KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
66 Kejutan Untuk Tuan Denias



"Hufft" Revan menghela nafas berat kepalanya terasa sangat sakit dengan semua berkas yang menumpuk begitu banyak. data rahasia perusahaan yang hampir saja di sabotase Anthony beberapa bulan lalu membuatnya sangat frustasi, belum lagi dengan para investor dan pemegang saham yang hampir saja menarik semua sahamnya.


Meskipun suntikan dana dari Amd group sudah mampu mengembalikan kondisi perusahaan namun tak semua bisa berjalan lancar sesuai rencana.


Revan melonggarkan dasinya lalu merebahkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. "Gini amat hidup gue jadi wakil direktur utama, andai ibu masih ada, andai ibu kandungku bisa ku temukan.." batin Revan menatap langit-langit ruangan.


tok tok tok


"Masuk" ucap Revan


Rupanya Mala sang asisten masuk diikuti seseorang di belakangnya. Revan mengerutkan keningnya menatap sosok pria muda di hadapannya.


"Maaf tuan, beliau di utus oleh Tuan Santoso untuk menemui anda" ucap Mala


"Bukannya sekretarisnya yang seharusnya datang?" tanya Revan pada Pria muda itu.


"Maaf tuan, sekretaris tuan Santoso sedang menemani istrinya bersalin hari ini, saya sopir pribadi beliau"


"Oh iya silakan duduk, Mala bawakan minuman dan cemilan untuk kami"


"Maaf tuan, saya hanya sebentar saja, hanya ingin menyampaikan pesan tuan Santoso pada tuan"


"Oh ya pesan apa?"


"Tuan Santoso meminta anda dan tuan Denias bertemu sore ini pukul 16.00 di kafe xxx di jalan cendrawasih"


"Oh oke baiklah, akan saya sampaikan segera pada paman saya"


"Kalau begitu saya permisi tuan"


"Baiklah terimakasih sampaikan pada tuanmu aku akan datang bersama pamanku"


"Baik tuan permisi"


Setelah kepergian Mala dan pria tadi, Revan nampak berfikir " Bukannya itu kafenya bang Sindu ya, tempat Azka kerja" batinnya.


Revan meraih gawai lalu menghubungi pamannya Denias. Revan memanggil Mala setelah sambungan teleponnya terputus


"Mala siapkan semua berkas untuk meeting besok"


"Sudah saya siapkan pak, untuk berkas kerjasama dengan Amd group apa akan anda bawa juga nanti tuan?"


"Sepertinya tidak perlu, kamu siapkan saja jikalau nanti mendadak di butuhkan"


"Baik pak!"


"Oh ya, Mala apa ibumu sudah pulang dari runah sakit?"


"Belum tuan, ibu saya masih belum bisa bicara hingga saat ini"


"Apa itu sudah berlangsung lama?"


"Saya kurang tahu detailnya tuan, menurut cerita almarhum bapak kandung saya jika ibu sudah susah di ajak berkomunikasi sejak bapak menemukan ibu di pinggir jalan 26 tahun lalu."


"Hah" Revan terperangah mendengar penuturan Mala


"Apa dia bukan ibu kandung mu?"


"Bukan tuan, dia ibu asuh yang sudah seperti ibu kandungku"


"Lalu bagaimana dia merawatmu selama ini?"


"15 tahun lalu saya pernah punya seorang kakak angkat laki-laki yang bapak asuh karna di telantarkan orang tuanya, sejak saat itu kondisi ibu semakin baik dan berubah seperti sedia kala tapi sejak kakak saya meninggal karna kecelakaan lima tahun lalu ibu berubah jadi pendiam dan dua tahun kemudian menyusul ayah meninggal tanpa sebab di temukan di pinggir trotoar membuat kondisi ibu saya semakin parah tuan" papar Mala sembari menunduk menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang akan meledak.


Revan memandang Mala dengan tatapan kasihan, ternyata masih ada yang nasib nya lebih miris daripada nasibnya sendiri. Sekretaris yang baru saja ia rekrut selama tiga bulan masa percobaan rupanya mempunyai kisah pilu yang tak semua orang tahu di balik paras manis dan ayu yang dia miliki.


