ada kakek Handoko, Alexa dan Varo serta keluarga besar duduk melingkar memberi banyak wejangan pada Kinara.
Keisya nampak kikuk saat sang ayah menggandengnya masuk ke dalam rumah. semua tamu terkejut melihat sosok Keisya. dengan antusias tuan Wibowo memperkenalkan Keisya pada para tamu yang hadir.
Mama Hanna menyambut hangat Keisya dan mengajaknya ikut bergabung dengan keluarga yang lain memperkenalkan Keisya pada mereka yang masih tidak percaya jika Keisya masih hidup.
"Andai aku yang jadi menantu mu ma" batin Keisya pilu. "Ah ada apa denganku, tidak! tidak boleh begini, apa benar aku jatuh cinta pada suami kakakku?" batin Keisya bermonolog
"Jadi ini Keisya?" tanya nenek Handoko yang terkejut melihat Keisya.
"Iya nek, salam kenal" ucap Keisya kikuk
"Saya neneknya Azka, kalian ternyata nggak bisa di bedakan ya, cuma tahi lalat kamu aja yang bisa ngenalin kalau kamu Keisya." ucap nenek Handoko.
"Wuuuuuuu cogaaaaan" teriak para sepupu perempuan Azka yang melihat Azka menuruni tangga dengan memakai setelan sarung, Koko dan peci serba putih bercorak lembut. wajah Azka terlihat berseri dengan tetesan air wudlu yang masih tersisa di wajahnya. semua mata memandang dan terpesona melihat Azka terutama kedua saudara kembar Kinara-Keisya.
"Wii kalau bukan sepupu, udah gue embat dari dulu Lo bengek" ucap salah satu sepupu perempuan Azka bernama Chyntia yang memang terkenal bar-bar
"Nggak masuk kriteria gue cewek bar-bar" sahut Azka sembari menghampiri sang istri yang masih menatap nya lekat.
"Songong Lo, untung sepupu kalau bukan udah gue sambelin tuh mulut kotor Lo"
"Sini kalau berani, gue panggilin bang Joni kita adu sambel gimana?"
"Ciih yang keren dikit dong, Kakak ipar Lo boleh juga tuh"
Plak
"Sudah ada hak patennya, nggak boleh" sahut Azka setelah memukul dahi sepupunya.
"Kebiasaan banget Lo bengek, lama nggak ketemu kirain udah tobat Lo"
"Nggak bisa gue tobat kalau sama orang sengak kayak Lo"
"Woi dasar Lo ya..."
"Stop!!" kini nenek Handoko ikut jengah melihat kedua sepupu itu beradu mulut setiap kali bertemu. "Kalian ini cuma berdua tapi suaranya ngalahin supporter sepakbola, bisa diem nggak?" tegur nenek Handoko.
"Mas duduk gih, sana yuk sama mbak Safira" ajak Kinara berusaha menghindarkan Azka dari Omelan sang nenek. Alexa yang melihat itu merasa geram namun tak bisa berbuat apa-apa, begitu juga Keisya ada nyeri di sudut hatinya melihat kemesraan Kinara-Azka.
Tak lama acara di mulai, kyai Hasyim memberikan banyak nasihat tentang hukum keluarga dengan penyampaian yang santun dan mengena. mengena bagi kedua orang wanita yang sama-sama menyimpan harapan dan obsesi mereka pada suami saudara sendiri. hihihi.
Azka menggenggam erat tangan Kinara dan sesekali mengecupnya membuat Kinara salah tingkah. keluarga hanya tersenyum bahagia melihat tingkah Azka sedangkan kedua orang yang menyimpan asa pada Azka hanya tersenyum getir.
Acara berlangsung tidak lama setelahnya diisi dengan doa dan dilanjutkan dengan acar makan-makan. esok harinya baru mereka akan bertandang langsung ke yayasan panti asuhan untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan bersama penghuni panti.