KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 42



"astaghfirullah, eh ya tuhan, ya Allah Gusti pangeran..." ucap batin Bulik Sri berkali-kali setelah mendengar Hanan melamar Keisya secara pribadi.


Tadi Bulik Sri berniat membawakan sukun goreng, namun saat sampai di dekat televisi ruang keluarga ia mendengar langsung suara Hanan berucap jika ingin menjadikan Keisya sebagai istri.


Keisya masih terpaku dan menatap tak percaya pada Hanan yang tengah menunduk dengan kedua tangan menutup wajahnya.


Bagai di sambar petir di siang bolong, Keisya benar-benar tidak percaya dengan omongan Hanan. beberapa saat kemudian Keisya tertawa.


"Hari gini, nge-prank jangan aneh-aneh mas hahaha ada-ada aja bercanda nya" ucap Keisya tertawa menutup mulutnya dengan tangan


Hanan mendongak menatap tak percaya pada respon Keisya yang menganggap nya hanya main-main.


"Saya serius" ucap Hanan menatap lekat Keisya


"Hahaha, udahlah mas, jangan bercanda, mas tahu kan saya masih menunggu mas Reno kembali meskipun tidak mungkin hehe" ucap Keisya polos.


Hanan menatap tak percaya, Keisya berbicara sejujur itu, kalau dia benar-benar masih mengharapkan Reno yang sudah pergi meninggalkannya. ada nyeri mendengar ucapan Keisya di sudut hati Hanan, tapi ia paksa untuk tetap tersenyum dan menatap serius pada Keisya.


"Saya serius, sudah sejak awal nona datang ke desa ini, saya sudah jatuh hati pada nona, maaf kalau saya memang lancang, dan perlu nona tahu ucapan saya bukan permainan, saya benar-benar ingin memperistri nona" ucap Hanan serius membuat Keisya langsung bungkam.


Bulik Sri yang mendengar di ruang keluarga masih setia duduk dengan kedua kaki di tekuk, ada rasa tak percaya bercampur gembira dan juga sedih.


Yang terpikirkan oleh Bulik Sri adalah mobil-mobil yang berjejer di halaman rumah Gus Rohid sejak sore tadi bahkan ia juga sempat melihat sekilas seorang gadis muda berhijab besar turun dari mobil bersama ibunya. "Apa ini ada hubungannya sama mobil disana ya, apa benar kabar burung kalau Gus Hanan memang mau di jodohkan sama anak kyai Yusuf?" batin Bulik Sri menerka.


"Mas Hanan, mas tahu kan saya baru sembuh dari trauma, jangan berikan saya trauma tentang pernikahan untuk kedua kalinya, aku benar-benar belum siap untuk menikah, meskipun aku tidak bisa membohongi perasaanku pada mas Reno setelah kami berpisah, tapi jujur saya masih butuh waktu untuk memikirkan tentang pernikahan, masih banyak hal-hal dalam hidup ku yang belum tercapai" ucap Keisya menatap serius pada Hanan.


"Baik,maafkan saya nona, saya sudah salah, tapi bolehkah saya berharap nona menjawab permintaan saya? sampai kapanpun saya akan menunggu nona" ucap Hanan memohon membuat Keisya menjadi serba salah.


Keisya diam beberapa saat sembari memijit pelipisnya yang tidak sakit. ia benar-benar di buat linglung dengan permintaan Hanan.


"Berikan aku satu alasan kenapa mas Hanan mau menjadikan saya isteri, karena orang tua saya kaya raya, jabatan, pangkat, status sosial atau apa?" tanya Keisya ceplas-ceplos


"Uhibbuki ya ukhti" ucap Hanan dengan wajah serius.


Bukan Keisya tak tahu artinya, tapi Keisya benar-benar terkejut.


"Mas tahu kan saya punya trauma mental bertahun-tahun bahkan saya takut berinteraksi dengan orang lain, di saat saya sedang dalam proses ingin sembuh, saya harus mengalami masalah yang mengganggu mental saya dan membuat saya berkali-kali ingin mengakhiri hidup, apa mas punya penawar nya?" tanya Keisya memancing keseriusan Hanan


"Insha Allah, atas izin dan ridho Allah swt, saya bisa jadi penawar" ucap hanan


"Benarkah? dengan cara apa mas Hanan membuktikan?" tanya Keisya lagi


"Besok malam saya akan datang melamar langsung pada tuan besar" jawab Hanan.


Keisya melotot mendengar ucapan Hanan. tapi dia lebih memilih diam karena tak ingin menyinggung Hanan.


"Pertanyaan terakhir, apakah ada motif lain yang membuat mas Hanan nekat melamar saya secara pribadi?" tanya Keisya.


Hanan langsung terdiam dan menunduk, ada rasa bersalah bersarang di hatinya kala mendengar pertanyaan Keisya.


