
Mas WIra,” panggilnya lemah.
Embusan napas lega terdengar begitu nyaring di udara, tubuh tinggi itu berbalik badan, melangkah lebar menuju ranjang dengan si buah hati dalam rengkuhan amannya kala melihat istri tercintanya membuka mata dan memanggilnya.
“Sayang… aku rindu, aku sangat merindukanmu,” desah Wira serak. Ia meletakkan bayi mungilnya dengan hati-hati di sisi tubuh Dara kemudian mengecupi wajah cantik Dara penuh cinta sarat akan kerinduan.
“Terima kasih, terima kasih telah melahirkan Anakku ke dunia." Ucapan Wira tersendat tercekat di tenggorokan. Rasa lega membanjiri memenuhi seluruh dirinya, sesak tak berujung yang tadi merantainya kini terurai sudah.
Dara masih mengumpulkan kesadarannya, tertidur terlalu lama membuat kepalanya terasa berat juga pandangannya sedikit berkunang-kunang. Kemudian suara tangisan mengalihkan perhatiannya. Dara memiringkan kepala, menatap buah hatinya yang menangis tergolek di sisi tubuhnya dekat lengannya.
Rasa haru menyeruak bergejolak di kalbunya, diiringi kristal bening yang meluruh dari sudut matanya. Rasa tak nyaman yang dirasakan tubuhnya menguap seketika entah kemana. Takkan ada untaian kalimat indah manapun yang dapat mewakilkan dan menandingi rasa bahagia yang menyerbu dan memenuhi relung hatinya, tatkala makhluk mungil bagian dari dirinya yang hampir saja terenggut darinya nyata berada di dekatnya
“Sayang… sayang,” panggil Dara pada bayi merah yang menangis itu. “Jangan menangis sayang… ini Mama, Nak."
Wira hendak melangkah keluar untuk memberitahu Raisa bahwa Dara sudah siuman, tetapi Dara menahannya.
“Mas, aku ingin menggendongnya,” pinta Dara.
“Kamu baru saja siuman, tubuhmu pasti masih lemah. Sebaiknya berbaring saja, aku akan memanggil Raisa untuk memeriksa kondisimu” sahut wira lembut.
“Aku kuat, aku sangat kuat. Tolong atur ranjangku agar aku bisa bersandar agak tegak sedikit, kasihan Anak kita menangis,” pintanya dengan sorot mata memohon.
Permintaan Dara segera dituruti, Wira mengambil remot kontrol dan mengatur ranjang sesuai permintaan Dara. Meraup dengan hati-hati tubuh mungil sang buah hati dan memberikannya ke pangkuan istri tercinta.
Dara memperhatikan dengan saksama si kecil di dekapannya, luapan rasa cinta menyeruak, mendorongnya menghadiahkan kecupan sayang kepada buah hatinya.
"Dia sangat mirip denganmu, Mas," Dara mengerucutkan bibir dengan mata memicing merajuk.
"Tentu saja dia mirip denganku, karena aku sering menjenguknya," godanya mesum.
"Haish... padahal aku yang membawanya ke sana kemari di dalam perutku, tapi wajahnya sebagian besar serupa denganmu," protesnya membuat Wira tergelak.
"Nanti kita bisa membuatnya lagi, yang mirip denganmu." Wira terkekeh pelan.
Si mungil di dekapannya mengerjap menggeliat menyedot perhatian Dara, dan secara alamiah mulutnya membuka dengan posisi memiringkan kepalanya sendiri bergerak-gerak ke dada Dara seolah mencari-cari sesuatu.
Naluri seorang ibu secara otomatis mengerti apa yang diinginkan anaknya. Ikatan antara ibu dan anak yang terbentuk secara alamiah di antara mereka membuat si ibu mampu memahami keinginan anaknya meskipun sang anak belum bisa berbicara.
“Sepertinya, sepertinya dia lapar. Bolehkah aku menyusuinya?” Dara bertanya kepada Wira. "Mungkin itulah penyebabnya menangis kencang tadi."
“Sebentar kupanggilkan Raisa juga dokter Anak, mereka sedang menunggu di luar.” Dengan sigap Wira bangkit dari duduknya dan berlari menuju pintu.
“Cepatlah Mas, jangan membiarkan putri kita menunggu lama,” ucap Dara sedikit berteriak antusias dengan tatapan berlumur sukacita.