KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 98



"ngapain ngajak gue ketemuan disini? kenapa nggak Kerumah Lo aja?" cecar Aldo begitu ia tiba di cafe milik Azka.


"Duduk dulu, Lo udah makan?" tanya Kinara tanpa menjawab pertanyaan Aldo.


"Ck, ngomong aja langsung, nggak usah basa-basi, gue ada jam piket malam" desak Aldo


"Lo nggak berubah dari dulu ya, suami gue ada di rumah Lo nggak?" tanya kinara


"Loh situ istrinya kenapa malah nanya gue?" tanya balik Aldo


"Ya Lo tau nggak?" kata Kinara kesal


"Ya emang Lo apain suami Lo?" tanya balik Aldo.


"Dari kemarin acaranya Keisya udah pergi padahal acara belum selesai, ngga pulang semalaman sekalinya pulang subuh bau alkohol, makanya gue nanya Lo, bukannya kemarin kalian samaan?" tanya Kinara menjelaskan kronologi nya.


Aldo mendesah berulang kali, meminum jus yang sudah di pesan Kinara sebelum ia datang.


"Coba Lo cek cctv di rumah Lo, di ruang kerja Azka dari awal acara sampai selesai, jawaban ada di situ, kalau udah Lo lihat baru Lo telpon gue, gue udah di telpon komandan, gue duluan" jawab Aldo lalu beranjak pergi meninggalkan Kinara dengan sejuta kekesalan atas sikap jutek Aldo.


Kinara mengatur nafasnya berkali-kali, hatinya masih kesal dengan sikap suaminya yang pulang dalam kondisi entah mabuk atau tidak tetap saja Kinara tak menyukai bau alkohol.


Kinara menatap ponselnya dan melihat beberapa nomor panggilan yang masuk sejak tadi. ia teringat tadi setelah sholat isya ada yang menghubungi nya atas nama Reno.


Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam. itu artinya jam besuk sudah tutup. Kinara berinisiatif untuk ke rumah sakit esok hari saja memastikan apakah benar keluarga Reno atau bukan.


Kinara menemui karyawan yang sedang bebersih dan berpamitan pulang.


Sementara dirumah Keisya nampak gelisah karena pertengkaran Kinara dan Azka. belum lagi si kembar dan pengasuh nya lebih memilih menginap di rumah mama Hanna.


Keisya benar-benar tak mengerti apa yang terlah terjadi kemarin di hari pertunangan nya dengan Hanan.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, baik Kinara maupun Azka tak ada satupun diantara mereka yang pulang kerumah.


Keisya memilih untuk turun dan memberikan amanah pada satpam yang berjaga di pos agar langsung membuka pintu jika Kinar atau Azka pulang kerumah.


Ketika Keisya baru saja masuk ke dalam kamar, terdengar suara pintu di hantam keras membuat Keisya langsung berjingkat dan memegang dadanya seraya mengatur nafasnya.


Baru hendak turun suara Azka dan Kinara terdengar lagi.


"Aku minta kamu jujur mas, kamu minum atau nggak?" tanya kinara dengan suara tertahan.


"Aku nggak minum, sumpah" balas Azka keras


blam (suara pintu di tutup keras)


Azka masuk ke dalam ruang kerjanya dan memilih tidur di sana untuk menenangkan diri karena sikap Kinara yang tak mau mendengarkan penjelasannya sama sekali.


Mungkin dengan menenangkan diri bisa membuat hubungannya dengan Kinara kembali membaik, sembari memikirkan kesalahan mereka berdua.


Keisya menghela nafas lega setelah tak lagi terdengar suara pertengkaran kakak dan suaminya.


Keisya turun ke dapur dan hendak mengambil air minum untuk persediaan di kamarnya. Keisya berjalan pelan agar tak mengganggu ketenangan kedua orang yang sedang emosi.


Keisya membuka wadah yang biasa di gunakan untuk menampung air masak di dapur namun indera pendengarannya menangkap suara yang masih terdengar jelas dari arah taman belakang yang tersambung dengan dapur kotor dan dapur bersih.


Keisya melangkah perlahan dengan mengendap dan bersembunyi di balik tembok pembatas.


"Jadi karyawan yang numpahin kue itu Reno maksud kamu Fikar?" suara Kinara terdengar.


