
"Apa-apan kamu le, menolak keluarga mereka dengan cara keji seperti ini?" ucap umi Tin dengan marah.
"Hanan nggak mau mengulangi kesalahan mas Hanif Bu, ibu ingat almarhumah mbak Rurin meninggal karena apa?" sahut Hanan tak mau kalah
Ning Syifa dan keluarganya memang langsung pulang begitu mendengar jawaban penolakan Hanan, tetapi mereka tetap diam dan menghargai keputusan Hanan, satu di antara keluarga Ning Syifa memang sudah menebak ini akan terjadi,karena memang ia salah satu orang yang tahu betul siapa yang sedang di nanti oleh Ning Syifa selama ini.
Umi Tin masih terdiam tak berani menjawab ucapan sang anak tentang masa lalu pernikahan anak sulungnya. semua juga berkat keserakahan nya selama ini yang selalu mengharapkan kebaikan kembali dari manusia tanpa mau menghargai sesama.
Umi Tin terdiam di kursinya dengan wajah menunduk, air matanya sudah tumpah ruah sejak tadi, sejak Hanan dengan terang-terangan menolak perjodohan mereka.
Gus Rohid sebagai kepala keluarga masih diam di ruang tamu tanpa beranjak, meskipun mendengar percekcokan dari anak dan istrinya.
Bukan tak menyadari jika sang anak sebenarnya sudah datang sejak sore tadi dan keluar dari rumah selepas sholat maghrib. ia juga tahu siapa wanita yang sudah di lamar oleh sang anak secara pribadi.
"Ibu cuma ingin yang terbaik untuk kamu le" ucap umi Tin lirih
"Terbaik untukku menurut ibu, tapi apa ibu tahu apa yang Hanan rasakan? apa ibu tahu apa yang Ning Syifa rasakan? apa ibu nggak bisa lihat wajah Ning Syifa saat aku menolaknya? Ning Syifa sudah menunggu orang lain Bu, sahabat Hanan sendiri, apa ibu nggak lihat Ning Syifa tersenyum waktu Hanan menolak?" ucapan telak Hanan membuat umi Tin mendongak seketika
"Kamu jangan ngaco le, tau apa kamu soal Ning Syifa?"
"Aku tahu segalanya Bu, Mas Safiq laki-laki yang sedang di tunggu Ning Syifa, ibu ingat teman ku yang pernah ngisi ceramah di sini dan ibu berniat menjodohkan dengan mbak Khusnul tapi dengan terang-terangan mas Syafiq menolak dengan alasan sudah tunangan? coba ibu ingat lagi". ucapan Hanan sontak membuat umi Tin merasa tertampar
"Aku bisa saja menerima niatan dari keluarga Ning Syifa Bu, tapi bagaimana setelah kami menikah nanti? apa ibu mau aku mengulang kesalahan mas Hanif? wanita yang di nikahinya tertekan meskipun mas Hanif berlaku baik tanpa cacat, mbak Rurin meninggal karena merasa tertekan tidak bisa menjadi dirinya sendiri, mbak Rurin meninggal karena memendam sakit yang dia bawa sampai mati, mbak Rurin meninggal karena....karena ibu juga terlalu menekannya untuk memberikan cucu, ibu nggak pernah tahu kalau mbak Rurin meninggal karena penyakit kanker rahim" ucap Hanan panjang lebar yang membuat umi Tin mendongak dan menatap tak percaya pada ucapan anak bungsunya.
"Kamu jangan menyalahkan ibu nan, itu sudah kewajiban istri memberikan keturunan" bentak umi Tin merasa tidak terima
"Apa yang di katakan Hanan semua benar Bu" ucap Gus Rohid pada akhirnya setelah sekian lama diam mendengarkan perdebatan istri dan anaknya.
Umi Tin menggeleng menatap tak percaya pada suami yang justru mendukung sang anak. Gus Rohid hanya diam tanpa mau memandang istrinya.
"Besok malam Abah ikut melamar perempuan yang sudah kamu lamar tadi le" ucap Gus Rohid pada Hanan membuat anak bungsunya itu langsung mengangguk dan tersenyum.
