KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 94



"Bengek gue jadinya" umpat Beno yang duduk di depan kemudi mobil.


"Kalau Kinara tahu rencana kita bisa-bisa kita di cincang, tapi kasihan juga Keisya sama Reno" timpal Fikar.


"Anjay banget tuh anak pake acara ngilang Mulu, kayak hantu" sahut Aldo yang sudah masih memasang wajah kesal.


"Jadi pergi nggak nih? satu jam lagi acara di mulai" tanya Fikar melihat jam di pergelangan tangannya.


"Tanpa Reno?"sahut Aldo


"Ya mau gimana lagi gaisss...udahlah cus kita pasrah aja sama Tuhan, kalau emang bukan jodoh biarpun kita paksa nggak bakalan ada jalan" tambah Beno menghela nafasnya berkali-kali.


"Ya udah yuk"


Sementara itu di toko roti Reno dan semua karyawan sibuk mengemas pesanan kue dan memasukkan ke dalam box.


Mbak indah sibuk mengemas kue pesanan khusus untuk tuan rumah. tak bisa sembarangan untuk mengolah adonanan hingga pengemasan karena sejak awal tuan rumah sudah meminta untuk di pisahkan dan memberikan beberapa resep untuk kue yang akan di buat.


"Waktu tinggal sejam lagi Ren, setengah jam lagi kita berangkat kesana, kamu yang bawa kue ini ya, ini datangnya harus belakangan, karena khusus untuk tuan rumah, bukan untuk tamu" kata mbak Indah mengarahkan.


"Oke mbak, untuk sajian prasmanan sudah berangkat kan?"tanya Reno


"Udah dari tadi, bude sama anak buahnya sudah stay disana, baru nyampe katanya" kata mbak Indah.


"Oke, mbak yang kudung biru tolong di hitung dulu semua kuenya, cukup nggak?" panggil Reno pada karyawan berjilbab biru


"Sementara tuan, jangan di ajak ngomong saya lupa lagi ngitungnya" kata wanita bertubuh mungil berjilbab biru itu


"Opss maaf mbak, tadi itu lagi ngitung toh, kirain lagi ngelamun" kata Reno bersalah.


"Kamu itu ren, daritadi itu dia tugasnya ngitung malah kamu ganggu, bubar pisan" tegur mbak Indah


"Heheh maaf mbak" kata Reno bersalah


"Ya udah, ini kamu packing rapi ya, saya bantu Intan ngitung dulu" titah mbak indah menyerahkan pesanan kue terakhir untuk di packing.


Kendaraan roda empat itu berjalan melambat bahkan tidak peduli dengan panjangnya kemacetan yang ada di depan mereka.


Tiga pria muda yang sejak tadi berdebat itu kini larut dengan pemikiran masing-masing. Aldo, Fikar dan Beno nampak masih memendam kekesalan mereka karena tidak bisa menemukan Reno.


Hari ini misi mereka untuk menyatukan Reno dan Keisya gagal. meskipun rencana ini mereka susun bertiga tanpa melibatkan sahabat mereka yang lain.


Alasan mereka hanya ingin bertemu Reno setelah empat tahun lamanya mereka berpisah. tapi setelah mengetahui apa yang telah tejadi di masa lalu membuat mereka iba dengan Reno juga Keisya.


Karena perasaan itulah mereka menyusun rencana untuk mencari Reno dan membatalkan lamaran Keisya dan hanan hari ini.


"Udah lewat setengah jam kita di jalan gais, emang yakin mau lewat pintu belakang?" tanya Fikar.


"Iya lah, tugas kita di sana cuma jadi tukang cuci piring, ye kan?" sahut Beno.


"Alasan Lo aja, gue yakin kenapa Azka nyuruh kita datang lewat pintu belakang, sudah pasti ada yang di rencanain" imbuh Aldo.


"Udah pertigaan tuh, belok cepetan, nanti aja kita lihat" sahut Fikar.


Beno langsung memutar arah dan berbelok ke arah kompleks perumahan elit. Beno memarkirkan mobil di sisi tanah lapang yang biasa di gunakan oleh warga komplek untuk saat ada acara-acara tertentu bahkan setiap sore anak-anak dan warga bermain sepakbola di tanah lapang.


ketiga lelaki itu turun dan memutar arah berjalan kaki ke arah belakang rumah penduduk yang di sisi kanannya ada sebuah parit kecil yang bersih. mereka melewati beberapa rumah warga dan berhenti di salah satu pintu gerbang yang sepertinya sudah terbuka sejak tadi.


