
Di hari libur ini setelah sarapan pagi, mereka berangkat berziarah ke makan Arif juga Almira. Di tengah perjalanan Dara menyempatkan mampir ke sebuah toko bunga. Membeli dua buket rangkaian bunga untuk Arif juga Almira. Cuaca hari ini cerah bersinar dan juga jalanan lancar, sehingga tak butuh waktu lama untuk sampai di tujuan.
“Ayah, Mbak. Aku datang.” Dara meletakkan bunga yang dibawanya di masing-masing pusara kemudian duduk di rerumputan di antara makam Arif juga Almira. Wira juga ikut bersila di sana dengan Selena di pangkuannya.
Mereka memanjatkan do’a dengan khidmat, do’a terbaik untuk orang terkasih yang telah berpulang lebih dulu, berdo’a semoga mereka ditempatkan di tempat terbaik di sana
“Mira, Ayah. Kenalkan, ini Selena, putriku dengan Dara,” ucap Wira sesaat setelah selesai berdo’a.
“Ayah, Mbak. Aku sudah menjadi seorang Ibu sekarang.” Dara terkekeh sembari membelai pipi gembul Selena. “Terima kasih kepada kalian yang telah membawaku pada kehangatan sebuah keluarga, dan berkat Mbak, kini kebahagiaanku sempurna.” Dara berkata sambil mengusap nisan keduanya seraya mengulas senyum.
Terima kasih Mira… karena pernah menyeretku berjanji padamu untuk menikahi adikmu. Adikmu ternyata adalah pengobat lukaku juga melengkapi kekuranganku dan kini sangat kucinta, terima kasih, batin Wira.
Setelah selesai berziarah, tak lupa mereka memberi buah tangan untuk pengurus makam. Berterima kasih telah mengurus dengan baik pembaringan terakhir Arif juga Almira. Dara masuk lebih dulu ke dalam mobil bersama Selena, sementara Wira masih berbincang dengan para pengurus area pemakaman.
Ponsel di saku celana Wira berdering, tertera panggilan dari nomor yang tak dikenalinya.
“Halo.”
“Nak, ini saya… saya Bibinya Dara,” sahut suara di sambungan telepon.
Wira teringat pernah memberikan nomornya sewaktu berkunjung ke sana tempo hari. Saat itu dia meminta dikabari jika mungkin ada informasi lain tentang ibu kandung Dara, akan tetapi karena Dara pernah mengatakan tidak ingin membahas lebih lanjut lagi, jadi Wira menghentikan semua pencarian sesuai permintaan sang istri.
“Maaf, saya lancang menghubungi. Tapi, saya rasa Dara berhak tahu, ini mengenai ibu kandungnya.”
*****
Wira menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk bersisian dengan Dara di kursi penumpang. Pak Jono segera menghidupkan kendaraaan begitu tuan dan nyonyanya sudah berada di dalam.
“Sayang.”
“Iya, Mas,” sahut Dara yang kemudian menoleh menatap suaminya.
“Ada sesuatu yang sangat penting, dan kurasa kamu harus mengetahuinya.” Sorot mata Wira tampak bingung, seperti ada beban yang bergelayut di sana. Sebelumnya Dara pernah mengatakan tak ingin lagi tahu menahu tentang ibu yang sudah membuangnya, tetapi Wira harus tetap menyampaikan kabar ini.
“Ada hal apa?” Dara menatap suaminya penuh tanya.
“Ini tentang ibumu, ibu kandungmu. Aku mendapat kabar dari bibimu bahwa dia menemukan keberadaannya. Sekarang ibumu sakit parah, bibimu mengatakan mungkin sudah tidak ada harapan lagi.” Wira menjelaskan dengan hati-hati agar Dara tak terlampau terkejut.
Dara mematung tak bereaksi, ekspresinya datar. Mendengar kata ibu kandung hanya goresan luka yang terasa di kalbunya, bukan rasa rindu kepada sosok yang telah melahirkannya. Tangannya meremas ujung gaunnya sendiri, mencari kekuatan untuk meredakan rasa perih yang menghimpit sanubarinya.
“Aku hanya menyampaikan. Bagaimanapun juga dia adalah ibumu, mungkin kamu ingin menemuinya selagi ada kesempatan, jangan sampai ada penyesalan nantinya.” Wira melanjutkan kata-katanya sedangkan Dara masih terdiam seribu bahasa.
“Ibumu, dia mengidap kanker rahim, stadium akhir.”