
Di keheningan malam, Wira mengguyur dirinya untuk sekadar menyegarkan tubuh serta mendinginkan kepalanya supaya bisa berpikir jernih tentang langkah selanjutnya agar tidak keliru dalam menyikapinya.
Besok pagi dia memutuskan akan bertemu dengan ayahnya secara diam-diam untuk membahas perihal niat tersembunyi ibunya. Wira baru akan menemui sang ibu secara langsung setelah mengumpulkan bukti-bukti kebusukan Michelia agar mata Ratih terbuka lebar tentang siapa sebenarnya wanita yang digadang-gadang sebagai menantu idamannya.
Sudah satu jam lebih Ia berdiri di bawah guyuran shower air dingin. Bahkan permukaan telapak jemarinya sudah mengkerut kedinginan akibat terlalu lama membiarkan sapuan air menyapa kulitnya.
Setelah hampir mengigil barulah Wira menyudahi mandinya dan memakai bathrobe. Ia merebahkan diri kemudian ikut bergabung masuk ke dalam selimut dan bergelung di sana memeluk tubuh Dara yang membelakanginya. Pria tampan itu menenggelamkan wajahnya di keharuman rambut istrinya menghidu aroma tubuh mungil itu sedalam-dalamnya.
Tangannya mengusap-usap perut Dara yang memang belum membuncit tetapi sekarang terasa padat dan kencang karena ada si jabang bayi yang berjuang untuk bertumbuh di dalam sana. Pergerakan tangan Wira mengusik tidur lelap Dara, matanya mengerjap masih dalam kantuk yang menguasainya. Ia menaruh tangannya di atas punggung tangan Wira yang mengusap-usap perutnya.
"Ah, rupanya aku ketiduran selagi menunggu Mas pulang. Mungkin karena tadi makanku bersama Freya terlalu banyak jadi aku ngantuk banget," ucapnya yang kemudian menguap masih dalam posisi membelakangi Wira.
"Maaf jadi membangunkanmu. Aku tak tahan ingin menyapa anak istriku sebelum tidur. Aku sangat merindukanmu dan juga bayi kita." Wira makin mengeratkan pelukannya dan mengecup pelipis Dara penuh sayang.
Dara tertawa kecil. "Mas kan jauh dariku cuma beberapa jam saja, masa udah kangen lagi?" tanyanya.
"Aku selalu merindukanmu. Bahkan saat memelukmu seperti ini pun rasa rinduku masih menggunung tak berkurang sedikitpun," desahnya lirih dengan suara parau.
Dara merasa agak aneh dengan nada bicara suaminya. Ia membalikkan tubuhnya perlahan untuk melihat ekspresi suaminya.
"Ada apa hmm?" Dara menangkupkan kedua telapak tangannya di sisi wajah tampan yang tampak sendu tak seperti biasanya dan menatap lamat-lamat ke dalam mata suaminya.
"Aku berharap kita selalu bersama seperti ini. Aku membutuhkan kalian di sisiku, selamanya." Terdengar gejolak kekhawatiran dalam nada bicaranya.
Dara tersenyum di tengah kegalauan hatinya, tetapi jujur saja kehadiran Wira yang selalu berada didekatnya itulah kekuatan terbesarnya.
"Tentu saja, kita akan selalu bersama. Mas, aku dan bayi kita. Ayo kita tidur, ini sudah malam. Mas juga harus beristirahat."
Wira mengangguk. Dara merangkulnya ke dalam pelukannya dan Wira balas memeluknya dengan erat seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya. Ia dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang menganggu pikiran suaminya sama seperti yang dirasakannya saat ini. Tetapi, tentang apa penyebabnya Dara juga tak tahu pasti.
Lantas, tentang saran Freya untuk bicara jujur kepada Wira haruskah ia lakukan secepatnya? Melihat kini kondisi suaminya yang tampak tidak baik-baik saja sepertinya bukan waktu yang tepat.
"Tidurlah Mas," ucap Dara disusul kecupan sayang di puncak kepala Wira yang menenggelamkan diri di dadanya.