
Reno melajukan motornya setelah memastikan Keisya sudah aman. Sejak Keisya meninggalkan cafe sore tadi memang ia tidak langsung pulang, melainkan menghubungi ibunya dan mengabarkan jika pertunangan mereka batal.
Reno juga tidak menampik jika ia memang patut di salahkan karena sikapnya yang plin plan, Sejujurnya ia tidak ingin menyakiti Keisya sejauh ini apalagi pernikahan mereka akan di langsungkan sebulan lagi.
Tapi ia benar-benar tidak punya pilihan lain, ia sungguh merasa berdosa jika tetap melakukan pernikahan ini tanpa melibatkan perasaan kedua belah pihak. ia tentu tidak mau menyakiti Keisya lebih jauh lagi jika pernikahan ini tetap di lanjutkan.
Di tengah kegamangan hati, ia benar-benar mengambil keputusan secara sepihak, mendatangi Keisya di pondok pesantren dan memintakan izin pada pengurus pondok lalu mengajak Keisya berbicara di cafe yang tidak jauh dari taman kota.
Ia tahu dan jelas tahu rasa sakit yang di rasakan Keisya saat ia mengutarakan keputusannya untuk membatalkan pernikahan mereka. dan setelah apa yang terjadi di cafe sore itu, bukan hanya Keisya yang tersakiti tetapi juga ibunya dan tuan Wibowo yang akan merasa di permainkan oleh keputusan nya secara sepihak.
Reno tak kuasa menatap wajah cantik duplikat Kinara yang duduk di hadapannya itu. wajah yang sebelum nya ceria kini terlihat sendu karena ulahnya. Keisya tak salah, berkali-kali gadis di depannya itu bertanya padanya apa salah yang telah di lakukan nya hingga membuat Reno mengambil keputusan besar seperti itu.
Reno tak kuasa melihat air mata yang terjun bebas di pipi Keisya, membuat rasa bersalah nya semakin menjadi-jadi. ia memilih menunduk dan tak ingin menatap wajah ayu itu berlama-lama. meski tak ada perasaan cinta tapi Reno memang tak bisa melihat wanita menangis.
Saat Keisya hendak melangkah pergi barulah ia berucap jika Keisya memang tak salah, ia hanya tak ingin menyakiti hati wanita itu lebih dalam jika pernikahan mereka tetap terjadi.
Di luar dugaan Keisya melangkah maju menghampiri dan memeluk nya erat. menumpahkan segala kekecewaan karena ulahnya.
"Mas jahat"
"Maaf Kei"
Keisya mengurai pelukannya dan berlari keluar meninggalkan cafe, Reno menatapnya dengan perasaan yang sulit di artikan. terbersit keinginan untuk menahan nya pergi tapi egonya lagi-lagi membuatnya ragu, takut jika hal itu akan menggoyahkan keputusannya untuk berhenti di persimpangan.
Reno memandang lekat punggung Keisya yang berdiri di parkiran cafe, terlihat gadis itu tengah menghubungi seseorang dan setelahnya pergi entah kemana. Reno gusar seketika saat keluar dan Keisya sudah tak lagi terlihat di pelataran cafe.
Di tengah kegamangan ia langsung menghubungi sang ibu dan mengatakan kebenaran nya tanpa ia tutupi. sedang di seberang sana Bu Fitri hanya terdiam membisu sembari memegang dadanya dengan nafas kembang kempis.
Beberapa detik kemudian suara adiknya Arkan terdengar ketus di seberang sana.
"Kalau Lo masih mau ibu hidup, pulang sekarang, kemasi barang-barang Lo dan pergi tinggalkan kota ini sejauh mungkin tanpa jejak, gue adik Lo tapi jujur gue kecewa" ucap Arkan membuat Reno seketika langsung tersadar akan apa yang sudah di lakukan nya. bertindak tanpa berfikir dulu.
Di tengah kekalutan karena kehilangan Keisya Reno seolah dengan mudahnya mengatakan pada sang ibu jika pernikahan mereka batal karena keinginan nya sendiri. bahkan ia sudah lupa jika ibunya memiliki serangan jantung.
Detik berikutnya ponselnya kembali berdering, kali ini dari Dimas adik kembar Arkan.
"Mas, ibu di bawa kerumah sakit, pulanglah setidaknya setelah calon istri mu kembali ke rumahnya dengan selamat, aku tidak tahu apa masalah yang kalian hadapi, tapi sebagai anak seharusnya mas tahu kan bagaimana kondisi ibu, saya tunggu di rumah sakit, kalau nanti mas datang dan Arkan marah-marah labih baik mas diam saja" ucap Dimas di sebrang telpon dengan nada lembut namun tegas.
Reno menghela nafas berat berkali-kali, ibunya langsung jatuh sakit karena ulahnya membuatnya semakin merasa bersalah. dalam sehari ia sudah menyakiti dua wanita dan belum lagi keluarga besar Kinara terutama tuan Wibowo.
Reno keluar dari cafe setelah membayar pesanannya, mencari sosok wanita yang telah memenuhi hari-harinya beberapa bulan ini meskipun tak pernah melibatkan apapun dalam hubungan mereka terutama perasaan masing-masing. namun siapa sangka baru sejam yang lalu ia memutuskan pertunangan mereka justru Reno di buat kalut oleh perasaan nya sendiri.
Reno berjalan menyusuri jalanan dengan motornya hingga tiba ke taman kota yang tak jauh dari cafe, matanya awas menelisik setiap sudut taman kota yang masih banyak pengunjung yang sedang duduk-duduk bersantai menikmati udara sore hari.
