KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 1



"Kei, perjodohan kita batal, aku tidak sanggup melakukan sesuatu yang hatiku belum bisa menerima, aku terpaksa menerima perjodohan ini karena balas budi atas kebaikan orang tuamu pada ku dan ibuku, aku benar-benar tidak bisa menerimanya, aku takut justru akan menyakiti mu nanti nya jika pernikahan kita nanti tetap terjadi"ucap pria itu di depan ku.


Aku tercenung sesaat, duniaku seolah runtuh dalam hitungan detik. merasa tak percaya pada ucapan pria yang sebulan lagi akan ku sebut sebagai suami.


"Kei, maaf" ucap pria yang duduk di tepat di hadapan ku dengan kepala menunduk.


Beberapa detik lalu sebuah kalimat menyakitkan terucap dari bibirnya dengan lancar. kalimat yang mampu menjungkir balikkan kehidupanku ke depannya.


Aku masih setia memandangnya dengan tatapan tak percaya, laki-laki pertama yang bisa mengubah pandangan ku tentang seorang pria. pria yang ku anggap mampu menjadi imamku meskipun tak ada kata cinta terucap diantara kami.


Anganku yang telah jauh melayang di masa depan kini telah hancur lebur dalam sedetik. titik balik kehidupan ku telah berada di ambang kehancuran karena ulahnya.


Entah apa jadinya hidupku setelah hari ini. aku masih tak mampu mencerna ucapannya beberapa detik lalu. aku masih berharap ini semua hanya ilusi hanya mimpi. tapi tidak. ku cubit perlahan lenganku yang tertutup lengan panjang baju yang ku pakai, sakit. aku tidak bermimpi dan ini kenyataan pahit.


"Mas, tatap aku" ucapku memohon padanya tapi pria itu hanya memandangku sekilas lalu membuang pandangannya keluar.


"Apa salah ku mas?" tanya ku sekali lagi. tapi dia tetap setia dalam diamnya membuatku akhirnya menyerah dan geram sendiri dengan sikapnya. apa susahnya bicara?.


"Kalau mas nggak mau bicara, aku pergi" ucapku berdiri meraih tas selempang lalu mendorong kursi yang ku duduki.


"Kei," panggilnya membuatku berhenti. berharap ia meralat lagi ucapannya beberapa menit lalu.


"Kamu nggak salah kei, tapi aku tetap tidak bisa menerima perjodohan ini, aku tidak mau membuatmu semakin terluka jika kita tetap menikah" ucapnya membuatku semakin menguatkan niat meninggalkan nya saat ini.


Aku menoleh menatapnya mencoba mencari celah kebohongan dari sorot matanya, tapi nihil. aku menghela nafas berat dengan air mata menggenang di sudut mataku. aku melangkah tanpa sadar dan memeluk nya erat. ku tumpahkan segala rasa dan asa yang bercampur dengan jutaan kekecewaan dalam hatiku. aku tak berharap ia membalas pelukan ku.


"Kamu jahat mas"


"Maafkan aku Kei"


Ku urai pelukanku lalu menatapnya sebentar lalu melangkah pergi meninggalkannya dengan jutaan kekecewaan yang ku bawa.


Sampai di parkiran taman aku tak sadar telah menelpon seorang tetangga depan rumah Bulik Sri yang aku sendiri belum terlalu mengenalnya.


"Aku di parkiran taman kota mas, jemput aku sekarang" ucapku tanpa basa-basi.


"Sekarang? mbak nggak salah? saya di perjalanan mau ke kota mbak sudah jauh" ku dengar ia bicara sedikit menolak.


"Aku nggak mau tahu, pokoknya jemput sekarang, atau aku lapor kak Kinara saya minta pecat kamu sekarang juga dari kantor?" ancamku karena geram. aku benar-benar tidak tahu akan berbicara dengan siapa kali ini. otak ku benar-benar buntu.


"Jangan mbak, saya bayar kuliah pake apa nanti, iya saya kesana, tunggu saya di masjid dekat taman satu jam lagi saya sampai mbak"ucapnya dengan nada ketakutan dari ujung telpon.