"Saya sudah putuskan kamu sebagai sekretaris saya mulai saat ini, masa percobaan kamu selesai karna saya lihat kinerja kamu rapi. dan saya harap penampilan kamu tidak berubah tetap tertutup seperti ini. saya akan menemui ibumu minggu depan tolong kamu kosongkan jadwal saya pada hari kamis"


"Ba...ap..apa tuan?"


"Kamu sekretaris saya mulai saat ini, saya akan menemui ibumu dan tolong kosongkan jadwal saya pada hari kamis."


"Apa tuan yakin mau menemui ibu saya?"


"Yakin"


"Ba..baiklah terimakasih sebelumnya tuan saya sangat berhutang budi pada tuan"


"Ahhaa biasa saja Mala, ya sudah lanjutkan kerja mu saya akan pergi ke kafe xxx"


"Baik tuan" Mala pergi meninggalkan ruangan direktur utama dengan hati gembira.


Revan meninggalkan meja kerjanya dan belalu masuk ke dalam kamar mandi yang sudah memang sudah tersedia di dalam ruangannya.


"Kenapa cerita Mala hampir sama dengan cerita pak Somat tentang ibu kandung ku, apa jangan-jangan, ah tidak mungkin bisa jadi itu orang lain yang punya kondisi sama dengan ibu Mala." batin Revan memberontak.


Setelah selesai membersihkan diri, Revan berjalan keluar dan bersiap pergi. ia melirik sekilas ke meja Mala yang sudah kosong.


"Arum saya duluan karna ada janji dengan pak Santoso sore ini, sampaikan pada Ayah" ucap Revan pada sekretaris sang ayah.


"Baik pak"


Revan melanjutkan langkah lebar nya memasuki lift dan turun di lantai dasar.


"Sore pak"


"Ya, sore juga, udah mau pulang kalian?" tanya Revan begitu sampai di dalam lift karyawan


"Iya pak,"


"Hati-hati jangan kebut-kebut kasian kan yang ada di boncengan belakang hahahah"


"Hahaha bapak bisa aja"


Seperti itulah Revan yang di kenal humble oleh para karyawan jika sudah bukan dalam waktu kerja, jika di waktu kerja Revan lebih di kenal dengan sebutan singa lapar karna sikapnya yang tegas dan tidak toleran jika ada yang sengaja melakukan kesalahan.


"Saya nggak mau..jangan paksa saya" Suara seorang wanita di area parkir karyawan.


Revan berhenti sejenak memandang 2 sosok pria tinggi besar berbaju hitam sedang menarik paksa tangan seorang wanita. Revan tak dapat melihat wanita itu karna terhalang oleh pria tersebut.


"Saya akan bayar tapi jangan paksa saya" ucap wanita itu lagi


Satpam dan beberapa karyawan datang membantu wanita itu tapi tenaga mereka tak memadai melawan kedua pria itu. Revan berjalan ke arah parkiran dengan langkah lebar.


"Tolong jangan....saya nggak mau nikah sama juragan"


"Kau harus ikut atau kami akan...." hendak melayangkan tamparan namun terhenti di udara.


Revan menahan lengan pria tersebut dengan tatapan nyalang. "Berani kau injak kan kaki mu di perusahaan ku heh?" gertak Revan


"Tu...tu....tuan"


Krak krak kletak


Suara jari jemari pria itu yang di remas oleh Revan dengan tenaga dalamnya.


"Apa urusanmu dengan karyawanku heh?"


"Ma...maaf tuan kami hanya di perintah!"


"Siapa yang memberi mu perintah?"


"Juragan Kusno tuan!"


"Ta...tapii...tapi...tuan"


"Katakan saja jika Bang R yang memerintahkan mu" gertak Revan membuat kedua pria itu ketakukan


"Baik..baik tuan saya permisi" kedua preman itu akhirnya lari.


"Aldi" panggil Revan pada salah satu karyawan.


"Iya pak" berlari dengan wajah cemas


"Antar Mala kerumah sakit Bhakti Pertiwi sekarang."


"Hah...apa?"


" Tidak ada siaran ulang" ucap Revan dengan tatapan nyalang lalu pergi meninggalkan parkiran dan memasuki mobilnya.


"Mala ayo aku antar" ucap Aldi sembari memakai helm


"Engg...enggak usah mas"


"Udah cepetan daripada bos marah, kita semua kena nantinya" ucap Aldi lagi


"Iya cepetan Mala, besok pagi pasti Aldi di cecar sama bos kalau nggak nurutin perintahnya" ucap salah satu karyawan yang lain


"Baiklah terimakasih antar aku ke rumah sakit"


"Iya naiklah nih helm di pake dulu"


"Terimakasih mas".


