
Kami sampai di depan sebuah bangunan tingkat dua yang memiliki halaman sangat luas.
Di kiri dan kanannya terdapat tanaman sayur dan buah lokal serta ada beberapa tanaman bunga di dalam pot yang tertata rapi di sebuah rak besi yang memiliki aneka bentuk yang sangat lucu dan unik.
Di sebelah kanan tepatnya di bawah pohon mangga terdapat sebuah kolam ikan kecil yang airnya sangat jernih. dan ada sebuah rumah kaca mini tak jauh dari kolam berisi aneka macam jenis bunga.
Masuk ke tengah halaman ada arena bermain anak-anak dan sebuah lapangan kecil. di sebelah barat bangunan berlantai dua ada mushola yang sangat bersih dan indah. dan di sebelah timur ada sebuah bangunan rumah tunggal bercat hijau muda dengan banyak hiasan dinding dari cat dengan berbagai motif kartun kesukaan anak-anak. bangunan berlantai dua tepat berada di tengah-tengah.
Ada dua orang pegawai berseragam hijau muda sedang menggendong bayi di teras rumah tunggal. mama Hanna mengajak kami ke rumah tunggal itu.
"Assalamualaikum anak-anak sehat semua Risti?" sapa mama saat sampai di depan teras. kedua pegawai tadi langsung memberi hormat pada kami tanpa diminta.
"Waalaikumsalam Alhamdulillah sehat Nyonya, mereka sedang bersekolah jadi suasana masih sepi" jawab pegawai yang bernama Risti.
"Ini anggota baru sebulan lalu kan?" tanya mama Hanna
"Iya nyonya, berkas identitasnya baru kami dapatkan dua hari lalu, Bu Inggit sendiri yang mengantar kesini sekaligus untuk pemeriksaan lebih lanjut tentang kondisi fisik mereka untuk memenuhi berkas pemeriksaan terhadap tersangka" jelas mba Risti.
Aku dan mas Hanan menyimak saja percakapan mama dan pegawai itu. kami duduk di bangku tunggu yang ada di teras sampai seorang wanita paruh baya datang dan mengajak kami semua masuk ke dalam .
Sekarang aku mengerti yayasan apa yang di maksud mbak Kinar, ternyata yayasan panti asuhan atas nama almarhumah ibu yang diberikan pada mbak Kinara dan sekarang di kelola oleh mama mertuanya.
Aku baru tahu ternyata almarhumah ibuku memiliki kepribadian sebaik itu. mengasuh anak-anak yatim piatu yang tidak punya tempat untuk berteduh apalagi menggantungkan hidup mereka.
Semakin kesini aku semakin menyadari ternyata masih ada mereka yang jauh lebih buruk nasibnya dibandingkan aku. mereka yang hidup dari belas kasihan orang lain, mereka yang tidak mempunyai siapapun untuk membantu mereka berjalan menyusuri masa depan nantinya.
Dan seharusnya aku tidak berbuat nekat seperti yang sudah ku lakukan beberapa waktu kemarin. hal bodoh yang cukup sekali saja ku lakukan sepanjang sejarah hidup ku di dunia.
"Kenapa nggak di bawa cucunya Bu?" tanya wanita paruh baya itu pada mama sembari memandang ku lekat.
"Sama mamahnya di rumah, saya kesini sekalian mau kenalin anak saya yang lama diluar negeri, ini Keisya adik kembarnya Kinara" ucap mama memperkenalkan aku pada mereka bertiga yang duduk di kursi panjang di seberang kami.
"Nona muda punya kembaran ternyata" cuap pegawai bernama Risti.
"Iya Ris, dia lama hidup di luar negeri jadi nggak ada yang tahu kalau Kinara itu kembar, dan kenalkan ini calon suaminya Keisya" ucap mama Hanna menunjuk mas Hanan yang duduk di kursi tunggal di sebelah kanan ku.
Aku melongo dan langsung menatap mama meminta penjelasan tapi mama Hanna hanya mengerling, ku lihat mas Hanan juga hanya diam menatap terkejut pada mama Hanna tanpa berani menyela.
"Wah nona Keisya seleranya tetap pribumi ya, kirain lama tinggal di luar negeri nyari yang bule hehehe" Seloroh wanita paruh baya itu seraya menatapku lekat.
"Mohon doanya saja Bulik, oh ya anak-anak yang akan lulus SD tahun ini ada berapa orang?" tanya mama Hanna
"Sebentar saya ambilkan datanya dulu ya Bu" ucap pegawai bernama Aini.
"Kalau yang lulus SD tahun ini Bu ada empat orang tiga laki-laki dan satu perempuan, untuk rekomendasi sekolahnya nanti bulan kemarin asisten tuan Wibowo sudah kesini memberikan rekomendasi sekolah yang akan mereka tempati mendaftar nanti" jelas wanita paruh baya itu.
Wow. satu kata itu yang bisa ku ucapkan dalam hati mendengar penuturan wanita paruh baya itu. ternyata selain itu ibu dan ayah ku juga yang menyekolahkan anak-anaknya kurang mampu di panti asuhan ini.
Aku semakin mengerti sekarang kenapa mbak Kinara mengatakan padaku tentang yayasan. rupanya ada banyak hal yang akan aku dapatkan sebagai pelajaran baru dalam hidup ku nanti nya.