KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 34



"Mas boy" panggil ku saat melihat salah satu staf tengah membawa stok kain ke dalam gudang.


"Iya nona" jawab nya tanpa menoleh dan fokus pada lantai yang di pijak.


"Kalau selesai ke ruangan ku ya" pinta ku


"Wokeeeh siap" ucapnya berlalu ke arah gudang.


Aku masuk kembali ke dalam ruang kerja ku yang sudah dua bulan terakhir menjadi tempat kedua setelah rumah. Secangkir teh panas sudah menemani ku pagi menjelang siang ini.


Setelah job membuat baju pengantin dan baju seragam keluarga untuk salah satu anak kyai beberapa bulan lalu, mbak Kinar sudah mulai mempercayakan setiap desain baju padaku, jika aku sedang kesulitan dia lah yang pertama membantuku.


Meski di awal aku agak jenuh dengan suasana butik tapi perlahan rasa itu hilang seiring waktu aku mulai belajar membuka diri dan menjadi teman bagi para karyawan mbak Kinar di butik, terutama setelah aku merekrut seorang pengemis menjadi office boy membantu mas Sigit di sini serta dua satpam lainnya.


Mas Hanan pernah bilang jika kita berani berbuat baik serta tulus pada siapapun, Insha Allah kita akan di kelilingi orang-orang yang juga tulus pada kita.


Baru beberapa menit aku berkutat dengan desain baju yang ku buat, sebuah pesan masuk di ponsel ku. pesan dari mbak Vivi yang akan memesan baju untuk undangan pernikahan salah satu teman seangkatannya di kampus.


Mbak Vivi juga salah satu sosok yang berperan penting dalam proses ku berhijrah, belajar mengenali diri sendiri dan belajar menerima arti sebuah nafas kehidupan.


Mbak Vivi tidak pernah lagi menyinggung soal mas Reno semenjak terakhir kali kami berbincang serius beberapa bulan lalu. mbak Vivi benar-benar menghargai dan menjaga perasaan ku. meski aku merasa ada yang tengah di sembunyikan olehnya dari ku tentang mas Reno. semoga hanya sekedar perasaan ku saja.


Tok tok tok


Mas boy muncul di depan pintu yang sedikit terbuka, kepalanya nongol tetapi matanya menerawang sekeliling ruangan.


"Boleh masuk nona?" tanya nya cengengesan


"Masuk aja kali, daritadi udah di tungguin" ucapku.


Mas boy masuk setelah menutup pintu dan langsung duduk di sofa seperti biasa tanpa sungkan langsung mengambil cemilan di atas meja.


"Ada berita apa mas boy?" tanya ku tanpa ba-bi-bu


"Gimana ngomong nya ya..." gumamnya yang masih bisa ku dengar dari meja ku


"Ngomong aja kali" ucapku


"Kemarin aku nggak sengaja ketemu Bu Fitri di toko kue langganan kita, malah orangnya yang ngelayanin aku buat milih rotinya"cerita mas boy


"Benarkah?" tanya ku merasa senang


"Hem, nggak bohong, trus tadi pagi adek ku beli roti disana katanya di layanin sama pemilik nya, Bu Fitri"


"Hah? pe... pemilik nya?" tanya ku memastikan pendengaran.


"Kok gitu sih ekspresi nya?" ejek mas boy melihat ku terkejut.


"Mas boy nggak bohong kan? toko roti itu sudah di jual mas boy" ucapku


"Siapa bilang? kalau emang di jual harusnya plang namanya berubah, ini tetap sama dari dulu" sanggah mas boy. dalam hati aku membenarkan ucapannya.


Aku terdiam beberapa saat karut dalam beberapa kemungkinan yang memang tidak aku ketahui. mas boy mas tetap setia memainkan ponselnya sembari makan cemilan.


"Ada" ucapnya santai tapi sedetik kemudian posisi duduknya berubah dan wajahnya pun kembali serius.


