You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bab 15



Aku pernah bertanya pada diriku, apakah aku menolak atau menerima kemunculan orang tua kandungku. Jika mereka bukan keluarga yang sangat miskin, apakah aku akan berusaha sekuat tenaga seperti sekarang untuk terlepas dari mereka?


Harus diakui, sebenarnya aku tidak mulia, sehingga ketika Yanti berlari padaku dengan tak berdaya dan mengatakan Herman sudah mati, aku malah mengkhawatirkan pandangan Cindy terhadapku.


Di saat ini juga, aku mengenali hatiku yang keji. Sebelumnya, aku yakin dalam hati bahwa Vivi adalah gadis licik yang matre. Lalu aku? Bukankah juga begitu?


Ketika sampai di depanku, poni Yanti terlihat basah, matanya merah, dan wajahnya pucat. Dia yang dulunya gagah perkasa, kini terlihat sepenuhnya berada di titik lemahnya.


Saat aku berlari keluar dari rumah dan sampai di depan pintu garasi, Herman sudah berbaring tak bergerak di dalam.


Herman sudah mati, mati tanpa alasan jelas.


Cindy berdiri di belakangku, jelas lebih kaget daripada aku. Vivi memasang muka kaget dan tersakiti, dia menyiratkan sesuatu, “Kak Wenny, apa ayahmu benar-benar mati? Mati di garasi keluarga kami?”


Aku tidak bisa berkata-kata, badanku berangsur-angsur menjadi kaku. Yanti menarik lengangku, “Panggil ambulans, selamatkan suamiku, kumohon…” Yanti berlutut di lantai dan mengetukkan kepala, mengeluh atas ketidakadilan Tuhan padanya, mengeluh atas nyawa Herman yang pendek.


Aku tahu diselamatkan atau tidak...kini sudah tidak ada gunanya lagi, karena dia sudah mati, tidak ada yang tahu penyebab spesifik dari kematiannya.


Cindy mundur dua langkah dan berkata padaku, “Wenny, pernikahanmu dengan Jerry ditunda sementara, aku pergi dulu.”


Cindy meninggalkan tempat sial ini dengan jijik.


Aku memasuki garasi untuk menengok Herman. Dia tidak mati dengan tenang, kebengisan di wajahnya seakan memiliki harapan yang belum terpenuhi.


Mobil ambulans datang dan berkata bahwa mereka tidak akan mengangkut orang mati.


Mayat di garasi pun tergeletak begitu saja. Yanti berlutut di depan pintu, melihat mayat Herman dengan tatapan kosong, rambutnya berantakan, dia tidak mengatakan sepatah kata pun, seperti berubah menjadi orang yang berbeda.


Tiba-tiba aku memahami rasa cinta Yanti kepada Herman. Sebelumnya aku mengira, Herman hanya Yanti gunakan sebagai alasan untuk memeras uang. Setelah kini dilihat kembali, Yanti sebenarnya adalah wanita yang dapat hidup dalam keadaan apapun, dia dapat merasa cukup hanya dengan sesuap nasi. Dia hanya perlu berlagak seperti preman jika ingin memeras uang, tidak perlu membawa Herman bepergian jauh-jauh. Mengapa Yanti meminta uang tanpa menghiraukan apapun, bukankah hanya karena suaminya yang lumpuh?


Aku sudah memahami segalanya, tetapi tidak tahu apa penyebab kematian Herman.


Kemiri jatuh ke pangkalnya. Aku menghubungi mobil jenazah untuk membawa mayat Herman pulang ke desa.


Yanti tidak membuat onar dalam keseluruhan proses, dia menyalahkan dirinya. Jika bukan karena dirinya yang gegabah membawa Herman ke kota di tengah malam, Herman juga tidak akan menghembuskan napas terakhirnya. Tetapi, aku selalu merasa keadaannya tidak sesederhana itu.


Aku menghubungi temanku dan memintanya untuk menyelidiki penyebab kematian Herman, entah otopsi atau cara lain, harus ditemukan penyebabnya.


Ibu menelepon setelah mendengar kabar permasalahan ini, dia menyalahkan aku karena tidak seharusnya membiarkan Yanti masuk ke rumah, semua ini terjadi karena kelunakan hatiku. Aku tidak bisa membantah, hanya bisa mendengar teguran dari ujung telepon sebelah sana.


Ibu berkata akan sebisa mungkin merahasiakannya dari Ayah, lalu menyuruhku segera menyelesaikan urusan di rumah.