Hanan meninggalkan ibunya di ruang makan yang masih mengomel dan menangis. sudah cukup baginya bersabar atas sikap egois ibunya selama ini.
Jika bukan karena mbak Khusnul yang saat itu menceritakan segalanya tentang almarhumah kakak iparnya mbak Rurin, dia tidak akan bisa mendebat ibunya kali ini. dan jika bukan karena mas Hanif yang memilih jalan tegas menjauh dari ibunya demi menjaga perasaan istri keduanya serta anak-anaknya, Hanan juga tak bisa membuat ibunya bungkam kali ini.
"Maafkan aku Bu, terpaksa harus ku lakukan agar ibu tidak menjadi sosok yang egois, sampai hari ini mas Hanif masih merasa bersalah pada almarhum mbak Rurin, beruntung mbak Nisa istrinya sekarang bisa mengerti dan memakluminya, dan harusnya ibu tahu hal itu" batin Hanan saat sudah masuk ke dalam kamar.
Gus Rohid keluar rumah hanya berjalan kaki, langkah lebar nya menuntun ke arah rumah tetangga yang sedang yasinan, meski sudah sangat terlambat untuk datang, tapi Gus Rohid tetap pergi. sore tadi ia sudah berpesan pada pak RT untuk memimpin yasinan jika ia terlambat datang.
Gus Rohid menatap sekilas pada bangunan rumah di depannya yang masih terbuka pintunya, ia tahu jika Hanan sudah melamar Keisya secara pribadi. Gus Rohid menatap rumah Bulik Sri dengan tersenyum, ada kelegaan di hatinya melihat sang anak sudah bisa mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya.
"Kesel banget, dari tadi nggak mau ilang, lagian kenapa sih harus aku? kayak nggak ada cewek lain aja, kalau besok serius datang nemuin ayah gimana? haduuuh" batin Keisya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Beruntung tadi Bulik Sri tidak bertanya macam-macam setelah Hanan pulang kerumahnya. Bulik Sri hanya menatap Keisya dengan tatapan aneh saja menurut Keisya sendiri. tapi ia tetap abai.
"Mas Reno, kamu dimana? tolong kembali" ucap batin Keisya
Lamunan nya terhenti saat ponselnya berdering, Keisya tetap bergeming tidak ingin menjawab hingga panggilan ke tiga akhirnya ia menyerah.
"Kenapa mas boy?"
"Chat aku baca dong non, ada chat dari sepupu, aku terusin ke wa nona" ucap mas boy di seberang telepon
"Ah penting nggak?"
"Lebih penting dari apapun"
"Ya udah matiin dulu"
"Oke, jangan jantungan ya xixixi"
"Hallah udah"
Tut
Keisya membuka pesan dari mas boy dan alangkah terkejutnya ia melihat mbak Vivi, Reno dan beberapa orang lagi berfoto bersama di salah satu restoran.
"Mbak Vi, ini nggak mungkin, mbak Vi tahu dimana mas Reno, tapi kenapa selama ini diam saja?" batin Keisya menduga-duga.
Keisya menggulir beberapa foto yang di kirimkan oleh mas boy. foto-foto Reno terlihat seperti sebuah keluarga yang sedang makan malam bahkan sebuah video di bagian akhir ia buka, rupanya posisi mereka sedang di luar kota, entah dimana. Reno terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka.
"Nggak mungkin, kalau memang mbak Vi tahu kenapa nggak pernah ngomong sama aku?" batin Keisya menangis.
Keisya Langsung mengirimkan pesan pada mas boy darimana pria itu mendapatkan foto-foto tadi.
📩
"Dari sepupu aku yang dosen, dia lagi di Kalimantan ngisi seminar, besok baru pulang, aku juga kaget pas lihat story dia lagi makan malam bareng keluarga barunya" kata mas boy pada pesannya.
"Ternyata kamu di Kalimantan mas, ku mohon pulanglah" batin Keisya.