Ketiga pria muda itu masuk satu persatu dan menyapa para ibu-ibu yang sedang sibuk memasak dan menyiapkan segala sesuatunya untuk para tamu di depan.


Karena acara berlangsung di halaman rumah sang pemilik yang terbilang cukup luas dengan pilihan acara out door, jadi mereka bertiga bisa masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.


"Lo ngapain sih nyruh kita-kita kayak pencuri gini?" tegur Beno pad Azka.


"Udah ayok masuk ke ruang kerja ku, tugas kalian ada disana" titah Azka


"Haiish... kebanyakan nonton FTV nih anak, tinggal ngomong aja kebanyakan gaya" oceh Beno kesal.


"Diem Lo, ikutin aja perintah bos" tegur Aldo menarik lengan Beno untuk segera masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Ini cctv?" tanya Fikar begitu mereka berempat sudah ada dalam ruangan.


"Iya ini tugas kalian buat ngawasin cctv, ini di dapur, di samping kiri kanan rumah, kamar anak-anak, ruang tamu, dan aula depan, tuh kalian lihat orang-orang yang pake baju seragam Fitrah bakery? warna orens dan topi orens? jangan sampai kalian kecolongan lagi, gue mau kalian lihat ada Reno atau tidak, karena gue dapet informasi dari seminggu yang lalu kalau dia udah di Jakarta" jelas Azka.


"Gue bilang apa" tukas Aldo mencibir Azka.


"Heduuh bang, banyakin berdoa aja ya" ucap Beno menepuk pundak Azka.


"Iya" ucap Fikar ikut menepuk pundak Azka.


"Banyakin baca Fatihah juga" tambah Aldo menepuk pundak Azka.


"Kalian apaan sih hahaha" Azka justru tertawa kecil melihat tingkah ketiga sahabatnya.


"Karena kita bertiga udah gagal hari ini oke, you know, we were not sure that we can meet him again okey??" sahut Aldo


"Udah sono Lo keluar, biar cctv jadi mainan kita hari ini!" usir Beno dengan wajah kusut tapi keyakinannya tak goyah bahwa hari ini ia bisa bertemu dengan Reno.


Di sisi lain, dua mobil toko sudah datang dan menata kue di tempat yang sudah di tunjukkan oleh Kinara.


Sejak pagi Kinara sudah sibuk dengan urusan penataan ruangan dan lainnya, beruntung dua anak kembarnya tidak terlalu rewel dan manut dengan mbaknya.


"Oh iya, mbak kue khusus yang saya pesan di mana?" tanya kinara pada gadis berjilbab biru


"Masih sementara di packing Bu mungkin sekarang sudah di perjalanan, nanti owner kami yang mengantarkan langsung" jawab Intan.


"Lima belas menit lagi di mulai mbak acaranya, tamu nya udah di perjalanan" kata kinara nampak khawatir.


"Kinara tersenyum lalu berucap, di depan itu ya, yang samping dekor, itu khusus untuk adek saya, sekalian tadi sama buket bunga nya yang saya pesan ya mbak" kata Kinara


"Iya Bu" jawab Indah.


Kinara meninggalkan pegawai berbaju seragam bakery itu dengan perasaan tak menentu, tiba-tiba saja ia teringat Reno, apakah ini pertanda buruk atau apa? batinnya terus bergejolak.


Kinara masuk ke dalam rumah dan menemui suaminya di dikamar yang sedang memakai setelan batik yang sama dengannya.


"Kenapa sayang? mukanya kok kusut gitu?" tanya Azka melihat sang istri yang nampak murung.


"Tiba-tiba aja ingat Reno mas, perasaan ku nggak enak" kata Kinara masuk ke dalam pelukan suaminya.


"Sudah, tenang aja, bukan cuma kamu aja yang resah, mas juga udah semingguan ini resah, kenapa harus seperti ini yang terjadi, nyatanya mereka memang tidak di takdir kan berjodoh, kita bisa apa,kalau semua sudah Tuhan yang menentukan" ucap Azka menenangkan istrinya.