Entah kenapa aku menurut saja apa yang di ucapkan mas Hanan di sebrang telpon tadi memintaku untuk menuggu di masjid dekat taman kota.


Sampai di masjid aku langsung duduk di emperan dengan kaki di tekuk dan kepala ku sembunyikan di antara kedua lutut ku. aku menangis sejadi-jadinya. tidak ku sangka bahagia yang akan ku rangkai sedemikian rupa ternyata hancur dalam sekejap.


"Mbak" sapa seseorang yang entah sejak kapan duduk tak jauh dari ku. karena saat aku datang tidak seorangpun terlihat ada di lokasi masjid.


"Mbak" panggil nya kembali.


Aku mendongak ku lihat wanita paruh baya dengan wajah bersih tengah tersenyum padaku. aku membalas senyumannya dengan mata sembab karena menangis sejak tadi.


"Mbak darimana, apa butuh tumpangan?" tanya nya padaku.


Kenapa bukan bertanya alasan aku menangis justru menanyakan aku butuh tumpangan atau tidak. aku sedang tidak tersesat. aku menggeleng menjawab pertanyaan darinya.


"Kalau gitu kenapa mbak disini?"


"Saya nunggu jemputan, masih sejam lagi katanya baru sampai Bu"


"Ooh, ya sudah saya tinggal dulu ya, kalau misal butuh apa-apa panggil saya di belakang sana ya, itu ada bangunan di belakang masjid saya di situ mbak"


"Oh i..iya Bu terimakasih banyak"


Wanita itu melangkah pergi melewati separuh bagian masjid ke arah belakang. aku mengikuti arahnya berjalan yang sangat lambat dan pelan melalui kaca jendela masjid dan wanita itu benar-benar menghilang di belakang bangunan masjid.


Aku mengambil ponsel dari dalam tas selempang. ku lihat jam sudah pukul 16.00 itu artinya waktu sholat ashar sudah selesai sejak tadi dan hampir habis. aku bergegas ke arah kamar mandi untuk mengambil wudlu.


Ku laksanakan sholat ashar empat raka'at dan Isak tangisku kembali pecah saat aku tengah menengadah dan berdoa memohon kekuatan pada sang kuasa pemilik hati.


saat hatiku benar-benar meras tenang, aku kembali duduk di teras masjid sembari menunggu mas Hanan datang menjemput ku. kulihat ponsel berkali-kali hingga seorang pria tua berpakaian serba putih datang ke masjid dan membunyikan sholawat melalui toa masjid.


Wanita paruh baya yang tadi sore sempat menyapaku juga datang dengan peralatan sholat lengkap sudah terpakai di tubuhnya. beliau tersenyum padaku sebelum masuk ke dalam masjid dan membersihkan lantai masjid.


Saat aku berdiri hendak menyusul wanita paruh baya tadi, ponselku berdering. nama Reno terpampang di layar ponsel ku. aku mendesah lalu menjawab panggilannya.


"Waalaikumsalam kenapa?"


"Aku di masjid dekat taman, ada apa?"


"Bukan urusan kamu lagi kan mas?"


"Nggak usah bercanda, aku bisa pulang sendiri"


"Kalau gitu kenapa daritadi diam saja saat aku pergi? mas nggak menahan ku sama sekali apalagi berniat mengantarku pulang kan?"


"Udah basi, aku nunggu mas Hanan jemput, jadi mas nggak usah repot-repot nganter aku pulang, ini sudah mau Maghrib, aku disini sejak selesai ashar mas, udah lewat dua jam lebih, kenapa baru sekarang nanyain aku dimana hah?"


"Kalau mas nekat kesini, aku yang bunuh diri sekarang juga"


Tut


Ku putuskan secara paksa sambungan telepon dari mas Reno. sungguh aku benar-benar tidak bisa menerima sikapnya yang plin plan, dimana dia saat aku pergi dua setengah jam yang lalu bahkan menahanku untuk tetap berada di sana ia juga tidak melakukannya. dan sekarang ia baru mencariku karena takut dengan ayah? sungguh kekanakan.


