You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 97



"Tante...."


Terlihat seorang wanita cantik dewasa berperawakan tinggi semampai berpenampilan anggun seumuran Wira menghampiri Ratih yang sedang memperhatikan hasil jepretan di ponselnya.


"Chelia, wah ini Michelia si bunga kampus kedokteran itu kan." Ratih balas menyapa dengan wajah sumringah.


"Iya Tante, lama tak jumpa. Tante Sedang apa di sini, bukannya itu foto adiknya mendiang menantu Tante?" Tunjuk Michelia ke arah ponsel yang dipegang Ratih.


"Iya kamu benar, ini adik mendiang Almira. Tante tak sengaja melihatnya, sepertinya gadis muda itu tidak belajar dengan benar, tapi malah keluyuran dan berpacaran di mall," ucap Ratih sinis.


"Beberapa waktu lalu, aku juga melihatnya di UGD rumah sakit. Dia terus mengekori Wira seperti lintah sewaktu di sana, padahal saat itu kita para dokter sedang menangani korban kecelakaan. Aku heran kenapa Wira membiarkan gadis itu menganggu waktu bekerjanya," tambah Michelia yang sengaja melemparkan bahan bakar agar situasi semakin memanas.


"Apa! Gadis itu bahkan merongrong waktu bekerja putraku di rumah sakit? memangnya Wira itu pengasuhnya! Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera bertindak," seru Ratih penuh emosi.


Wanita itu menipiskan bibirnya tersenyum puas, padahal pemandangan di UGD waktu itu bukanlah Dara yang mengganggu Wira, tetapi Michelia tak suka dengan interaksi dan tatapan mata Wira kepada Dara yang tampak berbeda.


Michelia adalah teman Wira sewaktu kuliah, ia memiliki kehidupan glamor dan mewah sejak masih muda, karena didikan orang tuanya yang mengedepankan gengsi di atas segalanya, tak peduli jika uang itu hasil korupsi atau hasil meminjam dari bank. Hanya saja posisi ayahnya sebagai pejabat pemerintah cukup tinggi, jadi korupsi yang dilakukan keluarga itu selalu gagal dibuktikan oleh penyidik karena koneksinya yang mengakar kemana-mana.


Ia sudah lama menaruh hati kepada Wira, bukan hanya karena paras serta prestasi dan popularitasnya, tetapi juga karena embel-embel sebagai pewaris satu-satunya perusahaan farmasi milik keluarga Aryasatya. Jika dia berhasil, maka kebiasaan hidup mewahnya akan tetap terjamin, dan dia bisa menghamburkan uang sesuka hati.


Segala pesona yang dimilikinya ia kerahkan untuk merayu Wira, tetapi ternyata semua itu tak mampu membuat Wira bergeming sedikitpun. Malah tanpa di duga, justru Wira jatuh cinta kepada Almira, si perawat yang berasal dari keluarga sederhana.


Dokter wanita itu sudah sering menyelidiki kebiasaan keluarga besar Aryasatya agar bisa masuk ke dalam lingkungan keluarga mereka, untuk itu Michelia sangat mengetahui bahwa Ratih adalah penggila barang-barang bermerek. Saat ini dia sengaja bersikap begitu untuk menarik perhatian Ratih, tiba-tiba bisa bertemu Ratih di tempat umum adalah hal yang langka, maka dari itu kesempatan seperti ini tidak akan dilewatkannya begitu saja.


"Ah, kamu ini bisa saja, tentu saja dengan senang hati Tante akan membantu memilihkannya untukmu. Putri dari keluarga terpandang memang berbeda ya, punya sopan santun yang baik dan selera yang bagus dalam banyak hal. Hhh... Andai saja kamu yang jadi menantuku pasti menyenangkan."


Ucapan Ratih sukses membuat Michelia berbinar, sepertinya dia mulai mempunyai celah untuk bisa memancing ikan besar yang sudah lama diidamkannya.


"Tante bisa saja, tapi sayangnya Wira tidak pernah tertarik padaku," sahutnya memelas dengan raut wajah lemah yang dibuat-buat.


"Aku juga heran dengan putraku itu, seleranya sungguh rendahan. Tapi tunggu, apa kamu menyukai putraku?" tanya Ratih antusias.


"Tentu saja, wanita mana yang tidak tertarik pada putra Tante yang memesona itu. Hanya saja Wira selalu bersikap dingin padaku walaupun sekarang statusnya adalah pria lajang, sepertinya sulit mendapat kesempatan untuk bisa lebih dekat dengannya," keluh Michelia.


"Ahahaha... aku suka gadis yang berkata jujur sepertimu. Kamu tenang saja, Tante akan membantumu untuk bisa lebih dekat dengan Wira," hibur Ratih antusias.


"Benarkah? terima kasih, terima kasih banyak Tante," jawab Michelia senang tak terkira karena sepertinya usahanya mulai membuahkan hasil.


"Iya benar. Oh iya lebih baik sekarang kita mencari tas yang cocok untukmu, karena dua jam lagi butiknya akan tutup," ajak Ratih.


"Iya Tante." Michelia memasang senyum termanisnya, kemudian langsung mengandeng lengan Ratih dan melangkah masuk ke dalam butik yang dimaksud dengan ekspresi penuh luapan ambisi.