"Apa coba, jangan bikin penasaran" ucapku. ku lihat mas boy menarik nafa s berulangkali


"Aku di tegur sama nyonya muda" ucapnya berubah sendu


"Maksudnya?"tanyaku tak mengerti.


"Nyonya muda menegurku untuk tidak ikut campur urusan kalian lagi, dan berhenti mencari informasi apapun tentang mas Reno karena demi menjaga perasaan Nona muda aja katanya" ucapnya tanpa jeda.


"Mbak Kinar ngomong gitu?" tanya ku tak percaya


"Beneran, baru kemarin sore saya di tegur, waktu nona pulang duluan, nyonya manggil saya ke ruangan nya, kirain soal kain mau di bahas ternyata saya yang di marahin" ucap mas boy sendu.


Harus berucap apalagi? aku hanya bisa diam dan merasa kasihan sekaligus bersalah sudah melibatkan mas boy yang tidak tahu apapun tentang hubungan kami sebelumnya.


"Maaf mas boy, kalau gitu lebih baik mas boy turutin maunya mbak Kinar aja, saya nggak papa," ucapku merasa bersalah.


"Beneran?" mas boy menatapku dengan pandangan terbaca.


"Iya, ikuti saja apa maunya mbak Kinar, emang benar mas boy seharusnya nggak ikut campur urusan pribadi ku, mulai besok nggak usah nyari tahu lagi soal keluarga Bu Fitri. biasa aja lah kalau misalnya mas boy ketemu beliau, sebagai pelanggan dan pemilik toko" ucapku panjang lebar.


Ku dengar mas boy menghela nafas berat berkali-kali, tak lama kemudian berucap.


"Maafkan saya nona, kalau saya ceroboh, tapi memang benar apa yang di sampaikan sama nyonya muda kemarin, saya hanya orang luar yang tidak seharusnya ikut campur urusan pribadi nona, saya benar-benar minta maaf" ucapnya memohon maaf.


"Nggak papa, terimakasih, saya minta mas boy jangan mengundurkan diri setelah masalah ini ya, kita tetap temenan kan?" ucapku


"Iya atuh..kita tetap temen, tetep jadi sahabat ibarat kepompong hehehe" ucapnya tertawa.


"Terimakasih hahaha".


Seperti itulah kami, waktu awal aku masih malu-malu saat berada di butik, berkat sikap mas boy yang humble dan suka melawak akhirnya aku bisa beradaptasi dengan para karyawan disini.


Tak lama setelah mas boy keluar dari ruangan ku, aku kembali termenung memikirkan tentang mbak Kinar. darimana dia tahu kalau aku masih mencari-cari kabar dari mas Reno?.


Aku tidak habis pikir bagaimana dulu ibu mendidik mbak Kinar hingga punya telepati seperti itu ibarat cenayang.


Karena lelah akhirnya aku tertidur dengan kepala bersandar di meja. pukul empat sore mbak Kinar masuk ke dalam ruangan ku dengan wajah tegang. aku memang sudah terbangun sejak setengah jam lalu hanya saja aku lebih memilih tidur kembali di atas sofa.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya mbak Kinar seraya mengecek kondisi tubuh ku dengan telapak tangan nya berkali-kali.


"Aku nggak papa mbak, capek makanya tidur, kebetulan lagi haid jadi malas mau keluar" ucapku malas.


"Tapi jangan gitu, tadi kamu nggak makan siang, kata mbak Uya kamu tidur di kursi iya kan?"


"Hem, namanya juga orang ngantuk, banyak nggak sadarnya lebih berat matanya buat merem"


"Hiss kamu tuh, dah yuk pulang, ada mbak Vivi datang kerumah nanti malam, tadi mau kesini ada rapat dadakan di kampus nya katanya sampai sore"


"Iya ntar cuci muka dulu" ucapku berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi.