You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 218



Malam akhir pekan ini Fatih mengendarai mobilnya berjalan-jalan santai berkeliling untuk sekadar mengurai penat sembari mencari makan malam. Waktu menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam dan dia sudah berkendara hampir satu jam lamanya, tetapi sejak tadi Fatih masih belum menemukan ide menu apa yang ingin disantapnya kali ini.


Setelah beberapa saat berselang, dia menepikan mobilnya di salah satu kedai penjual sate di sebuah tempat yang sepanjang jalannya terdapat warung-warung tenda yang menjual berbagai macam sajian kuliner khas Indonesia. Ia segera turun kemudian memesan sepuluh tusuk sate ayam, sepuluh tusuk sate kambing, semangkuk sup kambing dan juga seporsi lontong.


Fatih mengedarkan pandangannya di kedai tersebut, mencari-cari tempat duduk yang kosong. Mungkin karena akhir pekan pengunjung yang datang cukup ramai, membuat tempat duduk yang tersedia hampir semuanya terisi penuh. Sudut matanya kemudian menangkap satu meja kosong di paling ujung, ia segera melangkahkan kakinya ke sana agar tidak keduluan pengunjung lain.


Pemuda itu duduk di sana dengan hati penuh sukacita sambil menunggu makanan yang diinginkannya. Bahkan ia sesekali menelan ludahnya sebab aroma sedap bakaran daging begitu menggoda membuat nafsu makannya makin tergugah. Tak butuh waktu lama pesanannya sudah datang, tak lupa dia berdo'a sebelum mendaratkan sate tersebut ke dalam indera pengecapnya.


Di tengah-tengah acara mengunyahnya matanya teralih pada dua sejoli yang duduk di meja depannya. Mereka kira-kira seumuran dengannya, posisi duduknya membelakangi Fatih sehingga keduanya tak tahu bahwa orang di belakangnya sedang memperhatikan.


Si pria muda di depannya menyuapi pacarnya dengan mesra sambil sesekali bersenda gurau, menyeka mulutnya dengan tisu dan juga mengambilkan air minum penuh perhatian, membuat pemuda yang ada di belakangnya mengunyah makanannya dengan geram karena merasa iri dengki melihat interaksi dua makhluk di hadapannya.


"Aku juga ingin melakukan hal-hal begini dengan Freya...." gumamnya memelas dengan ekspresi wajah menyedihkan.


"Ini semua gara-gara bapak yang nggak asik! Coba kalau punya motor trail, kan bisa gercep buat pedekate. Bagaimana caranya aku bisa melakukan pendekatan dengan gadis pujaanku selain melalui hobinya ya? duh aku frustasi!" decaknya kesal sendiri, tetapi tak menyurutkan nafsu makannya untuk melahap sajian di depannya hingga ludes.


Setelah menghabiskan makanannya Fatih keluar dengan wajah kusut dari sana, mengacak dan menjambak rambutnya sendiri dan membanting pintu mobilnya kencang meluapkan kekesalan akibat pemandangan yang membuatnya makin mendamba ingin segera menyatakan perasaannya pada si tomboi pemikat hatinya.


Musik mengalun dari radio yang dinyalakannya menemani Fatih memacu kendaraannya, lalu ia malah memutar bola matanya malas ketika si penyiar mengucapkan kalimat bahwa lagu yang akan diputar selanjutnya spesial untuk para jomblo yang bermalam mingguan tanpa pasangan seolah sengaja mengejeknya.


"Ini juga penyiar kok malah manas-manasin!" dengusnya kesal tetapi urung untuk mematikan radionya.


Untuk menghindari kemacetan, Fatih memilih jalan tikus agar bisa segera sampai ke rumah kontrakannya karena jika memaksakan diri melalui jalan utama maka ia akan terjebak arus kendaraan padat di akhir pekan.


Di pertengahan jalanan yang cukup sepi, Fatih melihat segerombolan laki-laki pergi terburu-buru dengan mengendarai motor masing-masing. Salah satunya mengendarai motor trail yang cukup familiar di matanya, Fatih menghentikan mobilnya dan mengawasi gerak-gerik mereka.


Setelah gerombolan itu pergi ia melihat seseorang ditinggalkan tergeletak di tepi jalan, jantungnya berdegup kencang dan pikiran-pikiran buruk berkecamuk di benaknya.


Jangan-jangan itu mayat, pikirnya.


Ragu-ragu Fatih membawa mobilnya mendekat, ia bimbang antara harus turun untuk memastikan atau langsung menelepon polisi saja atas temuannya. Namun, semakin lampu mobilnya menyorot mendekati ia makin penasaran, setelah diperhatikan secara saksama Fatih membelakkan mata karena mengenali sosok yang tergeletak itu. Ia meloncat keluar dari mobilnya dan berlari menghambur ke tepi jalan seperti orang gila.


"Freya!"