
Azka duduk tak jauh dari kelas Kinara. kelasnya sendiri sudah selesai sejak setengah jam yang lalu. Azka menyeruput teh kotak di depannya yang tersisa sedikit dan berbunyi "slurp" saat di sedot.
Gugun masih setia dengan pensil dan kertas desainnya, tidak peduli seberapa lama harus ikut gerah menunggu istri dari teman sekelasnya itu. angannya asik menikmati tiap goresan ide yang muncul di balik otak cemerlangnya.
"Gun, Lo nggak bosen apa gambar rumah Mulu" seru Azka setelah membuang kotak teh pada tempat sampah yang ada di belakang tempat ia duduk.
"Hobi" jawab Gugun tanpa menoleh
"Sesekali lah nyari cewek kek, cuci mata gitu"
"Nggak kepikiran"
"Lah emang desain yang Lo buat bisa ngajakin Lo ngobrol?"
"Ck, justru karena gue pengen santai dan nggak kepikiran makanya bikin sketsa"
"Jangan lurus - lurus aja jadi orang gun, kasihan loh kalau ada cewek naksir Lo anggurin"
"Hah bodo amat lah, yang penting gue bisa menggambar"
"Au ahh"
Obrolan mereka berhenti kala kedua mata Azka melihat sosok istrinya sudah keluar dari kelas. melihat Kinara yang sudah mulai kesusahan berjalan dengan perut membesar di usia ke tujuh bulan kehamilan. membuatnya semakin posesif pada sang istri.
Terlebih jika ingat kejadian sebulan lalu saat Catherine datang kerumah bersama kak Rania tanpa tedeng aling-aling, bersikap seenaknya dirumah hanya karena merasa mereka pernah menjadi tetangga satu kompleks di negara asalnya.
Yang semakin membuat Azka gerah dengan beraninya Catherine mengirimkan foto dan percakapan Aldo dan Kinara saat itu. padahal itu semua hanya jebakan untuknya. Azka tentu tidak lupa bagaimana Catherine pernah menjebaknya beberapa tahun silam saat pesta ulang tahun teman sekelas mereka.
Sakit hati Azka karena sikap Catherine masih membekas hingga sekarang. ia tidak pernah menyangka teman mainnya sejak kecil itu tega berbuat tak senonoh bahkan memfitnah nya padahal usia mereka masih 13 tahun saat itu.
Azka berlari kecil menghampiri Kinara yang berjalan lebih lamban dari biasanya. wanita hamil itu tengah berbincang dengan teman sekelasnya saat Azka sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Ya udah gue duluan ya Ra, besok aja di lanjutkan".
"Iya hati-hati" setelah temannya pergi Kinara berbalik menatap nyalang pada sang Suami
"Kebiasaan sekali kamu mas, kalau masih ada orang ngobrol penting dateng-dateng ngasih kode"
"Kok aku di salahin lagi sih sayang?"
"Lah emang iya mas yang salah kok, aku yang nggak enak sama mereka, masih mau ngobrol banyak kamunya udah datang"
"Ya aku datang karena nggak tega lihat kamu jalan kayak mau jatuh"
"Alasan, dah ayok buruan ke rumah, kak Revan udah nungguin tuh"
Azka menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya. setiap kali berdebat dengan Kinara membuatnya harus ekstra sabar dan banyak mengalah. maklum efek orang hamil.
Mereka menghampiri Gugun yang masih belum goyang sedikitpun dari kursi yang di dudukinya.
"Gun, ayo pulang, mau ikut kerumah kan, tadi katanya ada janji sama kak Revan" ucap Kinara yang duduk tepat di sebrang Gugun. gazebo itu membentuk bundaran yang di tengahnya ada sebuah atap dari rumbia.
"Bentar Bun, masih sedikit polesan lagi, ini yang mau gue tunjukin ke kak Revan nanti"
"Lo ada kerjasama dengan perusahaan?"
"Iya kak Revan minta di buatin desain interior untuk rumah barunya nanti, sepupu gue yang ngenalin sama kak Revan. gue baru tahu ternyata Lo CEO di perusahaan tempat sepupu gue kerja ya Ra" ujar Gugun semangat
"Ahhaa biasa aja Lo, kita semua sama apapun jabatannya di dunia" ucap Kinara merendah.
"Sepupu Lo mbak Arum itu kan asisten ayahku dulu sekarang merangkap jadi asisten ku"
"Loh, jadi mbak Arum itu asisten CEO yang lama, kok aku baru tahu Ra, jadi sekarang dia jadi asisten kamu?"
