
Setelah mengembalikan kunci ruangan balet kepada Bu Rina, Dara kembali ke kamar dan duduk di sofa empuk berbentuk melengkung berwarna coklat tua yang terdapat di dalam kamar. Ia memperhatikan sampul buku harian itu, dibukanya selembar demi selembar dan dibacanya isi dari buku tersebut. Isinya tentang ungkapan cinta dan juga berbagai kenangan antara Almira bersama seorang pria yang bernama Giovani.
Dara juga memperhatikan tanggal yang tertera di buku yang mulai lusuh tersebut, semua yang tertuang di dalamnya telah terjadi sudah sangatlah lama. Ia mulai menebak bahwa Almira dan pria ini tengah berpacaran saat itu. Namun, Dara mengernyitkan dahinya saat kembali membaca nama yang tertulis di dalam buku tersebut, Giovani? Gadis itu merasa pernah mendengarnya beberapa waktu kebelakang, tetapi ia lupa pernah mendengar nama itu di mana.
Gadis itu kembali memperhatikan tulisan di belakang foto yang satu bertuliskan my first love, tetapi yang paling membuatnya bertanya-tanya adalah tulisan di foto yang satunya lagi, foto yang asalnya tertempel di kaset balet favorit Almira.
Musik ini adalah irama diriku dan dirimu, yang akan selalu mengalun kukenang seumur hidupku.
Si cantik berkulit pucat itu mulai tercengang, ia pernah mendengar nama itu di rumah sakit saat hari kecelakaan terjadi, dan hatinya bertanya-tanya, apakah maksud dari tulisan Almira adalah selama ini dia selalu mengenang dan merindukan pria bernama Giovani itu meskipun dia telah bersuami?
Diambilnya ponselnya yang tergeletak di meja, Dara menghubungi Fatih dan meminta waktu bertemu untuk bertanya tentang sesuatu, ia bermaksud hendak bertanya secara terperinci tentang kecelakaan yang dialami mendiang Almira karena hingga saat ini Wira seperti enggan membuka percakapan tentang hal itu.
"Iya Mbak Dara, ada apa? maaf, saat ini dokter Wira masih ada rapat penting dengan dewan direksi rumah sakit," jawab Fatih dari seberang sana.
"Aku tidak sedang mencari mas Wira, aku hanya ingin meminta waktu untuk bertemu denganmu berdua saja. Ada hal penting yang ingin kubicarakan, sangat penting," pinta Dara.
"Eh, be-berdua saja, memangnya sepenting a-apa?" sahut pemuda itu tergagap.
"Aku mohon, ini sangat penting." Nada bicara Dara memelas namun memaksa.
"Oke, terima kasih. Tolong jangan sampai Mas Wira tahu tentang hal ini, aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir," ujar Dara.
"Ba-baik Mbak Dara," sahut Fatih yang terus-menerus tergagap di seberang sana.
Dara menyudahi panggilannya, ia memasukkan foto dan buku harian itu ke dalam tas cangklong yang sering dibawanya, berharap pertemuannya dengan Fatih nanti bisa menjawab segala pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.
*****
Pukul sepuluh tiga puluh malam Wira baru sampai di kediamannya dan langsung bergegas menuju kamarnya. Saat pintu kamar terbuka bersamaan dengan Dara yang menoleh ke arah pintu, Dara masih terjaga karena mengerjakan tugas kuliahnya yang menumpuk selama beberapa hari terakhir.
Wira melangkah masuk dengan wajah lelahnya, tetapi tak mengurangi sedikitpun ketampanan yang melekat padanya, Dara beranjak dari duduknya dan menghampiri Wira.
"Selamat datang Mas," ucapnya dengan senyuman cantik yang mengembang diwajahnya.
Wira merangkul Dara ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya penuh sayang.