
Bu Rina kebingungan dan panik, lalu ia pergi ke area dapur memakai salah satu telepon rumah yang terpasang di sana untuk menghubungi Wira di rumah sakit karena situasi di kediamannya saat ini dalam keadaan darurat.
Sudah yang ketiga kalinya Bu Rina menghubungi ponsel Wira, tetapi tak kunjung diangkat. Wanita paruh baya itu terus menekan nomor yang sama sambil sesekali melongok ke arah ruang tengah di mana Ratih masih memaksa Dara untuk membuka cincinnya.
Dipanggilannya yang kelima barulah Wira menjawabnya, Bu Rina menghela napas lega dan meminta Wira untuk segera pulang karena tengah terjadi kekacauan di rumahnya.
"Tuan, tolong segera pulang. Saya tidak bisa mengatasi ini, nyonya besar datang ke rumah dan nyonya muda, nyonya muda_"
"Dara kenapa?" tanya Wira panik.
Ucapan Bu Rina tersendat, tetapi Wira samar-samar mendengar suara jeritan Dara sesaat.
"Baik, aku pulang sekarang. Tolong bantu kendalikan dulu situasi di rumah," pintanya kepada si kepala pelayan itu.
"Akan saya usahakan Tuan, berhati-hatilah di jalan." Bu Rina menaruh gagang telepon tersebut ke tempatnya dan segera kembali ke ruangan tengah.
Ratih menarik paksa cincin itu hingga jari manis Dara lecet dan terasa perih akibat gesekan yang ditimbulkan dari kulit halusnya dengan benda logam tersebut, telinga Ratih seakan tuli dan tak mempedulikan jeritan Dara.
"Tante jangan diambil, tolong kembalikan," mohon Dara dengan Isak tangis yang memilukan.
"Kembalikan kau bilang? jangan harap, aku tak percaya ini milikmu," hardiknya.
"Chelia, kamu geledah juga isi tasnya. Jangan-jangan dia menyembunyikan barang curian lain di dalamnya," perintah Ratih kepada Michelia yang tentu saja disambut dengan senang hati oleh wanita itu.
"Saya bukan pencuri Tante, saya bukan pencuri," pekiknya.
Sementara Michelia membongkar isi tasnya, Ratih memeganginya agar Dara tidak bisa memberontak. "Chelia, bongkar juga dompetnya!"
"Kamu berani berteriak pada calon menantuku? dasar kurang ajar, tidak tahu sopan santun!" Ratih menjambak rambut Dara hingga gadis itu mendongak dan mengaduh kesakitan.
"Nyonya besar tolong lepaskan, jangan seperti ini," mohon Bu Rina dengan sangat karena tidak tega melihat Dara diperlakukan seperti itu.
"Diamlah dan jangan ikut campur! Ingatlah posisimu, kamu tidak punya hak apapun untuk melarangku," bentaknya kepada Bu Rina.
Michelia membuat isi tas itu berserakan, ia juga membuka dompet Dara dan mengeluarkan platinum card yang pernah diberikan Wira kepada Dara. Lalu Michelia menemukan amplop berwarna putih dengan logo rumah sakit serta gambar ibu dan anak di bagian luarnya.
"Jangan sentuh! Jauhkan tanganmu dari amplop itu." Dara kembali berteriak, tetapi kini dengan nada yang meninggi.
"Diam kamu! masih berani berteriak rupanya, kamu bilang tidak mencuri apapun? tetapi platinum card itu bisa dijadikan sebagai tambahan bukti karena hanya orang-orang penting yang memilikinya bukan orang dari kalangan biasa sepertimu." Ratih makin kencang mencengkeram pergelangan tangan Dara dan juga jambakkannya di rambut gadis itu.
"Memangnya kenapa? aku jadi penasaran dengan isinya." Michelia melemparkan tatapan mengejek kepada Dara sambil mengibas-ngibaskan amplop tersebut.
Michelia membuka amplop putih itu dan membaca tulisan yang tertera di dalamnya. Wanita itu menyeringai dengan ekspresi mencela ke arah Dara, kemudian memperlihatkan isi tulisannya kepada Ratih.
"Bacalah Tante, selain mencuri ternyata gadis muda ini juga tidak bermoral. Dia hamil, pasti karena terpengaruh pergaulan bebas di luaran sana." Michelia makin bersemangat karena menemukan tambahan bahan bakar untuk memprovokasi Ratih.
"Benar-benar tidak bisa dipercaya. Aku heran kenapa Wira masih membiarkanmu berada di sekitarnya padahal kamu hanyalah mantan adik iparnya, aku semakin khawatir kamu akan membawa pengaruh buruk terhadap reputasi putraku. Bu Rina, kemasi barang-barangnya dan usir gadis tak bermoral ini dari sini!" Ratih berbicara dengan berapi-api.
"Tidak ada yang boleh mengusir Dara dari sini! Ini adalah rumahku dan hanya perintahku yang harus dipatuhi!" Seru Wira sengit. Ia sudah berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan ekspresi wajah menggelap.
Ketika mendengar suara pria itu Dara langsung menolehkan kepalanya, tempat berlindungnya sudah datang. Inginnya dia menghambur ke pelukan Wira, tetapi Ratih masih mencengkeram tangannya dengan kencang. Air matanya berderai membasahi wajah cantiknya dan bibirnya yang gemetar kemudian terbuka berusaha mengucapkan satu kata meskipun tenggorokannya tercekat.
"Mas...."