"Hem iya, dan aku yang rekomendasikan kamu ke kak Revan"
"Hah?" Gugun melongo mendengar ucapan Kinara.
"Pantesan aja katanya mbak Arum bosnya belum bisa terjun langsung ke kantor, ternyata dan ternyata".
"Biasa aja lah, yuk di tungguin kak Revan di rumah besok sudah akad nikahnya Lo harus datang"
"Iya - iya yuk"
****
Azka dan Kinara sudah bersiap sejak selesai sholat subuh. semalam mereka memang menginap di rumah Tante Ratih ibu kandung Revan. hari ini memang akan menjadi hari bersejarah Revan resmi mempersunting kekasih hatinya sejak masih SMA.
Tuan Wibowo dan keluarga besar sudah berkumpul sejak seminggu yang lalu sebelum hari pernikahan. tidak ketinggalan tuan Denias beserta anak istri dan cucunya juga hadir.
"Sayang, Keisya beneran nggak pulang?" tanya Azka pada sang istri yang masih membenahi letak jilbabnya
"Enggak tahu mas, lagian Keisya kan udah di pondok"
"Kamu nggak pernah ada ngasih kabar?"
"Nggak, pernah sih sms-an beberapa kali sebelum pergi ke pondok"
"Kamu masih marah sama Keisya?"
"Hem, nggak sih mas, tapi masih takut aja kalau sampai dia nekat mengulangi kesalahannya, pesona kamu itu yang bikin aku kadang gregetan banget, ada aja cewek yang curi pandang"
"Hei cepetan rombongan udah masuk mobil semua, kalian masih santai-santai" ucapan Mala memotong pembicaraan mereka.
"Oke kak kita otewe" ucap Azka seraya merapikan jasnya dan mengambil tas milik Kinara di atas meja rias.
"Ayok" azka menarik lengan sang istri berjalan keluar kamar sedang sebelah tangannya menenteng tas Kinara.
Rombongan pengantar pengantin pria sudah melaju meninggalkan kediaman Tante Ratih menuju kerumah calon besannya. jarak tempuh rumah dan kediaman calon mempelai wanita hanya di tempuh setengah jam saja.
Acara sakral ini memang sengaja di adakan di rumah pengantin wanita. sehari setelahnya resepsi baru akan di adakan di hotel. karena Lutfiah adalah anak pertama, sehingga kedua orang tuanya meminta akad nikah di adakan di rumah mereka dengan menggelar acara sederhana serta mengundang kerabat dan tetangga mereka.
Rombongan tiba tepat waktu di kediaman pengantin wanita. Reno, Fikar, Aldo, Hanan dan Gugun mengiringi pengantin pria memasuki kediaman pak Rowi. sesuai permintaan pak Rowi yang memang berasal dari Jawa, ada beberapa adat istiadat yang memang di laksanakan saat menyambut kedatangan pengantin pria.
Azka dan Kinara duduk di kursi bersama para tamu yang lainnya karena merasa sudah cukup lelah dan ingin duduk agar kakinya tidak terlalu sakit.
"Mbak keluarga nya pengantin pria ya?" tanya seseibu di sebelah Kinara
"Eh iya Bu saya adiknya" jawab Kinara membuat ibu tadi mengerutkan keningnya
"Hah masih muda sekali ya sampean adiknya manten, ini hamil berapa bulan mbak?"
"Tujuh bulan"
"Tujuh bulan? kok kayak udah sembilan bulan besarnya nggak seperti orang hamil biasanya, maaf nih ya mbak"
"Heheh nggak papa Bu, soalnya hamil kembar heheh"
"Masya Allah semoga lancar lahirannya ya mbak, eh itu sudah mau di mulai akad nikahnya" bisik ibu itu membuat tawa Kinara semakin melebar melihat tingkah konyol ibu yang duduk di sampingnya.
"Dengerin sayang, kok aku deg-degan ya" bisik Azka.
"Emang dulu nggak?"
"Iya gitu juga, mau di ulangi lagi?"
"Iiish malu-maluin"
Azka dan Kinara akhirnya khidmat mengikuti acara demi acara hingga ucapan kata Sah terdengar dari dalam rumah dan di sambut ucapan Hamdallah oleh para tamu yang hadir.
Azka dan Kinara tersenyum bahagia karena pada akhirnya kak Revan sudah resmi menyandang status baru dalam hidupnya.