You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 246



Pintu kamar didorong dan dibuka oleh Wira, Dara yang baru selesai mandi dan berganti pakaian sedikit terperanjat kaget karena suaminya pulang lebih awal. Rasa takut juga menyesal karena telah tak patuh masih menyelimutinya, ragu-ragu Dara menghampiri dan mengulas senyum termanisnya menyambut kedatangan ayah dari anaknya.


"Mas, tumben sudah pulang. Bukannya hari ini jadwalnya sedang padat," ujar Dara yang segera mengambil alih tas kerja serta jas putih yang tersampir di lengan Wira.


"Aku sedang tak enak badan," jawabnya singkat dan datar masih diliputi api kemarahan meskipun semakin temaram saat bertatap muka langsung dengan Dara, rasa sayangnya ternyata lebih besar dari rasa marahnya. Wira duduk di tepian ranjang, membuka dasi serta melonggarkan kancing kemejanya sembarangan.


Dara menaruh barang-barang dari tangannya ke atas sofa. Kembali melangkah menghampiri dan berdiri di dekat Wira. Tangannya terulur memijat pundak suaminya itu, dengan penuh perhatian Dara menggerakkan jemari tangannya teratur mengerahkan segala kemampuannya meskipun degupan jantungnya berdetak liar memukul rongga dadanya karena masih merasa bersalah.


Pria berhidung mancung itu mengembuskan napasnya berat, ia bisa merasakan bahwa Dara tengah gugup saat ini. Wira menunduk memejamkan matanya, inginnya ia langsung membahas perihal sikap Dara tadi pagi yang telah mengabaikan pesannya.


Ia masih terdiam tenggelam dalam pikirannya. Sebuah bahtera pernikahan bisa tetap utuh serta kuat untuk mampu mengarungi samudera luas yang kadang tak ramah harus dilandasi dengan hati yang saling memaklumi, jalinannya semakin kuat dan terjaga karena adanya dua hati yang saling memaafkan ketidaksempurnaan masing-masing setiap harinya. Dara memang bersalah dan perlu diingatkan, Wira akan menegur dengan cara yang benar namun bukan dengan amarah.


Dara dan dirinya sama-sama insan biasa yang tak luput dari kesalahan, tetapi tidak serta merta menjadi lalai, harus menjadikan pengalaman yang pernah dilalui sebagai pelajaran juga proses mendewasakan diri, karena jika setiap permasalahan rumah tangga disikapi dengan kemarahan hanya akan memperburuk keadaan bukannya solusi.


Apalagi saat ini sepertinya istrinya itu sudah menyadari kesalahan dari perbuatannya, dilihat dari bagaimana Dara bersikap. Ekor matanya juga menangkap raut wajah cantik Dara yang menyiratkan guratan penyesalan, dan hal itu mampu mencairkan Wira yang sempat mengeras.


Wira meraih tangan Dara yang tengah memijat pundaknya untuk menghentikan pijatannya, meremas telapak tangan halus itu dengan lembut dan membawanya untuk dikecup kemudian mengubah posisi duduknya hingga berhadapan. Ia menghela Dara yang masih berdiri dengan kegugupan yang nyata untuk duduk di pangkuannya, netra memukaunya yang tadi sempat berkilat tajam kini kembali teduh dan melembut.


"Sayang...."


Lama Wira menatap menelisik ke dalam iris cantik Dara, menenggelamkan diri di sana seolah ingin menyelam hingga ke dasar sanubarinya membuat wanita hamil itu menelan ludahnya susah payah karena tatapan dalam Wira seolah tengah menelanjanginya yang telah berbuat salah.


"Ad-ada ap-apa Mas...." cicitnya.


"Besok akhir pekan, aku ingin mengajakmu berkencan," tukasnya sembari mengulas senyuman hangat.


"Ke-kencan." Dara yang sedari tadi luar biasa tegang seketika langsung tampak lega, tak menyangka bahwa kalimat itu yang meluncur dari bibir suaminya.


"Iya, kencan. Aku ingin kita makan malam berdua di luar besok malam seperti pasangan muda yang berpacaran. Selama ini kita belum pernah berkencan dengan benar bukan? juga ada sesuatu yang ingin kusampaikan," jelas Wira sembari merapikan anak-anak rambut yang menutupi pelipis Dara.


"Benar juga, kita belum pernah berkencan dengan benar sebelumnya. Ishh... kenapa baru sekarang Mas mengajakku berkencan," protesnya dengan bibir mengerucut membuat Wira terkekeh.


"Mmm... tapi ngomong-ngomong hal apa yang ingin Mas sampaikan, katakan saja sekarang," pinta Dara penasaran.


"Rahasia. Aku akan mengatakannya besok," sahutnya seraya menaikkan alisnya menggoda. Ia menengadah, kemudian satu tangannya menelusup meraih tengkuk Dara agar semakin menunduk hingga bibir mereka bertemu dalam sebuah pagutan mesra.