Memang benar tulisan dari sebuah buku yang pernah ku baca, "jangan memaksa kan hati seseorang untuk menyelami hidupmu seutuhnya, karena itu tidaklah mungkin"


Aku baru percaya akan ungkapan ini, mungkin selama ini aku yang terlalu memaksakan diri untuk menerima seseorang yang belum tentu menginginkanku juga.


Aku tersentak dari lamunan saat pundakku di tepuk beberapa kali.


"Mbak, sudah wudlu?" tanya wanita paruh baya itu ramah. aku menggeleng samar.


"Kalau belum cepetan mbak, daripada nanti sesak, nggak kebagian shaf" ucapnya lagi.


"Oh iya Bu, saya wudlu sekarang" aku bergegas mengikuti ucapannya dan langsung berwudlu lalu kembali lagi ke masjid dan mengambil satu set alat sholat dari dalam lemari di sudut masjid dan memakainya. benar saja, beberapa menit kemudian sudah banyak orang datang ke masjid dan memenuhi shaf. beruntung aku duduk di samping ibu tadi berada di shaf paling depan.


Ba'da Sholat Maghrib, tidak ku lihat jama'ah yang keluar dari dalam masjid semua masih tetap duduk di posisi mereka masing-masing sampai akhirnya suara seorang pria tua yang ku taksir adalah salah seorang pengurus masjid tengah mempersilakan seseorang untuk memberikan sedikit tausiyah pada jama'ah.


Aku mendengarnya dengan seksama dan penuh rasa curiga. pasalnya suara ini mirip suara Hanan tetangga depan rumah Bulik Sri yang baru saja beberapa waktu terakhir ini banyak membantuku mempersiapkan pernikahan ku dengan Reno atas permintaan kak Kinar sebagai seorang bos.


Bisik-bisik ku dengar dari jama'ah yang duduk di samping ku sedang berbicara dengan teman di sebelahnya.


"Itu keponakan kyai Rohmat, yang lulusan dari Gontor" bisik salah satu jama'ah


"Eh denger-denger orangnya sekarang kerja di perusahaan besar di kota, langsung dapat jabatan tinggi" tambah salah satu jama'ah yang duduk di samping ku.


"Beruntung yang jadi istri nya nanti ya, kikikikik."


"Lah katanya mau di nikahkan sama salah satu santrinya kyai Rohmat tapi nggak jadi karena sudah ada perempuan lain yang di jodohkan sama ummi nya."


"Wah, beneran mbak?"


Aku menoleh saat ibu yang duduk di samping ku menoel pahaku dua kali. beliau memberiku isyarat untuk tidak mendengarkan ocehan jama'ah lain.


"Tidak ada tempat berteduh dan berkeluh kesah paling indah selain pada yang maha kuasa, hanya Allah swt saja, Jangan menaruh harapan terlalu besar pada manusia karena akan berujung kecewa tapi taruhlah harapan besar itu kepada sang pencipta yang tidak akan pernah memberimu kecewa" ucapnya saat mengakhiri tausiyah.


Bak mendapatkan air segar di saat kehausan, aku seolah mendapat secercah harapan setelah kejadian beberapa jam lalu telah menghantam keras kehidupanku.


Aku mulai percaya jika akan ada pelangi setelah hujan, akan ada kebahagiaan untukku di saat yang sudah tepat. semoga saja. permasalahan dengan Reno bisa menjadi titik balik kehidupan ku di masa depan nantinya.


Aku mengemasi alat sholat dan menyimpan nya kembali ke dalam lemari. ibu yang tadi juga sepertinya sudah meninggalkan masjid bersamaan dengan jama'ah lainnya. aku meraih ponsel dan melihat dua panggilan tak terjawab dari Hanan dan satu pesan panjang dari Reno yang ku abaikan.


Baru saja jemariku akan menekan tombol panggil, suara Hanan sudah memanggil ku dari arah pintu masuk laki-laki. Hanan berjalan menghampiri ku yang berdiri di teras. aku sempat terpaku melihat wajahnya yang bersih bersinar di bawah terangnya pencahayaan lampu. mata ku mengerjap beberapa kali meyakinkan diri jika pria itu adalah Hanan.