Sementara itu di kediaman tuan Anderson, Kinara dan Azka sedang terlibat pertengkaran kecil.


"Kamu yang salah simpen kenapa nuduh aku sih?" uca Kinara kesal


"Tadi ada disini Kinar, aku naruh disini di samping tempat kamu tidur"


" Ya mana aku tahu Azka, orang aku juga tidur"


"Ck, makanya kalau ada barang itu di liat-liat lah"


"Kok malah nyalahin aku sih, udah di bilang aku nggak tahu apa-apa Azka"


" Kok kamu malah nyolot sih Ra"


"Kamu duluan bikin aku kesel Azka"


"Ya tapi nggak gitu juga lah caranya"


"Cara nya apa?" Kinara bicara dengan nada keras


" Kamu berubah"


"Kamu duluan yang bikin masalah Azka kenapa malah nuduh aku?"


"Karna lo lelet"


"Dan lo egois, temperamen gue benci" sahut Kinara berteriak lalu keluar kamar.


Brak (pintu tertutup keras)


Mama yang berada di lantai bawah hanya geleng-geleng kepala mendengar pertengkaran mereka. semenjak mereka tinggal bersama lagi bukannya membuat mereka akur tapi malah bagai kucing dan anjing yang setiap hari berdebat tidak jelas.


Revan sampai di kafe tempat mereka akan bertemu dengan Pak Santoso. Tuan Denias justru sudah tiba sebelum Revan.


"Apa anda tuan Revan?" tanya seorang pelayan


"Iya"


"Mari tuan saya antar ke meja anda"


"Terimakasih" Revan mengikuti langkah pelayan menuju ke meja pesanan.


"Silakan tuan"


"Terimakasih, oh ya apa pelayan bernama Azka masuk kerja hari ini?" tanya Revan basa basi


"Maaf tuan Azka sedang cuti karna Ujian Nasional"


"Oh ya ya pergilah"


"Gimana om sehat?" Revan membuka percakapan dengan tuan Denias


"Yang kamu lihat gimana?"


"Ck iya iya, biasa dari dulu gak berubah"


"Ini udah lewat sepuluh menit belum datang juga orangnya" gerutu tuan Denias


"Sabar om, rezeki biar tambah melebar" oceh Revan


"Sa ae........" ucapan tuan Denias terhenti


"Maaf saya terlambat" ucap seorang pria berperawakan tinggi,putih, rambut khas orang barat, mata biru, hidung mancung dan senyum tipis. Pria itu mengulurkan tangannya pada tuan Denias.


Revan dan tuan Denias merasa heran "Sejak kapan pak Santoso operasi plastik?" batin Revan heran. "Ini bukan Santoso, nggak salah kirim orang?" batin tuan Denias.


"Hallo apa kabar?"


"I...iya halo kabar baik, anda?" tanya tuan Denias menyambut uluran tangan pria bule itu.


"Saya sehat, maaf saya terlambat karna istri saya sedang ada halangan sedikit" ucapnya


"Saya Denias dan ini keponakan saya Revan"


"Saya Andrew pemilik Amd Group"


"What?" Revan dan Tuan Denias merasa kaget. ini kejutan namanya, janjinya dengan pak Santoso malah yang ketemu pemilik utama.


"Ehh hee maaf, refleks tadi tuan Andrew" ucap Revan kikuk


"Iya tidak apa-apa, saya seharusnya minta maaf lebih dulu karna meminta kalian bertemu sore ini mendadak"


"Justru selama ini kami harap cemas menunggu kabar dari tuan Andrew"


"Oh ya ya, tunggu sebentar ya saya sedang menunggu istri saya, apa kalian sudah memesan makanan atau minuman?"


"Su......"


"I am sorry being late dear" suara seorang wanita menghampiri mereka.


brak prang


Tuan Denias, Revan dan Mr. Andrew seketika berdiri.


"Amira?" ucap tuan Denias terkejut


Bersambung


Dari sini satu persatu permasalahan dalam keluarga mereka akan terbuka dan saling terkait..


jan lupa vote dan komen nya🤭🥰🥰