You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 122



Si cantik berkulit pucat itu memasuki kelasnya. Kegiatan pembelajaran belum dimulai, masih ada sekitar setengah jam lagi hingga waktunya tiba. Sambil menunggu, Dara membuka tas cangklongnya bermaksud mengambil ponselnya untuk menghilangkan rasa bosan. Ia mencari-cari di dalamnya tetapi tak kunjung menemukannya, setelah diingat-ingat kembali sepertinya ponselnya tertinggal di dalam mobil.


Dara bergegas menyusul Wira hendak meminjam kunci mobil untuk mengambil gawainya yang tertinggal. Ia pergi ke ruangan kepala universitas karena tadi suaminya berkata akan mengunjungi ruangan rektor terlebih dahulu. Sesampainya di sana Dara disambut dengan hangat. Ia sebetulnya merasa agak aneh dan risih karena pria paruh baya itu mendadak memperlakukannya dengan begitu ramah dan manis, padahal biasanya kepala universitas terkenal galak dan juga tegas.


"Selamat atas kehamilanmu. Maaf karena terlambat mengetahui jika ternyata menantu keluarga Aryasatya menuntut ilmu di sini," ucap pria paruh baya itu ramah.


"Ahahaha... bukan masalah Pak. Te-terima kasih atas ucapan selamatnya," sahut Dara canggung. "Maaf, apakah suami saya masih ada di sini? tadi dia mengatakan hendak menemui Bapak?" tanya Dara kemudian.


"Oh iya... tadi dia memang ke sini. Mungkin sekarang sedang menemui dosen pembimbingmu," jawabnya.


"Terima kasih Pak, maaf sudah mengganggu waktunya. Kalau begitu saya akan menyusul ke ruangan pak Rifki saja, saya permisi."


Dara undur diri dan berpamitan dari sana melangkahkan kakinya menuju ruangan Rifki dengan riang. Ia merasa lega karena respons dari kepala universitas yang menyambut statusnya sekarang dengan tangan terbuka.


*****


Dari kejauhan kira-kira sepuluh langkah lagi netra indahnya melihat pintu ruangan Rifki terbuka lebar, tetapi sayup-sayup terdengar keributan serta suara gaduh yang berasal dari sana. Dara mempercepat langkahnya dengan segera untuk mengetahui apa yang tengah terjadi di dalam ruangan dosen pembimbingnya itu. Ketika tepat berada di ambang pintu ia membelalakkan matanya karena disuguhkan tontonan serupa arena ring tinju dengan pertarungan yang begitu sengit.


"Hentikan! Ada apa dengan kalian!"


Wira sedikit lengah, hingga kemudian ia tersungkur setelah terkena hantaman kuat tinju Rifki yang mengenai sisi kepalanya tanpa sempat menghindar. Saat dosen muda itu hendak kembali mendaratkan bogem mentahnya, tanpa aba-aba Dara berlari dan melindungi suaminya dari amukan Rifki menggunakan tubuhnya sendiri.


"Kumohon Hentikan!" teriak Dara sekuat tenaga.


Wira terkesiap dengan kemunculan Dara yang tiba-tiba, secepat kilat ia membalik posisinya dan melindungi tubuh istrinya sehingga tak ayal lagi kini tubuh bagian belakangnya yang menjadi korban.


Dara menjerit melengking tepat ketika pukulan Rifki mendarat mulus di punggung Wira, menyadarkan dosen muda itu dari emosi yang mengendalikan dan menguasainya. Rifki sangat terkejut, apa yang baru saja terjadi benar-benar di luar dugaannya, ia luruh ke lantai bertumpu pada lututnya dengan kedua tangan yang gemetar.


Darah mengucur dari sisi pelipis Wira yang robek, sudut bibirnya juga terluka dan dipastikan beberapa saat lagi akan muncul lebam di wajah serta tubuhnya. Kondisi Rifki pun hampir serupa, keduanya lepas kendali dan tenggelam dalam luapan emosi.


Wira masih memeluk Dara yang ketakutan. Ia juga sama terkejutnya, andai dirinya tak bergerak cepat sudah dipastikan tubuh Dara yang terkena pukulan dan entah bagaimana nasib istrinya jika itu terjadi. Dara menangis meraung tak tertahankan, bahkan kedua tangannya mencengkram erat kemeja Wira.


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa... kenapa kalian berkelahi? Hiks... hiks... hiks." Dara bertanya masih dalam Isak tangisnya.


"Maaf, maafkan aku sayang. Maafkan aku." Wira merengkuh Dara semakin erat menyalurkan segala rasa takut yang berkecamuk karena istrinya hampir saja celaka dalam perseteruannya dengan si dosen muda.