"Kei kamu dimana?" batin Reno semakin gelisah. ia memilih duduk di taman berharap Keisya akan kembali ke taman dan bertemu dengannya. hingga dua jam menuggu dan sudah masuk waktu sholat magrib, Keisya tidak juga muncul membuat Reno semakin gelisah akhirnya Reno nekat menghubungi ponsel Keisya.
"Keisya akan menjadi pribadi yang lebih frontal di satu waktu jika ada yang membuatnya marah dan kecewa, Keisya bahkan bisa mengambil sikap anarkis jika masih ada yang menentang keinginan nya" ucap Kinara kala itu.
Reno akhirnya memilih mengalah dan mengikuti Keisya diam-diam di masjid yang tidak jauh dari taman kota. benar saja saat ia tiba di masjid, Hanan tengah memarkirkan motornya di pelataran masjid. Reno memilih parkir di luar pagar masjid meski ia tahu jika halaman parkir masjid masih luas. tetapi demi menjaga perasaan Keisya ia mengalah.
"Bu, saya nitip parkir motor disini ya, mau sholat dulu" pamitnya pada seorang wanita yang sedang menjaga warung di dekat masjid.
"Iya mas, silakan saja, tapi di kunci leher ya, saya juga mau ke masjid" jawab wanita tadi
"Baik Bu terimakasih tumpangan parkiran nya"
"Sama-sama mas"
Reno baru memasuki area masjid saat sudah Iqamah, dan sholat di teras masjid bersama jama'ah lainnya yang terlambat datang.
Selesai sholat Reno langsung bergegas ke rumah tempat ia memarkirkan motornya. tiba disana ia memilih duduk dan membeli minuman dingin yang ada di toko tersebut.
Reno mulai mengetikkan pesan untuk Keisya sebagai jalan maaf nya untuk terakhir kalinya, mungkin setelah ini ia tidak akan lagi bertemu dengan wanita itu bahkan mungkin semua yang berkaitan dengan kehidupannya di sini.
Beberapa saat lalu ia sempat membaca pesan yang Dimas kirimkan, penyesalan tentu saja akan datang di akhir tapi apa mau di kata, semua sudah terlanjur terjadi, ia mendapat pesan dari Dimas jika tuan Wibowo telah berbicara dengan ibunya via sambungan telepon tentang hubungan nya dengan Keisya.
"Jadi ibu sudah bicara dengan tuan Wibowo Dim?" Tanyanya di sebrang telpon.
"Maaf, aku masih kalut, aku sudah pernah bilang padamu beberapa waktu lalu kan Dim, aku enggak mau menjalani pernikahan dengan keadaan terpaksa, aku nggak mau jika istri ku nanti akan tersakiti oleh sikapku atau sebaliknya, dan kamu tahu kalau aku terpaksa karena merasa punya hutang budi pada keluarganya "
"Baiklah nanti aku akan pulang, setelah Keisya sudah kembali kerumahnya, dan besok aku akan bersiap mengemasi barang-barang ku, tolong kabari teman sekelas mu yang ikut orang tuanya pindah di Kalimantan, aku akan kesana tanpa jejak, lakukan seperti yang pernah ku ajarkan padamu dulu Dim".
"Baiklah terimakasih"
Reno bergeming percakapannya dengan Dimas akhirnya membuatnya mengambil langkah nekat yang akan dia sesali di masa depan.
Bagaimana ia harus menghadapi Kinara dan Azka belum lagi kak Revan yang sudah menaruh harapan besar padanya. nasi sudah menjadi bubur dan menyesal pun tidak ada gunanya.
Samar-samar ia mendengar percakapan dua orang yang berdiri di depan pagar masjid. suara yang sangat ia kenali. Keisya dan Hanan tengah terlibat percakapan dan seorang anak muda yang sedang menyimak percakapan mereka. tak lama pemuda tersebut membawa pergi motor Hanan.
Reno tersenyum simpul melihat sikap Hanan yang sangat menghormati Keisya. bahkan Hanan menjaga jarak dengan Keisya yang terlihat santai saja. namun senyum Reno perlahan luntur saat melihat Keisya terduduk dengan kedua tangan menutup wajahnya. Keisya menangis terlihat dari tubuhnya yang bergetar.
Reno menatap nanar pada Keisya dari toko tempat nya duduk, teringat sesuatu yang sejak tadi memang di tunggunya. Reno membuka aplikasi pesan hijau dan melihat pesan yang ia kirimkan pada Keisya tadi sudah berubah dua centang biru.
Reno kembali menatap Keisya dari kejauhan. tanpa di sadarinya, air matanya ikut luruh di balik helm yang ia gunakan sebagai penyamaran untuk menutupi wajahnya. Hanan terlihat tetap berdiri tegak di posisinya tidak terniat untuk menghampiri Keisya bahkan sekedar berbicara. Hanan benar-benar menjaga marwah wanita itu dengan sikap santunnya.
Saat sholawat berbunyi dan sudah memasuki waktu sholat isya, Reno berdiri dan menaiki motornya bersamaan dengan Keisya yang hendak beranjak memasuki masjid. Reno melajukan motornya melewati Keisya yang masih berdiri di depan pagar masjid, ia tahu Keisya sempat menoleh ke arahnya tapi ia tetap abai dengan air mata yang sejak tadi tidak berhenti mengalir di balik helm yang ia gunakan.
"Maafkan aku kei, ini yang terbaik untuk kita, dan ini kali terakhir kita bertemu, semoga kamu bahagia dengan laki-laki yang akan menjadi imam mu kelak, aku pergi" batin Reno.