KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
167 Huru Hara Calon Menantu



Reno menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari orang yang selama dua mingguan ini ingin sekali dia temui tapi selalu terhalang kesibukan masing-masing.


📩


"Maaf Ren aku nggak bisa dampingi kamu di hari bersejarah ini, nenekku di kampung sedang berpulang. Selamat ya atas pertunangan kalian, semoga selalu di limpahi berkah oleh Allah swt dunia akhirat." Sobatmu Hanan


Seperti itu isi pesan dari Hanan. Reno mendengkus, kenapa harus di saat seperti ini Hanan mengirimkan pesan, kenapa tidak dari kemarin saat ia pamit pulang kampung. Reno kesal setengah mati karena belum sempat meminta maaf pada Hanan karena sikapnya beberapa Minggu ini justru hari ini Hanan yang mengirimkan pesan selamat padanya.


Bahkan ia tidak tahu apa kah Hanan tahu ia bertunangan dengan siapa?


"Wei... ngelamun mulu sih calon manten, cepetan ini udah jam setengah sepuluh" teriak Kriting dari depan pintu kamarnya. Reno menoleh melihat penampilan kriting yang hari ini tampil beda dengan pakaian adat Jawa melekat di tubuhnya. blangkon yang ia pakai sangat cocok dan mampu menguarkan aroma khas kepemimpinannya. Reno tersenyum tulus melihat tingkah kriting yang bersikap biasa saja tapi sungguh luar biasa dengan penampilan ala keraton.


"Jas mu di pake to pak bah, Jian wong apene tunangan kok muka'e pucet eram, mbok Yo seng semangat no loh" Logat asli kriting akhirnya keluar dari sarangnya. Reno tertawa mendengar bahasa Jawa medok gaya Kriting. Sejenak ia bisa melupakan kegelisahan nya.


Kriting memakaikan jas pada Reno lalu tersenyum senang, "Lah nak ngeneki yo jian gagah e puoool, mantep pak Reno hahahaha" Kriting tertawa keras lalu menarik lengan Reno keluar kamar.


"Bang Randi saya pergi dulu ya, jaga kosan kalau ada apa-apa hubungi asisten saya ini ya" ucap Reno seraya menunjuk kriting yang berjongkok di sampingnya sedang memakai sepatu.


"Ok sip mas Reno, selamat ya akhirnya tunangan juga, jangan lupa nasi berkat nya nanti malam" ucap bang Randi


Reno menatap deretan kamar kos yang berjejer, satu hal yang ia tangkap di indera penglihatan nya.


"Tumbenan pada keluar kamar semua, ini kok barusan pada ngumpul di kos semua dari atas kebawah trus kok pada pake pakaian seragam gitu?" tanya Reno pada salah satu penghuni kos yang berdiri tidak jauh darinya.


"Karena hari ini bang Reno mau tunangan, ibu kos dari seminggu yang lalu udah ngasih amanah buat jadi pengiringnya mas Reno hari ini, makanya semua penghuni kos di larang masuk kerja termasuk saya" jawab pria berperawakan tinggi besar itu yang akrab di panggil Iyo.


"Eh lah dalah Gusti" Kriting latah karena mendengar ucapan Iyo'


"Kok ibu nggak ngomong sih, kan malu gue jadinya" batin Reno kesal tapi tetap tersenyum pada semua penghuni kos.


"Trus kalian pada naik apa? jalan kesana setengah jam loh" tanya Reno lagi


"Para lelaki bawa motor mas Ren, kalau para wanita naik mobil karena mereka bawa seserahan" sahut penghuni yang lain.


Reno auto tepuk jidat, ternyata ibunya seantusias ini untuk mempersiapkan hari pertunangannya. apa kabar dengan Keisya disana? setelah berdebat dengan Keisya beberapa hari lalu saat bertamu di rumah Tante Ratih, Reno cukup mengambil kesimpulan jika ia harus menerima Keisya dalam hidupnya dan belajar menjadi sosok yang bertanggung jawab di masa depan.


"Mas Reno udah siap?" tanya bang Somat yang datang berpenampilan sama dengan Kriting.


"Loh Bang Somat ikut nganter?"


"Lah iya, ini amanah kanjeng ibu mas, saya di suruh nyopirin mas Reno ke rumah calon tunangannya" jawab bang Somat.


"Huh" Reno berucap dalam hati, hal sekecil ini bagi ibunya tapi ini hal terbesar baginya jika suatu saat dia dan Keisya berhenti di persimpangan jalan dan memilih arah masing-masing apakah ini tidak akan melukai perasaan ibunya? juga bagaimana keluarga besar Keisya nantinya?


Reno berjalan mengikuti langkah bang Somat di depannya, kriting masih sibuk di belakang dengan para penghuni kos yang juga sudah siap dengan kendaraan masing-masing.


Terpikir di benak nya berapa banyak uang perjalanan yang diberikan ibunya untuk penghuni kos bahkan mereka rela tidak masuk kerja hanya demi mengantar nya ke kediaman tuan Wibowo.


Sungguh Reno tak habis pikir dengan keinginan ibunya. namun toh tidak ada salahnya sebagai anak ia hanya diam saja menuruti keinginan ibunya. orang tua satu-satunya yang dia miliki saat ini.