"M...mas?" ucapku tergagap. dia tersenyum lembut.


"Maaf nona menunggu lama, tadi di tengah jalan ada kecelakaan jadi agak macet saya putar balik kesini" ucapnya sangat sopan seperti biasa saat kami bertemu untuk membicarakan persiapan pernikahan ku dan Reno.


"Oh iya nggak papa mas, bisa pulang sekarang?"


"Se...sekarang nona, tapi saya kan pakai motor gede, bagaimana caranya, atau nona mau saya pesankan taksi dan saya ikuti dari belakang saja?" tawarnya dengan sopan.


Aku berpikir sejenak lalu mengiyakan tawarannya saja. daripada sampai di rumah kemalaman, apalagi aku hanya izin sehari dari pengurus pondok dan besok pagi sudah harus kembali lagi ke pondok.


Kami berdiri di depan pintu masjid menunggu taksi yang akan menjemput ku. lalu tak lama ada salah satu pemuda datang menghampiri kami dan berbicara dengan Hanan sangat serius.


"Loh mas, itu motornya mau di bawa kemana?" tanya ku heran saat motor gede yang di pakai nya di kendarai orang lain.


"Oh itu, di bawa ke kota, besok saya naik bis saja. itu adek kelas saya yang memang pekerjaan nya terima dan antar pesanan karena kebetulan dia hari ini libur saya minta tolong buat antar motor saya ke kota," terangnya panjang lebar.


"Lah, trus sampean pulang bareng saya naik taksi gitu?" ucapku sedikit curiga.


"Iya, jangan berpikir aneh-aneh nona, saya duduk di dekat sopir, nona bisa duduk di belakang di kursi penumpang, saya hanya ingin menjaga nona dan memastikan nona selamat sampai tujuan, karena itu tugas pokok saya" ucapnya penuh ketegasan.


"Ah ya sudahlah, terimakasih sudah perhatian sama saya mas" ucapku sungkan. aku kembali membuka ponsel dan membaca pesan Reno.


"Assalamualaikum Maaf Kei, maaf membuatmu semakin terluka dengan sikapku, aku hanya tidak ingin tergesa mengambil keputusan dalam hidupku, jika itu justru akan menyakiti mu nantinya, maafkan aku. hati-hati di jalan sampaikan salam dan maaf ku pada ayah dan keluarga. semoga kelak akan ada laki-laki yang bisa menjagamu sepenuh hati, menjadi jalan syurga mu bersama anak-anak mu kelak. terimakasih atas pelukan terakhir mu, terimakasih telah mengizinkan ku melihatmu untuk terakhir kalinya. aku pergi. Wassalamu'alaikum"


Tidak ku sadari air mata yang tadi sudah mengering kini lirih kembali. aku menangis tergugu, tubuh ku bersandar pada dinding pagar masjid. tubuhku luruh, aku mendekap diri sendiri menikmati rasa sakit yang teramat dalam. rasa sakit yang tidak pernah ku lupakan dalam sejarah hidupku.


Saat adzan isya telah berkumandang aku mendongak dan mengusap mataku dengan ujung jilbab yang ku kenakan. saat aku berdiri sekelebat bayangan seorang pengendara motor melintas dan aku bisa menandainya jika itu Reno yang melintas.


Apa dia ada disini sejak tadi? batinku bertanya. aku hendak melangkah namun suara Hanan menghentikan langkah ku seketika.


"Nona taksinya sudah menunggu sejak tadi, sekarang waktunya sholat isya, mau lanjut atau kita berhenti sholat dulu, kebetulan sopirnya saya kenal" ucap Hanan menawarkan.


"Kita sholat dulu, baru pulang"


"Baik nona"


Aku melangkah masuk ke halaman masjid dan langsung menuju ke tempat wudhu. bayangan Reno masih berkelebat di benak ku. tapi ku coba untuk abai barang sejenak.