
"Jadi bagaimana hasil pertemuan kalian?" tanya tuan Denias pada adik perempuan nya.
"Aku justru semakin merasa bersalah mas pada mereka berdua, andai saja waktu bisa ku putar, aku tidak akan melakukan tindakan bodoh itu yang akan menyakiti keluarga apalagi anak-anak yang tidak bersalah" ucap nyonya Amira sendu
"Sudahlah, semua sudah terjadi kita tidak bisa memutar waktu tapi kita bisa memperbaiki keadaan dan masa depan mereka. aku yakin perlahan mereka akan bisa menerima mu Amira, jangan terlalu bersedih"
"Aku masih takut untuk mengatakan kebenaran pada Kinara mas, aku takut dia akan semakin membenci ku"
"Tidak usah berfikir terlalu jauh, aku tahu siapa Kinara, dia hanya butuh waktu sedikit saja mohon mengertilah dan bersabarlah dulu"
Nyonya Amira mengangguk mendengar nasihat sang kakak. memang benar tidak mudah untuk menyembuhkan luka apalagi sebuah kesalahan fatal yang berakibat pada kondisi seseorang.
"Apa anak buah mu sudah menemukan Ratih?"
"Mereka sudah menemukan nya, sekarang Ratih sedang di rawat di rumah sakit kita, sepertinya Revan sudah membuat janji pada asisten barunya untuk mengunjungi Ratih, tapi sepertinya belum terlaksana"
"Oh ya? jadi Revan sudah melangkah sejauh itu rupanya, baguslah kita akan berikan saja kejutan untuknya nanti di hari pernikahan nya."
"Benarkah? dia akan menikah?"
"Tak lama lagi, bahkan Wibowo sudah melamar kan sendiri calon istrinya tanpa sepengetahuan Revan"
"Baguslah, tinggal kita buat saja kejutannya nanti"
***
Hari berganti bulan, Kini hubungan Kinara dan Azka sudah semakin membaik, mereka sudah saling belajar memahami satu sama lain, saling mendukung dan saling menyemangati.
Setelah pengumuman kelulusan, mereka mulai di sibukkan dengan banyaknya persiapan untuk masuk ke bangku kuliah, bahkan ke sepuluh sahabat itu sudah jarang berkumpul bersama.
Kinara sibuk dengan tes masuk perguruan tinggi, di universitas ternama di negeri ini, ia memilih jurusan manajemen bisnis sesuai dengan permintaan ayah dan mendiang ibunya, meskipun di satu sisi ia masih menggeluti hobinya dalam mendesign pakaian. bahkan itu cita-cita nya sejak kecil yang sangat ia impikan.
Tak berbeda dengan ke empat sahabatnya, Cici, Ririn, Nana, dan Riska. Cici rupanya memilih untuk memperdalam ilmu agama di sebuah pesantren milik keluarga sahabat papinya, entah ada angin apa yang merasukinya, sehari sejak pengumuman kelulusan mengatakan pada keempat sahabatnya jika akan belajar di pesantren. berbeda dengan Ririn yang memang sudah di latih oleh sang ayah untuk menjadi seorang abdi negara begitu juga dengan sang kekasih Aldo. mereka memang sengaja tidak di pisahkan oleh pak Anton karena sudah terlanjur sayang dengan kepribadian Aldo yang memang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang pada sang putri.
Riska dan Nana sama-sama kuliah di jurusan pendidikan yang ada di kota mereka. pasalnya , setelah pengumuman kelulusan mereka kembali ke kota asal mereka dan melanjutkan kuliah disana.
Jika Kinara memilih kuliah di dalam negeri, berbeda halnya dengan Azka yang lulus tes di salah satu universitas ternama di negeri Paman Sam. Awalnya Azka mencoba membaca peluang yang ada namun ternyata nasib baik menghampirinya.
Tak jauh berbeda dengan sahabatnya yang lain, Fikar mengambil jurusan kedokteran di universitas unggulan di negeri ini satu almamater dengan Kinara. sedang kan Reno masih menggeluti perannya sebagai atlet voly sembari menunggu waktu tes masuk perguruan tinggi.
Nasib mujur benar-benar berpihak pada Beno, impiannya untuk masuk ke Oxford akhirnya terkabulkan, ia lolos tes masuk dan mendapatkan beasiswa berkat dorongan dari Om Rudy sang jutawan berlian.
Dengan semua kesibukan yang mereka miliki masing-masing tidak membuat komunikasi mereka terputus, hampir setiap hari mereka saling memberi kabar tentang kegiatan masing-masing.
Sama seperti hari ini, Azka dan Kinara hendak pergi berkunjung ke salah satu rumah kerabat dari ibunya, dan orang tua dari dokter Fritz, rencana yang sebenarnya sejak awal di susun akhirnya berantakan karena kesibukan Fritz sebagai dokter dan susahnya meminta izin dari pihak rumah sakit, selain itu juga Kinara dan Azka sedang sibuk-sibuknya mengikuti tes masuk perguruan tinggi.
