
..."Dia masa lalumu..??...
...Hatiku sakit melihatmu tersenyum padanya.."๐๐...
Kinara keluar dari kamar ayahnya menuju ke dapur karna perutnya sudah minta diisi.
"Mau makan apa ya?"gumamnya melihat isi kulkas.
"Dooorrr.." ucap Revan mengagetkan adiknya
"Astaghfirullah Kak kebiasaan banget sih.. Kalo jantungku meledak gimana? Ucap Kinara dengan wajah kesal.
"Uluh u.luuuh adikku yang manis.. Sini sini peluk kakak sayang..Goda Revan memeluk adiknya
"Iihh risih kak...sono minggir aahh" pinta Kinara berontak.
"Ngapain lu ngelamun depan kulkas, laki lo gak ada di dalem kulkas."
"Kak ada pisau lipat gak?."๐
"Hheehh? Buat paan๐คจ๐คจ??"
"Buat ngelipat ini nih biar gak sewot." ucap Kinara menyentil bibir kakanya dengan jari.
"Auuh sakit dek.."
"Masih mau..??" Kinara melotot
"Gak! Heh dosa apa gue punya adek galak bener.." oceh Revan memegang bibirnya yang sakit.
Di saat yang bersamaan Azka datang menghampiri mereka berdua.
"Pada ngomongin apa sih?" tanya Azka berbasa-basi
"Eh.. Ngomongin lu" Ucap Revan "Eh hati-hati deh lu punya bini galak kek adek gue."tambahnya lalu berjalan keluar dari dapur.
"Pergi gak?" ucap Kinara sedikit lantang. ia paling sebal saat kakak lelakinya itu menggodanya saat lapar.
"Iya mamiiiihh wleek๐๐" sahut Revan.
Kinara hanya memutar bola mata jengah ๐๐ melihat tingkah sang kakak yang hobi menggodanya. "Dasar player.." gumam Nara lirih.
"Aden dan Nona mau makan sekarang? Mbok siapin dulu ya..?
"Ia Mbok.." jawab kinara sembari beranjak menuju rak untuk mengambil piring dan gelas untuknya dan Azka.
Mata Azka terus memperhatikan gerak tubuh Kinara yang cekatan seperti sudah terbiasa dengan kegiatan di dapur.
Mbok Jum segera menaruh sajian di atas meja sedangkan Kinara menyiapkan piring dan menaruhnya di depan sang suami.
"Mau makan yang mana mas?" tanya Kinara sambil menunjuk sajian yang ada di depannya.
Azka yang di tanya pun mendongak melihat Kinara karna ia heran Kinara memanggilnya dengan sebutan "Mas".
"Aku pengen sayur itu aja sama nasi" jawab Azka.
Kinara langsung mengisi piring dengan nasi dan sayur,setelah itu memberikannya pada Azka.
"Terimakasih" ucap Azka saat menerima piringnya kembali yang sudah terisi.
Di ruang makan hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
Setelah selesai dengan ritual makannya,Azka kembali ke ruang keluarga bergabung dengan keluarga lainnya.
-------------
"Mas mau sholat dhuhur jamaah?" Tanya Kinara saat Azka masuk ke kamar
"Iya." jawab Azka
Kinara menyiapkan alat sholat untuk nya dan Azka.
"Udah siap?" tanya Azka setelah siap dengan setelan baju koko,sarung,dan peci hitam.
"Iya" jawab Kinara.
Setelah selesai berdzikir dan berdoa Azka membalikkan tubuhnya menghadap Kinara.Ia memandang lekat wajah istrinya.
"Mas?"ucap Kinara yang meraih tangan Azka lalu menciumnya.
"Kenapa manggil aku mas kita kan seumuran.? Tanya Azka
"Karna aku menghormatimu sebagai imamku, apa mas enggak suka?" tanya balik Kinara
"It's strange, aneh aja karna aku enggak terbiasa dan mungkin harus terbiasa mulai saat ini." jawab Azka tersenyum
"Hanya dirumah aku manggil mas. Di luar rumah manggil nama aja gak papa kan?" tanya Kinara
"No Problem ๐. Aku boleh nanya?"
"Apa?"
"Kamu enggak keberatan kan nerima pernikahan kita ini? kita masih merasa asing satu sama lain. Kenapa kamu udah bisa nerima semua ini dengan mudahnya. Kalau perempuan lain mungkin udah kabur". Tanya Azka panjang lebar
"Kok nanya gitu? Anggap aja ini sudah tertulis di Lauhil Mahfuz, takdir yang harus bisa kita terima. Apa mas terpaksa?"
"Hanya di awal aku sedikit shock dan aku bukan orang yang mudah nerima orang baru begitu saja. Tapi karna ini semua permintaan orang tua aku enggak bisa menolak apapun itu." Papar Azka
"Ya udah mulai sekarang kita harus belajar untuk terbiasa satu sama lain meski kita enggak saling mencintai." Jelas Kinara
"Apa ada yang kamu cintai saat ini?"