"Jadi itu Reno beneran? aku kira orang iseng doang yang nelpon tadi, Reno masuk rumah sakit karena peradangan lambung?"


"Astaghfirullah... seandainya aku tahu, nggak mungkin aku marahin karyawannya kemarin"


"Jadi kalian nggak ada yang minum semalam?"


"Reno sudah menikah? istrinya ada?"


"Oke aku pastikan Keisya nggak tahu soal ini, sudah cukup Keisya menderita bertahun-tahun, sudah waktunya dia mendapatkan kebahagiaannya dengan Hanan"


"Makasih infonya Fikar, besok temenin gue ketemu Reno di rumah sakit"


"Oke bye besok gue kabarin jam berapa kita kesana, ya udah assalamualaikum"


Deg


"Mas Reno? mas Reno kemarin datang?" batin Keisya dengan langkah melambat. ia masih tetap bersembunyi di balik tembok pembatas dan saat mendengar langkah kaki Kinara yang mendekat ia langsung masuk ke kamar mandi yang ada di samping tempat nya berdiri.


Kinara berjalan melewati dapur kotor tanpa menoleh apalagi curiga. Keisya segera menyiramkan air di kamar mandi agar bisa di dengar Kinara jika ada orang di luar. kalau pintu di tutup ia tak akan bisa masuk ke dalam rumah.


Kinara tetap membiarkan pintu terbuka karena ia pikir jika bibik yang sedang berada di kamar mandi.


Kinara tetap berjalan masuk ke dalam kamar dan menatap sebentar ke arah pintu ruang kerja Azka dengan rasa bersalah.


***


Dengkuran halus itu mengisi satu ruangan bercat putih dan tirai biru muda. Reno masih tertidur lelap setelah mendapatkan penanganan khusus dari dokter.


Mbak indah masih setia menemani Reno di ruang rawat. bang Rendi dan bang Sapto harus pulang dan berjaga kos. sedangkan mbak indah lebih memilih di temani oleh salah satu ibu-ibu penghuni kos yang biasa ia minta untuk membantunya memasak tiga kali seminggu seperti yang di lakukan Bu Fitri selama ini.


"Mbak, tadi yang dua orang laki-laki itu temannya mas Reno ya?" tanya wanita bertubuh gempal itu seraya mengupas jeruk.


"Iya Bu, saya juga nggak kenal, kalau kata bang Rendi itu yang nganter pulang waktu subuh tadi" jawab mbak Indah


"Owh... selama enam tahun saya ngekos di sini barusan saya lihat mas Reno itu mabuk Lo mbak" kata wanita bertubuh gempal yan biasa di panggil ibunya Rere


"Kata teman-teman nya yang tadi emang Reno barusan mabuk, dia punya alergi juga dan nggak makan sembarangan kecuali masakan ibunya"terang mbak Indah


"Pasti gara-gara cewek Yo mbak" tukas Bu Rere


"Kayaknya iya, aku juga salah Bu, seandainya tahu kalau pelanggan itu keluarga nya mantan calon tunangan nya dulu, mungkin aku masih bisa menghalanginya untuk datang bantu bawain pesanan kue Bu" kenang mbak indah sedih


"Nggak usah merasa bersalah begitu mbak, sudah takdir, semua ada pelajaran berharga yang bisa di petik" nasihat Bu Rere.


"Sampai sekarang aku nggak berani ngomong apalagi ngasih kabar ke ibunya di kampung Bu hikss hikss " kata mbak indah sesenggukan.


Bu Rere yang jiwa keibuannya tinggi langsung memeluk erat mbak indah dan mengusap bahu mbak indah yang bergetar hebat.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat 50 menit, sudah hampir sepertiga malam. Keisya masih larut dalam sujud panjangnya.


Sejak ia masuk ke dalam kamar setelah mendengar percakapan Kinara di telpon dengan sahabat nya, Keisya langsung mengurung diri dan membuka aplikasi sosial media nya mencari nama Reno.


Berulang kali ia mencari tetao saja tidak menemukan celah, rupanya Reno tidak memakai akun sosial media nya selama ini.


Keisya akhirnya lebih milih sholat agar hatinya menjadi tenang. dan bisa melupakan kegetiran yang sempat ia dengar tadi.