"Baik, saya rasa mas Hanan perlu berpikir jernih lebih dulu, kalau memang mas Hanan berniat menemui ayah saya, silahkan saja, tapi keputusan tetap ada pada saya, dan saya sudah katakan kalau saya belum siap untuk menikah" ucap Keisya hendak beranjak namun ucapan Hanan membuatnya berhenti


"Saya akan menunggu sampai kapanpun, di setiap sujud malam ku, jika Allah meridhoi pasti akan ada jalan, jika tidak aku ikhlas menerimanya" ucap Hanan.


"Lebih baik mas pulang dulu, dingin kan kepala, siapa tahu ada yang bocor gas nya di dalam, saya juga lapar daritadi mau makan nggak jadi gara-gara mas Hanan datang bawa berita heboh seperti bom Hiroshima Nagasaki, jadi maaf boleh saya permisi ke dalam mau ngisi Jawa tengah?" ucap Keisya dengan sikap sentimen nya. Keisya kali ini benar-benar kambuh.😏


"Baik nona, kalau begitu saya permisi" ucap Hanan sedikit tersinggung dengan sikap Keisya yang kembali absurd


"Ya silahkan" ucap Keisya berlalu meninggalkan Hanan yang baru hendak berdiri.


Hanan keluar dari rumah Bulik Sri dengan wajah lesu dan hati tidak menentu. matanya menatap jejeran mobil di halaman rumah orangtuanya.


Ia tahu betul mobil-mobil itu milik siapa dan darimana asal mereka. sejak datang Hanan tidak menampakan diri dan kedua orang tuanya juga tidak tahu jika sudah ada di rumah.


Hanan benar-benar tidak ingin mengulang kesalahan mas Hanif di masa lalu, kakak pertamanya yang menikah karena terpaksa hingga akhirnya sang istri sakit kemudian meninggal karena tertekan dengan kehendak orang tua dan masih memendam perasaan pada laki-laki lain.


Hanan benar-benar tidak ingin mengulangi kesalahan itu, tapi kedua orangtuanya terutama uminya terlalu ngotot dengan kebiasaan masa lalu orang-orang tua sebelum mereka.


"Maaf Ning Syifa, aku sudah melamar wanita lain" batin Hanan.


Meskipun ia tahu Ning Syifa wanita yang lemah lembut dan penyabar juga penyayang, tapi Hanan juga tahu kalau Ning Syifa juga tengah menunggu seseorang, sahabat Hanan sendiri semasa mondok yang kini sedang menempuh pendidikan di Mesir.


Hanan tak ingin menyakiti wanita itu, Hanan juga tak ingin menyakiti sahabatnya yang juga sudah lama menyimpan niatan pada Ning Syifa.


Hanan benar-benar tak mau mengulang kesalahan mas Hanif di masa lalu. berkali-kali mas Hanif berpesan padanya jangan sekali-kali memaksakan kehendak, dan berani berbicara jujur meskipun itu menyakitkan.


Hanan berjalan lesu meninggalkan pelataran rumah Bulik Sri, berkali-kali pula ia menoleh ke belakang berharap Keisya akan memintanya masuk kembali.


Hanan menatap lurus ke arah pintu rumah dan menata hati serta menghitung antara ya dan tidak.


Pada akhirnya demi rasa hormatnya pada keluarga Ning Syifa, Hanan memilih masuk melalui pintu rumah tidak lagi sembunyi lewat pintu samping seperti yang dilakukannya saat tiba sore tadi.


"Assalamualaikum" ucap Hanan di depan pintu.


"Waalaikumsalam" jawab seisi ruangan.


Hanan masuk dan menyalami tamu satu persatu dan berakhir menyalami kedua orang tuanya. sekilas ia saling bertatapan dengan Ning Syifa yang wajahnya terlihat biasa saja bahkan terkesan cuek dan bosan.


Hanan memilih diam mendengarkan pembicaraan orang tuanya dan para tamu. hingga satu pertanyaan yang di lontarkan padanya membuat semua oran terdiam.


"Gimana Gus, apa Gus Hanan menerima niatan kami sebagai orang tua?"tanya salah satu keluarga Ning Syifa.


"Maaf sebelumnya, kalau sekiranya ada ucapan saya yang menyakiti keluarga Ning Syifa dan tentunya Ning Syifa sendiri" ucap Hanan sopan. ia terdiam sesaat lalu " Saya sudah melamar seseorang secara pribadi dan besok saya akan menemui orang tuanya secara langsung". ucap Gus Hanan membuat seisi ruangan terdiam terutama uminya yang langsung berwajah masam.


Ada senyum samar di wajah Ning Syifa mendengar langsung jawaban Hanan. hanya Hanan yang menyadari nya.