Azka bertanya balik
1 detik
5 detik
Kinara masih diam seribu bahasa mendengar pertanyaan Azka. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ingatannya tertuju pada seseorang yang pernah mengisi hatinya.
"Hei Ra...kok diam?" tanya Azka membuyarkan lamunannya.
"Eh iya..ayo siapยฒ kita harus nganter ayah ke bandara sekarang." Jawab Nara mengalihkan pembicaraan.
"Nara.."
"Iya.."
"Maaf, aku enggak bermaksud yang macem-macem kok, aku juga akan belajar untuk terbiasa." ucap Azka
"Enggak papa! Kita sama-sama belajar". Jawab Kinara
Tok tok tok
"Boleh masuk enggak nih?" Revan muncul di balik pintu.
"Masuk aja kak. " Ucap Azka sembari menyimpan peci diatas nakas.
"Belum pada siap-siap? Kita udah mau berangkat nih! Cepetan gak pake lama!" ucap Revan
"Pakde Wahyu dan yang lainnya udah pulang kak?" tanya Kinara sembari membenahi jilbabnya
"Udah barusan pamit mau singgah ke rumah iparnya Bude Yuyun, ada acara lamaran juga katanya sih." ucap Revan
"Eh Ka ntar pulang bandara lu singgah di tempat Om Rudi ya? Tadi orangnya pesen ma gua buat ngingatin lu. jangan lupa!" Tambahnya lagi
" Siap komandan." jawab Azka tersenyum. "Dah yuk keluar"
"Eh bentar.. Lu enggak ngigo kan? Masa ke bandara lu pake baju koko ma sarung gitu?enggak sekalian lu bawa sajadahnya?๐คฃ๐คฃ๐คฃ" tanya Revan tertawa
"Ehh heeehee lupa๐ ๐ .. Aku ganti dulu." ia segera berlari keruang ganti. Lalu mengambil satu setel kaos dan celana jeans hitam pendek selutut. Serta kacamata dan topi Nike berwarna hitam kesayangannya yang sengaja ia bawa dari rumah.
@Bandara
"Ayah pamit ya nak, sekarang Kinara jadi tanggung jawabmu sepenuhnya. Jadi imam yang baik. Dan kamu Nara jadi istri yang baik, belajar yang bener, jangan pulang malem kalo kerja tugas sekolah, kemana-mana pamit dulu sama suami. Ayah pamit dulu ya. "nasehat Pak Wibowo sembari mendekap mereka berdua dalam pelukannya.
Teng teng
Pesawat ********* dengan tujuan Singapura sudah tersedia, ke pada para penumpang agar segera mempersiapkan diri.
-------
"Ra kita singgah di galeri Om Rudi ya.?"
"Iya tapi nanti singgah belanja dulu ya karna persediaan di kulkas udah habis."
"Iya.."
Setelah menempuh perjalanan 20 menit akhirnya mereka sampai di Galeri Om Rudi.
"Assalamualaikum Om Rudi nya ada pak?"
"Waalaikumsalam Den Azka ya? Udah di tunggu di dalam Den, masuk aja Den."
"Iya pak."
"Assalamualaikum Om Rudi.."
"Waalaikumsalam pengantin baru sini masuk" ucap Om Rudi mengajak mereka menuju ke salah satu ruangan yang luas.
"Mau minum apa?" tanya Om Rudi sembari mengambil gelas di meja bar. Azka mengikutinya dan mengambil posisi duduk di depan meja bar.
"Air putih aja Om kalo ada"
"Mertua kamu udah berangkat?"
"Udah barusan aku dari bandara nganter beliau."
"Mertua kamu itu orang paling berjasa, beliau pengusaha paling dermawan yang aku kenal.. Bahkan waktu aku mulai membuka galeri ini, beliau orang pertama yang menanamkan saham terbesarnya disini." papar Om Rudi mengenang
"Oh ya..?"
"Yaps bahkan beliau memperkenalkan galeri ini sampai ke luar negeri hebat bukan? Dan lagi beliau sama dermawannya dengan Papa mu, mereka yang selalu menyokong saya untuk melebarkan usaha ini." Kenang Om Rudi
"Hemm bener Om,bahkan papa sering banget cerita tentang beliau" Balas Azka tersenyum simpul.
"Oh ya pesananmu masih sementara di kerjain sama karyawanku sebentar lagi selesai. Nggak buru-buru kan? Bentar lagi maghrib, sholat disini aja ada musholla di taman belakang."
"Iya Om.."
Ceklek (knop pintu terbuka)
"Bang ini pesanannya udah selesai gue kerjain". Ucap Beno kemudian ia menoleh ke arah sofa.Kinara duduk disana.
"Loh kok Lo ada disini Ra?" tanya Beno heran.
Kinara menoleh sekilas tanpa menjawab apapun dan lebih fokus pada ponsel di tangannya.
Azka menoleh ke belakang karna mendengar orang membuka pintu.
"Ben..?" panggil Azka.
"Ngapain lu bray?"tanya Beno balik.
Pengantin baru kluyuran aja" tambahnya sembari berjalan menuju meja bar dan menaruh kotak berisi sebuah kalung dengan liontin berlian berbentuk love.