"Udah clear semua kan Ra?" tanya Azka di balik pintu
"Udah tinggal masukin bagasi doang" jawab Kinara sembari mendorong dua koper besar miliknya dan Azka.
"Kita cuma dua hari disana sayang, kenapa bawa baju sebanyak ini?" tanya Azka heran.
"Biarin lah, sesekali kita masih punya waktu sebulan lebih sebelum masuk kuliah, lagian kamu kan masih ada waktu dua mingguan disini jadi nggak papa lah kita liburan lebih lama dikit" ujar Kinara dengan tersenyum jahil
"Nggak enak lah sayang, kita nginep di rumah om Keenan bukan rumah kita"
"Nggak ada alasan pokok nya aku mau disana semingguan"
"Hah??" tepuk jidat akhirnya si Azka
"Kenapa?" Kinara cemberut
"Nggak papa, apapun mau kamu aku turutin daripada nggak dapet jatah hehe"
"Ck modus, aku nggak mau masih sakit"
"Tapi enak kan, bikin nagih"
"Ulululu ngambek sayangku"
"Azkaaaaa, cepetan bawa ini ke bawah"
"Iya iya sayang"
Hubungan mereka kini sudah seperti layak nya pasangan suami istri yang seharusnya. Azka berubah menjadi sosok romantis setelah malam panas mereka untuk yang pertama kalinya. bahkan terkadang ia sering menjahili Kinara setiap waktu.
hubungan keduanya juga memberi pengaruh positif pada kondisi psikologi Azka yang memang punya trauma masa kecil. perlahan trauma itu bisa sembuh seiring berjalannya waktu dan kebersamaan yang mereka lalui bersama.
Pun dengan banyaknya masalah yang mereka hadapi sebelumnya, kini Kinara bisa lebih legowo menerima kenyataan pahit yang pernah ia hadapi beberapa waktu lalu. Kini ia sudah mulai akrab dengan saudari kembarnya Keisya. hubungan mereka sudah semakin baik dengan banyaknya perubahan positif dari Keisya berkat dampingan moril dari keluarga dan Rena orang kepercayaan tuan Denias.
Nyonya Amira yang pada awalnya masih takut untuk menemui Kinara dan Keisya kini sudah bisa merasa tenang setelah ia berkali-kali meminta maaf pada Kinara atas kesalahan masa lalunya, biar bagaimanapun Kinara harus tahu tentang hal itu meski di awal ia begitu tidak terima dengan kesalahan fatal yang Tante nya lakukan. tapi toh pada akhirnya ia menyadari jika apapun yang terjadi semua sudah menjadi suratan takdir untuknya dan keluarganya.
Setiap manusia pasti punya salah, tidak ada satupun manusia sempurna di dunia ini. sudah sewajarnya saling memberi maaf, dan berdamai dengan keadaan.
"Kalian udah siap?" tanya dokter Fritz
"Udah"
"Itu ciki kamu bawa sebanyak itu Ra??" tanya dokter Fritz geleng kepala
" Hehe buat bekal seminggu, lagian di sana kan di gunung om,"
"Oh my God" tepuk jidat juga dokter Fritz
"Biarpun disana gunung, tapi tempat wisata domestik adek ku sayaaaang, kalo cuma ciki-cikian gini mah banyak, cuma beda harga aja sih"
"Iiiih jadi nggak boleh bawa nih?" ucap Kinara dengan wajah cemberut dan mata yang sudah memerah menahan tangis.
"Eiitss... iya bawa aja nggak apa-apa nanti kita makan bareng di sana sama om Keenan dan tetangga kiri kanan oke?" rayu dokter Fritz.
"Hehe makasih om" ucap Kinara seraya melenggang masuk ke dalam mobil. Azka dan Fritz hanya geleng kepala melihat tingkah Kinara yang berubah drastis.
"Udah berisi ya Ka?" tanya Dokter Fritz menggoda Azka
"Apaan?"
"Masak Lo nggak faham sih?"
"Maksudnya?"
"Hamil"
"Hah? hamil? nggak mungkin lah, baru sebulan gue belah duren masak iya langsung jadi??"
"Sebulan, emang sehari berapa kali?"
"Hehehehe nggak ngitung sih, bisa berkali-kali"
"Nanti singgah di apotek, Lo beli tespect alat tes kehamilan biar yakin"
"Kok Lo tau sih?"
"Jelaslah gue dokter, masalah orang hamil mah gue hafal di luar kepala, waktu istri gue hamil juga gitu soalnya"
"Iya kah?"
"Udah deh buruan masuk, perjalanan masih panjang".
to be continue...
Maaf episodenya kayak terpaksa gitu, emang sengaja sih, beberapa bab lagi bakalan end. tapi tenang masih ada ekstra part nya kok..
tap tap terus ya ... love my readers🥰🥰🥰🥰