
.Author note.
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis๐.
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.
Terima kasih, selamat membaca ๐
With Love,
Senjahari_ID24
*****
Dara melangkah dengan riang sudah tak sabar ingin segera menyambut belahan jiwanya. Begitu sampai di ambang pintu keluar, tampaklah sang suami tercinta yang baru saja menutupkan pintu mobil dan berjalan mendekatinya sambil mengulas senyum meskipun wajah tampannya terlihat lelah.
"Selamat datang di rumah Papa," sambutnya hangat yang dibalas rangkulan serta kecupan sayang di pelipis Dara dari pria yang kini beraroma desinfektan bercampur parfum mahalnya.
"Aku rindu," desah Wira parau.
"Ughh... manjanya suamiku ini. Mas pasti lelah kan? Akan kusiapkan air hangat untuk berendam. Tapi tunggu sebentar ya, aku mau menumbuk obat dari Dokter Raisa yang akan kuminum," ucapnya.
"Sini mana obatnya, biar aku saja." Wira menyodorkan telapak tangannya.
"Mas baru saja tiba di rumah, aku tak sampai hati membiarkan suamiku yang kelelahan bekerja seharian masih harus menyiapkan obat untukku. Mas ke kamar duluan saja ya," ujarnya sembari membelai halus rahang kokoh Wira.
Biasanya setiap kali Dara hendak meminum obat tablet, Wira lah yang menumbukan obatnya.
"Begini saja. Sementara kamu menyiapkan air mandi untukku akan kusiapkan obat untukmu, lagipula aku lebih paham cara menghaluskannya."
Wira juga sebetulnya ingin melarang Dara menyiapkan air mandi untuknya karena khawatir istrinya yang sedang hamil itu kelelahan, tetapi kalau menolak maka istri cantiknya pasti akan merajuk jika tak diizinkan melayaninya karena Dara selalu mengatakan ingin belajar menjadi istri yang berbakti untuknya.
"Baiklah, ini obatnya Mas." Dara menyerahkan dua butir obat dari genggamannya, kemudian mengambil alih tas kerja beserta jas putih dari tangan Wira dan masuk ke kamar utama untuk menyiapkan keperluan mandi.
Wira pergi ke ruang makan dan mengambil mortar yang disimpannnya di laci meja kecil dekat dispenser. Ia meletakkan benda tersebut di atas meja kemudian menaruh obat yang hendak ditumbuk ke dalamnya.
Setahunya, tidak ada obat pereda mual muntah yang penampilan fisiknya semacam itu. Karena penasaran kemudian Wira mengangkat mangkuk mortar hingga ke depan wajahnya.
Wira mengamati obat tersebut dengan seksama, lalu beberapa saat kemudian matanya membelalak diiringi mangkuk mortar yang jatuh ke lantai hingga pecah membuat Bu Rina yang sedang berada di dapur datang tergopoh-gopoh begitu mendengar bunyi barang yang terjatuh.
"Tuan, ada apa?" tanyanya terkejut.
Bukannya menjawab, Wira malah berlari ke kamarnya seperti orang kesetanan dan menuju kamar mandi dengan wajah pucat pasi.
"Dara... Dara! Sayang...." teriak Wira memanggil-manggil sambil berlarian
Dara segera keluar dari kamar mandi karena teriakan dan suara derap langkah Wira yang luar biasa ribut.
"Ada apa Mas?"
Begitu melihat istrinya, Wira makin merangsek dan merengkuhnya erat ke dalam pelukannya dengan tubuh gemetaran disertai dada yang tersengal naik turun.
Dara menepuk-nepuk punggung Wira dengan lembut walaupun sejujurnya ia terkejut dan keheranan karena suaminya tiba-tiba seperti ini. "Mas kenapa hmm?"
Wira sedikit mengurai pelukannya masih dengan sekujur tubuh yang terasa lemas bahkan hampir ambruk ke lantai.
"Apakah tadi siang kamu meminum obatnya?" tanya Wira sarat akan kecemasan dan keputusan asaan yang kentara dari suara serta sorot matanya sambil sesekali menelan ludahnya.
"Aku... tadi siang aku lupa meminumnya. Mas marah ya karena aku tidak meminum vitamin dan obatku dengan teratur."
Dara memelas, tetapi justru Wira mengembuskan napas lega yang tadi sempat tertahan nyaris tak bisa menghela. Dihujaninya istri tercinta dengan kecupan di seluruh wajah cantiknya kemudian kembali merengkuhnya.
"Syukurlah sayang! Syukurlah!" ucap Wira dengan nada lega bercampur berbagai macam luapan emosi yang menyesakan dada nyaris hampir menangis.
Jiwanya mengerang menahan sakit akan bayangan hal buruk di benaknya. Andai Dara meminum obat peluruh dosis tinggi itu maka bukan hanya bayinya tetapi juga nyawa ibu si bayi ikut terancam bahaya.
*****