"Jadi lu yang ngerjain ini? Kok gua baru tahu No?"
"Secara lu kenal gue baru berapa hari sih??"
"Enggak nyangka otak sama perut lo sejajar juga.. Hahahahhaa" ucap Azka meledek.
"Gue gitu loooh!! Ngukir ginian mah hal paling mudah buat gue..yang penting upah sesuai jatah perut gue...hahahhaa" tambah Beno.
"Udah kamu pasangin GPS nya kan Ben? "Tanya Om Rudi menyela sembari membuka kotak tersebut dan mengeluarkan kalung.
"Beres Bos semua udah clear.." Jawab Beno
Mereka bertiga bercengkrama sampai waktu maghrib tiba. Kinara segera menghampiri suaminya dan mengajaknya untuk sholat.
"Ka..ayok sholat dulu kita belum belanja ntar Mbok Jum kelamaan nunggu." ucap Kinara pada Azka.
"Yuk.."jawab Azka
Mereka berempat menuju ke mushola yang berada di taman belakang galeri untuk melaksanakan shalat maghrib.
Setelah sholat Kinara dan Azka pamit undur diri. Azka memberikan paper bag pada Kinara saat mereka masuk ke mobil.
"Kita ke swalayan yang ada di ujung sana ya Ra.. takutnya nanti kelamaan Mbok Jum nunggunya. Beli yang perlu aja untuk malam ini. Besok bisa belanja di pasar kan?" Pinta Azka.
"Iya.." ucap Kinara singkat.
Sampai di swalayan mereka turun dan masuk untuk berbelanja keperluan. Setelah selesai berbelanja mereka menuju meja kasir untuk membayar.
"Eh lupa aku belum beli gel rambut, tunggu disini ya.." pinta Azka pada Nara dan segera berlalu.
"Tunggu dulu mbak masih ada belanjaan yang kelupaan. " ucap Nara pada kasir
"Kinara.." panggil seseorang di sampingnya.
Kinara menoleh terkejut melihat sosok yang ada di sampingnya.
"Ra..Rangga..?" ucap Kinara
"Hai..apa kabar Kinar? Ucap Rangga tersenyum.
Kinara membalasnya dengan tersenyum yang ia paksakan, "aku baik." jawab Nara
"Jadi benar kata Cici dia udah balik?"
Kenapa jadi aneh gini sih perasaan ku? Ingat Nara kamu udah nikah. Ingat janji kamu dulu!" batin Kinara mencoba menenangkan diri.
Azka selesai mengambil gel rambut dan saat kembali, Ia melihat Kinara sedang berbincang dengan seorang pria muda yang ada di sampingnya.
Tanpa ia sadari seperti ada sesuatu yang aneh hinggap di hatinya melihat tatapan pria itu pada Kinara.
"Itu siapa?" batinnya. Namun Ia segera menetralkan perasaan nya dan segera menghampiri Kinara.
"Ini belanjaannya sudah mbak? maaf tadi ada yang kelupaan.." Ucap Azka pada kasir.
Kinara segera menoleh mendengar suara Azka di sampingnya. Tanpa aba-aba Azka langsung menggenggam tangan Kinara. Melihat hal itu Kinara hanya diam. Dalam hati ia bersyukur Azka datang di waktu yang tepat.
" Semuanya 500 ribu mas. ini pacar nya ya mas??" tanya kasir pada Azka.
"Hehe iya Mbak dia istri saya" jawab Azka sembari memberikan uang merah 5 lembar lalu mengambil belanjaan dan menggandeng Kinara segera keluar dari swalayan.
Kasir dan Rangga yang melihat tingkah Azka mengeryitkan dahinya heran.
"Kayaknya masih SMA. anak muda mah gitu kali ya..?"gumam kasir.
"Suami..?" dia siapanya Kinara?" batin Rangga
Sampai di depan parkiran Azka melepas genggaman tangannya. Lalu membuka pintu dan memasukkan belanjaan ke bagasi.
Kinara menatap keluar, kaca pintu mobil sengaja ia buka. Ia mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Ingatannya masih pada sosok Rangga yang ia temui beberapa saat lalu.
"Aku enggak nyangka dia beneran balik lagi, semoga ini yang terakhir ketemu dia." batin Kinara.
Selama di perjalanan keduanya diam seribu bahasa tak ada satupun yang terucap dari mulut mereka.
Azka masih tetap fokus menyetir. Ada perasaan aneh di hatinya. Ia masih ingat bagaimana cara pria tadi menatap Kinara.
"Kenapa rasanya aneh saat melihatmu tersenyum padanya Ra dan tatapan laki-laki itu...argh kenapa jadi gini sih gue??"batin Azka.
_________________๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Si Azka mulai cemburu nih.... Ahaaayy gimana cerita selanjutnya...??
See u next part ya..
Sorry guys banyak typo bertengger dimana mana...
Author masih belajar gak bisa merangkai kata yang bagus.
Jangan lupa jejak coment dan vote nya yaa biar author tetep semangat Ngat ngat..!!!!!