
Hari ini Azka dan Kinara pergi ke kampus setelah kemarin menyelesaikan administrasi perkuliahan.
"Aku ada janji sama Reno mau ikut nganter dia tanding nanti di GOR, kamu mau ikut atau gimana?" tanya Azka seraya membenarkan letak bajunya.
"Aku juga ada janji sama Karin mau bantu dia ngurus KRS online"
"Temen kamu yang yatim piatu itu ya, yang dapet beasiswa dari kampus?"tanya Azka meyakinkan
"Iya, kasihan dia dari desa terpencil, semangat sekali mau kuliah akhirnya dapet beasiswa, tapi sampai disini dia bingung mau ngurus semuanya, untung kemarin aku nemuin dia di depan gerbang kampus, penampilan nya lusuh makanya aku ajak dia kemarin ke salon"
"Pasti sulit buat dia beradaptasi di kota, kamu harus bisa jadi temen buat dia sayang, dia ambil jurusan yang sama kan?"
"Iya bisnis juga, kemarin aku ajak dia tinggal sementara dirumah Tante Amira karena dekat dengan kampus"
"Gimana tanggapan Tante?"
"Tante seneng aja, cuma sampai dia dapet kontrakan baru dia akan pindah, hari ini rencananya aku minta mang Asep buat nyariin dia kontrakan"
"Ya baguslah, tapi pesen mas hati-hati dengan orang baru kita nggak tahu apa yang ada di hatinya, masalah yang kemarin jangan sampai terulang lagi ya" nasihat Azka
"Hem sayang, emmmuaach, kamu ganteng hari ini" ucap Kinara dengan wajah di buat lucu.
"Ngerayu, pasti ada maunya"
"Enggak, emang bener kok mas ganteng"
"Berarti kemarin nggak ganteng?"
" Ya ganteng lah, jaga mata jaga hati ya"
"Selalu buat istriku yang paling cantik, nanti sore jadi kan kerumah Keisya?"
"Jadi, aku tunggu ya, jangan telat"
"Siap Nyonya"
Nyonya Amira tengah mengoleskan selai pada roti untuk sarapan suami dan Steffy sang anak bungsu. karena Darren sedang berada di Belanda karena mengurus nilai-nilai semester nya dan mengurus kepindahan kuliahnya di Indonesia.
"Loh mam, temennya Kinara yang nginap di rumah belakang belum bangun ya?" tanya Steffy
"Oh Karin, dia udah pergi dari subuh katanya mau loper koran, mama juga baru dapet kabar dari orang suruhan katanya anak itu sebenarnya kaya di desanya sana, hanya saja semua warisan orang tuanya di rebut oleh pamannya dan dia di titipin di panti asuhan. kematian orang tuanya juga masih jadi misteri sampai sekarang" ujar nyonya Amira
"Wow mama hebat ya, bisa dapet informasi valid dalam waktu nggak sampe 24 jam. belajar dari mana sih?" ujar Steffy
"Papa" sahut nyonya Amira
"Papa lagi di salahin mam" ucap tuan Edward sedikit tak suka
"Yang bisa di jadikan tersangka memang papa kan,?" timpal nyonya Amira
"Terserah lah"
Saat tengah berbincang seorang satpam masuk ke dalam rumah dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa Lim?" tanya nyonya Amira heran. pria ber nametag Salim itu mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Nyonya, Tuan maaf saya dapet telpon dari Sobri katanya mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit, dan mereka tengah terjebak macet karena ada kecelakaan akibat pohon tumbang di perbatasan, kondisi pak Anthony sudah parah"
"Kenapa nggak nelpon?" tanya tuan Edward kesal
"Mereka sudah menghubungi tuan dan nyonya tapi tidak bisa tersambung, mereka nelpon saya tuan"
"Astaghfirullah, ponsel mama lowbat, papa juga?" tanya nyonya Amira kesal
"Hehe maaf" ujar tuan Edward
"Papa ini kebiasaan sudah tahu dalam kondisi genting kayak gini......" nyonya Amira mulai kesal dan keluar Omelan mautnya namun steffy menyela cepat.
"Pak Salim hubungi Robi suruh datang ke lokasi bawa bantuan, saya akan menyusul dan kirim lokasinya" perintah Steffy dengan cepat membuat nyonya Amira diam seribu bahasa. sekalinya di saat kondisi genting seperti ini ada saja tingkah Steffy yang membuat mereka malu dengan sikap mereka sebagai orang tua yang kadang masih kenakan.
