
Pukul sepuluh pagi Aruna kembali siuman. Saat matanya terbuka, ia mendapati Dara yang tidur di sisi ranjang berbantalkan lengan yang bersedekap. Dara terjaga menunggui ibunya hingga pagi menjelang, dan sekitar satu jam lalu dia jatuh tertidur terbuai kantuknya.
Hati Aruna terenyuh haru dihiasi penyesalan yang penuh sesak di dalam kalbu. Angannya berandai-andai, jika waktu dapat diputar kembali maka ia pasti akan lebih memilih berjuang membesarkan anaknya, bukan memuaskan nafsu duniawinya sendiri. Namun, begitulah penyesalan, selalu datang di penghujung tanpa memberi aba-aba.
Dara merasakan belaian lembut dan nyaman di kepalanya. Matanya mengerjap, setelah kesadarannya terkumpul dia melihat wajah lemah ibunya sedang tersenyum menatapnya sambil mengusap kepalanya.
“Bu... syukurlah, akhirnya Ibu bangun.” Dara menegakkan tubuhnya, meraih tangan Aruna dan menempelkan di pipinya. “Aku… aku sangat cemas, akan kupanggil dokter,” ucapnya tersendat di tenggorokan, Dara hendak memencet tombol yang terletak di samping ranjang, tetapi Aruna menahannya.
“Ibu tak apa, Nak. sudah beberapa kali terakhir memang selalu seperti ini, jangan terlalu khawatir. Tak usah memanggil dokter dulu, Ibu sedang ingin menikmati kebersamaan kita,” sahut Aruna menenangkan.
Terdengar suara kenop pintu diputar dan masuklah Wira, satu orang dokter, juga bibinya bersamaan. Bibinya baru selesai mengepak keperluan dari rumah kecil Aruna bersama pelayan, sedangkan Wira sibuk berkoordinasi dengan ayahnya juga para dokter di rumah sakit, mempersiapkan segala sesuatu mengenai pemindahan ibu mertuanya ke rumah sakit di Singapura.
Wira berdiri di belakang kursi yang diduduki Dara, sedangkan si dokter berdiri di sisi lainnya. Dokter dengan sigap segera memeriksa kondisi Aruna ketika melihat pasiennya itu kembali membuka mata. “Kapan Anda bangun Nyonya?” tanyanya setelah selesai mengerjakan tugasnya.
“Baru saja, Dok.”
“Nyonya Aruna, besok pagi Anda akan dipindahkan ke rumah sakit di Singapura untuk mendapat perawatan lanjut dengan fasilitas yang lebih baik di sana. Semua keperluan dan prosedur pemindahan sudah selesai diurus oleh menantu Anda,” jelas di Dokter.
“Iya, Bu. besok pagi kita berangkat,” sahut Wira.
“Semalam kondisi Ibu menurun drastis, rumah sakit menyarankan pengobatan di Singapura dengan peralatan juga fasilitas yang lebih baik di sana. Tak perlu memikirkan apapun, Mas Wira sudah mengurus segala sesuatunya untuk Ibu,” ucap Dara sembari menggenggam tangan Aruna.
Aruna tampak berpikir. Jika dia pergi ke Singapura, maka waktunya bertemu Dara akan semakin sedikit, sedangkan ia sendiri tahu kondisinya seperti apa. Beberapa kali operasi sudah dijalaninya semenjak divonis kanker, ia juga tahu stadium akhir kanker yang diidapnya adalah hal yang sangat sulit disembuhkan.
Keinginan untuk meraih secercah harapan kecil itu memanglah ada, akan tetapi Aruna tidak ingin menghabiskan waktunya yang mungkin tak lama lagi dengan berjauhan dari sang anak yang baru saja kembali berkumpul dengannya, setelah bergelut dengan pemikirannya, Aruna akhirnya memutuskan.
“Ibu sangat bersyukur, mengetahui kamu bersuamikan seseorang seperti Dokter Wira. Suami yang sangat sayang padamu juga bertanggung jawab pada keluarga. Terima kasih Anakku, Nak Wira, atas semua kasih sayang dan perhatian kalian untuk Ibu yang tak pantas sepertiku ini, rasanya sangat membahagiakan. Ibu sangat tahu kondisi tubuh sendiri, dengan segala maaf, Ibu menolak pergi. Biarkan Ibu tetap di sini, saat Tuhan masih memberi waktu untuk bernapas, Ibu ingin menghabiskan setiap detik yang berharga ini dengan berkumpul bersamamu Nak.”
“Jangan begitu Bu. Meski harapannya kecil aku ingin tetap berusaha.” Dara berkata dengan isakan kecil yang kembali terdengar.
“Ibu paham. Ibu sangat berterimakasih padamu, Anakku yang berbakti.” Aruna membelai pipi Dara penuh sayang.
“Dokter, saya ingin meminta satu hal, mulai besok bisakah perawatan dilakukan di rumah saja? diri ini sudah sangat rindu suasana rumah, dan juga saya sudah lelah terlalu lama di sini. Saya ingin tinggal di rumah seperti orang tua lainnya, yang bisa bebas berkumpul dengan anak dan cucunya.”