Tok tok tok


"Tuan, tamunya sudah datang, tuan besar sudah di depan" suara bik Asih memanggil dari luar.


"Baik bik" sahut Azka lalu menatap istrinya dan menciumi wajahnya


"Setidaknya aku bersyukur bisa mendapatkan cinta pertamaku, love u" kata Azka mengucapkan kata-kata cinta pada istrinya. Kinara tersenyum lalu memukul pelan bahu suaminya.


"Gombal amoh" ucap Kinara tersenyum senang lalu menghadap cermin menata sedikit make up-nya.


Azka keluar terlebih dahulu lalu menemui semua kerabat dan keluarga besar Hanan yang sudah jauh-jauh hari datang untuk melamar Keisya.


Tuan Wibowo duduk di kursi di dampingi Azka, Revan, dan Vivi serta dua anak mereka yang masih balita. sementara si kembar Keenan dan Keana tidak nampak duduk di barisan kursi karena mereka lebih memilih untuk tidur di kamar sejak siang hari bersama mbaknya.


"Anak-anak kamu pasti ngorok ya kan?" tanya Revan pada adik iparnya.


"Kayak nggak hapal mereka aja kak, kerjaannya ya ngorok kalau siang sampai sore" sahut Azka pelan.


"Buatin adik lagi lah" kata Revan


"Ndiaasmu, situ repot kan punya dua anak kesundulan? wlee" cibir Azka pada Revan yang tersenyum geli.


"Husst diam" tegur om Denias yang duduk di barisan paling ujung. rupanya pria itu sengaja memilih duduk di ujung barisan padahal sejak tadi sudah di minta untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan untuknya.


Acara lamaran langsung di mulai begitu MC sudah membacakan susunan acaranya.


Sementara itu di luar pagar para karyawan berseragam orens di landa kepanikan karena Reno dan mbak indah yang membawa kue pesanan dan buket bunga belum datang sejak tadi.


"Udah di telpon Ntan?" tanya salah satu karyawan


"Udah bang, ini katanya kena macet, ya Allah gimana ini, nanti si ibunya itu tadi marah, gimana bang Ham?" tanya intan khawatir.


"Itu mereka" teriak salah satu karyawan berjilbab orens.


"Alhamdulillah" ucap mereka bersamaan.


Reno turun tanpa memperhatikan alamat rumah yang tengah mengadakan acara. ia juga tak begitu memperhatikan tulisan di atas kue tart khusus yang sedang ia bawa juga buket bunga yang di bawa mba Indah.


Reno langsung turun dan menemui karyawan yang sejak tadi menunggu kedatangannya.


"Kita shock mbak, di tungguin dari tadi, acaranya udah mulai" ucap Intan tersenyum lega.


"Ini di simpan di mana?" tanya Reno


"Tuan masuk aja ke dalam di simpan di atas meja samping dekor itu, sama buketnya juga, udah ada tempat buat naruh buketnya tuan" kata intan mengarahkan.


Reno tak memperhatikan tulisan dan bentuk bangunan rumah ia tetap berjalan memakai topi orens bername-tag Fitrah bakery, masker hitam dan kemeja putih berkerah serta celana bahan panjang berwarna hitam. Reno berjalan di iringi oleh mbak indah di belakangnya.


Reno tampak menunduk karena melewati barisan para tamu meski ia berjalan di arah samping. dimana pun tempat nya ia harus tetap berlaku sopan.


Hingga di satu titik langkahnya berhenti saat mendengar suara yang amat ia kenali.


"Saya menerima pinangan mas Hanan..........


............."


Hening


Hening


Hening


Mbak indah yang berjalan di belakangnya harus banyak mengumpat dalam hati karena Reno seperti patung tidak bernyawa secara tiba-tiba.


"Ren, Reno, jalan atuh" bisik mbak indah kesal.


Rupanya Reno tengah menatap seorang wanita yang duduk di apit oleh orang tua dan keluarga nya.


Brak


Byur.


"Astaghfirullah"..... suara para tamu dan tuan rumah mengucap istighfar karena mendengar benda yang jatuh.


Mbak indah melotot tak percaya dengan sikap keponakannya. dengan menahan amarah mbak indah langsung berlutut meminta maaf.


Lanjut......


Apa yang terjadi dengan Reno????"


Besok malam ya gaiss...