Pak Salim segera berlalu, dan Steffy berlari ke kamar dengan mulut masih mengunyah roti. Steffy menyambar tas dan ponsel serta dompet di atas meja riasnya dan segera berlari menuju ke garasi mobil.
"Anak papa tuh" ucap nyonya Amira kesal
"Turunan mama juga kan!" sahut tuan Edward tak mau kalah.
"Ya udah ambil ponselnya di charge" nyonya Amira berlalu dengan rasa kesal.
Belum reda Kekesalan Nyonya Amira, kini harus melihat Karin datang dengan tubuh banyak luka dan darah yang mengucur deras dari pelipisnya, nyonya Amira terkejut bukan kepalang melihat kondisi tamunya babak belur seperti itu.
"Astaghfirullah Karin kamu kenapa?"
"Tante...maa... maaf.....
Bruk
"Karin" teriak nyonya Amira tak lama pak Salim datang tergopoh-gopoh
"Nyonya, anak ini kecelakaan di persimpangan sana, di tabrak motor tapi pelakunya lari warga sedang mengejarnya" ucap pak Salim
"Kamu dari mana Salim?"nyonya Amira sedikit berteriak
"Saya tadi di toilet nyonya, saya dapet telpon dari pak RT."
"Kenapa nggak di bawa ke rumah sakit??" teriak nyonya Amira kesal membuat Salim ketakutan
"Anaknya ngotot nggak mau nyonya," ucap Salim sedikit tak terima karena di salahkan
"Siapin mobil cepat kita kerumah sakit" titah nya.
"Mama apaan sih teriak-teriak kenceng banget" tanya tuan Edward dari arah ruang tamu
"Salim cepetan, papa cepat angkat Karin mama nggak kuat" teriak ya lagi
"Ap.... astaghfirullah Karin kenapa ma?"
"Udah jangan banyak nanya, cepetan gendong mama nggak kuat" ucapnya kesal.
Mereka akhirnya bertolak kerumah sakit setelah sedikit berdebat. Kinara yang tengah dalam perjalanan juga terkejut mendengar teman barunya kecelakaan, Azka dan Kinara akhirnya berbalik arah ke rumah sakit.
Nyonya Amira mondar mandir di koridor depan ruang perawatan. suaminya sudah pergi ke perbatasan sesaat setelah mengantarkan nya ke rumah sakit, Kinara dan Azka juga sudah kembali ke kampus dan berjanji akan berkunjung malam setelah Maghrib.
Asistennya mbok Nah yang setia sudah datang sejak satu jam lalu di antar oleh sopir pribadinya membawa keperluan untuk Karin dan keperluannya sendiri.
"Nyonya makan dulu ya, dari pagi belum makan kan?" tawar mbok Nah yang kasihan melihat majikannya kelelahan meski tidak ngapa-ngapain.
"Ntar deh mbok, saya tunggu bosnya datang" ucap nyonya Amira, kata bos memang ia sematkan pada nama suami jika di depan para artnya.
"Tapi ibu kelihatan pucat saya nggak tega" ucapan mbok Nah memang benar, pagi tadi ia hany sempat makan dua potong roti saja hingga kini menjelang sore tidak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya.
"Makan ya nyonya, saya ambilin" rayu mbok Nah lagi
"Hem ya udah deh, aku makan." nyonya Amira akhirnya mengalah saja meskipun ia sendiri tak bernafsu untuk makan.
Tak lama ponselnya berdering ia hanya melihat sekilas siapa yang meneleponnya se sore ini. nama Kak Den tertera di layar ponselnya, serta Merta ia menjawab panggilan.
"Di rumah sakit mas, anggota baruku masuk rumah sakit" ucap nyonya Amira sembari mengunyah
"Kenapa nggak ngomong kalau udah sampai di rumah sakit dari tadi?" kesal juga nyonya Amira mendengar dari sang kakak jika Anthony tengah masuk ruang ICU karena kondisi kritis dan butuh donor darah secepatnya.
"Kok aku yang harus ngomong sama Revan sih, trus yang jagain anggota ku di sini siapa dong?" ucapnya semakin kesal.
"Ya udah iya aku kesana sekarang" panggilan terputus nyonya Amira mencebik kesal. tatapannya beralih pada Karin yang masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri. nyonya Amira menghirup nafas berat.
"Mbok Nah, saya harus ke rumah sakit keluarga, ada anggota yang masuk ruang ICU, saya minta tolong mbok nah jaga Karin disini ya, nanti saya minta Steffy menemani mbok disini" ucapnya panjang lebar
"Siap Nyonya, nyonya yang sabar ya"
"Iya makasih mbok, saya pergi"