KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
133 Keisya Sakit



Tuan Wibowo baru saja tiba dari kota melayat jenazah Nana dua hari lalu. karena kondisi Keisya yang terkadang masih tidak stabil membuat nya tidak bisa berlama-lama meninggalkan putrinya.


"Mas anak mu kemarin ngamuk-ngamuk di depan sawahnya pak Jito, beruntung ada bik Asih kalau nggak mungkin anakmu sekarang di penjara" ucap pak Kardi adik sepupu jauh dari tuan Wibowo dari pihak ibu.


Tuan Wibowo nampak meraup udara sebanyak-banyaknya lalu mengembuskan perlahan. ada sesak dalam hatinya mendengar Keisya semakin menjadi-jadi setelah kematian Anthony.


"Aku wes krungu, mbok e sanjang deingi, wes tuo pengen ku leren Karo momong putu, malah tambah abot beban ku di di" keluh pak Wibowo dalam bahasa daerahnya. (Saya sudah dengar, mbok kemarin sudah cerita, sudah tua inginku istirahat sambil momong cucu, justru tambah berat bebanku) kurang lebih begitu lah artinya.


"Seng sabar ae mas, ancen wes takdir e seng Kuoso, mben menowo yo dadi pelebur duso insha Allah. sios sowan gene pak kyai Rohmat tah?" ucap Kardi (yang sabar mas, memang sudah takdir yang kuasa siapa tahu jadi pelebur dosa insha Allah. jadi berkunjung kerumah pak kyai Rohmat?)


"Sido lah, bakdo sholat ashar, Melu Kon?" (Jadi lah setelah sholat ashar, mau ikut?)


"Melu lah, arep ngendangi anak ku Lanang, wes telong sasi Ra tak endangi blas" (ikutlah, mau jenguk anak laki-laki ku sekalian sudah tiga bulan tidak di jenguk)


"Yo wes, Nang ndi Sri?" (ya sudah mana Sri?)


"Petek melon gone pak Samidi, panen raya" (Petik buah melon di tempat pak Samidi, panen raya)


"Wah lumayan, kebon mu gong panen?" (Wah lumayan, di kebun mu sudah panen?)


"Wes panen sawit nang Kalimantan, kene panen kangkung kae nek tegalan" (Sudah panen sawit di Kalimantan, disini panen kangkung tuh di parit belakang rumah)


"Hahahaha"


"Tuan maaf, non Keisya badannya panas tinggi seperti nya kharus kita bawa ke puskesmas tuan" ucap bik asih yang datang dengan raut wajah khawatir


"Astaghfirullah, sejak kapan Keisya panas bik?" tanya pak Kardi karena subuh tadi Keisya masih pergi ke mushola sholat subuh bersamanya.


"Mungkin sejak semalam, karena tadi malam sempat mengeluh sakit kepala tuan" jawab bik asih


Tuan Wibowo hanya diam dan tenang sembari berjalan menuju ke kamar sang anak.


"Siapkan mobil di, kita ke puskesmas atau ke rumah sakit daerah sekalian, tapi harus ambil rujukan ya kalau kerumah sakit daerah" ujar tuan Wibowo


"Ke puskesmas dulu mas disana ada Ningsih, kita minta rujukan dulu kalau memang sudah darurat"


Pak Kardi mengeluarkan mobil di bagasi, tuan Wibowo menggendong Keisya keluar dari rumah, bik asih mengikuti di belakang dengan menenteng tas selempang milik Keisya yang selalu di bawa kemana-mana.


"Ayo jalan di" titah tuan Wibowo setelah masuk ke dalam mobil


Mobil keluar ke arah jalanan yang masih kerikil menuju ke puskemas setempat. sesosok pria muda mengamati mereka dari halaman rumahnya.


"Anak saya sakit apa dok?" tanya tuan Wibowo


"Nggak apa-apa pak ini gejala demam dan flu memang seperti itu, bisa jadi mungkin adik ini kurang cocok dengan kondisi suhu udara dan keadaan disini, saya lihat bapak warga baru disini ya?" uca dokter itu ramah.


"Iya dok, saya baru satu Minggu ada disini kami memang baru pindah"


"Oh iya, saya resepkan obat ya pak, nanti bisa di tebus di loket sebelah sana ada petugas nya nanti yang melayani, adik Keisya harus lebih banyak istirahat dulu ya pak, makanannya juga di perhatikan karena setelah saya cek, adik Keisya punya asam lambung"


"Baik dok terimakasih, kalau tidak ada perubahan dalam dua hari apa masih bisa saya meminta rujukan disini dok?"


"kalau kondisi pasien rawat inap dan kritis kami langsung berikan surat rujukan ke rumah sakit kota atau luar propinsi yang akan kami berikan rujukan pak , tapi karena kondisi adik Keisya ini tidak urgent saya sarankan lebih banyak istirahat dulu, dan kalau memang tidak ada perubahan dalam 2x24 jam silakan bapak minta rujukan kesini ya" jelas sang dokter ber-nametag Firda.


"Baik dok, kalau saya meminta rujukan ke rumah sakit Citra Husada di kota xx bisa kan?"


Dokter yang tengah menulis resep langsung mendongak karena rasa terkejutnya, menatap lekat wajah pria paruh baya yang ada di depannya.


"Bisa pak, kami usahakan" jawab dokter Firda tersenyum meski dalam hati ia bertanya-tanya dari mana pria tua itu tahu rumah sakit termahal di kota xx, bahkan ia saja yang pernah bermimpi ingin bekerja disana harus pupus harapan karena tidak lolos seleksi.


"Ini pak resepnya, silakan di tebus ya, semoga adik Keisya lekas sembuh" ucap dokter Firda menyerahkan secarik kertas berisi resep obat.


"Terimakasih dok" ucap tuan Wibowo menerima kertas resep dan langsung keluar dari ruang dokter.


"Piye mas?" tanya pak Kardi yang menjaga keisya di UGD


"Kita pulang, Keisya demam karena flu mungkin tubuhnya tidak cocok dengan kondisi suhu udara disini" jawab tuan Wibowo tenang.


Mereka bertiga akhirnya pulang dan meminta Keisya untuk beristirahat saja. tuan Wibowo keluar dari kamar Keisya menuju ke halaman belakang menghubungi seseorang di kota xx tempat anak-anak nya berada.


"Kamu cari tahu dokter yang bernama Firda yang bertugas di puskesmas daerah xxx, kirim. di email saya, oh ya untuk acara 40 hari Anthony tolong kamu siapkan segalanya dan undang semua kolega saya serta keluarga besar. saya ingin melaksanakan amanat terakhir almarhum karena mas Denias sudah menyerahkan semuanya pada ku." ucapnya pada seseorang di seberang telepon.


"Kalau acara pernikahan Revan masih di tunda lagi, saya minta paling lambat akhir bulan depan setelah 40 hari kematian Anthony tidak ada penolakan".


Tut


sambungan telepon di matikan setelah mengatakan kalimat terakhir. tuan Wibowo kali ini bingung harus dengan cara apalagi membuat Keisya bisa sembuh dari trauma dan bisa bersikap selayaknya orang normal lagi.


Ingin menghubungi Rena sudah tidak mungkin lagi karena anak itu rupanya sudah lelah menghadapi sikap Keisya, bahkan karena ulah menantunya Rena saat ini sudah mendekam di rumah milik adiknya dokter Wawan. ahh ada-ada saja tingkah absurd menantu pilihan almarhum istrinya itu.