Reno memasuki mobil yang terparkir di depan gerbang kos, Kriting duduk di sampingnya dengan membawa sebuah buket bunga serta tas berisi kamera dan peralatan cekrek cekrek lainnya.


"Nih buket bunganya di pegang, kaum hawa sudah berangkat di depan sono tuh sama rombongan kanjeng ibu, para lelaki mengawal di belakang" ucap Kriting seraya merapikan letak blangkonnya.


"Hufh, seheboh ini padahal cuma lamaran aja" gerutu Reno lirih tapi masih terdengar oleh Kriting.


"Ck, katanya semalam udah Nerima dengan ikhlas ya jangan plin plan lah" sahut Kriting.


Sepanjang jalan Reno hanya diam melihat ke arah samping, kaca mobil sengaja ia turunkan agar ada udara masuk. hati dan pikirannya sejak semalam terus berperang. ia benar-benar berada di titik jenuh, apakah bisa seorang Reno memegang tanggung jawab sebesar ini? apa kah mungkin jika suatu saat ia dan Keisya bisa saling mencintai? penatnya pikiran membuatnya tertidur di mobil.


Kriting menoleh kemudian menghela nafas berat. ia tahu apa yang tengah di rasakan Reno, sejak kemarin ia bertemu di kampus dan berakhir menginap di rumah kos mik Reno, tidak sekalipun pria muda itu tersenyum bahagia, bahkan saat ada Azka yang datang semalam pun wajah gelisah Reno tak bisa di sembunyikan.


"Ternyata hidup orang-orang kaya itu nggak seindah angan gue ya, di luar ekspektasi, penindasan dan pengrusakan mental secara tidak nyata demi kesepakatan bisnis, hutang Budi apalah apalah... kasihan banget Lo Ren, terpaksa nerima perjodohan" batin Kriting memandang sendu wajah lelah Reno.


"Mas Kriting ada kelainan ya?" tanya Bang Somat yang tidak sengaja melihat kriting di balik kaca sedang memandang Reno yang tertidur.


"Hah maksudnya bang?"tanya kriting bingung


"Lah daritadi ngeliatin mas Reno Mulu sih"


"Astaga.... saya itu lihat karena kasihan semalam dia nggak tidur karena banyak pikiran dan tertekan bang, bukan karena saya bengkok" sungut Kriting membaut Somat akhirnya tertawa terbahak-bahak


"Hahahaha nggak usah marah mas kriting, saya cuma bercanda, soalnya dari tadi pada diem dieman saya malah ngantuk jadinya" timpal bang Somat


"Hillih" cibir Kriting kesal


"Kita udah sampai mas, bangunin mas Reno nya saya mau ke mobil depan dulu ada mau di ambil" ucap bang Somat lalu membuka pintu kemudi dan keluar


"Okelah" kriting membangunkan Reno yang masih nyenyak dalam tidurnya.


Di dalam rumah tepatnya di kediaman tuan Wibowo, terjadi obrolan serius antara tuan Wibowo dan seorang pria paruh baya yang sangat kharismatik dan di segani.


"Kenapa nggak di nikahkan saja pak Hadi?" tanya pria kharismatik itu.


"Rencana awalnya begitu pak kyai, tapi kondisi mental anak saya belum pulih seperti yang sudah saya ceritakan, dan kondisi kesehatan saya juga sudah menurun, saya hanya takut belum bisa menjalankan amanah mendiang istri saya"


Pria kharismatik itu manggut-manggut mendengar jawaban tuan Wibowo yang lugas.


"Sebenarnya kurang baik jika pertunangan di laksanakan terlalu lama, apalagi masih harus menunggu empat tahun baru dilaksanakan pernikahan"


"Jadi saya harus bagaimana pak kyai"


"Kalau saya boleh memberi saran, sebaiknya beberapa bulan setelah hari ini dua atau tiga bulan lagi"


"Hem, baiklah saya akan coba bicara dengan mereka dan keluarga besar setelah acara ini selesai, tapi, apa masih boleh anak saya mondok setelah menikah nanti?"


"Tentu boleh, jika memang itu keinginan nya, tidak ada yang melarang, tapi tentu saja jika nanti memang hendak lanjut mondok, ada baiknya kalau di sediakan rumah sendiri di luar lingkungan pondok, yang dekat-dekat saja jadi bisa ikut belajar bersama santri meski tidak harus tinggal di dalam asrama pondok"


"Oh iya iya, terimakasih pak kyai atas sarannya, sepertinya calon menantu saya sudah tiba bersama rombongannya"


"Oh iya..mari kita sambut bersama pak Hadi"


Tuan Wibowo dan Kyai Rohmat keluar dari ruang kerja lalu keluar ke arah pintu utama, dan betapa terkejutnya tuan Wibowo saat melihat banyaknya tamu di luar perkiraan nya.


"Ini lamaran atau mau bikin huru hara?" celoteh Revan yang berdirinya di samping ayahnya.


Lutfiah yang mendengar ucapan suaminya hanya tersenyum karena merasa lucu melihat rombongan yang di bawa Reno. padahal ini di luar rencana awal. beruntung istana mewah tuan Wibowo memiliki halaman seluas setengah lapangan sepak bola stadion bung Karno jadi tak perlu ribet.


"Kalau gini ceritanya terpaksa bikin tenda darurat mas hihihi" bisik Lutfiah.


...........>


to be continue