Pandanganku tertuju padanya, “Mengapa kamu tidak sedih sedikit pun? Dia juga Ayah yang membesarkanmu.”


Vivi memiringkan kepala dan tersenyum sambil memegangi gelas jus, “Lalu, apa kamu sedih?” Kemudian, Vivi berdiri dan naik ke lantai atas, kembali ke kamarnya.


Aku pergi ke toilet lantai satu. Tante Rani sedang membersihkan toilet, aku menarik lengannya, “Tante, ada yang ingin aku tanyakan.”


Barulah diketahui setelah ditanyakan, Tante Rani berpapasan dengan Vivi yang selesai lari pagi saat mengantarkan sarapan ke garasi hari ini. Vivi mengambil inisiatif untuk mengantarkanya, maka Tante Rani memberikan nampan padanya, lalu pergi ke halaman depan untuk menyirami bunga di taman. Saat tengah menyirami bunga, Tante Rani melihat Yanti sedang membasuh wajah beserta tangan dan kaki di kolam di taman. Tante Rani pun mencegahnya, tetapi Yanti sama sekali tidak mendengarnya.


Oleh karena itu, hanya ada Vivi dan Herman di garasi ketika Herman meninggal, sarapan tadi pagi juga kebetulan dibawakan oleh Vivi.


Aku segera pergi mengecek rekaman CCTV, kupikir Vivi seharusnya tidak tahu telah dipasang CCTV di garasi rumah.


Rekaman CCTV menunjukkan, Vivi memasuki garasi sambil membawa nampan, menyuapi Herman makan, bahkan berbisik di telinganya. Bisikannya tidak terdengar di rekaman, tetapi segera, wajah Herman menjadi pucat, dia mendekap dada dengan erat dan badannya bergetar dahsyat. Vivi terkejut dan berlari keluar dari garasi. Dalam waktu kurang dari tiga menit, badan Herman sudah kaku total.


Melihat bukti rekaman yang mutlak ini, aku mencabut kartu memori dan berlari ke kamar Vivi dengan badan bergemetar. Aku menendang pintunya dan berteriak marah, “Kamu pembunuhnya! Kamu yang bunuh dia! Vivi, apa kamu sudah gila?”


Vivi yang di kamar pun terkejut, dia melepaskan masker kecantikan di wajahnya dan melihatku dengan heran, “Apa yang kamu bicarakan…”


Aku mengangkat kartu memori di tanganku, “Jangan bohong, kamu yang bunuh Herman. Kamu mengutak-atik sarapan itu, kan?” Aku menarik pergelangan tangannya, “Ikut aku ke kantor polisi, kamu jelaskan saja dengan polisi.”


Vivi meronta sekuat tenaga dan terkekeh, “Kamu sedang membicarakan omong kosong apa? Aku bunuh orang? Apa aku terlihat seperti berani membunuh orang?”


Aku berteriak kehilangan kendali, “Ada CCTV di garasi! Semuanya sudah terekam!”


Tatapan Vivi sedikit menghindar, kupikir dia seharusnya kaget akan keberadaan CCTV, tidak menyangka ada CCTV di semua sudut di luar rumah.


Vivi terdiam sejenak, lalu dia berkata dengan acuh tak acuh, “Aku tidak mengutak-atik sarapan, aku juga tidak membunuh orang. Kamu punya rekaman CCTV, kan? Kalau begitu kamu lihat baik-baik, apakah aku terlihat menggunakan pisau atau pistol di rekaman itu?”


Tiba-tiba hatiku lesu karena sikap Vivi yang tenang dan tak takut. Vivi sangat tenang, saking tenangnya sampai terlihat seperti tidak berbohong sama sekali. Jika Vivi tidak memberi racun, maka rekaman CCTV tidak cukup untuk membuktikan dia telah membunuh orang. Sementara diracuni atau tidak, permasalahan itu harus menunggu hasil otopsi.


Vivi tersenyum percaya diri, “Lakukan otopsi saja jika tidak percaya.”


Ucapannya semakin membuatku gugup, seakan aku dipermainkan olehnya saat ini.


Vivi berjalan dua langkah ke arahku, suaranya terdengar di sisi telinga, “Terserah kamu percaya atau tidak, tetapi sekarang harusnya kamu senang. Herman sudah mati, lawanmu pun berkurang satu.”


Aku melihat matanya dengan tidak percaya, “Itu ayahmu.”


Vivi menggelengkan kepala, “Bukan, itu ayahmu.”