
Wira menanamkan bibirnya dalam-dalam, memagut bibir lembut memabukkan yang menyihirnya itu tanpa jeda seolah menumpahkan sejuta rasa. Dia dengan piawai mulai memantik gelora Dara yang baru saja menyala, seolah sengaja melemparkan bahan bakar ke dalamnya agar api itu semakin berkobar.
Direbahkannya tubuh mungil itu dengan bibir yang masih saling bertautan. Sejenak Wira menjeda ciumannya, napas mereka tersengal disertai dada yang naik turun. Dara terengah, matanya masih terpejam dengan wajah yang mulai merah merona, dan hal itu membuat Wira ingin menerkamnya bulat-bulat saat ini juga.
Tangan Wira terulur ke saklar lampu utama kamar yang ada di kepala ranjang dan mematikannya, menyisakan pencahayaan remang-remang yang berasal dari lampu tidur di sisi kanan dan kiri ranjang besar tersebut.
Punggung tangannya membelai lembut sisi wajah Dara, membuat gadis itu semakin terlena saat merasakan sentuhan bak sengatan listrik yang menyentuh permukaan kulitnya.
Wira kembali menunduk dan menciumi wajah Dara dengan lembut, mulai dari kening, kedua kelopak mata, hidung bangirnya, lalu kembali memagut bibir yang sedikit terbuka itu dan berlama-lama di sana, ia semakin mendesakkan dirinya yang mulai terbakar gairah.
Dara semakin terbuai, sekujur tubuhnya melemas. Dirinya merasa seperti diajak terbang ke awang-awang, ditemani jutaan kupu-kupu yang beterbangan mengerumuninya saat merasakan hal baru yang kini dialaminya. Lalu, nalurinya menuntun untuk balas menyesap bibir yang sedari tadi mencicipi bibirnya.
Masih dengan gerakan malu-malu, bibir ranum itu membalas dengan rasa yang sama, membuat Wira tersenyum senang di sela-sela pagutannya dan gairahnya semakin naik merayap dengan pasti.
Ia mulai mengangsurkan bibirnya menuruni leher Dara, membubuhkan jejak-jejak mesranya hingga bertebaran, membuat gadis itu mengigit bibirnya menahan erangan yang ingin keluar dari sana.
Perlahan, tangan Wira bergerak turun melepaskan ikatan bathrobe Dara yang sedari tadi melambai-lambai mengejeknya, gadis itu menggunakan bathrobe tanpa dalaman apapun karena semua pakaian gantinya masih berada di bagasi mobil. Dara yang sudah sepenuhnya tersulut bahkan tidak menyadari jika sekarang tak ada sehelai benangpun yang melekat ditubuhnya.
"Sayang, lihatlah aku baik-baik jangan memalingkan wajahmu," bisiknya mesra ke telinga Dara dengan hasrat yang tertahan.
Dara berusaha memberanikan Diri menatap wajah tampan yang berada tepat di atasnya. Wira meraih tangan Dara, menautkan jemarinya dan mengecup punggung tangannya, kemudian kembali menatap mata indah yang ada di hadapannya.
"Apakah kamu takut?" tanya Wira lembut penuh pemakluman.
"Se-sedikit," sahutnya pelan diiringi anggukan tipis.
"Ingatlah, aku adalah suamimu, pria yang berhak atas dirimu, jiwa dan ragamu. Satu-satunya pria yang sah untuk memesraimu dan juga menggaulimu. Jadi, janganlah takut dan jadilah istriku yang sesungguhnya. Apa kamu tidak percaya padaku?"
"A-aku percaya...." Entah kenapa Dara menyahut secara refleks dan mengucapkan kata-kata seperti itu tanpa di suruh.
Wajah tampan Wira dihiasi senyum penuh kasih sayang yang menyejukkan hati, membuat rasa takut Dara sirna menguap entah kemana. Dengan sepenuh hati gadis itu memasrahkan dirinya pada pria yang telah menjadi suaminya dan membebaskan Wira menyentuhnya lebih dalam lagi.