You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 84



Selama cuti tiga hari tersebut, lebih banyak waktu yang mereka habiskan untuk menyatu berulang kali, Wira mengurung Dara di dalam kamar agar bisa terus-menerus memilikinya setiap kali ada kesempatan. Kegiatan selama tiga hari itu hanyalah bercinta, tidur, makan dan bercinta lagi.


Saking seringnya mereka melebur, bahkan Dara sudah mulai pandai bagaimana caranya untuk balas memesrai suaminya di atas ranjang, keduanya sudah saling memahami tubuh pasangannya masing-masing dan bagian mana yang harus dieksplor ketika kegiatan penuh gelora itu berlangsung.


*****


Pagi ini adalah hari di mana Dara harus kembali masuk ke kampus, ia tengah mengeringkan rambutnya di depan cermin. Wira yang sudah berpakaian rapi datang menghampiri, memeluknya dari belakang dan mengecup pundak telanjangnya, lalu ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Dara dan menghirup aroma manis memabukkan yang menguar dari tubuh mungil itu dengan rakus.


"Kenapa tiga hari berlalu begitu cepat, aku masih ingin terus menerus berada didekatmu, bagaimana kalau kita menambah waktu cutiku dan juga membolosmu?" gumam Wira dengan mata terpejam.


Dara terkekeh, tangannya bergerak menyentuh kepala Wira dan mengangsurkan jemarinya di rambut hitam legam itu. "Mas juga harus bekerja bukan? lagipula tugas kampusku pasti sudah menumpuk. Kita hanya berpisah setengah hari saja."


"Oh iya hampir saja aku lupa, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu." Wira menarik pergelangan tangan Dara untuk duduk di sofa yang terdapat di dalam kamar besar itu.


"Ada apa Mas?"


Wira meraih tangan Dara, merogoh sakunya dan menyematkan cincin pernikahan yang dibelinya waktu itu di jari manis Dara, lalu mengecup mesra jemari tersebut.


"Aku sempat terlupa, maaf jika ini terlambat. Di dalamnya tertulis namaku, sama seperti yang kupakai ini, di bagian dalamnya terukir namamu. Agar kamu selalu ingat bahwa kamu adalah milikku, istriku." Wira menunjukkan cincin di jari manisnya.


Dara tersenyum merekah dengan cantiknya dan secara spontan memeluk Wira karena rasa haru dan juga bahagia yang memenuhi relung hatinya.


"Tentu saja, aku akan selalu mengingatnya. Aku mencintaimu Mas," ucapnya tulus penuh perasaan di sela-sela pelukannya.


Wira balas memeluk dan menggumamkan kalimat yang sama. "Aku juga mencintaimu, sayang."


*****


Mobil mewah berwarna hitam edisi terbatas itu berhenti di pelataran parkir kampus Dara, mulai hari ini Wira memutuskan jika tidak ada hal mendesak maka dia sendiri yang akan mengantar jemput Dara setiap harinya.


"Kenapa Mas?" tanya Dara.


"Berikan aku semangat pagi, aku masih merasa tidak rela untuk berpisah denganmu walau hanya sebentar saja," desahnya.


"Bagaimana caranya aku menyemangati? Mas kenapa jadi kayak anak kecil sih." Dara tergelak dan tersenyum mengejek.


"Aku begini juga karenamu, aku tak peduli, pokoknya aku ingin semangat pagi darimu sayang." Wira setengah merajuk.


"Baiklah, bagaimana caranya?" tanya Dara polos.


"Cium aku," pintanya.


"Ini tempat parkir, bagaimana kalau ada yang melihat," seru Dara dengan mata melotot.


"Biarkan saja mereka melihat, aku tidak akan membukakan pintu kalau kamu belum menciumku." Wira mengunci pintu mobil canggihnya secara permanen dan kunci tersebut hanya bisa dibuka olehnya.


Dara berdecak, lambat laun dia mulai mengetahui sifat asli Wira, pria itu ternyata sangat manja padahal usianya sudah matang. Dara akhirnya menyerah dan mendaratkan kecupannya di bibir suaminya itu, namun Wira malah menahan tengkuknya dan yang terjadi bukanlah kecupan, tetapi ciuman panas yang melumatkan bibir ranumnya.


Setelah hampir kehabisan napas barulah Wira melepaskan pertautan bibirnya sambil tersenyum senang.


"Hih... Mas ini, bagaimana kalau ada yang melihat." Dara memukul pelan dada Wira.


"Maaf sayang, tapi kamu itu terlalu menggiurkan," sahutnya dengan tatapan mesum membuat semburat merah menghiasi wajah cantik Dara.


"Haish untung cinta. Ya sudah, aku turun dulu ya Mas, kelas sudah hampir di mulai." Dara segera turun, melambaikan tangannya dan bergegas memasuki gedung perkuliahan.


Wira kembali melajukan mobilnya dengan senyuman yang tak henti hentinya menghiasi wajah tampannya, sepertinya secara perlahan ia mulai melupakan segala luka yang ada di hatinya berkat si obat mujarab yang kini dicintainya.